
Laura menutup mulut saat melihat keterkejutan Naura, ini benar-benar mengingatkan Laura pada dirinya sendiri saat dulu ia belum rujuk dengan Andre
Naura tersadar ketika melihat reaksi Laura kemudian ia mengibaskan rambutnya. “Siapa juga yang menunggunya, aku berdandan untuk diriku sendiri karena aku ingin pergi ke mall,” jawabnya.
“Oh, begitu. Baiklah.” Laura pun pergi meninggalkan Naura dan setelah Laura pergi dari hadapannya Naura menghela nafas gusar.
“Dia tidak menjemput Ameera. Lalu untuk apa aku berdandan.”
“Benar, kan, apa kataku.” Tiba-tiba Naura menoleh, ternyata Laura belum pergi hingga Laura mendengar ucapannya Naura.
“Hishh, kau ini!’ Naura pun berbalik, kemudian setelah itu ia masuk ke dalam kamar, wanita itu menghentakan kakinya karena kesal, dia berjalan ke meja rias lalu menghapus riasannya hingga kini wajah Naura polos dan tanpa make up, dia pun langsung mengikat rambutnya kemudian keluar dari kamar berencana untuk menemui Ameera yang sedang menunggu di bawah.
Saat sudah berada di lantai bawah, Naura menghentikan langkahnya. Ternyata bukan sopir yang menjemput Ameera, melainkan Alvaro.
“Laura sialann!” geram Naura, ternyata kakaknya membohonginya.
“ Mommy Aku akan pergi sekarang,” ucap Ameera membuat Naura menoleh kemudian tersenyum hingga tatapannya bersibobrok dengan Alvaro.
Alvaro tersenyum tipis, kemudian mengangguk seolah ia meminta izin pada Naura, hingga Naura membalasnya dengan anggukan pelan.
“ Ayo Ameera kita pergi sekarang.” Alvaro mengulurkan tangannya pada Ameera, lalu mereka pun keluar dari mansion.
Seketika Naura langsung berjalan mencari kakaknya, emosi langsung melanda wanita itu.
“Laura ... Laura di mana kau!” teriak Naura
“Apa?” tanya Laura dari arah belakang.
“Kau membohongiku, Kenapa kau mengatakan bahwa sopir yang menjemput bukan Alvaro,.Apa kau tidak tahu ....” tiba-tiba Naura menghentikan ucapannya kala mendengar tawan Naura. i
“Lihat-lihat, sudah kubilang, kau mulai menyukai Alvaro.”
“Tutup mulutnya Siapa juga yang menyukainya.”
“Tapi kau marah karena aku berbohong.”
“ Aku hanya, ah sudahlah, tidak ada gunanya berdebat denganmu,” ucap Naura.
“Kalau kau suka bilang saja, kenapa kau berpura-pura.”
“Apa kau bodoh dia sudah menikah. Mana mungkin aku menyukainya,” jawab Naura. Namun, wajahnya mengatakan hal yang sebaliknya.
"Bagaimana jika dia hanya berpura-pura.” Naura terdiam, lalu melihat ke arah Laura.
“Benarkah, apa mungkin dia berpura-pura,” wajah Naura langsung terlihat ceria saat mendengar ucapan Laura.
“Aku kan hanya bilang mungkin, bukan berarti dia berbohong tentang pernikahannya."
Wajah Naura menjadi meredup saat mendengar ucapan Laura, nyatanya sekuat apapun Naura ingin terlihat baik, ingin terlihat cantik ingin terlihat lebih segalanya. Tapi kenyataan memukulnya, Alvaro sudah menikah dan sudah mempunya anak. Naura harus belajar menerima kenyataan.
Laura yang mengerti perasaan Naura menepuk bahu saudara kembarnya. “Kau harus sabar oke.” Laura mengucapkan itu dengan kata menggoda, membuat Naura berdecak kesal dia pun langsung menyingkirkan tangan Naura dari bahunya.
Naura masuk ke dalam kamar, wanita itu langsung kembali mendudukan diri di depan meja rias. Lalu setelah itu Naura memulas wajahnya dengan make up yang sangat tipis, Ia memutuskan untuk berbelanja guna melepaskan rasa kesalnya.
Dan di sinilah Naura berada, setelah ia bersiap Ia datang ke sebuah mall seorang diri berniat mencari sebuah tas. Saat dia masuk, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang ada di depannya, siapa lagi jika bukan Nauder.
Naura menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dia menatap Nauder dengan malas, bahkan tatapannya masih mengisyaratkan bahwa cintanya masih ada. Sampai detik ini, berbeda dengan Naura.
Naura kembali berbalik, ia mengambil langkah yang berseberangan dengan Nauder, karena dia malas sekali untuk menegur atau bertegur sapa dengan mantan suaminya.
Nauder hanya mampu diam mematung saat melihat punggung Naura yang terus melangkah, ia ingin mengejar wanita itu. Ini sudah 3 tahun berlalu, cintanya pada Naura semakin besar tapi ia juga sadar, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“ Tuan!” Tiba-tiba sekretaris Nauder memanggil dari arah belakang.
“Kau ini, lelet sekali.”Nauder mengumpat pada sekretarisnya.
“Tuan juga salah, kenapa Tuan menyuruh hal yang susah. Jadinya kan aku harus berusaha dulu,” balas Elsa. Nauder memejamkan matanya sekretarisnya ini benar-benar.
Seandainya ada sekretaris lain yang cekatan seperti Elsa dan mampu menghandle semuanya dalam satu waktu, sudah dipastikan Nauder akan memecat sekretarisnya ini. Sebab sekretarisnya ini begitu cerewet dan selalu membangkang perintahnya.
“Seadanya tidak di tempat umum, sudah kucabikk mulutmu!” umpat Nauder.
“Coba saja, aku akan membocorkan data perusahaanmu," balas Elsa dengan santai, wanita itu begitu berani menghadapi Nauder. Setelah mengatakan itu, Elsa langsung berjalan mendahului Nauder.
“Apa dia punya 9 nyawa!” hardik Nauder, lelaki itu pun langsung berjalan mengikuti langkah Elsa hingga kini seperti Elsa bosnya dan Dia sekretarisnya.
***
“Daddy turunkan aku,” ucap Ameera ketika mereka sudah berada di lobby apartemen. Saat ini Alvaro tidak ingin pergi kemana-mana, dia hanya ingin bersama putrinya menikmati Waktu Karena besok dia akan pergi ke luar negeri selama 1 bulan untuk menjalankan bisnis yang baru.
“Tiidak usah, biar Daddy yang menggendongmu saja,” jawabnya.
“Daddy, aku malu. Semua melihatku," kata Ameera gadis yang kini menginjak 7 tahun itu berusaha turun dari gendongan sang ayah namun Alvaro malah berlari membuat Ameera tertawa.
Dan pada akhirnya, Alvaro sampai di depan unit apartemen miliknya, Ia membuka pintu Kemudian masuk disusul Ameera yang juga ikut masuk.
“Daddy apa kita tidak akan kemana-mana?” tanya Ameera. Alvaro menggeleng.
“Tiidak” balas , Alvaro, dia mendudukkan diri di sofa ia menyalakan tv dan mencari saluran kesukaan Ameera. Lalu setelah itu, Ameera menghampiri sang ayah.
Ameera mendudukan diri di sebelah Rival, kemudian mengangkat kaki. Lalu setelah itu, Alvaro mengelus rambut Ameera.
Seandainya bisa, ia ingin bawa Ameera ke luar negeri menemaninya, Bahkan ia juga ingin membawa Naura.
mengingat Naura, Alvaro teringat sesuatu ia melihat ke arah bawah dan ternyata putrinya malah tertidur, dan Ini kesempatan untuknya.
Dengan pelan, Alvaro menyimpan kepala putrinya di sofa, Lalu setelah itu, ia pun berjalan ke arah kamar tamu dan mengunci kamar tersebut.
Kamar tamu itu penuh dengan foto-foto Naura dari dulu sampai sekarang, karena faktanya sekarang pun Alvaro masih sering memotto Naura diam-diam.
Mungkin di mata kebanyakan orang, lelaki terobsesi bisa digolongkan dengan kategori yang menyeramkan tapi tidak bagi Alvaro, dia terobsesi karena memang dia mencintai Naura bukan hanya sebatas terobsesi.
Setengah jam berlalu, setelah puas memandangi foto Naura, Alvaro keluar dari kamar tamu dia pun kembali lagi untuk kembali ke ruang tengah di mana ada putrinya sedang tertidur di sana.
Lelaki itu langsung mematikan tv-nya karena Ameera masih tertidur. Lalu setelah itu, Alvaro berjalan ke arah dapur berencana untuk membuatkan makanan untuk putrinya.
***
Naura melihat ke sana kemari pagar mansion Belum terbuka, biasanya Alvaro sudah mengantarkan Ameera setiap pukul 08.00 malam, tapi ini sudah pukul 08.30 malam dan Alvaro belum juga kembali.
Dia ingin menelpon Alvaro, tapi ia ndak tahu nomor Alvaro. Karena selama ini Alvaro selalu berkomunikasi dengan ibunya, hingga Naura tidak seberani itu untuk meminta nomor ayah dari anaknya, itu sebabnya Naura sekarang tidak bisa menghubungi Alvaro.
Terdengar suara derap langkah dari arah dalam. “Naura, Amee di rumah sakit,” ucap Gaby dengan panik.
“Ma-maksud Mommy."
“Tiba-tiba tubuh Ameera mengalami bintik-bintik, dan Alvaro membawah ke Rumah sakit ” Wajah Naura memucat secepat kilat ia langsung mengambil kunci mobil dan langsung berlari ke arah mobilnya.
Setelah sampai di rumah sakit, Naura langsung turun dari mobil dengan cepat wanita itu berlari dan menanyakan pada resepsionis, dan setelah mengetahui ruang rawat Ameera Naura pun langsung berjalan ke arah lift untuk naik .
“Apa yang terjadi?” tanya Naura pada Alvaro, dia langsung bertanya ketika menghampiri ayah dari putrinya.
“Tadi Setelah dia mandi, muncul bintik-bintik. Seperti biasa, tubuhnya langsung melemas.”
Naura langsung mengintip ke arah dalam ternyata dokter sedang menangani Ameera Belakangan ini Ameera jarang sekali kambuh. Namun sekalinya kambuh, putrinya seperti tidak berdaya.
“Dia pasti akan baik-baik saja," ucap Alvaro yang menghampiri Naura yang sedang berada di dekat pintu. Alvaro melihat jam di pergelangan tangannya. “Naura maaf, aku harus terbang ke luar negeri tidak apa-apa kan aku tidak menemani Ameera," ucap Alvaro.
Naura yang dalam keadaan cemas langsung menoleh, “Kau akan meninggalkan kami.” Tiba-tiba Naura terdiam, biasanya Alvaro selalu menemani Ameera ketika Ameera kambuh namun sekarang Alvaro malah akan.
“Tidak Alvaro, bukan begitu maksudku boleh. Kau boleh pergi." Naura meralat ucapannya
Seketika ...