
Dokter dan suster yang baru saja dipanggil Alvaro sudah selesai memeriksa kondisi Naura, sekarang Naura sudah kembali terbaring dan sudah kembali dipasangkan selang infus.
Tubuh Naura mendadak melemas, dia sepertinya terlalu bersemangat, hingga akhirnya Naura kehilangan sedikit kekuatannya dan rasanya dia ingin memejamkan matanya.
“ Alvaro Aku mengantuk!” lirih Naura.
“Tidurlah sayang, aku akan menunggumu di sini dan tidak akan kemana-mana.” Naura mengangguk, kemudian membalas genggaman tangan Alvaro kemudian wanita itu langsung memejamkan matanya dan tak lama ia terlelap
2 jam kemudian
Naura terbangun dari tidurnya, dia langsung meringis karena kepalanya masih terasa nyeri. Bagaimana tidak, ia dipukul dengan balok kayu yang sangat besar.
Tak lama, ia menoleh ke arah samping di mana Alvaro sedang menggenggam tangannya sepertinya lelaki itu sedang tertidur. Mata Naura berkaca-kaca Ia tidak menyangka di tengah rasa sakitnya Ia juga merasa bahagia karena Alvaro ada di sampingnya dan ia mengetahui yang sebenarnya.
Tanpa sengaja, Naura menggerakan tangan yang sedang digenggam oleh Alvaro, hingga Alvaro terbangun lelaki itu langsung menegakkan kepalanya dan menoleh ke arah Naura.
“Naura kau sudah bangun? Apa ada yang terasa sakit?” Alvaro bertanya bertubi-tubi, memastikan kondisi Naura. Naura menggeleng, ia sedikit menggeser tubuhnya
“Tidur di sini!” kata Naura. Alvaro menurut dia langsung melepaskan penyangga berankar, kemudian berbaring di sebelah Naura. Setelah Alvaro berbaring, hingga kini posisi mereka berbaring sambil berhadapan.
Alvaro melingkarkan tangannya pada pinggang Naura, dia memeluk Naura, sesekali dia meniup meniup kepala Naura karena tahu itu terasa perih.
“ Kenapa kau tadi datang ke gudang itu?” tanya Alvaro.
“Aku pikir kau yang mengirimku pesan dan menyuruhku untuk datang. Seminggu ini aku sangat merindukanmu Rasanya ada yang hilang saat kau tidak menjemput Ameera,” jawab Naura
berbeda dengan Laura yang gengsian, Naura cenderung selalu mengatakan apa yang dia rasakan.
“Maafkan aku, aku berjanji tidak akan lagi membiarkanmu seperti ini!” Alvaro menutup ucapannya dengan mencium kening Naura,. kemudian dia membelai punggung wanita yang dia cintai membuat Naura merasa nyaman.
***
Nauder memarkirkan mobilnya di basement perusahaan, tadinya dia enggan datang ke perusahaan karena menyadari bahwa dia tidak seharusnya menurut pada Elsa. Namun pada akhirnya, lelaki itu malah datang ke kantor karena ia takut ancaman Elsa.
Setelah sampai Nauder langsung turun dari mobil, lelaki itu langsung berjalan ke arah lift untuk naik ke ruangannya. Saat ia masuk ke dalam ruangan Elsa, tubuh Nauder terdiam,
ketika melihat Elsa anteng dengan pekerjaannya
Ternyata sia-sia dia mengkhawatirkan Elsa akan keluar dari perusahaannya, nyatanya Elsa masih tetap berada di kantornya. “Kau mengerjaiku tanya?” Nauder, dia berbicara dengan nada yang kesal.
Elsa menoleh. “Tidak, aku tidak mengerjaimu,” jawab Elsa, Ia hanya menoleh sekilas pada Nauder, lalu kembali fokus pada pekerjaannya membuat Nauder berdecak kesal
.
“Kenapa kau menyuruhku datang?” tanya Nauder.
“Aku ingin mengembalikan pekerjaan ini, aku tidak sanggup mengerjakan pekerjaan jika harus beres hari ini. Jadi kau pecat saja aku sekarang!” kata Elsa Nauder tidak berkutik, selalu seperti ini.
“Kau ini kenapa sih selalu saja menggunakan alasan itu untuk menekanku.”
“Ituu bukan alasan itu kenyataan, jika kau ingin memecatku ....”
“Ya sudah kau dipecat!”
“Baik terima kasih." Nauder menatap Elsa dengan tatapan tak percaya. Bagaimana mungkin sekretarisnya ini malah bangkit tanpa merasa bersalah, sekarang dia sendiri yang kelabakan.
“Kau mau ke mana?” tanya Nauder.
“Bukankah kau sudah memecatku. Jadi untuk apa lagi ....”
“Dduk di tempatmu!" kata Nauder, aku tidak jadi memecatmu.
“Naikkan gajiku lima kali lipat.”
“Bulan kemarin aku sudah menaikkan gajimu tiga kali lipat dan kau mau lagi?”
“Pekerjaan yang kau berikan padaku sangat tidak masuk akal, jadi menurutku gajih 5 kali lipat?” tanya Elsa.
“Jika tidak mau ya sudah.”
“Baiklah baiklah aku akan naikkan gajimu!”
Elsa bersorak wanita itu langsung kembali duduk membuat Nauder menggeleng. Ketika Nauder akan berbalik, Elsa memanggil lagi Nauder.
”Apa lagi?” tanya Nauder dengan geram.
“Bisakah kau mentransfer gajiku sekarang?”
“Gajihanmu hanya tinggal dua hari lagi, sabarlah!”
“Tapi aku butuh ....”
“Ya sudah tunggu sebentar.” Nauder berlalu kemudian kembali ke ruangannya lalu tak lama terdengar suara notifikasi pesan dari ponsel Elsa, ternyata gaji Elsa sudah masuk dan benar saja Naura 5 kali lipat membuat Elsa merasa bersyukur,.hari ini dia harus membayar biaya sewa apartemen yang ditempati oleh ibu dan kakaknya.
Tadinya ia ingin meminjam pada bos tempatnya bekerja di cafe. Namun ternyata Nauder memberikan gajihnya hari ini.
Dua Minggu kemudian.
Bagaimana tidak, wanita yang mati-matian dulu menjauhinya wanita yang sangat membencinya kini datang padanya dan selalu ingin di dekatnya.
Seperti saat ini, Naura tidak melepaskan pelukannya dari Alvaro, dia terus memeluk pinggang lelaki itu. Sedangkan Alvaro terus membelai tangan Naura, hingga membuat Naura kian nyaman.
“Alvaro Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Naura Setelah sekian lama terdiam. Alvaro membelai rambut Naura. “Tidak usah dipikirkan, aku bisa mewakilkannya pada sekretarisku," jawabnya. Tiba-tiba Naura menegakkan kepalanya kemudian dia menetap Alvaro.
“ Alvaro menurutmu apa rambutku bagus pendek atau panjang. Apa kau ingin aku mewarnai rambutku. Bagaimana dengan riasan yang selalu aku pakai.” Terdengar kesedihan di dalam nada suara wanita itu, nada suaranya memberat Dia pernah kehilangan Nauder karena tidak menjaga tampilannya dan dia tidak ingin Alvaro bosan padanya dengan berujung meninggalkannya.
Alvaro membelai rambut Naura. Sepertinya dia mengerti arah pembicaraan wanita yang ada di sampingnya ini, “Aku mencintaimu apa adanya Naura. Bertahun-tahun aku mencintaimu bertahun-tahun aku mengejarmu menguntitmu sampai aku gila, mana mungkin aku bertingkah seperti Nauder. jika aku sudah seperti Nauder sudah aku pastikan aku akan melupakanmu. Tapi aku masih di sini sekarang, kau benar-benar cantik di mataku tidak ada lagi yang mengalahkan semua yang ada padamu.
“Benarkah aku cantik!” tanya Naura, Alvaro mengangguk.
“Kau cantik.” Alvaro melihat jam di pergelangan tangannya. “Ayo kita pulang sekarang, sepertinya sopir sudah menunggu.” Naura pun mengangguk lalu mereka pun bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang rawat Naura.
***
Saat berada di dalam mobil, seperti tadi Naura memeluk pinggang Alvaro, selama dua minggu ini Naura benar-benar bersikap manja pada ayah dari anaknya, melampiaskan perasaan selama bertahun-tahun. Naura adalah tipe orang yang blak-blakan, dia akan melakukan apa yang dia mau berbeda dengan kembarannya.
Akhirnya mobil yang ditumpangin Naura dan Alvaro sampai di basement apartemen, Naura menegakkan tubuhnya, kemudian mereka pun turun dari mobil lalu berjalan ke arah lift sambil bergandengan tangan.
Alvaro membuka pintu apartemen dia menarik lembut dengan Naura untuk masuk kedalam, “Aku ingin menunjukan sesuatun padamu,” ucap Alvaro, Alvaro menarik tangan Naura ke kamar tamu di mana kamar itu ia gunakan untuk mengenang Naura saat ia masih belum mendapatkan wanita yang ia cintai.
Naura menutup mulut tak percaya bagaimana tidak, di sepanjang dinding terpajang fotonya. Naura mendekat ke arah dinding lalu melihat fotonya satu persatu dari ujung sampai ujung dan foto yang pertama dia oleh Alvaro adalah saat mereka bertemu untuk kedua kalinya dan foto terakhir adalah saat mereka di Bali.
Naura menutup mulut tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Bagaimana kau bisa mengambil fotoku dari dulu sampai sekarang.”
“Aku membayar pelayan yang ada dimensionu agar selalu mengambil fotomu setiap hari,.hanya itu caraku agar bisa terus ada dekatmu.”
Sungguh Naura benar-benar merasa tubuhnya melemas, cinta Alvaro padanya benar-benar tidak main-main. “Sekarang Kau percaya kan cintaku?’ tanya Alvaro. Naura tidak menjawab, wanita itu langsung berlari lalu menabrak tubuh Alvaro dan memeluk ayah dari anaknya begitu erat, begitupun dengan Alvaro.
Setelah sekian lama saling memeluk, Naura melepaskan pelukannya kemudian ia melingkarkan tangannya di leher Alvaro, Lalu Alvaro menarik pinggang Naura, hingga posisi mereka kian dekat.
“Alvaro, Ayo ulangi malam pertama kitan! kali ini aku benar-benar sadar dan aku ingin melakukannya denganmu.”
Alvaro menatap tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Naura, ia bahkan hampir melepaskan tangannya dari pinggang wanita ini hingga Naura tersadar, ia menggigit bibirnya. “Apa aku terlalu agresif?” tanya Naura, seketika Alvaro menarik kembali pinggang Naura.
” teruslah bersikap seperti ini Sayang, aku menyukainya,” ucap Alvaro dan sedetik kemudian mereka pun melakukan hal yang tak seharusnya mereka lakukan.
Alvaro menggulingkan tubuhnya ke samping mereka berusaha mengatur nafasnya. Naura melihat ke arah Alvaro, terlihat jelas bahwa lelaki itu begitu bahagia karena memang mereka benar-benar melakukannya dengan penuh cinta.
Naura menggerakkan tubuhnya, dia berbaring menghadap Alvaro hingga Alvaro pun mengubah posisinya, hingga kini mereka berbaring sambil berhadap-hadapan.
Naura mengangkat tangannya, kemudian wanita itu langsung mengelus pipi Alvaro. “Alvaro!”
“Hmm,” jawab.Alvaro seraya mangelud rambut Naura.
“Alvaro nikahi aku!”
“Hah!’ Alvaro menatap bingung pada Naura Padahal dia yang ingin mengajak Naura menikah tapi sekarang malah Naura yang mengatakannya terlebih dahulu.
“Apa aku salah mengajakmu menikah?” tanya Naura, seketika tawa Alvaro meledak dia tidak menyenangNaura semenggemaskan ini.
“Hmm, aku akan menikahimu. Kapan kau siapa, sebulan lagi? atau seminggu lagi? atau ....”
“Besok, aku mau besok," jawab Naura sungguh Alvaro benar-benar tidak mengerti dengan pikiran wanita ini, sejatinya Naura tidak ingin menunda apapun lagi dia ingin segera menikah dengan Alvaro dan ingin mengasuh Ameera secara bersama-sama.
“Hmm, aku akan mengurusnya nanti setelah aku mengantarkanmu," jawab Alvaro.
“Oh ya, aku mau bertanya, apakah selama ini ada yang tahu kau belum menikah?” tanya Naura
“Hmm, Ada. Laura dan Andre mengetahuinya."
“Apa!” Naura terperanjat kaget, dia bahkan bangkit dari berbaringnya, lalu menatap Alvaro dengan tatapan tak percaya.
“Benarkah Laura dan Andre mengetahui itu.”
“Hmm, dari awal Naura dan Andre sudah tahu!”
"Tapi kenapa ...sial! Laura awas aja kau.” Naura pun dengan cepat turun Dari ranjang, ia langsung membawa pakaiannya kemudian membawanya ke kamar mandi, dia harus membuat perhitungan dengan saudara kembarnya.
“Sayang kau mau ke mana?” tanya Alvaro ketika Naura sudah memakai pakaiannya.
“Kunci mobilmu mana?” tanya Naura.
“di laci,” jawab Alvaro dengan bingung.
“Kau urus aja pernikahan kita agar kita bisa menikah besok, aku akan menemui Laura!” setelah mengatakan itu, Naura pun langsung keluar dari kamar Alvaro membuat Alvaro tertawa, sungguh kelakuan Naura benar-benar di luar dugaannya, ia tidak menyangkaNaura akan seblak blakan ini Namun tentu saja Alvaro menyukainya.
***
Mobil yang dikendarai Naura sampai di rumah Kakak kembarnya, dia pun dengan segera turun. Saat dia masuk, dia melihat sang Kaka baru saja turun dari tangga. Mata Laura membulat saat melihat Naura. Barusan Alvaro menelponnya dan Sepertinya dia tahu apa yang akan dilakukan adik kembarnya.
“Laura kemari kau!”
“Sayang tolong aku!” teriak Laura sambil berlari ke arah atas untuk menghampiri suaminya.