
Gas komen loh ya. ini satu bab panjang kok
Andre mendengarkan semua yang ada di rekaman itu dengan seksama, wajahnya langsung memucat saat mendengar untaian-untainan kata yang di ucapkan Laura.
Sejenak, otaknya kosong. Tubuhnya serasa melayang, Ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. “Ba-bas, ini benar istriku?" tanya Andre.
“Bodohhhh, memangnya kau tidak lihat jelas-jelas itu istrimu yang sedang berbaring!"
Andre menggeleng-gelengkan kepalanya, ia langsung bangkit dari duduknya. Lalu setelah itu ia langsung memakai jasnya, ia harus mencari tau di mana Laura sekarang juga, dia tidak ingin terjadi apapun dengan istrinya.
Saat Andre akan keluar, ternyata Naura masuk ke dalam ruangannya dan langsung menghadang langkah Andre. “Andre kau mau ke mana? tanya Naura. “Andre aku ingin berbicara denganmu." Naura menarik tangan Andre. Hingga Andre menghempaskan tangan Naura dengan keras.
“Andre kau mau ke mana?”
“Minggir Naura!” teriak Andre, otaknya kosong, Ia hanya ingin secepatnya menyusul istrinya.
“Percuma kau menyusul Laura,” ucap Naura.
Andre yang sedang berjalan langsung menoleh saat mendengar Naura“ Naura apa kau tau di mana Laura?" tanya Ande dengan suara yang putus asa.
“Aku tau dimana dia, Jangan menyusulnya biarkan dia sendiri.”
“Kau pikir aku gila. Bagaimana mungkin aku tidak menyusul Laura!” teriak Andre.
Naura menghela nafas, ia mengetahui apa yang terjadi. Tadi, ia tidak sengaja mendengar percakapan antara Grisya dan Laura di telepon. dan pada akhirnya, ia mendesak kakak sepupunya untuk mengatakan yang terjadi. Hingga, Grisya pun mengatakan apa yang sebenarnya.
Dan Ia langsung menyusul Andre untuk memberitahukan apa yang terjadi pada Laura. Namun melihat reaksi Andre, sepertinya Andre sudah mengetahui semuanya tanpa dia berbicara.
“Andre tenang. Jika kau minta maaf secara langsung, aku yakin dia tidak akan mau mendengarkan maafmu. Aku yang mengenal Laura dari kecil, dia tidak akan luluh hanya dengan kata maaf.”
Andre mengusap wajah kasar saat mendengar ucapan Naura. “Lalu aku harus bagaimana Naura?” tanya Andre, mata lelaki itu mu mulai membasah dengan nafas yang tidak beraturan.
“Sekarang dia ada pulau pribadi milik kak Grisya,
“Bukannya dia pergi bersama karyawannya?” tanya Andre.
“Tidak, dia berbohong dia meliburkan seluruh karyawannya dan pergi seorang diri!”
Nafas Andre tercekat, wajahnya memucat. “Tidak aku tidak ingin membiarkannya sendiri.” Dengan segera, Andre berbalik kemudian ia langsung berniat datang ke pulau pribadi milik Grisya dan menyusul Laura, ia takut Laura akan nekat. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada istrinya.
•••
Laura menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, angin pantai begitu membuatnya sejuk, ia berjalan sambil menenteng sandalnya, menyusuri bibir pantai, dengan senyum yang mengembang dan tangis yang berlinang.
Ia merentangkan tangannya menyambut angin yang menerpa tubuhnya. Dari tadi, Laura berjalan tanpa henti, sesekali dia bermain ombak. Saat ini, dia sedang berada di pulau pribadi milik Grisya, kakak sepupunya yang tak lain adalah Putri pertama Gabriel. Ia hanya menceritakan semua yang terjadi pada Grisya.
Laura memutuskan untuk diam 3 hari di pulau pribadi milik kakak sepupunya, di villa ada dua penjaga dan satu pembantu. Setidaknya untuk 3 hari ini Laura ingin menenangkan dirinya sendiri.
Sedari tadi pergi ke pantai, tangis Laura memang memang sudah berlinang. Selama ini, ia selalu menahannya dan ia selalu berusaha untuk tidak menangis di hadapan semua. Tapi kali ini ia bebas menangis sekencang apapun yang dia mau.
Laura melihat cincin di pergelangan tangannya, cincin pernikahannya dengan Andre.
“Andre seharusnya jika kau masih mencintai Naura, kau kejar saja dia. Kenapa mengajakku kembali, seharusnya jika kau ingin bebas Kau tidak perlu mengajak menikah lagi, seharusnya jika kau ....” Laura tidak sanggup lagi meneruskan ucapannya, suaranya tenggelam dengan tangisan.
Dia mempunyai trauma parah, pernah diasingkan oleh ayahnya selama bertahun-tahun. Dan setelah menikah, ia harus mengetahui bahwa Andre menganggapnya sebagai Naura, dan ketika menikah lagi dengan Andre, ia harus merasakan rasa sakit yang luar biasa hebat
Mungkin di masa lalu, Laura akan merajuk, ia akan mengamuk ataupun akan mendiamkan Andre. Tapi tidak sekarang, dia sudah mempunyai dua anak, ia tidak ingin anaknya terkena inner child seperti dirinya
Dulu, Bella sudah cukup merasakan bagaimana hidup terpisah dengan kedua orang tuanya, dan inilah yang membuat Laura bertahan. Setelah ini rasa pada Andre tidak sama lagi, akan ada masa di mana mungkin Andre menyadarinya. Atau mungkin suaminya akan meminta maaf. Tapi semua tidak lagi sama, perasaannya sudah berbeda.
•••
waktu menunjukkan pukul 11.00 malam, Andre keluar dari mobil. Wajah Andre sudah Sembab, karena sedari tadi ia menangis. Saat ia akan masuk ke dalam rumah, Andre menghentikan langkahnya saat melihat Sean dan Bela ada di luar, padahal ini sudah pukul 11 malam.
“Kenapa kalian ada di sini? Kenapa kalian belum tidur." Laura bertanya dengan suara yang lirih. Rasanya, ia bahkan sudah tidak mempunyai tenaga untuk sekedar berdiri.
Tadi, Setelah dari kantor Ia emang berencana untuk menyusul Laura. Tapi saat Andre akan menaiki pesawat, Naura menyusulnya dan berhasil menghentikannya. Naura menyadarkan Andre tentang sesuatu, tentang bagaimana sikap Laura. Hingga Andre membatalkan niatnya untuk pergi
Dan saat Andre membatalkan niatnya untuk pergi, Andre memilih untuk berdiam diri di mobil, merenungi dan memikirkan semuanya, lelaki tampan itu menangis tergugu saat ia mengingat untaian-untaian kata yang diucapkan oleh Laura tentang dirinya, ternyata dia masih lelaki yang buruk.
“Daddy, Kami rindu Mommy. Mommy tidak bisa dihubungi,” jawab Bela. “kami juga menunggu Daddy." Seketika Andre maju, kemudian ia memeluk kedua anaknya, Ia hanya ingin memeluk Bela dan Sean.
Sebelum menikah, ia tidak pernah merasakan dekapan seorang keluarga, dan ketika ia berhasil membuat keluarga untuk putra-putrinya. Ia sendiri yang menghancurkan keluarga yang ia bangun, dengan menghancurkan hati Laura
“Daddy kenapa Daddy menangis?” tanya Bella saat Andre melepaskan pelukannya.
“Daddy menangis karena Daddy rindu Mommy. Ayo kita masuk, kita coba telepon Mommy nanti.” Andre bangkit dari lantai, kemudian ia langsung menarik lembut kedua tangan putra-putrinya.
•••
waktu menunjukkan pukul 2 malam, sedari tadi Andre tidak bisa memejamkan matanya, Ia terus melihat ponselnya, melihat-lihat riwayat chat yang selalu dikirimkan Laura.
Andre membaca chat itu dengan perasaan yang gundah, sekarang, ia rindu dengan Laura yang selalu bertanya, yang selalu mengirimnya pesan mengingatkannya untuk memakan vitamin dan bertanya kapan dia akan pulang, dan bodohnya kemarin- kemarin, ia malah senang Laura bersikap seperti itu, dan kini dia menyesali semuanya.
Sungguh saat ini, Andre benar-benar merindukan Laura yang seperti dulu. Tanpa sadar, Andre menekan tombol hijau, ia memanggil Laura dan tak lama panggilan diangkat, membuat Andre langsung tersadar, ia berusaha untuk tetap tenang dan berusaha berpura-pura belum mengetahui semuanya
“Baby kau belum tidur?” tanya Andre.
Laura tampak terdiam di seberang sana, rupanya Laura baru saja tiba dari pantai setelah berdiam dia berdiam diri berjam-jam di pantai dan ia langsung mengangkat telepon Andre saat ia baru saja mengganti pakainnya.
“Aku terbangun, Dad. Bagaimana keadaan anak-anak, apa mereka sudah tidur?” tanya Laura, hati Andre berdesir pedih kala Laura tidak menanyakan dirinya. Apakah istrinya sudah berhenti peduli padanya?