Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Menyadari perasaan


Raymond mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, ia memegang setir dengan satu tangannya, sedangkan satu tangannya menahan tubuh Moa, karena Moa sedang berada di pangkuannya.


Rasa marah, khawatir bercampur menjadi satu. Ia sungguh tidak akan melepaskan Jordan, karena telah berniat untuk menabrak Moa.


Akhirnya, mobil yang dikendarai Raymond sampai di depan rumah sakit, dengan cepat. Ia pun keluar, lalu menggendong Moa untuk masuk dan memanggil dokter sambil berteriak, karena dokter tidak kunjung datang


“Bagaimana keadaan putriku?” tanya Raymond ketika dokter sudah memeriksa Moa


“Sepertinya Putri anda hanya shock, dan sepertinya Putri anda akan sadar beberapa saat lagi,” jawab dokter, membuat Raymond menghela nafas lega. Setelah dokter pergi, Raymond mendekat ke arah brangkar, kemudian ia menarik kursi lalu menggenggam tangan Moa dan melihat waja Moa lekat-lekat..


Kini, Raymond berada di titik sadar tertingginya, saat melihat Moa tak sadarkan diri, Raymond begitu ketakutan dan ia sadar, Moa sungguh berarti di hidupnya. Bukan karena Moa adalah anak Ayana. Tapi karena, Moa adalah Moa, gadis kecil yang manis.


Saat dalam perjalanan menuju rumah sakit, ketakutan menghampiri Raymond, membayangkan hal terburuk. Bagaimana jika tadi, tidak ada yang menyelamatkan Moa. Bagaimana jika tadi, Moa yang tertabrak.


“Jordan!” tiba-tiba wajahnya memerah saat mengingat Jordan yang menabrak Moa.


“Jordan, aku tidak akan melepaskanmu!” ucapnya lagi.


•••


Ayana sedang fokus melihat laptop, ini sudah 1 jam berlalu dan Raymond belum kembali Entah kenapa hatinya merasa tidak tenang. Tak lama ponsel di sampingnya berdering. Ia mengerutkan keningnya saat melihat nama Leticia terpangpang di layar.


Dengan ragu Ayana pun mengangkatnya


“Apa!” lutut Ayana melemas saat mendengar apa yang Leticia ucapkan yang mengatakan bahwa Raymond membawa Moa ke rumah sakit. Seketika dunia Ayana runtuh, jantungnya seperti berhenti berdetak. pikiran buruk langsung menghantuinya.


Ia pun mematikan panggilan dari Leticia kemudian ia langsung menyambar tasnya. Lalu setelah itu, ia pergi. Leticia tidak memberitahukan Moa di bawa ke rumah sakit mana. Namun, Leticia yakin, Raymond membawa Moa ke rumah sakit yang terdekat, yang ada di dekat restoran tersebut.


•••


“Kau tunggu di sini, aku harus berbicara dulu dengannya!” kata Leticia, setelah Ayana mematikan panggilannya, membuat Miko keheranan.


“Kau mau ke mana?” tanya Miko.


“Aku harus berbicara dengannya, sepertinya aku harus menyadarkannya,” ucap Leticiabl dengan berapi-api. Tatapannya Leticia menatap mobil Jordan yang masih terparkir. Saat berada di dekat mobil Jordan, Leticia langsung mengetuk mobil Jordan dengan sedikit keras.


Jordan yang sedang terdiam di mobilnya langsung melihat ke arah samping, di mana Leticia mengetuk mobilnya. Ia memejamkan matanya, sepertinya ia tahu apa yang akan diucapkan oleh Leticia..


Ini aneh, dulu setiap melihat Leticia, jantungnya selalu berdebar. Tapi sekarang, rasanya debaran itu sudah tidak ada. Karena tahu apa yang akan diucapkan oleh Leticia, Jordan pun langsung menyalakan mesin mobilnya dan berniat pergi meninggalkan area tersebut. Apalagi ia masih kesal karena tidak berhasil menabrak Moa.


Leticia yang mendengar suara mesin mobil Jordan dan tahu Jordan akan pergi,langsung berjalan dan berpindah ke depan mobil Jordan, hingga Jordan kembali mematikan mesin mobilnya.


“Turun kau!” kali ini Leticia berteriak seraya menunjuk ke arah Jordan, Leticia sungguh tidak mampu menahan emosinya, membuat Miko yang melihat dari jauh langsung menepuk keningnya saat melihat lucunya tingkah istrinya.


Gengs maafin aku up dua bab ya, soalnya aku baru pulang dari rumah sakit