Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Nauder vs Alvaro


Gengs ayolah gas komen


Jantungnya Nuader berdetak dua kali lebih cepat saat melihat Naura yang berbeda seperti biasanya, Ia seperti melihat Naura saat pertama kali mereka menikah di mana Naura begitu cantik dan begitu mempesona.


“Naura!” panggil Nauder dengan terbata lelaki itu langsung bangkit dan menatap Naura dengan tatapan tak percaya, apalagi Naura tersenyum padanya.


“Kau sibuk?” tanya Naura. Nauder menggeleng.


“Tidak, aku tidak sibuk,” dusta Nauder. Padahal segudang pekerjaan menunggunya. Namun ia langsung menjawab ucapan Naura dan berkata Dia tidak sibuk karena ia takut Naura mengajaknya untuk keluar.


“Mau makan bersama?” tanya Naura, Nauder mengangguk dengan cepat. Bahkan ia langsung mengambil jasnya dan menyambar kunci mobil lalu kembali menghampiri istrinya.


“Kau mau makan di mana?” tanya Nauder dengan semangat


”di restoran favorit kita,” jawab Naura. Nauder langsung mengangguk, ia langsung menarik tangan Naura dan membawanya keluar. Saat berada di perjalanan menuju basement Nauder memegang tangan Naura begitu erat, seolah dia takut kehilangan tangan wanita ini. Tanpa Nauder sadari mungkin inilah terakhir kali dia menggenggam tangan istrinya.


Saat berada di depan mobil miliknya, Naura langsung membukakan pintu mobil untuk istrinya, Nauder pun memutari mobil dan masuk kursi kemudi. Lalu setelah itu, ia langsung menyalakan mobilnya dan menjalankannya


Saat mobil melaju, senyum tidak henti-hentinya menghiasi wajahnya Nauder, berbeda dengan Naura yang melihat ke arah jendela mati-matian wanita cantik itu berusaha untuk tidak menangis karena walau bagaimanapun perpisahan bukan hal yang mudah untuk Naura, sekalipun ia merasakan lega. Tapi tetap saja ada rasa sakit tersendiri yang ia rasakan


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang akhirnya mobil yang dikendarai Nauder sampai di sebuah restoran, restoran yang kerap mereka datangi saat mereka pacaran dan itu menjadi restoran favorit mereka berdua.


Nauder turun dengan cepat, kemudian ia memutar mobil lalu membukakan pintu untuk Naura, dia mengulurkan tangannya pada Naura, hingga Naura menerima uluran tangan Nauder dan mereka pun masuk ke dalam sambil bergandengan tangan.


Setelah sampai di meja yang telah ia pilih, Nauder menggeserkan kursi untuk Naura. “Terima kasih,” ucap Naura. Nauder menggangguk dengan mata yang berkaca-kaca, ia pun mendudukan diri di kursi yang bersebelahan dengan Naura. Setelah itu, Nauder memanggil pelayan dan mulai memesan.


Setelah memesan makanan kedua orang itu sama-sama terdiam, Nauder bingung harus mulai dari mana sedangkan Naura seperti tadi, ia mati-matian menahan tangis, tidak ada yang baik-baik saja dengan hal perpisahan. Hingga Naura tetap berusaha untuk tetap tegar.


Akhirnya makanan yang mereka pesan pun tiba. Seperti biasa, Nauder langsung mengambil steak milik Naura. Lalu setelah itu ia membantu memotongnya hingga Naura bisa langsung memakannya.


Mereka makan dengan Hening, sesekali Nauder melihat ke arah Naura yang fokus dengan makanannya, di tengah rasa senangnya. Entah kenapa Nauder merasakan was-was karena kali ini wajah Naura kembali dingin, terlihat jelas perbedaan wajah Naura saat tadi dan sekarang.


“ Sayang kau ingin memesan yang lainnya?” tanya Nauder, Naura mengangkat kepalanya kemudian menggeleng.


“Tidak terima kasih, ini sudah cukup,” jawab Naura dan tak lama acara makan mereka selesai. Naura langsung meminum minuman yang ada di depannya, lalu menoleh ke arah Nauder.


“Bagaimana jika kita pergi ke hotel tempat kita malam pertama dulu,” ajak Naura, mata Nuader berbinar saat mendengar perkataan Naura dalam pikirannya Nauder berpikir mereka akan melakukan hal yang menyenangkan


”Tentu, akku akan menelpon hotelnya agar kita bisa pergi ke sana,” jawab Nauder.


“Tolong minta kamar hotel tempat Kita menginap saat malam pertama kita,” ucap Naura, Nauder mengangguk dengan semangat.


Nauder pun merogoh saku kemudian mengambil ponsel lalu mengutak-atiknya dan menelepon pihak hotel, kebetulan pemilik hotel juga temannya dan akhirnya keberuntungan sedang berada di pihak Nauder, kamar itu kosong hingga dia dengan cepat mematikan panggilannya.


“Kamar itu kosong Sayang. ayo cepat kita pergi ke sana.” Nauder bangkit dari duduknya kemudian menarik tangan Naura. Lalu setelah itu pun pergi keluar dari restoran tentu saja Nauder sudah membayar makanan yang mereka makan. dan di sinilah mereka berada, di depan kamar yang beberapa tahun silam pernah menjadi saksi kekejaman yang dibuat Alvaro.


Naura sengaja mengajaknya Nauder kemari untuk memberitahukan semuanya. Nauder menempelkan cardlock hingga pintu terbuka Ia pun langsung menarik tangan Naura dan secepat kilat, ia pun langsung membuka jasnya dan menarik tangan Naura. Namun dengan cepat, Naura menahan tubuh Nauder..


“Kita bisa berbicara dulu, kan?” tanya Naura ia mengerti apa yang dipikiran Nauder. Tapi, ia tidak berusaha mencegah Nauder, karena jika ia mencegahnya sekarang Nauder pasti tidak akan mau mendengarkan penjelasannya.


“Ayo kita duduk dulu.” Naura menarik tangan Nauder dan saat Nauder duduk di sofa, ia duduk berseberangan dengan suaminya.


“ Sebenarnya ada apa ini, kenapa Kau tampak serius?” tanya Nauder


“Nauder, kau ingat bukan bahwa kita tidak sadar tentang malam pertama kita.”


Nauder memutar otak mengingat masa lalu kemudian menggangguk. “Sebenarnya sebelum kau menyentuhnya, Alvaro lah yang lebih dahulu menyentuhku.”


Seketika Nauder tertawa saat mendengar ucapan Naura. “Sayang lelucon macam Apa itu, kenapa kau harus membawa-bawa namanya lagi. seharusnya kau membawa orang lain yang lebih baik dari dia untuk membalasku dan Mana mungkin aku percaya kat ... ” Tiba-tiba Nauder menghentikan ucapannya saat melihat raut wajah Naura yang tampak serius.


“Apa aku terlihat seperti bercanda Nauder?” tanya Naura kali ini mata Naura sudah membasah. “Kau tahu, selama ini Alvaro menjadikanku alat balas dendam dan dia ....” pada akhirnya Naura pun menceritakan Semuanya dari awal apa yang terjadi diantaranya dan Alvaro hingga tentang Ameera..


“Na-naura, kau pasti berbohong, kan?” tanya Nauder. Tapi wajah Naura sudah menjelaskan semuanya.


“Semua benar, walaupun aku tidur dengan Alvaro tapi aku tidak menghianatimu karena itu adalah jebakan dan Ameera juga bukan putrimu sekarang aku yakin kau sudah tahu alasan kenapa selama ini kau tidak bisa dekat dengan Ameera.”


Naura bangkit dari duduknya, kemudian ia menatap ke arah Nauder. “Terima kasih atas selama ini, terima kasih beberapa saat kau sudah mencintaiku. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan beban ini, mari kita berpisah aku sudah mendaftarkan surat perceraian kita ke pengadilan Jadi aku harap kau bisa menghadiri sidang agar perceraian kita cepat selesai.” Setelah mengatakan itu, Naura pun langsung berbalik kemudian dia langsung keluar dari kamar hotel.


Saat berada di luar hotel, Naura menghirup oksigen sebanyak-banyaknya ia sedikit merentangkan tangannya lalu tersenyum. Entah kenapa Naura begitu lega, rasanya ia benar-benar merasakan rasa tenang yang luar biasa ketika ia sudah jujur tentang Ameera dan tentang apa yang terjadi di masa lalu.


Dua Minggu kemudian.


Ini sudah dua minggu berlalu semenjak pembicaraan Naura dengan Nauder dan selama dua minggu ini pula, Nauder dan Naura tidak pernah bertemu. Bahkan saat ini, Naura sedang di rumah sakit karena Ameera kemarin drop hingga terpaksa gadis kecil itu harus dirawat kembali.


Dan sekarang Naura baru saja selesai menyerahkan sesuatu pada suster, dan setelah selesai, dia pun langsung kembali ke ruangan rawat putrinya.


Saat membuka pintu ruang rawat putrinya, mata Naura terbelalak saat melihat putrinya tidak ada di beragkar. Padahal Ia baru keluar sekitar 10 menit yang lalu.


“Ameera Ameera!” teriak Naura dengan panik, wajahnya sudah sangat memucat saat putrinya tidak ada di ruang rawat. Tidak mungkin Ameera keluar karena kondisi putrinya sedang melemas


Secepat kilat, wanita itu pun langsung berbalik dan berniat mencari Naura keluar dan saat akan keluar, tiba-tiba ponselnya berdering satu panggilan masuk dari Nauder, hingga Naura pun langsung mengangkatnya.


“jika kau ingin putrimu selamat datang ke gudang yang ada di belakang rumah sakit.” jantung Naura berdebar dua kali lebih cepat, nafasnya mendadak tidak beraturan saat mendengar apa yang Nauder ucapkan dan saat Naura akan menjawab, tiba-tiba Nauder mematikan panggilannya dan tak lama masuk pesan ke dalam ponselnya.


“Cepat datang kemari dan jangan bawa siapapun !” tulis Nauder disertai foto Ameera yang sedang terikat di sebuah kursi kecil, hati Naura begitu hancur saat melihat putrinya terikat dengan kondisi memejamkan matanya, sudah dipastikan Ameera sedang tidak sadarkan diri.


Secepat kilat, Naura pun langsung berbalik kemudian berlari dan keluar dari ruang rawat putrinya, dan di sinilah Naura berada di sebuah gudang yang cukup sepiNaura dengan cepat berlari masuk,


“Ameera!” teriak Naura.


Nauder tertawa dan datang dari arah samping. “Akhirnya kau datang juga," ucap Nauder.


“Nauder, aku mohon lepaskan Ameera," ucap Naura kali ini nadanya sudah sangat melemah apalagi saat melihat Ameera secara langsung sedang terikat.


“Tetap di tempatmu, Naura.” ucap Nauder ketika Naura akan menghampiri Ameera.


“Nauder kumohon, lepaskan ....”


“Ikat dia!” titah Nauder pada anak buahnya hingga seketika anak buahnya mengikat Naura. Naura tidak ada kekuatan untuk melawan matanya hanya terus terfokus pada sang putri.


“Ameera!” lirih Naura dengan hati yang pedih dan kini Naura pun sudah terikat di kursi.


“Aku akan membebaskan kalian, asal kau mau kembali padaku dan buang anak itu,” ucapnya Nauder, dia gelap mata hingga Ia melakukan ini pada Naura.


“Nauder, tahan aku saja.” Naura bukan menjawab pertanyaan Nauder malah membahas hal lain membuat emosi Nauder sedikit terpancing,


“Bukan itu yang aku tanyakan, katakan kau mau kembali padaku dan kau harus membuang anak itu!" teriak Nauder lagi, kali ini ia mencengkeram pipi Naura.


“Nauder kumohon lepaskan Ameera.” Hanya itu yang bisa Naura katakan dia terlalu syok dengan apa yang dilihatnya, hingga ia tidak bisa berpikir jernih.


“Bawakan jus nanas kemari!’ kita Nauder pada anak buahnya, kali ini Naura tersadar apalagi saat anak buahnya berjalan ke arah Ameera karena Ameer mempunyai alergi nanas sama sepertinya.


“Sekarang pilih, kau ikuti perintahku atau kau akan melihat anakmuu matiii,” ucap Nauder, anak buahnya sudah mendekatkan gelas ke mulut Ameera yang sedang tidak sadarkan diri.


“Cepat beri jawaban dan....”


Dorr .... Tiba-tiba ada seseorang yang menembak pergelangan tangan orang yang sedang memegang jus nanas itu hingga nauder dan Naura menoleh.


“A-Alvaro.”