
flashback
Raymond mengerutkan keningnya saat melihat meja Ayana masih kosong, dia meliat jam di pergelangan tangannya ternyata waktu menunjukkan pukul 10.00 pagi.
Seharusnya Ayana sudah datang. Tapi kenapa sekretarisnya belum juga datang. Padahal kemarin, Ayana sudah membuat kesalahan fatal dan sekarang sekretarisnya malah tidak ada.
Raymond masuk ke dalam ruangannya, kemudian melonggarkan dasinya. Lalu melepas jasnya setelah itu ia mengambil ponselnya dan menelepon Ayana. Namun ponsel Ayana tidak bisa dihubungi, membuat Raymond menggeram kesal
“Berani sekali tidak menjawab panggilanku, apa dia lupa dia sudah membuat rugi perusahaanku!” gerutu Raymond.
satu minggu kemudian
“Apa, Jadi kau tidak berhasil menemukannya!” teriak Raymond pada orang di seberang sana. Ia mematikan panggilannya, kemudian mencoba menenangkan dirinya. Ini sudah satu minggu berlalu, dan selama satu minggu ini pula, Ayana tidak datang bekerja.
Raymond sudah pergi ke rumah Ayana. Namun, rumah Ayana kosong. Hingga ia menyuruh anak buahnya untuk mencari Ayana. Namun, setelah satu minggu berlalu Ayana tidak juga ditemukan
Sebenarnya, Raymond terbiasa dengan kehadiran Ayana. hanya saja ia enggan mengakui itu dan berdalih bahwa mencari Ayana agar Ayana bertanggung jawab. Tapi sebenarnya tidak,
Raymond sudah tidak memikirkan perusahaannya lagi, dia kalut karena Ayana tidak ada, itu sebabnya dia menyuruh anak buahnya untuk mencari Ayana, berdalih menyuruh Ayana bertanggung jawab. Padahal, Ia ingin melihat Ayana lagi.
“Kau kenapa!” tiba-tiba terdengar suara Justin yang masuk ke dalam ruangan Raymond, Membuat Raymond tersadar, kemudian Raymond berdecak kesal.
“Pergilah. Aku sedang tidak ingin diganggu,” jawab Raymond.
“Aku bukan ingin mengganggumu. Aku ingin menyerahkan ini padamu!" Justin melemparkan sebuah flashdisk pada Raymond dan Raymond refleks menangkap flashdisk itu.
“Apa ini!” tanya Raymond..
“Lihat itu di laptopmu, maka kau akan mengerti semuanya!” Justin mendudukan diri di sofa, ia ingin melihat reaksi Raymond, membuat Raymond mengerutkan keningnya. Tapi Tak urung, dia pun langsung mendudukkan diri di kursi kerjanya, kemudian menempelkan itu pada laptopnya. Lalu, melihat laptopnya dengan seksama.
jantung Raymond berdetak dua kali lebih cepat, tubuhnya dia mematung. Nafasnya memburu saat melihat apa yang ada di depannya
“Ju-Justin, bisa kau jelaskan ini!” ucapan Raymond. Ia langsung menatap Justim menatap dengan bingung.
“Kau terlalu bodoh dan sangat keterlaluan. Harusnya kau menyelidiki semuanya. Sekretarismu tidak bersalah, ada yang meretas komputernya," ucap Justin, ternyata Justin memberikan salinan yang ada di komputer Ayana sekaligus membuktikan bahwa ayahnya tidak bersalah.
Raymond masih terdiam, Ia tidak mampu mencerna ucapan Justin, hingga Justin langsung bangkit dari duduknya, kemudian menghampiri Raymond. Ia langsung menepuk pundak Raymond..
Otak Raymond kosong, tiba-tiba sekelebat perlakuannya pada Ayana terlintas di otaknya. Bahkan ia mencengkeram rahang Ayana, serta melakukan hal yang tak menyenangkan pada sekretarisnya
. Raymond menggeleng-gelengkan kepalanya, saat menyadari kesalahannya.. Seharusnya ia tidak bertindak gegabah. Secepat kilat, Raymon pun bangkit dari duduknya kemudian memakai jasnya lalu menyambar kunci mobil dan setelah itu, ia keluar dari ruangannya. Ia berencana akan kembali lagi ke rumah Ayana dan berharap Ayana nama sudah pulang ke rumahnya.
satu minggu kemudian
Raymond memarkirkan mobilnya di depan sebuah bar tempat Ayana bekerja. Ia begitu gugup dan begitu takut, ia takut, Ayana tidak akan mau melihatnya lagi. Ini sudah satu minggu berlalu semenjak ia mengetahui bahwa Ayana tidak bersalah, dan selama satu minggu itu pula, Ia terus mencari keberadaan Ayana
Dan detik-detik terakhir saat ia hampir menyerah karena tidak menemukan Ayana di manapun, Justin menemukan alamat email Ayana yang tertaut di komputer yang biasa Ayana gunakan, hingga ia.bisa melacak keberadaan Ayana dari email tersebut dan langsung memberitahun keberadaan Ayana pada Raymond.
Dan setelah mengetahui keberadaan Ayana, ia langsung menyuruh anak buahnya untuk pergi terlebih dahulu, untuk memantau Ayana. Hingga Raymond bisa tau bahwa Ayana bekerja di Bar.
.Dan setelah mengetahui keberadaan Ayana, tanpa pikir panjang, Raymond langsung menyusul Ayana dan ia ingin meminta maaf pada Ayana.
Raymond turun dari mobil, kemudian ia langsung masuk ke dalam bar. Saat ia masuk, Nafas Raymond memburu,.amarah berkobar hebat di dadanya, saat ada lelaki yang menyentuh Ayana.
“Lepaskan tanganmu dari tubuh wanita itu,” ucap Raymond dengan dingin dan penuh peringatan. Raymon melepaskan jasnya dan menyematkannya, pada tubuh Ayana. Seketika Ayana langsung menoleh ke arah Raymond dan membulatkan matanya.
Lelaki itu menoleh, lalu berdecak kesal dan menatap Raymond dengan remeh, sedangkan Ayana masih menatap Raymond dengan tatapan tak percaya. Ia tidak menyangka Raymond akan datang kemari.
Tiba-tiba hati Ayana dirasuki ke was-wassan. Bagaimana jika Raymond menjebloskannya ke penjara, walau bagaimanapun ia sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan ia sudah kabur dari Raymond.
“Siapa kau berani memerintahku,” ucap lelaki yang tadi memegang tubuh Ayana.
”Bukan urusanmu!” balas raymond. Tak ingin membuat masalah. Raymond menarik tangan Ayana dan membawa Ayana untuk keluar dan meninggalkan lelaki hidung belang tersebut.
Saat berada di luar, Raymond menarik tangan Ayana untuk berjalan ke arah mobilnya yang ada di seberang, sedangkan Ayana yang berada di belakang tubuh Raymond tidak berani mengangkat kepalanya dan tidak berani bersuara sedikitpun..Ia hanya tertunduk, jujur saja sekarang ia takut pada Raymond, ia takut membawanya ke kantor polisi
Setelah sampai di depan mobil, Raymond melepaskan tangan Ayana, kemudian ia memberanikan diri mengangkat kepalanya hingga matanya bersibobrok dengan mata Raymond.
“Ma-maafkan aku. To-tolong jangan memasukan aku ke dalam penjara.” Ayana berbicara dengan terbata-bata, bibirnya bergetar wajahnya sudah pucat, terlihat jelas bahwa saat ini ia sedang ketakutan pada Raymond.
Bukannya menjawab, Raymond malah membuka pintu mobil, “Ma-masuklah, kita berbicara di mobil!” kata Raymond.
“A-aku harus bekerja lagi. Ji-jika tidak aku akan di pecat!” Ayana masih menjawab dengan terbata-bata.