
“Apa kalian yakin ingin bertemu Daddy?” tanya Gabby memastikan, seketika Laura melepaskan pelukannya dari sang ibu. Bola mata Laura tampak memutar ke atas, ia tampak berpikir dan mendalami isi hatinya sendiri.
Sebenarnya, ia pun takut bertemu sang ayah. Ia dan Naura takut melihat sikap sang ayah, karena mereka tau, sikap sang ayah akan tetap sama, walaupun sudah dua bulan ini mereka tak bertemu.
Tapi sisi lain, hati kecilnya bergejolak. Ia ingin memiliki kenangan terakhir bersama Nael, sang ayah. Ia ingin membawa foto Nael Untuk dikenangnya saat berada di Jepang, untuk dipeluknya saat ia merasa rindu ia dan Naura rindu pada Nael.
Selama 2 bulan ini ini, walaupun Laura dan Naura berkata tidak ingin bertemu Nael. tapi Ada kerinduan yang terbersit di dalam hati dua gadis kecil itu. Bahkan ketika mereka merasakan kesakitan, mereka selalu diam-diam menangis, memeluk foto Stuad, karena mereka rindu sang kakek.
Laura dan Naura selalu berandai-andai, bahwa Nael bisa seperti Stuard yang bisa memeluk mereka, menenangkan mereka dan memberi semangat pada mereka ketika mereka sakit.
Tapi sayangnya, itu semua hanya harapan Laura dan Naura. Karena faktanya, tidak seperti itu.
Sebelum pergi ke Jepang, Laura dan Naura ingin berfoto dengan Nael, jika pun Nael menolak dan tidak ingin berfoto dengan mereka, Laura dan Naura hanya ingin memoto sang ayah saja, dan mengabadikan wajah sang ayah di ponsel, agar mereka bisa memandang sang ayah ketika mereka rindu.
Laura mengangguk, wajahnya terlihat sendu terlihat jelas, wajah gadis kecil itu menanggung luka yang sangat hebat. “Mommy aku tahu, bagaimana, reaksi Daddy ketika nanti bertemu denganku dan Naura. Kita akan berusaha menahannya dan akan tetap tersenyum. Tapi setidaknya, kami mempunyai Kenangan terakhir sebelum kita pergi ke Jepang,” Jawab Laura, ia kembali merebahkan kepalanya di dada Gabby.
Sedangkan Gabby mengelus punggung Laura dengan hati yang sedih. Semenjak Laura dan Naura di vonis mengalami leukimia, dan saat melihat kedua putrinya kesakitan, Gabby selalu menyalahkan dirinya sendiri.
Tapi setelah Gabby tersadar, Gaby selalu menyadarkan dirinya. Bahwa tidak ada yang harus disesali. Laura dan Naura adalah hidupnya. Hanya saja rasa bersalah itu tetap ada, ia merasa bersalah pada kedua putrinya karena tidak bisa memberikan kebahagiaan.
“Mommy akan berusaha untuk memaksa Daddy agar menemani kalian,” ucap Gabby. Ia sendiri pun tidak yakin, Nael mau mengikuti keinginan putrinya. Sedangkan jika Laura dan Naura menemuinya hari biasa saja, Nael selalu tidak terima dengan kehadiran kedua putrinya.
“Laura!” Panggil Gabby. Laura yang sedang merebahkan kepalanya di dada sang ibu menoleh. Lalu menatap sang ibu.
“Apa Mommy tidak bisa meminta Daddy, ” tebak Laura, wajahnya mendung saat melihat ekspresi sang Ibu.
Gabby mengelus pipi Laura yang tampak memutih dan lebih dari sekedar pucat kemudian tersenyum. “Laura, bagaimana jika Daddy tidak mau dan Mommy tidak berhasil meyakinkan Daddy?” tanya Gabby, seketika mata Laura sudah memerah, ada tangis yang mendesak untuk dikeluarkan, membuat hati Gabby kian teriris perih.
“Mommy akan berusaha untuk meminta Daddy agar bisa menemani kalian ke taman hiburan.” Sebelum Laura menjawab, Gabby sudah berbicara terlebih dahulu. Ia tidak tega melihat wajah Laura.
Jika diperlukan, Gabby akan memohon pada Nael untuk menemani kedua putrinya ke taman hiburan. Selama ini, Laura dan Naura sudah sangat menderita. Jadi walaupun Gabby harus memohon demi putrinya, Gaby akan melakukan itu.
Scroll gengs aku up 4 bab