
“Hai, kau sudah siap?” tanya Arsen pada Seina, gadis remaja itu pun mengangguk. Saat Arsen sudah berbalik dan berniat berjalan mendahului Seina, langkah Arsen terhenti, tubuhnya diam mematung. Ia terasa tersengat listrik kala ia merasa tangannya digenggam oleh seseorang, siapa lagi kalau Seina.
Tubuh Arsen membeku, Arsen tidak menyangka, Seina akan genggam tangannya. Padahal, barusan Seina menatapnya dengan asing. Tapi sekarang ....
Sebenarnya, Seina tidak ingin melakukan ini. Tapi ini perintah ayah sambungnya. Jacob menyuruh Seina untuk menggenggam tangan Arsen, walau bagaimanapun, Jacob mengerti bagaimana posisi Arsen, hingga ia menyuruh Seina untuk melakukan hal tersebut.
Tanpa berbicara sepatah katapun, Seina maju, lalu menarik tangan Arsen, hingga Arsen tersadar lalu tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
“Bagaimana jika kita makan siang bersama?” ucap Arsen ketika sudah berada di mobil. Siena tampak berpikir. Sebenarnya ia sudah makan, tapi ia tidak ingin mengecewakan ayah kandungnya. Seina mengangguk.
“Baiklah,” jawab Seina
Hening
Kedua orang itu sama-sama hening, tidak ada yang berbicara sepatah katapun. Arsen dengan rasa senangnya sedangkan Seina dengan rasa canggungnya. Walau bagaimanapun, ia tidak terbiasa dengan kehadiran Arsen dan fakta tentang Arsen, hingga Ia hanya mampu terdiam.
“Ekheemm!” Arsen berdehem, menyadarkan Seina dari lamunannya.
Seina tersadar, kemudian menolehkan kepalanya ke sana kemari ini bukan restoran, melainkan ke sebuah kedai es krim. “Kenapa kita di sini?” tanya Seina. Arsen terkekeh. “kau menyukai es krim?” tanya Arsen, Seina pun menggangguk. Karena memang gadis remaja itu sangat menyukai es krim.
Arsen tersenyum. “Ayo turun, Paman tahu kau tidak ingin makan. Jadi bagaimana jika kita memakan es krim saja," ucap arsen. Siena terdiam, kemudian menggangguk. Ia malu karena ia ketahuan berbohong.
Arsen pun keluar dari mobil, kemudian memutari mobilnya. Lalu setelah itu ia membukakan pintu untuk Seina.
•••
Selama 2 minggu ini, ia sudah terbiasa dengan kehadiran Gisel di apartemennya. Sedangkan ia merasa sungkan jika harus pergi ke apartemen Gisel karena di sana ada Gaby dan Gabriel.
“Siapa yang pulang?” tiba-tiba terdengar suara Gisel dari arah belakang, membuat Arsen menoleh.
“Kau dari mana?” tanya Arsen, pada Gisel yang baru saja masuk ke dalam apartemen. Gisel tidak menjawab, ia malah memperlihatkan kamera yang ia pegang.
“Ayo lihat!” kata Gisel, Ia pun mengajak Arsen masuk kedalam dan mereka pun menundukkan diri di sofa .
“Gisel ada apa?” Arsen bingung, kenapa Gisel tiba-tiba mengajaknya duduk. “Lihat ini, bagaimana menurutmu !” Giseel memperlihatkan kameranya yang menampilkan jepretan foto Arsen dan juga Seina.
“Jadi kau mengikuti kami?" tanya Arsen dengan terkejut..Gisel pun menganggu.
“Aku mengikutimu dan aku mengabdikan momen saat kau bersama Seina.” Arsen menatap wajah Gisel lekat-lekat, wanita di depannya ini begitu sempurna dan bagai malaikat.
“Kenapa kau menatapku begitu?” tanya Gisel.
“Kkenapa kau mau dengan pria sepertiku pria pendosa, penyakitan. Padahal kau begitu sempurna.”
“Maka dari itu, karena aku sempurna, kau tidak boleh menyia-nyiakanku!” ucap Gisel sambil tertawa. “Ah, kau tidak boleh memanggilku Gisel lagi kau, kau harus memanggilku sayang!” titah Gisel membuat pipi Arsen merona.
Percayalah walaupun Gisel tersenyum, tapi ia dirasuki ketakutan yang luar biasa hebat, apalagi besok arsen akan mengalami operasi besar.
Scroll gengs.