Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Menyadari


Tubuh Nauder diam mematung, ucapan Naura barusan membuatnya benar-benar membuat diam tidak berkutik. Bagaimana bisa Naura mengucapkan hal semacam itu padanya


Ya, dia tahu ia salah, ia tahu ia telah bermain di belakang Naura. Tapi ia tidak menyangka Naura akan mengatakan tentang perpisahan, ia mencintai Naura kemarin dia hanya bermain-main saja. Dan sekarang, dia lebih menyadari bahwa Naura lebih berarti daripada kesenangan yang ia rasakan selama setahun ini bersama Anesa.


Tiba-tiba Nauder tersadar ketika mendengar pintu tertutup dan ia menoleh ke arah sofa yang tadi diduduki oleh Naura dan ternyata Naura sudah tidak ada lagi di sana, Nauder pun langsung bangkit dari duduknya, lelaki itu langsung menyusul Naura ke kamar.


“ Naura ... Naura!” panggil Nauder, ia mengetuk pintu dengan keras karena pintu terkunci dari dalam. “Naura dengarkan aku, ayo kita bicara lagi.”


Naura yang baru saja masuk menyenderkan tubuhnya ke pintu. Perlahan, tubuhnyana ambruk ke lantai, ia memeluk lutut dan menangis sejati-jadinya. Tidak bisa didefinisikan lagi bagaimana sakitnya hati Naura saat mengetahui apa yang suaminya lakukan di belakangnya.


Mati-matian mempertahankan semuanya. Sekalipun ia diterjang badai karena kelakuan Alvaro. Tapi dia masih berusaha bertahan demi rumah tangganya, menahan semua yang bergejolak.


Ia akui ia memang lalai tidak memperhatikan Nauder. Tapi ia benar-benar tidak bisa mengesampingkan apa yang terjadi pada putrinya.


Dulu saat kecil, dia dan Laura yang merupakan kembarannya pernah menderita leukimia saat itu ibunya hanya ibu tunggal, tidak bisa memperhatikan dua anak secara langsung, dia serta Laura harus bergantian merasakan perhatian sang ibu, dan dia paham bagaimana rasanya ketika sang Ibu harus memperhatikan Laura dan juga pasti Laura merasakan hal yang sama, Itu sebabnya Naura ingin memberikan perhatian secara full pada Ameera.


Bahkan selama Ameera mengalami sakit dan selalu kambuh tiba-tiba, sekalipun Naura tidak pernah meminta bantuan pada Nauder, sekalipun dia harus pergi ke rumah sakit tengah malam.


Bahkan Naura cukup sadar diri, tidak pernah menyebut kata Putri kita pada Nauder, karena itu selalu bertentangan dengan hati nuraninya. Naura Hanya selalu mengatakan dia putriku putriku dan putriku bukan Putri kita.


2 jam kemudian


Nauder masih setia di depan pintu kamar, selama 2 jam ini Nauder dihantui kengerian yang luar biasa, membayangkan Naura pergi dari hidupnya membayangkan ia tidak bisa lagi melihat Naura. Benar kata orang, semuanya selalu terasa ketika seseorang akan pergi termasuk sekarang, Kemarin jangankan mengingat Naura, dia hanya sibuk dengan dunianya tapi sekarang membayangkan Naura akan pergi dari hidupnya rasanya Nauder tidak sanggup.


Tak lama, terdengar suara derap langkah dari dalam, hingga Nauder yang sedang duduk di pinggiran sofa langsung menegakkan tubuhnya dan benar saja pintu terbuka, Naura keluar dari kamar dengan terburu-buru.


Rupanya, Gaby sang Ibu menelepon Naura dan mengatakan Ameera mengalami bintik-bintik di tubuhnya dan tubuh Ameera lemas, hingga Naura langsung memutuskan pergi.


“Naura ada apa?” tanya Nauder yang menghadang langkah Naura.. Naura tidak menjawab dia malah mendorong tubuh Nauder. Hingga tubuh Nauder hampir terjatuh. Secepat kilat Nauder pun mengejar Naura yang berlari dengan sangat cepat.


Naura menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, beberapa kali ia menyalip kendaraan di depannya dan berapa kali juga ia hampir menabrak pembatas jalan. Tapi dia tidak memperdulikan lagi dirinya yang ia pikirkan adalah sampai secepatnya di mansion kedua orang tuanya, bahkan Naura tidak menyadari bahwa mobil Nauder mengikuti di belakang.


Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh dan menegangkan, akhirnya mobil yang dikendarai Naura sampai di mansion Ia pun langsung turun dan berlari disusunnya Nauder yang juga ikut turun.


“Ameera!” pekik Naura ketika melihat Ameera terkulai lemah di pangkuan sang ayah. Secepat kilat, Naura langsung mengambil tubuh Ameera.


“Ayo kita bawa ke rumah sakit," ucap Nael sang ayah, sedari tadi ia ingin membawa Cucunya ke rumah sakit. Namun dia menunggu Naura terlebih dahulu.


Saat akan keluar dari kamar, Nauder datang hingga Naura dan Nauder berhadap-hadapan, kedua insan itu saling menatap. Namun Naura yang sedang memangku Ameera segera melewati tubuh Nauder begitu saja, disusul nael.


***


Ameera sudah ditangani oleh dokter. Sedari tadi Naura terus menatap wajah putrinya dengan khawatir, bahkan terlihat jelas wajah Ameera begitu pucat, tubuhnya seperti tidak bertenaga sedari tadi Ia hanya terus berdiam diri di pelukan sang ibu yang juga ikut berbaring diberangkar.


“Kami akan memantau kondisi pasien secara berkala,” ucap dokter.


“Terima kasih, Dok.” Dokter pun berbalik dan keluar dari ruang rawat Ameera, dan setelah dokter keluar Nauder masuk ke dalam.


Sejenak Nauder terpaku saat melihat pemandangan, di mana Ameera memeluk Naura dan Naura mengelus punggung putrinya. Tubuhnya Nauder diam mematung saat menyadari sesuatu, setelah putrinya didiagnosis mengalami autoimun Nauder tidak pernah sekalipun menemani Naura di rumah sakit dia juga baru ingat selama ini Naura tidak pernah meminta tolong padanya.


Ketika Naura menemani Ameera yang dirawat, dia malah bisa tidur nyenyak di apartemen tapi sekarang melihat pemandangan ini, Nauder begitu terenyuh.


“Tuhan ternyata aku keliru." Lagi-lagi Nauder merasa sesak saat mengingat bahwa dia tidak terlalu dekat dengan putrinya. Bahkan ia tidak pernah mengajak Ameera ntuk sekedar bermain bersama karena menganggap itu adalah tugas Naura dan sekarang Nauder benar-benar di ambang batas penyesalan.


Perlahan, Nauder pun maju ke arah berangkar, kemudian ia langsung menarik kursi hingga Naura tersadar. Naura menatap Nauder dengan dingin. Namun ia tidak berbicara sepatah kata pun, rasanya dia masih sesak ketika melihat lelaki yang ada di depannya ini.


Satu minggu kemudian


Ini sudah satu minggu berlalu Ameera dirawat, dan selama satu minggu ini pula Nauder tidak pernah absen menemani Naura di rumah sakit walaupun kehadirannya seperti tidak terlihat oleh istrinya dan selama satu minggu ini pula Nauder benar-benar melihat perjuangan Naura yang mengurus Ameeera seorang diri dan setelah satu minggu berlalu akhirnya Ameera diizinkan pulang oleh dokter.


Saat ini, Naura sedang bersiap membereskan semuanya sedangkan sedari tadi Nauder duduk di sofa menatap Naura yang berjalan ke sana kemari tanpa bisa berbicara karena Naura selalu mengacuhkannya dan bersikap dingin. Tentu saja itu pukulan terberat bagi Nauder.


Akhirnya Naura selesai berkemas, dia sudah membereskan semuanya wanita itu hanya tinggal menunggu putrinya bangun.


“Naura Ayo kita bicara,” ucapkan Nauder.


Naura mengehela nafas berkali-kali.


“Aku akan pulang ke mansion Mommy dan Daddy.”


Deg