
Joshua memeluk Savana begitu erat. Ucapan Ameera tentang semua yang terjadi sebelum Savana menggugurkan kandungannya, terngiang-ngiang di otak Joshua. Bahkan yang paling menyakitkan, Savana harus meminjam uang hanya untuk memeriksakan kandungan mereka, sedangkan dia anggap Savana hanya berpura-pura berubah demi menggapai simpatinya.
Ketika Joshua memeluknya, Savana bukannya senang, pelukan ini begitu menyakitkan, padahal dulu dia selalu ingin dipeluk oleh suaminya. Padahal dulu dia selalu ingin Joshua bersikap hangat padanya, tapi entah kenapa sekarang apa yang dilakukan Joshua sepertinya percuma. Rasa sakit yang dirasakan Savana sepertinya sudah mendarah daging.
"Paman," panggil Savana, mati-matian dia berusaha untuk tidak menangis hingga Joshua langsung melepaskan pelukannya.
"Kenapa kau tidak makan di apartemen? Kan, ada koki di sana," ucap Joshua. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa dia tahu tentang Savana yang bekerja menjadi pencuci piring di restoran tersebut, sebab jika dia bertanya, itu akan melukai harga diri Savana dan dia tidak mau Savana semakin terluka.
"Oh, tadi aku lapar," jawab Savana.
"Ya sudah ayo kita pulang," ajak Joshua.
Bukan hanya Savana saja yang berusaha untuk menahan tangisnya, Joshua pun begitu. Setelah itu, Joshua menarik lembut tangan Savana untuk berjalan ke arah mobil.
Joshua membukakan pintu mobil untuk istrinya membuat Savana mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Joshua seperti ini, termasuk saat pelukan tadi. Namun tak lama, Savana menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin banyak berpikir.
Joshua masuk ke dalam kursi, kemudian lelaki itu memakai sabuk pengaman, sedangkan Savana langsung menyandarkan tubuhnya ke belakang lalu melihat ke arah jendela.
Savana meringis kala dia merasa perutnya keram. Dia juga merasa tubuhnya tidak berdaya, sebab dia baru merasakan pekerjaan yang sangat berat, di mana inilah pertama kalinya dia bekerja. Sedari tadi bekerja, Savana menahan rasa sakit di perutnya hanya demi uang yang tak seberapa, tapi uang itu berarti untuk dia berkuliah.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Joshua sampai di basement. Savana turun dari mobil mendahului Joshua. Lalu Joshua menyusul Savana, hingga kini Joshua berdiri berjalan di belakang istrinya. Ketika melihat Savana dari belakang, hati Joshua kembali tersayat ketika menyadari bahwa tubuh Savana terlihat sangat kurus.
Sampai di unit apartemen mereka, Savana yang berjalan terlebih dahulu menunggu Joshua untuk mendekat, tentu saja untuk membuka kode apartemen. Jujur saja semenjak kejadian itu, Savana benar-benar kehilangan kepercayaan dirinya hingga dia tidak berani masuk karena apartemen ini milik Joshua.
Sikap Savana sebenarnya bukan berlebihan. Dia hanya lebih sadar diri dan tidak ingin terluka. Bisa saja suatu saat Joshua mengusirnya, terlebih lagi mungkin Joshua mengetahuinya bahwa dia hanya anak pelayan.
Kemarin saja saat Joshua belum mengetahui bahwa dia anak pelayan, Joshua memperlakukannya sesuka hati, lalu apa kabar dengan sekarang?
Joshua menatap Savana. "Kenapa kau tidak menekan kodenya?" tanya Joshua.
"Paman saja," jawab Savana.
Joshua pun tidak bertanya lagi. Dia langsung menggerakkan tangannya untuk menekan kode, hingga pintu terbuka dan setelah itu Joshua masuk disusul Savana yang berada di belakangnya.
"Kau ingin langsung beristirahat?" tanya Joshua.
Savana mengangguk. "Iya, Paman," jawabnya.
Baru saja Savana akan berbalik, Joshua kembali memanggil Savana hingga Savana menoleh. "Iya, Paman?" sahutnya.
Joshua tidak menjawab. Dia menatap Savana dengan lekat. Seharusnya, wanita di depannya ini mengamuk padanya. Seharusnya, istrinya ini memakinya, mengutuknya. Namun lihatlah, Savana malah bersikap seperti ini dan itu membuat Joshua sesak.
"Tidak, aku baru saja me-restock susu almond untukmu," ucap Joshua tiba-tiba hingga Savana mengangguk.
"Terima kasih," jawabnya karena Savana benar-benar sudah tidak mempunyai kekuatan. Savana memutuskan untuk mengambil satu kotak susu almond tersebut. Dia ingin menikmatinya sebelum tertidur.
Setelah Savana pergi ke dapur lalu pergi ke kamarnya, Joshua masih diam di tempat. Kecangungan seketika langsung melandanya. Dia bingung harus mulai menebus kesalahannya dari mana, sedangkan dia yakin Savana bersikap seperti ini untuk membangun pembatas nyata dengannya.
***
Savana menyimpan susu almond yang dia pegang kemudian wanita itu berjalan dengan lemas ke arah lemari, lalu mengambil pakaian dan menggantinya. Saking lemasnya Savana, hari ini wanita itu memutuskan untuk tidak mandi sebab dia benar-benar sudah kehilangan tenaganya.
Savana mendudukkan diri di lantai dengan menyandarkan tubuhnya ke ranjang, lalu setelah itu dia menekuk kakinya. Dia menyeruput susu almond yang dipegang dengan tatapan yang menatap lurus ke depan, di satu tangannya memegang kertas USG yang selalu dia simpan yang mengingatkannya pada sang anak.
'Nak, ternyata sepertinya keputusan Mommy kemarin benar. Jika kau dipaksa terus hidup, kau akan malu mempunyai Ibu seperti Mommy yang tidak bisa melakukan apapun. Bisa saja kita diusir dan tidak diakui oleh ayahmu.' Savana membatin. Sekuat apapun dia menahan untuk tidak menangis, pada akhirnya tangisnya luruh juga.
Waktu menunjukkan pukul tiga pagi.
Joshua masuk ke dalam kamar Savana. Sedari tadi, dia tidak bisa tertidur memikirkan istrinya, memikirkan bagaimana caranya dia menebus semuanya, memikirkan bagaimana caranya agar dia membuat Savana kembali seperti semula dan ketika kegelisahan itu semakin menjadi-jadi, pada akhirnya Joshua langsung menghampiri sang sang istri.
Joshua mendudukan diri di sebelah Savana. Dia menatap wajah Savana dengan lekat. Dia baru menyadari bahwa Savana begitu cantik, walaupun sekarang pipinya begitu tirus.
'Gugurkan saja anak itu!'
Joshua memejamkan matanya kala ucapannya saat itu pada Savana kembali menubruk otaknya. Dia saja terluka, bagaimana dengan Savana yang jelas-jelas menerima ucapan itu darinya?
Tak lama, Joshua meringis ketika melihat tangan Savana yang memerah dan bengkak, karena memang pekerjaan Savana tadi benar-benar menyita tenaganya dan karena Savana tidak terbiasa bekerja seperti itu, hingga tangannya langsung bengkak. Bahkan tadi sebelum tertidur pun, Savana terus merendam tangannya dengan air hangat, berharap rasa pegal dan rasa sakitnya berkurang. Namun ternyata, itu semua sia-sia dan pada akhirnya Savana baru tertidur satu jam lalu.
Malam berganti pagi.
Savana terbangun dari tidurnya. Dia mengerutkan keningnya ketika merasakan berat di bagian kepalanya. Dia menyentuh kening kemudian mengangkat benda dari keningnya, ternyata itu adalah handuk dan rupanya tanpa sadar, Savana mengalami demam.
Pada awalnya Joshua tidak menyadari bahwa tubuh Savana panas dan saat akan bangkit, Joshua tanpa sengaja meraba tangan Savana yang sangat panas, dan dia tahu Savana demam hingga dia pun langsung mengompres kening istrinya.