
Jordan menutup mulutnya saat mendengar ucapan Gabby. Ia menatap Gabby dengan tatapan tak percaya. Nafas Jordan memburu, jantungnya terasa disayat ribuan belati saat mengetahui apa yang terjadi dengan Gaby Laura dan Naura. Bagaimana mungkin mereka mempunyai penyakit yang sama.
“Gabby, katakan itu tidak benar. Katakan bahwa kau berbohong?” tanya Jordan. Bahkan, air mata Jordan hampir terjatuh saat mendengar apa yang dikatakan oleh Gabby. Dia juga mengingat terakhir kali ia melihat Laura dan Naura di pemakaman. Bahkan saat itu, ia ikut sakit hati ketika Nael mengabaikan Laura dan Naura. Padahal kedua anak itu sudah terlihat sangat pucat.
Pada akhirnya, Gabby menunduk. Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya. “Aku akan bahagia, jika ini adalah kebohongan. Tapi sayangnya ini nyata. Kami bertiga menderita leukimia dan kami akan pergi ke Jepang, dan memutuskan menetap di sana. Mami akan memulai pengobatan di sana bertiga,” ucap Gabby. Jordan masih terdiam, ia masih belum mencerna ucapan Gabby.
Walaupun ia tidak terlalu dekat dengan Gabby. Tapi mendengar kenyatan Gabby, laura dan Naura menderita Leukimia, sungguh membuat hatinya tersayat. Apalagi Laura dan Naura masih sangat kecil untuk merasakan sakit yang luar biasa hebat karena leukimia.
“Gabby!” Jordan hanya mampu memanggil Gabby. Hingga Gabby mengangkat kepalanya dan menghapus air matanya. “Tidak apa-apa Jordan, kami pasti sembuh, kami pasti akan baik-baik saja. Kami pasti bisa melewati ini semua. Jadi, jika kau berkenan, bisakah kau membujuk Nael agar mau menemani Laura dan Naura ke taman Hiburan. Ini permintaan Laura dan Naura sebelum kami pergi mereka ingin mempunyai kenangan manis bersama Nael.”
Jordan menggangguk. “Aku akan memastikan Nael akan menemani Laura dan Naura pergi,” ucap Jordan. Dia pasti akan sangat menyesal ketika tahu Laura dan Naura menderita penyakit leukimia,”ucap Jordan lagi. Seketika Gabby menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Jordan, Tolong jangan beritahu apapun pada Nael. Tolong jangan beritahu Nael, bahwa Laura dan Naura menderita penyakit leukemia!” kata Gabby, membuat Jordan mengerutkan keningnya.
“Jordan, dia tidak akan berubah dan tak akan pernah berubah. Ini sudah 8 tahun berlalu, kehadiran Laura dan Naura tidak mampu mengetuk kerasnya hati Nael. Bahkan Laura dan Naura pun sekarang menyerah mendapatkan simpati Nael. Jika Nael tau, Laura dan Naura menderita leukimia, Nael tidak akan bersimpati. Nael pasti akan menertawakan Kami bertiga, bahkan mungkin Nael akan mendoakan Laura dan Naura cepat mati, seperti keinginannya.. Hatinya sudah tertutup oleh kebencian dan dia akan tertawa puas di atas rasa sakit kedua putriku,” ucap Gabby.
Ia kembali menunduk dengan tangis yang berlinang. Untuk pertama kalinya, ia menumpahkan keluh kesahnya di hadapan orang lain.
Jordan menepuk-nepuk tangan Gabby. Melihat Gabby menangis. Jordan pun jadi ingin ikut menangis. Terbayang betapa beratnya, menjadi Gabby. Gabby baru saja kehilangan kedua orang tuanya dan sekarang, ia harus menyaksikan kedua putrinya yang selalu kesakitan.
“Gabby, apa ini berat untukmu?” tanya Jordan. Gaby menggeleng. Tapi tak lama, Gabby kembali menggangguk. “Ini sangat berat, sangat berat. Aku tak berdaya, dan aku harus melihat kedua putriku kesakitan tanpa bisa menolong mereka. Dan yang lebih menyakitkan, mereka tidak pernah mengeluh, mereka tidak pernah mengatakan bahwa mereka sakit, tapi aku tau mereka sangat kesakitan dan mereka menikmati rasa sakit itu.”
Scroll ga? scroll lah masa enggak Tinggalin komen stiap bab