Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Pasti ini berat


“Kalian ingin sesuatu?” tanya Jeremy, ketika Laura dan Naura sudah ditangani oleh dokter. Laura dan Naura tampak lemas, mereka saling saling menggenggam tangan, karena mereka ditempatkan di brankar yang sama.


Laura dan Naura kompak menggeleng, mereka menatap Jeremy dengan sayu. Setelah dibawa ke rumah sakit, tubuh Laura dan Naura semakin panas. Kepala mereka semakin sakit. Hingga akhirnya mereka terbaring tak berdaya.


“Paman bolehkah aku meminta tolong?” tanya Laura. Jeremy pun mengangguk.


“Kau ingin meminta tolong apa hmm?” tanya Jeremy dengan lemah lembut.


“Paman, apa paman bisa menelpon ka ...” Tiba-tiba, Laura menghentikan ucapannya saat ia tak sengaja menyebut nama sang kakek. Karena biasanya, setiap Ia sakit atau Naura yang sakit. Stuard lah yang akan memeluk mereka dan menenangkan mereka. Tapi Laura baru teringat, bahwa sang kakek sudah pergi selama lamanya. Sedangkan Greey, mereka tidak sedekat itu dengan Greey.


“Kalian ingin Menelepon siapa?” Tanya Jeremy lagi. Tiba-tiba, wajah Laura dan Naura mendadak Sendu. Kemudian mereka sama-sama terdiam, berusaha menahan tangis yang sudah mendesak untuk dikeluarkan.


“Bisakah paman, menelepon Mommy dan menyuruh Mommy untuk datang kemari?” tanya Laura pada Jerremy. Sedangkan Stella sedang mengurus hasil tes yang milik Laura dan Naura.


“Baik, paman akan menelepon mommy kalian,” Jeremi merogoh saku, kemudian mengambil ponsel untuk menelepon Gabby. Namun, belum ia menelepon Gabby. Tiba-tiba, pintu terbuka. Gabby masuk ke dalam ruanganmembuat Laura dan Naura serta Jeremy menoleh ke arah pintu.


“Laura ... Naura, " ucap Gabby. Jeremy yang sedang duduk langsung bangkit dari duduknya. agar Gabby bisa duduk di tempat yang barusan ia duduki


“Mommy ....” lirihnya. Laura dan Naura berbicara dengan pelan, matanya tampak Sayu menatap Gabby. Gabby memegang kening kedua putrinya, kemudian ia berusaha menguatkan hatinya dan menegarkan dirinya.


“Laura dan Naura apa yang terasa. Apa kepala kalian masih pusing?” tanya Gabby. Laura dan Naura pun mengangguk. “Mom tenggorokanku Pedih dan aku ingin muntah,” ucap Laura. Sedangkan Naura hanya terdiam. Tubuhnya benar-benar lemas tak bertenaga.


Lagi-lagi, Gabby berusaha untuk menegarkan dirinya. Biasanya sang ayah yang akan menenangkan Laura dan Naura ketika sakit. Tapi sekarang, tidak ada lagi sosok Stuard yang menguatkannya. Gabby benar-benar merasa sendiri. Ia lemah, tapi ia harus kuat untuk putrinya.


“Tuan Jeremy. Terima kasih sudah membawa Laura dan Naura ke rumah sakit. Terima kasih Sudah menemani mereka,” ucap Gabby yang memalingkan tetapannya ke arah lain. Jeremy tersenyum, kemudian menepuk pundak Gabby.


“Nona Gaby. ini pasti berat untukmu. Tapi pasti setelah ini, ada pelangi yang akan menyinari harimu," ucap Jeremy. Seketika Gabby menunduk. Ucapan Jeremy benar-benar membuat Gabby tercerai-berai. Ini memang berat dan ia juga merasa ia takkan sanggup melewati ini. Tapi, ia harus kuat demi anaknya agar anaknya tidak merasakan apa yang ia rasakan ketika ia ditinggal oleh Stuard dan Sima.


Ia tidak ingin menyerah dengan penyakitnya, agar bisa menemani Laura dan Naura agar kedua putrinya tidak sebatang kara.


“Terima kasih, Tuan Jeremy,” ucap Gabby ia berusaha untuk tak menangis dihadapan Jeremy. Tiba-tiba, pintu kembali terbuka. muncul sosok Stella yang membawa hasil pemeriksaan laboratoruum milik Naura dan Naura.


“Nona Gabby!” Panggil Stella. Ia memberikan sebuah kertas yang berisi laporan kesehatan, laporan kondisi Laura dan Naura.


“Kalau begitu aku permisi Nona Gabby, kabari aku jika ada apapun. Aku akan siap membantu!" kata Jeremy. Gabby pun mengangguk.


“Terima kasih, Tuan.”


“Kalian harus cepat sembuh, paman berjanji. akan mengajak kalian berjalan-jalan. Jika kalian sembuh!” kata Jeremy. Naura dan Laura tidak menjawab, ia hanya menatap Jeremy.alu mengedipkan matanya, karena rasanya tubuh mereka masih lemas.


••••


Scroll gengs aku up 3 bab