
Saat Raymond menarik jas Jordan keluar dari ruangan yang di tempati Moa, Ayana langsung menyimpan Moa di ranjang.
“Moa, kau tunggu di sini oke, Mommy akan menyusul Daddy,” kata Ayana. Secepat kilat, Ia pun langsung berlari ke arah luar untuk melihat apa yang terjadi antara Raymond dan Jordan.
Ayana menutup mulutnya saat melihat melihat Raymond sedang menekan dada Jordan dengan kakinya. Bahkan, Jordan terdengar kesakitan dan merintih. Baru saja, Ayana ingin menghentikan Raymond. Tapi, ia menghentikan niatnya saat mengingat apa yang dilakukan Jordan pada Moa. ia lebih baik membiarkan Raymond melakukan apa yang sedang dilakukan saat ini.
Tubuh Ayana masih terdiam di tempat, hingga pada akhirnya ia melihat Jordan memejamkan matanya dan tak sadarkan diri. Jujur saja ia bergidik, saat melihat Raymond. Ia seperti melihat sosok Raymond yang lain.
Raymond menarik sudut bibirnya, ia tersenyum sinis saat melihat Jordan memejamkan matanya seraya mengeluarkan darah dari mulutnya. Emosinya sedikit mereda, saat melihat Jordan
terbaring. Ia pun berbalik, saat berbalik, Raymond sedikit terpenjat saat melihat Ayana di depannya.
“Kau boleh menganggapku kejam. Tapi aku memang seperti ini,” ucap Raymond saat berada di depan Ayana. Mata Ayana berkaca-kaca. Setelah ia bercerai dari Jordan, tidak pernah ada yang membelanya seperti ini dan sekarang datanglah Raymon di tengah-tengah mereka. Bahkan, ia melihat pancaran ketulusan di mata Raymond.
Saat menatap Moa, Ayana menunduk. “Terima kasih,” ucap Ayana. Ia ingin berhambur memeluk Raymond. Tapi tentu saja, ia tidak seberani itu. Raymond maju kemudian membawa Ayana ke dalam pelukannya.
“Aku bersalah, karena tidak bisa menjaga Moa. Tapi aku berjanji ke depannya, aku tidak akan membuat Moa terluka lagi,” ucap Raymond semakin menambah Mello perasaan Ayana.
Raymond melepaskan pelukannya, kemudian ia menatap Ayana. “ayo kita pulang, kita beristirahat di rumah. Sepertinya Moa, akan lebih baik tinggal di apartemen daripada di sini!” ajak Raymond, Ayana pun mengangguk. Kemudian Raymond pun masuk ke dalam ruangan, disusul Ayana yang berada di belakangnya.
“Moa ayo kita pulang!” ajak Raymond, Moa tak menjawab ucapan Raymond, ia malah melihat ke arah pintu.
“Mommy apa Paman tadi yang hampir saja menabrak kita waktu itu?” tanya Moa. Rupanya, ia masih ingat mobil yang menyerempetnya dulu, yang sama persis dengan mobil yang menyerempetnya sekarang, yaitu mobil Jordan.
Raymond melihat Ayana. Lalu menatap Ayana dengan tatapan tanda tanya. “Hmm, dulu Jordan pernah hampir menabrak kami. Tapi saat itu kami berhasil selamat!” Raymond berusaha mengatur nafasnya, rasanya emosi yang baru mereda kembali bangkit saat mendengar apa yang Ayana ucapkan.
“Itu semua sudah berlalu, ayo pulang!” ajak Ayana, ia memberanikan diri menggenggam tangan Raymond. Hingga Raymond terdiam. Tidak biasanya Ayana seperti ini.
“ Ayo Moa!” ajak Ayana.
“Mommy, kakiku masih lemas. Jadi gendong aku!” pinta Moa pada Raymond. Dengan sigap, Raymond berbalik kemudian memberikan punggungnya. Lalu setelah itu, mereka pun keluar dari ruangan. Saat berada di luar ruangan, Moa langsung menoleh ke arah belakang, di mana Jordan terkapar. Gadis kecil itu seolah berpikir sesuatu. Namun tak lama, ia kembali berbalik dan melihat ke depan
Waktu menunjukkan pukul 09.00 malam Raymond keluar dari kamar Moa, dan ia mencari-cari Ayana, tapi Ayana tidak ada di manapun. Namun tak lama,.ia menoleh ke arah dapur saat mendengar suara orang yang sedang memasak. Lalu, ia pun langsung jalan ke arah dapur.
Saat berada di depan dapur, Raymond mengerutkan keningnya saat melihat Ayana memasak. Bukankah mereka baru saja makan malam, lalu kenapa wanita di depannya ini kembali memasak.
“Ekhem!” Raymond berdehem,
menyadarkan Ayana yang sedang memasak.
“Tuan kamu mengagetkanku,” ucap Ayana.
“Bukankah kita sudah makan malam barusan. Lalu kenapa kau memasak lagi? tanya Raymond. Ayana menggigit bibirnya, ia sungguh malu terpergok oleh Raymond. “Aku ....”
Raymond maju ke arah dapur, kemudian ia menghampiri Ayana. Hingga kini, mereka berdiri berhadap-hadapan. Raymond menarik dagu Ayana, hingga Ayana melihat ke arahnya.
“Kau akan terus menjaga jarak dariku?” tanya Raymond, ia menangkup kedua pipi Ayana memaksa Ayana untuk melihat ke arahnya. Ayana tidak menjawab, ia menatap mata Raymon dalam-dalam, lelaki ini begitu hebat, begitu tampan dan begitu berkarisma. Pantaskah dia bersanding dengan Raymond
Saat ayahnya tidak membalas ucapan Raymond, Raymond mendekatkan wajahnya. Dan ia langsung mencium bibir Ayana.membuat mata Ayana membulat. Baru saja Ayana akan menjauhkan bibirnya dari bibir Raymond Raymond menahan tengkuk Ayana dan memperdalam ciumannya.
Hingga ....
•••
Jordan berteriak saat seseorang menyirami sesuatu pada wajahnya, rupanya orang yang tadi mengeluarkan Jordan dari club, menyiramkan alkohol pada wajah Jordan.
Jordan berteriak karena rasa perih yang luar biasa hebat. Wajahnya memar, akibat hajaran orang-orang yang d club tadi, belum lagi jajaran Raymond masih terasa. itu sebabnya, saat wajahnya tersiram alkohol, ia berteriak karena merasa pedih bukan main, beruntung hanya alkohol bukan air keras.
Setelah merasa perihnya berkurang, Jordan bangkit, kemudian ia mengelap wajahnya dengan kemeja yang ia pakai.
“Aaaa!” Jordan berteriak saat ia mengusap wajahnya dengan kain. “Aisshhhhh!” tak lama, Jordan terperik kaget, saat ada sebuah kaleng yang mengenai kepalanya, hingga ia menoleh ke arah belakang, rupanya seorang wanita menendang kaleng tersebut hingga kaleng tersebut mendarat di kepala Jordan.
“Apa kau tidak bisa melihat?” tanya Jordan pada anak remaja yang ada di depannya, yang mungkin berusia 18 tahun dan masih memakai seragam.
Mata wanita itu membulat, saat mendengar ucapan lelaki yang ada di depannya. Ia menutup mulut saat menyadari bahwa kaleng yang ia tendang mengenai kepala lelaki tersebut.
Baru saja ia akan meminta maaf. Namun tak lama ia berdecak kesal saat melihat siapa yang ada di depannya.
“Lelaki tua itu lagi!" kata wanita itu. Mata Jordan membulat Saat mendengar penuturan wanita yang ada di depannya, ia melihat tag yang ada di seragam wanita tersebut, ternyata Wanita itu bernama Beverly Joanna.
“Kau Menyebutkan pria tua!” kata Jordan yang tidak terima. Bahkan Jordan merasa sakitnya hilang berganti dengan amarah saat seorang remaja yang mengatakannya sebagai lelaki tua.
Gadis yang akrab di sapa Joana, itu lebih memilih untuk tidak menggubris Jordan. Ia lebih memilih untuk dan melewati tubuh Jordan, Jordan menarik tangan Joana.
.“Urusan kita belum selesai!” ucap Jordan. Joana berbalik, kemudian ia menggigit tangan Jordan hingga Jordan kesakitan. Setelah itu, Joana pun berlari
“Dasar pria tua!” teriak Joana sambil berlari, ia bahkan mengacungkan jari tengahnya pada Jordan Rupanya mereka pernah bertemu di suatu acara dan ada kejadian di mana Joan dan Jordan ....
Nahh kan, kemarin minta karma buat Jordan udh di kasih pada ga tega wkwkwkw
Btw bisa aja ya Joana jodonya Jordan 🤣
besok update 4 bab ya kalau ada yang jajajin otor seblak wkwkw