
Setelah pamit pada Nauder. Elsa keluar dari ruangan Nauder, sejenak, wanita itu berdiri di depan pintu ruangan suaminya, tidak terasa bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Elsa. Pada akhirnya, inilah titik lelahnya, inilah jalan yang harus diambil. Entah besok atau lusa statusnya akan berubah menjadi seorang janda.
Elsa menghapus air matanya kemudian wanita itu kembali melanjutkan langkahnya dan saat berada di depan ruangannya. Elsa kembali masuk dia ingin mengenang ruangan yang selama ia pakai untuk bekerja, ruangan ini menjadi saksi bagaimana dia dan Nauder menjalin hubungan dan ruangan ini juga menjadi saksi bagaimana dia harus melepaskan ikatan yang telah mereka bangun.
“Terima kasih, setidaknya aku mempunyai kesempatan untuk mencintai dan dicintai lelaki sehebat Nauder.” di tengah rasa sakitnya, Elsa tetap bersyukur, dia tidak menyesali apapun dia tidak menyesal telah mendonorkan ginjalnya pada Nauder, dia tidak menyesal telah menolong ibu mertua dan dia juga tidak menyesal telah menjadi istri Nauder walau pada akhirnya dia dibuang setelah memberikan bakti yang luar biasa pada suaminya.
Dua tahun lalu, Elsa pernah mendonorkan ginjalnya untuk Nauder dan tanpa sepengetahuan lelaki itu. Saat itu, Nauder berpura-pura ada urusan bisnis karena dia tidak ingin Elsa khawatir, tapi tanpa sepengetahuan Nauder Elsa sudah mengetahui bahwa suaminya berbohong.
Karena saat mengetahui Nauder mempunyai penyakit gagal ginjal, Elsa mengetes ginjalnya ke rumah sakit dan menemui dokter Nauder dan ternyata ginjal Elsa dan Nauder cocok, dan ketika Nauder berbohong dan akan pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis, Elsa mengiyakan dan berpura-pura percaya. Padahal dia tahu suaminya akan melakukan transplantasi ginjal dan diam-diam Elsa pergi ke rumah sakit yang sama tentu saja karena Elsa adalah pendonor untuk Nauder.
Dan satu tahun kemudian, Elsa menemukan donor ginjal yang lain dan kali ini Elsa yang berbohong pada Nauder. Elsa mengatakan bahwa ia ingin menikmati waktu bersama teman-temannya dan meminta Nauder untuk tidak menghubunginya, karena faktanya dia pergi ke rumah sakit dan dioperasi hingga akhirnya Elsa kembali hidup dengan dua ginjal.
Setelah sekian lama diam di ruangannya, Elsa berbalik saat dia akan pergi ia menoleh ke arah jendela dan ternyata Nauder juga sedang melihat ke arahnya. Elsa menganggukan kepalanya, lalu dia tersenyum untuk yang terakhir kalinya kemudian dia keluar dari ruangan dan pergi keluar dari perusahaan suaminya.
***
“Tuan Nauder, anda tidak apa-apa.” Sandra bertanya ketika melihat Nauder yang melamun hingga Nauder tersadar, dia hanya tersenyum tipis pada Sandra. Ada yang berbeda, senyuman Elsa barusan begitu menyakitkan, kemarin dia yang ingin istrinya pergi. Tapi sekarang, malah dia yang merasa aneh.
Nauder menggelengkan kepalanya, meyakinkan dirinya, ini sudah keputusan yang terbaik, dia akan segera menikahi Sandra, mempunyai ana dan mempunyai keluarga yang sangat bahagia.
“Nona Sandra, bagaimana jika kita pergi sekarang. Kebetulan perutku sedikit lapar. Ayo kita makan di luar,” ajak Nauder. Sandra menggangguk, Nauder pun bangkit dari duduknya, kemudian dia langsung memakai jasnya lalu menyambar kunci mobil dan mereka pun keluar dari ruangan Nauder.
Saat berada di mobil, Nauder kembali melamun. Entah kenapa separuh jiwanya seperti hilang, dan ketika dia melewati halte bis tanpa sengaja Nauder melihat ke arah Elsa yang sedang duduk dan sepertinya, Elsa sedang menunggu bis, dari kaca mobil, Nauder bisa melihat bahu Elsa bergetar dan Nauder tau, istrinya pasti sedang menangis.
Dan tanpa sadar Nauder memperlambat laju mobilnya. Namun super sekian detik, ego Nauder kembali muncul, hingga dia berusaha untuk tidak pedulikan wanita yang sebentar lagi akan menjadi Mantan istrinya
***
Elsa berusaha menghentikan tangisnya, dia menyadari tatapan orang-orang yang menatapnya dengan aneh, tapi dia sudah tidak bisa menahan rasa sesak yang semakin menjadi-jadi. Pada akhirnya Elsa tersadar, dia menghapus air matanya lalu bangkit dari duduknya dan menyetop taksi.
Saat berada dalam taksi, Elsa membuka tas dia merogoh tasnya lalu mengambil ponsel. Wanita mengutak-atik ponselnya, kemudian menekan tombol galeri. Lalu, setelah itu, dia menghapus semua fotonya bersama Nauder.
“Sampai detik ini, aku tidak menyesali apapun. Walaupun pada akhirnya, aku dibuang seperti ini.” Elsa membatin, dia berusaha untuk tidak menangis lagi.
Setelah melewati perjalanan cukup panjang, akhirnya taksi yang di kendarai Elsa sampai di Mansion, Elsa pun turun dia sengaja tidak meminta taksi untuk masuk ke dalam gerbang karena dia ingin berjalan sambil menikmati angin sore, seraya melihat sekitarnya mengenang tempat yang pernah ia singgahi selama 6 tahun ini.
“Nona!” panggil Gio ketika Elsa masuk ke dalam rumah.
Elsa tersenyum. “Gio, tolong suruh koki untuk membuatkan makanan kesukaanku,” titah Elsa.
“Baik Nona,” jawab Gio Elsa pun berlalu kemudian berjalan ke arah lift, dia ingin memakan masakan terakhir yang dibuatkan oleh koki. Karena dia tahu tidak tahu kapan dia bisa memakan makanan enak.
Sebab jika dia keluar dari sini ia harus memulai semuanya dari nol, dan juga harus menghemat uang yang dia punya karena dia sama sekali tidak membawa apapun dan hanya membawa sisa tabungannya yang sedikit.
***
Makan malam sudah tersaji di meja makan, Elsa sudah turun dia tidak langsung ke ruang makan dia mencari Gia dan Chelsea untuk makan bersama, hari ini dia tidak ingin makan sendiri ia ingin makan ditemani kedua pengurus mansion.
“Gio, ayo kita makan malam bersama," ajak Elsa ketika melihat Gio sedang mengecek di dapur.
“Nona kami ....”
“Ayolah, aku tidak ingin makan sendiri malam ini,” ucap Elsa, kali ini nadanya terdengar gembira. Tapi wajahnya mengatakan yang sebaliknya, hingga pada akhirnya Gio menggangguk, dia pamit terlebih dahulu untuk mengajak istrinya.
Akhirnya detik-detik menyakitkan pun tiba di mana pagi ini Elsa akan keluar dari Mansion. Sekarang, Elsa sudah siap. Dia memakai pakaian yang simple sepatu kets serta membawa koper kecil.
Sebelum dia keluar dia melihat seisi kamarnya, kemudian menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. “Terima kasih telah menjadi tempat ternyaman dan tempat yang menyakitkan, tapi aku sama sekali tidak menyesali apapun.”
Setelah puas melihat kamarnya, Elsa berbalik kemudian pergi dan keluar dari kamar. Elsa sengaja pergi pukul 05.00 pagi karena dia tidak ingin berpamitan dengan siapapun.
***
Nauder terus melihat ke arah ruangan Elsa, ada yang aneh dengan hatinya, biasanya dia selalu ingin memanas-manasi Elsa agar Elsa segera pergi. Namun setelah Elsa pergi, dia sendiri merasa tak karuan.
Tak lama, terdengar suara pintu diketuk hingga Nuader mempersilahkan untuk masuk, dia pikir itu sekretaris lamanya, tapi ternyata itu adalah Gio.
“Tuan, apa aku mengganggumu?” tanya Gio.
“Tumben sekali kau kemari. Apa ada yang penting? tanya Nauder sambil bangkit dari duduknya, dan berjalan ke arah Gio serta mempersilahkan Gio duduk di sofa.
“ Aku kemari hanya ingin mengabarkan bahwa nona Elsa sudah pergi Tuan.”
“Pergi ke mana?” tanya Nauder, iya terpekik ketika mendengar jawaban Gio.
“Saya tidak tau, nona Elsa pergi ke mana, dan juga selain mengabarkan Nona Elsa pergi Saya dan istri saya ingin mengundurkan diri karena sudah tidak ada lagi yang perlu kami urus,” ucap Gio.
“Ma-maaksudmu?” Nauder pikir, Elsa pergi hanya untuk sementara tapi mendengar kata-kata Gio, Nauder yakin Elsa meninggalkan mansion selamanya.
“Ya tuan, Nyonya Elsa pergi dari Mansion dan mengatakan bahwa dia tidak butuh apapun dia juga tidak membawa apa-apa.’
Nauder diam terpaku saat mendengar ucapan Gia. Namun, seperti biasa, dia masih berusaha untuk tidak peduli pada istrinya. “Oh baiklah, jika itu memang keputusannya, kita bisa apa,” ucap Naudrer.
“ Apa anda tidak bisa melarangnya Tuan.” Tiba-tiba Nauder melihat ke arah Gio, dia tampak tidak terima saat mendengar ucapan Gio yang seperti mengaturnya.
“Kau mengatur Gio?’ tanya Nauder,
Gio menggeleng. “Tidak Tuan, mana mungkin saya berani mengatur anda.” Gio Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, butuh keberanian untuk mengatakan ini pada Nauder.
“Tuan, sebagai rasa terima kasih Saya, mungkin hanya ini yang bisa saya berikan.” Gio menjeda sejenak ucapannya, kemudian menatap Nauder lekat-lekat.
“Kau ingin mengatakan apa?" tanya Nauder yang mulai tidak sabar.
“Tuan, sebenarnya Anda masih berada di sini dan masih bisa menghirup oksigen adalah berkat Nona Elsa.”
Nauder yang tadinya malas mendengarkan dia langsung menatap Gio tanpa berkedip.
“Apa maksudmu Gio?”
“Tuan, Nona Elsa lah yang mendonorkan ginjalnya untuk anda,” ucap Gio. Bukan hanya itu saja, Ia pun menceritakan semuanya tentang Elsa yang menolong ibunya, karena kebetulan saat itu dia yang menemani Ibu Nauder di rumah sakit dan detik-detik ibu Nauder menghembuskan nafas terakhirnya, Ibu Nauder dan mengingat siapa Elsa dan menceritakannya pada Gio hingga sekarang Gio memberitahukannya pada nauder
Ucapan Gio berputar-putar di otak Nauder, wajahnya sudah memucat. “Gio, kau berbohong kan?” tanya Nauder, seketika egonya rasa, sifat angkuhnya hilang begitu saja bagai pasir tersapu ombak.
“Gio ....”