
Suasana di rumah sakit begitu kacau, ruangan atas yang ditempati oleh mendiang Nael penuh dengan kesedihan.
Grisella memeluk jasad sang putra, sedangkan Greey hanya terdiam menatap putranya yang sudah terbujur kaku tak bernyawa. Mereka baru saja kembali ke Jepang kemarin malam saat mendengar bahwa Nael kritis dan pagi ini, mereka harus mendengar bahwa Nael dinyatakan meninggal dunia.
Tentu saja Ini pukulan telak bagi mereka. begitupun Jordan dan Leticia yang tidak menyangka bahwa sahabatnya akan meninggal. Kecelakaan yang dialami Nael cukup parah, hingga akhirnya, kecelakaan itu merenggut nyawa Nael.
Jordan yang baru saja menelepon Gabby hanya mampu melihat Nael dari pintu, Ia tidak mampu lagi untuk menggerakkan kakinya. Rasa bersalah menghinggapi Jordan. Seandainya ia membantu Nael untuk mendapatkan hati Laura dan Naura, pasti ia tidak akan terlalu menyesal.
Tapi sekarang sahabatnya telah pergi meninggalkan dunia ini. Semua benar-benar dilanda kesedihan yang luar biasa.
“Nael bangun ... Mommy mohon Bangun, jangan tinggalkan Mommy. Kenapa kau harus pergi. Nael bangun!” Griseela berteriak. Ia menangisi jasad sang anak. Setelah itu, Grisella membuka kain yang menutupi seluruh tubuh sang putra, ia menciumi wajah Nael yang sudah sangat memucat dan mendingin.
Grisella mengelus kepala Nael, kemudian menciumi lagi wajah sang putra yang sudah tidak bernyawa. Dua puluh menit kemudian pintu terbuka, muncul sosok Gabby Laura dan Naura.
“Na-Nael," ucap Gabby dengan bibir bergetar. Perlahan ia maju ke arah berangkar, melihat Nael untuk yang terakhir kalinya. Hatinya terasa pedih ketika melihat wajah Nael yang sudah sangat memucat.
”Nyonya Grisella!” Panggil Gabby. Ia merasa bersalah pada Grisella, seandainya ia lebih bisa membujuk kedua putrinya tuk menerima Nael, pasti semua tidak akan terjadi.
Grsela maju ke hadapan Ganby kemudian memeluk Gabby. “Gabby, Tolong maafkan semua kesalahan Nael. Tolong biarkan dia pergi dengan tenang,” kata Grisela, Gabby tidak sanggup lagi membalas ucapan Grisella, mereka larut dalam tangisan. Sangkan Greey masih terdiam ditempat. Ia tidak mampu sedikitpun bergerak dari tempatnya.
Tiba-tiba, Grey tersadar saat melihat kedua cucunya. Grey berjalan ke arah Laura dan Naura, ia membungkuk di hadapan Laura dan Naura.
“Tidak mau, kami tidak mau melihatnya," Laura dan Naura secara berbarengan.
“Ayo kalian temui Daddy, karena kalian tidak akan melihat Daddy kalian lagi, karena ayah kalian sudah meninggal,” jawab Grey, membuat Laura dan Naura terpekik, tubuh mereka langsung menegang ketika mendengar sang ayah meninggal.
“Laura ... Naura!” Panggil Greey lagi. Laura dan Naura pun maju ke arah berangkar, kemudian Mereka melihat Nael sekilas,.lalu mundur dan berada di belakang tubuh Gaby dan Grisella,. membuat tangis Grisella dan Gabby semakin pecah.
Rasa sedih semua yang ada di ruangan itu semakin menjadi-jadi ketika melihat ekspresi Laura dan Naura yang tak terlihat sedih sama sekali. Bahkan, mereka cenderung tak perduli dengan sang ayah yang sudah meninggal.
Sebegitu hebat luka yang diciptakan Nael di masa lalu, hingga kedua putrinya tidak bereaksi apapun ketika mereka mengetahui, ayah mereka sudah meninggal dunia.
tiga hari kemudian
Semua sudah berkumpul di pemakaman, peti mati akan segera diturunkan. Laura dan Naura berdiri disamping Gabby, kedua anak itu masih tetap seperti kemarin-kemarin, tidak bereaksi sama sekali. Bahkan ketika peti mati ditutup, Laura dan Naura tidak berubah ekspresi tidak ada raut kesedihan di raut anak kecil itu saat melihat wajah sang ayah. padahal itu satu-satunya momen terakhir mereka melihat sang ayah sebelum peti mati di tutup.
Pecah ga. ada yang sedih Nael meninggal? Kisah kaya Nael tuh banyak banget di dunia nyata. Nelantarin anak-anak, sampai anak-anaknya mati rasa.
Scroll gengs,.ingat ya jangan nebak-nebak alurnya.