Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Takut untuk berharap


Jordan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, amarah berkobar hebat di dadanya. Ia mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah, karena akibat hajaran Raymond


Ia memukul stir kemudi saat mengingat ucapan Raymond yang mengatakan bahwa dia adalah ayah Moa. Rupanya, Jordan percaya dengan apa yang dikatakan Raymond, kebencian benar-benar menutupnya matanya, hingga ia tidak menyadari bahwa sebenarnya Moa adalah putrinya sendiri.


Jordan meminggirkan mobilnya, kemudian memarkirkannya di sisi bahu jalan, ia mencoba menghela nafas sebanyak-banyaknya untuk untuk meredam emosinya. Kejadian barusan benar-benar membuat harga diri Jordan tercoreng, di mana Raymond menghajarnya tapi ia tidak berhasil menghajar Raymond.


“Lihat saja, aku akan memberikan pelajaran untuk kalian semua,” ucap Jordan dengan rahang yang mengeras, serta tangan yang mengepal. Setelah ia tenang, Ia pun dengan segera menyalakan dan menjalankan mobilnya untuk pulang ke apartemennya.


tiga hari kemudian


Suasana di meja makan begitu hening, Ayana dan Moa sarapan tanpa bersuara, sedangkan Raymond melihat keduanya dengan aneh. Ini sudah 3 hari berlalu, semenjak Raymond dan Jordan berkelahi di apartemen dan selama 3 hari ini pula, Raymond menginap di apartemen bersama Ayana dan Moa.


selama 3 hari ini, Raymond begitu gencar mendekati Moa. Tapi gadis kecil itu seperti masih menjaga jarak dengan Raymond. Bahkan, ia tetap berlaku sopan pada Raymond, ia memperlakukan layaknya Raymond adalah bos dari ibunya, bukan seperti anak pada ayahnya.


“Moa, Daddy akan menjemputmu nanti.” ucap Raymond setelah menyelesaikan sarapannya. Moa yang juga sudah selesai dengan sarapannya menoleh ke arah Raymond, kemudian menggangguk.


Sedangkan Ayana masih menunduk, ia bahkan tidak berani menatap Raymond. Ini.sudah tiga hari berlalu, semenjak kejadian itu dan Ayana sedikit menjaga jarak dari Raymond walaupun mereka tinggal satu apartemen.


••••


“Biar aku yang mengantar Moa!” kata Raymond, Ayana tidak menjawab.


Ayanak mengangguk, kemudian Raymond turun dari mobil, ia memutari mobil lalu membukakan pintu untuk Moa.


Setelah itu, ia mengulurkan tangannya pada Moa.“Ayo kita turun. Daddy akan mengantarmu ke dalam,” ucapnya lagi. Moa menerima uluran tangan Raymond, Kemudian mereka pun masuk ke dalam. Saat melihat punggung Moa dan Raymond mata Ayana membasah ini pemandangan yang begitu hangat untuknya. Tapi di sisi lain,.ia takut putrinya terhanyut dalam perlakuan Raymond.


10 menit kemudian, terlihat Raymond keluar dari gerbang setelah mengantarkan Moa. Ayana pun segera turun dari mobil. Lalu, ia membukakan pintu belakang untuk Raymond.


“Silahkan Tuan, biar aku yang menyetir!” kata Ayana, Raymond mengerutkan keningnya ia malah menarik tangan Ayana. Lalu, membuka pintu mobil bagian depan hingga Ayana kembali ke posisinya, sedangkan Raymond memutari kemudi dan menyalakan, mobilnya kemudian menjalankannya mobilnya.


“Tuan, biar aku yang menyetir. Tidak enak jika orang lain melihat kau yang menyetir sedangkan aku tidak melakukan apapun,” cap Ayana. Raymond hanya menoleh sekilas.


“Jangan pikirkan orang lain,” ucapnya lagi membuat Ayana menggigit bibirnya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang dikendarai Raymond sampai di basemen apartemen Ayana. Dengan cepat, Ayana berniat rurun dari mobil untuk menggunakan pintu untuk Raymond


Namun saat akan turun.Raymond mengunci pintu secara otomatis. “Kau akan terus bersikap begini padaku?”