
“Paman, apakah kau bisa mengendarai sedikit lebih cepat?” ucap Ayana pada sopir taksi yang membawanya.
“Maaf, Nona. Ini sudah kecepatan yang disarankan dan saya tidak bisa menambah lagi kecepatan,” jawab supir taksi tersebut, membuat Ayana mengusap wajah kasar.
Saat ini, Ayana sedang berada di dalam taksi menuju rumah sakit. Beberapa menit Lalu, ia menelpon Raymond dan menanyakan keberadaan Raymond dan benar saja, apa yang diucapkan Leticia, bahwa Raymond pergi ke rumah sakit yang dekat dengan restoran
Dan sedari tadi setelah menelpon Raymond, Ayana tidak henti-hentinya menyuruh sopir taksi untuk mengemudikan mobilnya dengan cepat, karena rasanya ia tidak sabar untuk sampai di rumah sakit.
Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya, mobil yang dikendarai sopir taksi tersebut sampai di depan rumah sakit. Ayana dengan segera membayar, kemudian masuk ke dalam dengan berlari dan langsung menuju resepsionis untuk bertanya ruangan yang di tempat Moa.
•••
Raymond masih setia duduk di samping berangkat, sedari tadi ia tidak berkedip melihat wajah Moa dan terus menggenggam tangan Moa, berharap Moa segera sadar. Tak lama, terdengar suara derap langkah, membuat Raymond berlari dan tak lama, pintu ruangan terbuka.
Raymond bangkit dari duduknya, untuk menghampiri Ayana. “Ayana!” panggil Raymond
Plak
satu tamparan mendarat di pipi Raymond. rupanya Ayana menampar Raymond dengan keras. Ayana berpikir, Raymond menyebabkan putrinya celaka. Karena tadi Raymond mengatakan untuk pergi ke suatu tempat. Tapi sekarang, yang terjadi Raymond malah sedang bersama Moa dan Moa sedang dalam keadaan celaka.
“Kenapa kau tidak membalas semuanya padaku. kenapa kau harus melukai putriku,” ucap Ayana dengan berlinang air mata. Sekarang, Raymond mengerti kenapa Ayana menamparnya.
Saat ayahnya akan memukul lagi dadanya, Raymond mencekal tangan Ayana. “Cukup! kubilang, diam dan dengarkan aku ini !” Raymond berteriak, karena percuma saja ia berbicara pelan karena Ayana tidak akan mendengarkannya.
Tubuh Ayana dia mematung, ketika Raymond berteriak. Saat menyadari tubuh Ayana terdiam. Raymond langsung melepaskan tangan Ayana. kemudian membawa Ayana ke dalam pelukannya. Lalu mengelus punggung Ayana.
“Keadaan Moa baik-baik saja. Dia tidak apa-apa. ini semua karena ulah mantan suamimu!” Raymond membuat Ayana mengerjap, kemudian melepaskan pelukannya dari Raymond. Ia menatap Raymond dengan bingung.
“Mantan suamimu tadi mencoba untuk menabrak Moa, beruntung ada yang menyelamatkannya.” Ayana menutup mulut, tangisnya semakin berlinang saat mengetahui apa yang terjadi. Ia pun segera berjalan ke arah Moa. Lalu menggenggam tangan Moa. Sedangkan Raymond langsung keluar dari ruangan. Ia memutuskan untuk keluar, dan memberikan waktu Ayana bersama Moa.
“Moa ...Moa!” panggil Ayana saat moa tidak kunjung membuka matanya. “Moa!” panggil Ayana seraya menangis seseguka. Rasa sakit, rasa pedih dan rasa marah bercampur di diri Ayana, saat mengetahui yang sebenarnya bahwa Jordan lah yang berniat menabrak Moa
Saat Ayana menangis, Moa mengerjap. Ia membuka matanya, lalu menggerakkan tangannya hingga Ayana menoleh ke arah Moa.
“Moa!” panggil Ayana dengan suara yang lemas.
“Mommy!” panggil Moa.
“Hmm, Moa ini Mommy,” ucap Ayana, ia langsung memeluk tubuh kecil Moa, lalu menangis sesegukan di pelukan sang Putri.
“Mommy, mana Daddy?” tanya Moa ketika Ayana menegakan tubuhnya. Mendengar pertanyaan Moa Ayana menggigit bibirnya, saat mengingat bahwa ia telah menampar Raymond.