Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Kedatangan Stuard


“Baik tuan Nael, kalau begitu sampai jumpa di pertemuan berikutnya,” kata Gabby setelah Nael keluar dari ruangannya.


”Terima kasih nona Gaby, atas jamuannya, kalau begitu aku permisi!" Nael melepas jabatan tangannya dari Gabby, kemudian ia berbalik.


“Tuan Arsen, besok aku Menunggumu di kantor, kita harus meeting secepatnya, untuk mengagendakan semuanya.” Nael berhenti di hadapan Arsen, kemudian memberi perintah pada Arsen, sedangkan Arsenn tidak menjawab. Ia malah menatapnya dengan tatapan benci. Namun, Nael tak peduli, Ia pun kembali melanjutkan langkahnya dan pergi. Hingga kini, hanya ada Gabby dan Arsen di depan ruangan itu.


“Gabby, Ayo pulang bersamaku. Aku ingin berbicara sesuatu padamu,” ucap Arsen, ia memberanikan diri menarik tangan Ganny.


Seketika, Gabby menghempaskan tangan Arsen dengan kasar, “Kau mau bicara apa? bicara saja di sini!” titah Gabby, membuat Arsen menghela nafas.


“Aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya!” kata Arsen lagi membuat Gabby tertawa


“Apa hakmu!” kata Gabby.


“Aku suamimu dan aku berhak melarangmu!” lagi-lagi, Gaby tertawa membuat Arsen terdiam. Arsen, menggigit bibirnya, ia sungguh takut, Gabby akan membalikan ucapannya.


” Jangan pernah ikut campur urusan rumah sakit atau urusanku!” kata Gabby dengan penuh penekanan. Setelah itu, Gabby kembali masuk untuk mengambil tasnya dan berniat untuk pulang lalu beristirahat.


Saat Gaby sudah berjalan, Arsen mengikuti Gabby dari belakang. Hingga pasangan itu berjalan masing-masing, tanpa ada yang berbicara satu patah katapun.


”Gabby, ayo naik ke mobilku, besok aku yang mengantarmu,” ucap Arsen ketika mereka sudah berada di luar rumah sakit.


Ia menarik tangan Gabby, mengajak Gabby untuk berjalan ke arah mobilnya. Namun, secepat kilat, Gabby langsung menghempaskan tangan Arsen.


“Tidak perlu, aku ingin membawa mobil sendiri. Jangan menghalangiku.” Setelah mengatakan itu, Gabby kembali berbalik, kemudian berjalan kearah mobilnya. Lalu masuk dan menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah, disusul Arsen yang juga masuk kedalam mobil.


Tiga puluh menit berselang, akhirnya mobil yang dikendarai Gabby sampai di rumah mewahnya, disusul Arsen yang sedari tadi mengemudi di belakang Gabby.


Gabby mengerutkan keningnya, saat melihat mobil yang berada di garasi. Ia mencoba mengingat-ingat mobil siapa itu, ternyata itu adalah salah satu mobil sang ayah. Secepat kilat, Gabby turun dari mobil, kemudian dengan sedikit berlari Gaby masuk ke dalam rumah. Rasanya, ia rindu sekali pada orang tuanya yang baru saja pulang dari luar negeri.


Stuard dan Sima yang sedang yang baru saja sampai dan akan duduk, langsung menoleh. Saat Stuart menoleh, Gabby langsung berlari lalu berhambur memeluk ayahnya, dia memeluk Stuard begitu erat.


Rasanya, ia ingin mengadu tentang apa yang ia alami. Tapi, ia tidak ingin sang ayah ikut campur. Hingga akhirnya, ia hanya bisa memeluk Stuard.


Pelukan sang ayah, begitu membuatnya tenang dan begitu membuatnya aman. “ Kau kenapa? apa ada masalah?” tanya Stuard yang merasa aneh dengan tingkah putrinya, mata Gabby sudah membasah, sebelum ia melepaskan pelukannya. Ia langsung menghapus sudut matanya yang sudah berair agar Stuard tak melihatnya menangis.


“Gabby, kau kenapa?” kali ini Simma yang bertanya. Secepat kilat, Gabby langsung memeluk sang Ibu.


”Aku hanya rindu pada kalian.” dusta Gabby saat melepaskan pelukannya dari Simma. Gabby tersenyum, tapi matanya tak bisa berbohong. Bahwa ia sedang terluka.


Arsen yang baru saja masuk ke dalam rumah, menghentikan langkahnya ketika ada kedua mertuanya, atau mantan mertuanya. Jantungnya berdegup kencang, ia takut Gaby melaporkan semuanya.


“Kaka, kenapa Kaka menarik mobilku!” tiba-tiba terdengar Yura dari belakang, adik bungsu Arsen, membuat Arsen menoleh, dan Stuard Simma dan Gabby pun juga ikut menoleh. Rupanya, orang yang menarik mobil Yura mengatakan bahwa Arsen lah yang memerintahkan untuk menarik mobilnya, tentu Saja itu perintah Gabby.


“Arsen, kenapa kau menarik mobil adikmu?” tanya Stuard, membuat jantung Arsen seperti berhenti berdetak. Ia langsung melihat ke arah Gabby, meminta bantuan Gabby agar membantu menjawab pertanyaan Stuard. Tapi, di luar dugaan, Gabby malah menyeringai.


Arsen memejamkan matanya saat sang adik datang, Yura bisa menghancurkan semuanya.


Gengs maaf baru up, dari kemarin aku ga enak badan. Sekarang pun badanku masih ga enak, tapi aku paksain buat ngetik. Jadi dua bab dulu, ya. Gabriel besok siang ya.


Ada beberapa komen yang bilang Gabby murahan, maaf kalau ada yang komen gitu langsung aku blok ya. karena aku sayang banget sama Gabby hahaha.


Kita ga akan pernah tah rasanya jadi Gabby karena sakit yang di alami bener2 luar biasa hebat.


Gengs ikutin aja alurnya oke. 🥰 Gas komen gengs 🥳🥳