Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Tapi kami akan Pergi


Setelah Gaby keluar dari tangga darurat, Nael. memegang dinding. Tubuhnya hampir saja ambruk ke bawah, saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Bahwa Gaby akan membawa Laura untuk pulang.


Nael terjatuh kelantai, ia menangis sesegukan lelaki yang terkenal dengan keangkuhan dan kesombongannya itu, menangis tersedu-sedu menangisi ucapan Gabby.


Tak bisa dibayangkan betapa tersiksanya dia ketika Laura dan Naura ergi meninggalkannya. Sedangkan ia belum menebus kesalahannya selama 7 tahun ini.


Pintu kembali terbuka, membuat Naelnl yang sedang diam lantai langsung menoleh, sosok Gabriel masuk. Gabriel tidak turun menghampiri Nael. Ia hanya berdiri di depan pintu lalu memasukkan kedua tangannya ke saku dan menyanderkan tubuhnya ke tembok dan menatap Nael dengan tajam.


“Seandainya Gaby tidak melarangku untuk menghabisim. Aku pasti sudah menghabisimu dari dulu. Kau tahu betapa menderitanya kedua keponakanku karena ulahmu,”!kata Gabriel rahangnya mengeras, menahan amarah.


Karena sedari tadi, ia mendengar percakapan Gabby dan Nael. hanya saja ia menunggu Gabby untuk keluar dan ketika Gabby keluar, Gabriel masuk ke dalam tangga darurat.


“Entah kau menyesal atau pura-pura menyesal. Tapi demi apapun, aku tidak akan pernah membiarkan kau menyentuh keponakanku lagi dan jangan mencari Gabby dan putrinya Karena setelah ini mereka akan pergi ke negara yang tidak akan pernah kau ketahui.”


Setelah mengatakan itu, Gabriel pun kembali keluar meninggalkan Nael. Hingga tangis Nael semakin menjadi-jadi saat mendengar ultimatum dari Gabriel. Ternyata, selama ini Gabby masih melindunginya.


Waktu menunjukkan pukul 3 pagi, sedaritadi Nael terus mengintip dari jendela. Ia menghela nafas, ketika Gabby sudah tertidur sedari. Sedari keluar dari tangga. Nael menunggu di depan ruang rawat putrinya, Ia bersyukur, Gabriel tidak menginap di rumah sakit. Hingga ia bisa menunggu dan masuk kedalam ruangan.


Setelah yakin bahwa Gabby sudah tertidur. Nael pun membuka pintu dengan perlahan, kemudian ia berjalan dengan pelan kearah brankar.


Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Ia merasa kakinya tidak berpijak pada bumi saat melihat Laura dan Naura. Ia menarik kursi kemudian ia langsung duduk di sisi berangkar Laura.


“Daddy ....”


“Daddy ....”


ucapan Laura dan Naura saat memanggilnya terngiang-ngiang di otaknya. Ia membekap mulut menangis tanpa suara karena tidak ingin membangunkan Laura dan Naura. Tapi ternyata, suara isakan Nael terdengar oleh Laura. Hingga Laura membuka matanya dan Nael pun tersadar bahwa putrinya sudah terbangun.


“Laura!” panggil Nael dengan suara yang berarti. Laura tersenyum saat melihat Nael, anak kecil itu menyangka telah bermimpi bahwa sang ayah datang kepadanya.


“Daddy kau kah ini,” Jawab Laura. Ia berbicara tanpa suara. Nael. mengangguk, kemudian ia menggenggam tangan Laura dan Laura menumpahkan tangisannya hingga tangan Laura basah dan Laura menyadari ini bukan mimpi.


“Paman Nael.” Laura tersadar, jika yang di depanny ini adalah Nael. Hingga ia refleks menarik tangannya dari tangan Nael.


“Laura ini Daddy.” ucap Nael. Ia bangkit dari duduknya untuk mencium wajah Laura. Namun, Laura memejamkan matanya. Ekpresinya terlihat ketakutan pada Nael.


Gabby menggigit selimut, agar tangisnya tidak terdengar, karena faktanya ia tidak tertidur. Ia tahu Nael masuk kedalam ruangan putrinya Dan untuk kali ini, ia membiarkan Nael untuk masuk.


“Maafkan Daddy, Laura.” Nael menangis sesegukan ketika Laura terlihat takut padanya Ia menangis sesegukan saat menciumu seluruh wajah putrinya.


Scroll gengs