Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Berdamai


“Joana ... Joana!” panggil Vivian. Joanna yang sedang melamun dan menatap ke arah depan langsung tersadar, kemudian ia menoleh ke arah Vivian.


“Dokter, di depan kita kosong kan, tidak ada orang berdiri di sana kan?” tanya Joanna terbata-bata. Ia memegang tangan dokter karena tidak percaya sang ayah tersenyum padanya.


Ia menyangka itu adalah bayangan Hansel, karena tidak mungkin Hansel datang menyusulnya ke pulau pribadi, teringat pertemuan yang terakhir dengan sang ayah di restoran, di mana sang ayah meninggalkannya begitu saja, itu sebabnya ia tidak yakin Hansel di depannya.


Vivian tersenyum saat melihat reaksi Joana. “Ayo turun!” kata Viviaan. Ia tidak membiarkan lagi Joana untuk menjawab, ia menuntun Joana untuk turun.


Saat sudah turun pesawat, dan saat jaraknya dan jarak hansel hanya beberapa meter, Joanna kembali menghentikan langkahnya. Saat Hansel yang ia anggap bayangan tidak kunjung hilang.


Joanna mengucek matanya, karena masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ini benar-benar di luar nalar, begitulah pikir Joana.


“Dokter, apa ada yang terjadi lagi dengan mentalku? kenapa Aku berhalusinya ada ayah di sini?” tanya Joanna, ia ingin sekali menangis, karena melihat Hansel tersenyum padanya. Impian yang selama ini ia harapkan terwujud. Tapi di sisi lain, ia yakin apa yang sekarang ia lihat adalah halusinasi.


Vivian mengusap lembut rambut Joanna “Dia nyata Joana, ayahmu ada di depanmu!” bisik Vivian, membuat Joana menoleh ke arah Vivian.


“Dokter jangan berbohong, tidak mungkin ayahku ada di sini!” kata Joana dengan wajah yang sendu, membuat Hansel yang mendengar itu benar-benar seperti tersayat belati.


Hansel tidak kuat lagi mendengar ucapan Joanna, ucapan Joana bagia petir yang menyambarnya. Hingga Ia pun langsung maju ke arah putrinya.


“Joanna!” panggil Hansel, tiba-tiba Joana menggenggam tangan Vivian dengan erat, ia hampir saja terhuyung ke belakang saat mendengar suara sang ayah, suara yang tidak pernah ia dengar selama ini.


Sang ayah tidak pernah memanggilnya dengan nada hangat, tapi sekarang ayahnya ada di depannya, tersenyum padanya memanggilnya dengan nada yang hangat. Bolehkah Joana berharap ini bukan mimpi.


Tapi seberapapun Joana berharap ini bukan mimpi, tetap saja ia menyangka tidak akan mungkin sang ayah ada di depannya dan bersikap demikian


“ Joana kau tidak berkahulinasi, di depanmu sedang ada ayahmu!” kata Vivian, perlahan ia melepaskan tangan Joana dari tangannya, kemudian menggeser posisinya hingga kini posisi Hansel dan Joanna benar-benar berhadap-hadapan


“ Joanna!” panggil Hansel, matanya berair saat menatap iris mata joana yang menanggung banyak luka. Apalagi saat Joana menatapnya, ia tidak melihat kebencian Johanna padanya, padahal seharusnya Joanna membencinya karena ia memperlakukan putrinya dengan tidak adil. Tapi Joanna masih menatapnya seperti dulu.


Wajah Joanna benar-benar pucat. Jika memang benar di depannya adalah Hansel, ia bingung harus menghadapi Hansel bagaimana, walaupun ia memang tidak membenci sang ayah, tapi ketika Hansel di depannya, ia teringat kenangan terakhir kali bersama Hansel di restoran, di mana Hansel meninggalkannya dengan begitu sadis tanpa perasaan.


Pada akhirnya, Joana lebih memilih berbalik dan tidak menggubris ucapan Hansel, dan ia langsung menarik tangan Vivian.


“Dokter, Aku ingin pergi dari sini, aku tidak mau melihatnya!” kata Joana, ia bisa saja berkata begitu.


Tapi hatinya tidak seperti itu, mungkin Joanna hanya memerlukan sedikit waktu untuk menerima semuanya, Ia hanya takut ini hanya sebatas mimpi, dan ia takut ia akan kembali sakit ketika ia terbangun dan Hansel masih mengabaikannya seperti dulu.


•••


waktu menunjukkan pukul 5 sore, Sedari tadi, Hansel berdiam di depan kamar yang ditempati oleh Joana. Saat masuk kedalam Fila, Hansel meminta waktu untuk berbicara dengan Joanna. Tapi Joana menolak, dan kini Vivian sedang mencoba membujuk Joana untuk mau berbicara dengannya.


Tak lama, terdengar suara derap langkah dari dalam, dan tak lama pintu terbuka. Sosok Vivian, keluar dari kamar Joanna.


“Bagaimana, apa dia mau berbicara denganku?” tanya Hansel, Vivian menggangguk.


“Tapi tolong jelaskan dengan pelan, walau bagaimanapun, kejiwaannya belum stabil!” jawab Vivian, Hansel mengangguk. Ia pun langsung masuk ke dalam.


Saat masuk ke dalam, ternyata Joanna sedang duduk di sofa. Hingga Hansel pun langsung berjalan ke arah Joana yang sedang menunduk dan sepertinya tidak ingin melihatnya.


Setelah dekat dengan Joanna, Hansel mendudukkan dirinya di samping putrinya.


Hening, tidak ada pembicaraan antara Hansel dan Joanna, mereka sama-sama terdiam. Joanna masih setia dengan menunduk antara senang sedih marah bahagia bercampur menjadi satu, apalagi saat tahu bahwa sang ayah selama ini ada di dekatnya, karena Vivian baru saja memberitahukan semuanya


“Joanna!” panggil Hansel, Setelah lama saling diam.


“Jiika ayah kemari hanya untuk menertawakan keadaanku, lebih baik ayah pergi saja. Aku memang menderita penyakit bipolar tapi aku tidak gila,” jawab Joana dengan bibir yang bergetar.


Tanpa membalas ucapan Joanna, Hansel menarik kepala Johanna untuk bersandar di bahunya. Lalu, ia menggenggam tangan sang Putri. Beberapa kali Joanna mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman Hansel. Namun, Hansel menahannya. Hingga pada akhirnya, Joana menyerah.


Beberapa kali pula Joana mencoba menegakkan kepalanya. Namun, Hansel menahan kepala Joanna. Hingga akhirnya, ia hanya mampu terdiam


Hening


ayah dan anak itu sama-sama hening, tidak ada yang berbicara lagi. Namun terdengar tangisan dari Johanna.


“Aku sudah bilang, aku tidak gila. Jadi ayah cepat pergi dari sini. Kali ini, aku yang mengusir ayah, bukan ayah yang mengusirku!” ucap Joana. Hansel tidak menjawab, ia malah menggenggam tangan Joana semakin erat.


“Apa ayah tahu, selama ini aku begitu kesepian, apa ayah tahu aku selalu iri pada teman-temanku karena bisa membanggakan ayah mereka, apa ayah tahu betapa irinya aku saat ayah tersenyum pada anak ayah yang lain, sedangkan ayah selalu menatapku dengan dingin, apa ayah tahu betapa sakitnya aku ketika melihat punggung ayah yang terus menjauh, apa ayah tahu betapa sakitnya hatiku saat ayah tidak bisa mengantarkanku ke altar saat aku menikah, apa ayah tahu ....” Tiba-tiba Joana menghentikan ucapannya karena suaranya tenggelam dengan tangisan


sejatinya Joanna adalah anak yang berhati lembut, wanita yang sangat rapuh. Sebagaimanapun Hansel menyakitinya. Tapi, ia tetap tidak bisa membenci sang ayah.


Jika mendengar kalimat ayah adalah cinta pertama anak perempuan, itu tidak sepenuhnya salah, karena itulah yang dirasakan oleh Johanna. Dia menyayangi Hansel tanpa batas, dan sekarang ketika Hansel di sampingnya, tanpa sadar ia mengeluarkan semua rasa sakit akibat ulah Hansel.


Hansel menghapus sudut matanya yang berair saat mendengar untaian-untaian yang ucapkan oleh Joana, Hansel tidak menjawab. Ia terus menggenggam tangan Joana.


waktu menunjukkan pukul 08.00 malam, Joanna terbangun dari tidurnya. Ia langsung bangkit dari berbaringnya, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


“Apa aku tadi bermimpi?” kata Joanna. Tiba-tiba, Panas mengurutkan dadanya yang terasa nyeri saat menyangka bahwa kedatangan Hansel adalah sebuah mimpi.


Sebab, Tadi ia merasakan bahwa ia menyadarkan kepalanya dan mengeluarkan semuanya keluh kesahnya di depan sang ayah. tapi kenapa sekarang, ia sudah berbaring di ranjang.


Rupanya, tanpa sadar setelah Joanna mengeluarkan unek-uneknya, Joanna tertidur hingga Hansel langsung membaringkan Joanna di ranjang Joanna.


Joana turun dari ranjang, ia berjalan ke arah luar, berniat mencari Vivian. Saat ia berada di dapur, ia menghentikan langkahnya saat melihat sang ayah sedang memasak. Hingga ia langsung mengucek matanya lagi


“Benarkan aku tidak bermimpi!” kata Joana, mendengar suara dari arah belakang Hansel yang sedang memasak langsung menoleh


“Kau sudah bangun?” tanya Hansel, kelegaan langsung menghampiri Joanna saat mendengar suara sang ayah.


“Ayah sedang memasakkan sesuatu untukmu, tunggu di meja makan. Ayo kita makan bersam.”


•••


“Jordan, cepat buka pintunya, kita harus pulang!” teriak Nael saat Jordan terus menengguk alkohol.


Arsen yang sedang duduk bangkit dari duduknya, kemudian ia merogoh saku Jordan. “Minggir, apa kau mau meelecehkanku!”.ucap Jordan saat Arsen meraba-raba saku Jordan mencari tombol agar pintu terbuka.


Saat ini, Arsen dan Nael sedang berada di apartemen Jordan. Mereka diminta datang oleh Jordan, untuk bermain kartu bersama, karena Jordan merasa kacau setelah Joana pergi.


Namun, bukannya bermain kartu. Jordan malah mabuk dan hanya Nael dan Arsen yang bermain kartu. Jordan terlalu kesepian karena Joanna pergi, bahkan Joana tidak mau dihubungi sama sekali.


Kepergian Joana benar-benar membuat Jordan frustasi, hingga ia memanggil Arsen dan Nael untuk datang, dan setelah 3 jam berlalu. Saat Nael dan Arsen akan pulang mereka terperanjat pintu terkunci otomatis.


“Buka pintunya, kami harus pulang. Apa kau tahu, Gabby akan mengamuk, Jika aku pulang larut malam,” ucap Nael.


“Cepat buka, Giseel akan curiga padaku jika aku tidak pulang tepat waktu,” ucap Arsen


“Diam kalian!" kata Jordan, ia berbicara dengan mata yang sedikit terpejam, karena alkohol sudah menguasainya.


”Apa kita adukan saja pada istrinya tentang kelakuannya” ucap arsen yang kesal karena Jordan tidak mau membukakan pintu.


Gengs hari libur aku tetap up dong demi kalian. masa kalian ga bisa kasih aku komen 500 huaaaaaa.