Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Ini tidak mimpi


Joanna menyandarkan kepalanya di bahu Hansel, dan Hansel menyandarkan kepalanya di kepala Joanna, kedua pasang ayah dan anak itu sedang menikmati matahari terbenam, mereka duduk di pesisir pantai sambil menatap ke depan.


“Ayah!” panggil Joanna.


“Hmmm!” Hansel menjawab panggilan Joanna dengan berdehem.


“Ayah, apa Ayah tidak rindu dengan keluarga Ayah di sana?” tanya Joanna, ia memberanikan diri bertanya. Walaupun ia lega sang ayah memberikan ponsel dan dompetnya padanya, tapi di sisi lain ia masih mempunyai belas kasihan dan merasa tidak enak pada Hansel.


Hansel menegakkan kepalanya, begitu pula Joana yang menegakan kepalanya.


“Ayah tidak ingin dulu memikirkan mereka. Mereka sudah cukup mendapat kasih sayang dari ayah, sekarang ayah hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu dan bersama Monica.”


Tatapan mata Hansel begitu yakin, tidak ada keraguan karena memang dia sudah berniat untuk menghabiskan waktunya bersama Joanna dan menebus kesalahannya. Beruntung, ia sudah pamit pada keluarganya.


Mendengar jawaban sang ayah, Joana tersenyum, kemudian ia kembali menyenderkan kepalanya di bahu Hansel.


“Aku tidak yakin kakak bisa memaafkan Ayah, karena sifat kakak berbeda denganku,” jawab Joana. Namun tak lama, Joana menggeleng pelan. “Tidak, ayah tidak mungkin tahu sifat kakak, karena Ayah tidak ada di sisi kami saat kami ketakutan ....”


Hansel menggenggam tangan Joana. “Ayah tidak punya pembelaan atas apa yang Ayah lakukan, tapi ayah akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kalian.”


Hening tidak ada pembicaraan lagi diantara ayah dan anak tersebut. Tiba-tiba Hansel terpikirkan sesuatu.


“Apa kau tidak rindu suamimu?” tanya Hansel, Joana kembali menegakkan kepalanya.


“Apa ayah tidak ingin lebih lama di sini denganku? apa ayah akan pergi lagi?” tanya Joanna dengan sedikit kesal


Hansel mengelus rambut Joana. “Bukan begitu maksud ayah, walaupun kita keluar dari sini, ayah akan tetap bersamamu,” balasnya dengan meyakinkan.


“Ayah hanya ingin tau, apa kau tidak merindukan suamimu, kapan kau akan mulai membuka diri padanya. Ayah yakin, dia pasti menunggumu di sana.” Hansel kembali mengelus rambut Joana, membuat Joana tertunduk.


“Aku rindu suamiku, aku ingin memeluknya. Tapi aku takut,” jawabnya lagi.


“Joanna, jika kau ragu, kau tidak akan pernah bisa memulai, kau tidak akan pernah bisa untuk membuka dirimu. Lalu kapan kau akan memulai?” Hansel menjeda sejenak ucapannya, kemudian kembali menggenggam tangan sang putri.


“Jika kau mengingat rasa sakit yang kau rasakan akibat ulah suamimu, maka kau juga harus ingat kebaikannya!” sambung Hansel lagi, membuat Joana tertegun. Ingatan kebaikan Jordan menubruk otaknya.


Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Joana saat mengingat keegoisannya, seharusnya ia tidak seperti ini.


“Ayah aku mau pulang!” pada akhirnya, kata-kata itu keluar dari mulut Joana, hingga Hansel menghela nafas lega. Setidaknya, jika kondisi Joana lebih baik, ia bisa mempunyai kesempatan untuk menemui Monica dengan lebih cepat.


•••


Joana masuk ke dalam apartemen, kemudian ia menghirup udara sedalam-dalamnya. Ia rindu wangi apartemen ini. Ya, saat ini, ia sedang berada di apartemennya.


Ia sengaja melarang Vivian memberitahu Jordan, bahwa ia sudah kembali dan ia pun bersama orang-orang yang mendamapinginya sengaja memakai jalur laut untuk kembali, karena ia jika memakai jalur udara pasti Jordan akan mengetahuinya, karena pilot pasti akan memberitahu yang sebenarny


Joanna mengedarkan pandangannya ke seluruh arah, tidak ada siapapun di apartemen ini. Namun ia tahu, suaminya sudah pulang karena ia bertanya pada sekretaris suaminya


Perlahan, Ia membuka pintu kamar dan ternyata suaminya sedang tertidur. Joana maju ke arah ranjang, kemudian ia berdiri menatap suaminya yang sedang memejamkan matanya


Mata Joanna berkaca-kaca saat melihat Jordan. Ia sungguh rindu lelaki ini, namun baru saja ia akan membangunkan Jordan tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu.


Perlahan Joana naik ke atas ranjang, kemudian ia langsung membuka celana Jordan dan memainkannya dengan mulutnya. Saat merasakan ada tangan yang berada di kepalanya, Joana menghentikan gerakannya kemudian melihat ke arah atas, ternyata suaminya masih memejamkan matanya hingga Ia pun terus melanjutkan kegiatannya.


“Sayang ....” Tiba-tiba terdengar suara Jordan membuat Joana menghentikan aktivitasnya sejenak, kemudian menoleh ke arah depan hingga kini tatapan matanya saling bersibobrok dengan Jordan.


Jordan mengucek matanya, ia menatap Joana dengan tatapan tak percaya, bagaimana mungkin istrinya ada di sini.


Bagaimana mungkin istrinya pulang, sedangkan pesawat jet pribadi masih tersimpan rapi di landasan pacu miliknya.


Saat melihat Jordan kebingungan, Joanna menegakkan tubuhnya, kemudian ia langsung menindih tubuh suaminya, hingga senjata mereka saling berdekatan, membuat Jordan tersadar lalu memejamkan matanya apalagi Joana terus menggesek-gesekannnya.


“Kau tidak merindukanku?”


“Kau nyata?” Jordan malah balik bertanya tanpa membalas ucapan Joanna.


Tanpa membalas ucapan Jordan, Joana membuka dressnya, kemudian dengan pelan ia menuntun senjata milik suaminya, hingga kini tubuh mereka sudah menyatu, membuat Jordan mendesis dan kembali memejamkan matanya, karena nikmat yang tidak tertahan.


“Shitt!” Pada akhirnya, ia menyadari bahwa ini bukan mimpi. Dan setelah itu mereka pun larut dengan apa yang seharusnya mereka lakukan.


••••


Jordan menggulingkan tubuhnya ke samping, dengan nafas yang terengah-engah. Begitupun Joana.


Setelah bisa mengatur nafasnya, Jordan langsung menoleh ke arah Joanna, yang juga sedang melihat ke arahnya. Perlahan, tangan Jordan mengelus pipi Johanna dengn mata yang berkaca-kaca. Ia mengubah posisinya menyamping menghadap ke arah istrinya.


“Ini tidak memimpikan, aku tidak bermimpi?” tanya Jordan dengan nada yang tidak percaya . Joana juga mengubah posisinya, hingga kini mereka berhadap-hadapan.


“ i miss you,” kata Joana. Ia mengelus pipi Jordan dan Jordan langsung mengambil tangan Joana dari pipinya dan menggenggamnya lalu menciumnya bertubi-tubi


“Apa kau sudah bisa memaafkanmu? tanya Jordan, Joana menggeleng.


“Aku pikir, jauh darimu bisa membuatku tenang. Tapi aku salah, aku selalu merindukanmu. Tapi ini bukan berarti masalah kita selesai. Kau tidak boleh berbuat begitu lagi padaku, kau tidak boleh meninggalkanku lagi dan kau tidak boleh menyebutku anak kecil!” kata Joanna.


Tanpa membalas ucapa Joana, Jordan menyembunyikan wajahnya di bahu Joana, kemudian bahu lelaki tampar itu bergetar, terdengar isakan kecil dari mulutnya. Ia benar-benar bersyukur, istrinya sudah kembali .


Selama 5 bulan ini, ia benar-benar tersiksa dan akhirnya istrinya memberikan kejutan yang tidak terduga.


•••


Hansel terdiam di depan sebuah rumah sakit jiwa, rasanya kakinya berat untuk melangkah. Ada rasa ragu menyergap dalam jiwa, ketika ia akan menghampiri Olivia, yang benar-benar sedang menderita depresi.


Sebenarnya, Jordan memasukkan Olivia ke rumah sakit jiwa bukan hanya karena semata-mata tentang Olivia yang menyiksa Joana. Tapi karena memang, riwayat Olivia yang menderita depresi.


Sebelum Jordan masukkan Olivia ke rumah sakit jiwa, Jordan sudah mengetahui semuanya. Ia sudah mendengar kondisi Olivia dari dokternya, dan itu sebabnya Jordan memasukkan Olivia ke rumah sakit jiwa untuk menyembuhkan Olivia.


Dan kini, Hansel berdiri di tempat mantan istrinya dirawat. Rasanya, ia belum sanggup untuk menemui Olivia dan meminta maaf karena ia tahu apa yang dialami oleh Olivia begitu berat, dan itu semuanya karenanya, hingga begitu membekas di diri Olivia dan melampiaskannya pada kedua putrinya


Tapi ia tidak ingin terlambat, ia harus segera menemui Olivia dan mencoba untuk memulihkan kondisi Olivia, sebelum ia menemui Putri pertamanya yang berada di luar negeri, yang sudah ia ketahui keberadaannya.


Walaupun Olivia dimasukkan ke rumah sakit jiwa, tapi rumah sakit jiwa yang Jordan pilih berbeda dengan rumah sakit jiwa pada umumnya, bahkan kamar yang di tempat Olivia begitu mewah dan sangat nyaman.


Beruntung, beberapa bulan ini Olivia sudah jarang mengamuk, Olivia sudah tidak pernah berteriak dan meminta dilepaskan lagi. Kondisi kejiwaan olivia pun sepertinya sudah stabil.


Perlahan, Hansel menggerakkan tangannya kemudian memutar gagang pintu. Lalu setelah itu, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru hingga tatapannya berhenti di pojok, di mana Olivia sedang berdiri di pojok sambil menatap tembok.


dengan langkah yang berat, Olivia kemudian ia menepuk lembut bahu mantan istrinya.


“Olivia!” panggil Hansel dengan nada berat.


Ia ingin sekali menangis saat melihat kondisi Olivia yang tanpa kurus.


Olivia yang sedang melamun langsung menoleh. Sejenak, ia terdiam saat melihat Hansel. Tatapan matanya menatap Hansel dengan penuh ketulusan.


Jika di tanya Olivia masih mencintai Hansel, jawabannya, Ya. sampai detik ini ia masih mencintai Hansel, hanya saja rasa marah, kecewa dan dendam lebih mendominasi.


Olivia tidak akan lupa, bagaimana rasa sakitnya ketika ia memergoki Hansel yang selingkuh dengan sekretarisnya dan meninggalkannya hanya karena dia tidak memiliki anak lelaki.


Seandainya mungkin Olivia sudah melupakan Hansel, Olivia juga sudah pasti akan menyayangi kedua putrinya. Tapi nyatanya, dia belum bisa melupakan Hansel, hingga dia melampiaskan pada Joanna dan Monica.


“Olivia!” bulir bulan bening tidak bisa ditahansaat melihat Olivia. Kenangan lama itu menubruknya, kenangan ketika Olivia selalu memberikan yang terbaik untuknya.


“Hansel kaukah ini?” tanya Olivia, kali ini wajah Olivia begitu tulus.


“Hmm, Olivia ini aku,” jawab Hansel.


Saat mendengar suara Hansel, tiba-tiba wajah Olivia berubah. Ia yang tadinya menatap Hansel penuh ketulusan, merubah ekpresi, wajahnya menjadi angkuh.


Dulu, Hansel pernah menghinanya, dan karena Olivia adalah wanita yang memiliki harga diri yang tinggi, sifat arogannya kembali muncul saat berhadapan dengan Hansel, lelaki yang dulu pernah meninggalkannya.


Olivia berbalik, kemudian menundukkan diri di sofa yang dekat jendel, tentu Hansel mengerti dengan apa yang dirasakan Olivia, Olivia selalu menjunjung tinggi harga dirinya dan tidak pernah mau terlihat lemah di hadapan siapa pun.


Setelah Olivia pergi, Hansel mengiktui langkah Olivia, berdiri di depan Olivia yang sedang duduk di sofa. Dan tak lama, Olivia terhenyak saat Hansel berlutut di hadapannya, ia bahkan menatap Hansel dengan tatapan tak percaya. Namun sepersekian detik, wajah Olivia kembali dingin .


“Kenapa kau berlutut di hadapanku?” tanya Olivia, Hansel menunduk


“maafkan semua kesalahanku Olivia!” kata Hansel, seketika Olivia tertawa.


“Kesalahanmu yang mana yang harus aku maafkan, kesalahanmu sudah terlalu banyak,” balas Olivia. Namun tak lama, tawa Olivia mereda, ia menatap Hansel yang sedang menunduk.


“Pergi dari sini aku, tidak ingin bertemu denganmu lagi, urus aja keluarga terkutumu itu!”


Satu tahun berlalu


Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa Ini sudah satu tahun berlalu semenjak Joana pulang ke apartemen mereka. Dan 7 bulan lalu, Joana melahirkan seorang anak perempuan yang sangat cantik dan begitu mirip dengan Jordan


Jordan memberi nama anak itu Alexa. Semenjak Alexa lahir, Jordan memutuskan untuk tidak pernah lagi pergi ke kantor Ia menghabiskan waktu sepajang hari bersama Alexa dan kehadiran Alexa bagi berkah bagi Jordan


Bagaimana tidak, Moa yang tadinya tidak ingin dekat dengan Jordan, seiring berjalannya waktu, akhirnya perjuangan Raymond Ayana berhasil, karena Raymon dan Ayana selalu berusaha mendekatkan Moa pada Jordan.


Hingga pada akhirnya, sedikit demi sedikit Moa mau mendekat pada Jordan, bahkan setia hari Sabtu dan Minggu Moa selalu menginap di apartemen Jordan.


Tentang permasalah mereka semua sudah selesai. Sebenarnya, saat Joana dirawat di rumah sakit, saat itu Ayana secara pribadi sudah meminta maaf pada Joanna, kiini semuanya sudah bahagia dan hubungan keluarga mereka sudah membaik.


Kebahagiaan Jordan bukan hanya itu saja, Moa yang sudah menginjak 10 tahun pun sudah mau memanggil Jordan Daddy, tentu saja sekarang Jordan benar-benar merasa bahagia dan merasa hidupnya sangat sempurna


.


Untuk Joana, ia membiarkan Joana berekspresi, ia tidak pernah melarang apapun yang istrinya lakukan, termasuk ketika istrinya ingin kembali menjadi koki, dia benar-benar mendukung kegiatan Joanna secara penuh.


Tidak pernah menuntut Joana untuk apapun.


•••


Joanna masuk ke dalam apartemen, ia tersenyum ketika melihat Jordan bertelanjang dada sambil menimbang-nimbang Alexa, yang sepertinya ingin tidur.


Perlahan, ia menghampiri Jordan kemudian memeluk Jordan dari belakang, membuat Jordan terpekik. Jordan menolehkan kepalanya ke samping, kemudian Joana langsung mengecup bibir suaminya


“Syutt!” Jordan mengisyaratkan Joana untuk diam, karena Alexa baru saja memejamkan matanya dan takut akan kembali terbangun.


Seelah yakin Alexa sudah terlelap, Jordan kembali berjalan ke kamar untuk menidurkan putrinya. Setelah itu, ia langsung keluar dan ternyata Joana sedang memainkan ponsel.


Jordan mendudukkan dirinya sebelah Joanna, hingga Joanna tersadar. Lalu menyimpan ponselnya dan setelah itu, Joana langsung menaiki pangkuan Jordan


“Bagaimana harimu di restoran, tumben sekali kau sudah pulang?” tanya Jordan, tangannya merapikan rambut Johanna.


“Restoran sangat ramai, tapi aku memutuskan pulang karena aku rindu denganmu!” Joana, merebahkan kepalanya di dada Jordan, sedangkan Jordan mengelus rambut Joana.


“Kau selalu sibuk dengan Alexa Alexa dan Alexa!" protes Joana, sambil cemberut karena sekarang suaminya lebih fokus pada Alexa.


“Ingin melampiaskan rindu?” tanya Jordan. Joana menegakkan kepalanya, kemudian mengelus rahang Jordan.


”of course.” Saat Jordan dan Joana akan melakukan, tiba-tiba bel berbunyi, hingga Joana dan Jordan terperanjat, dan Joana refleks bangkit dari pangkuan Jordan dan langsung merapikan pakaiannya.


“Apakah kau berjanji dengan seseorang?” tanya Joana, Jordan menggeleng


“Coba kau buka, siapa tahu ada yang penting!” titah Jordan, Joana pun berjalan ke arah pintu, kemudian ia langsung membukanya.


Mata Joanna membulat saat melihat ayahnya di depannya, bukan kehadiran ayahnya yang membuat Joana terkejut, melainkan tangan ayahnya yang bersimbahh darah.


“Ayah, ada apa?” tanya Joanna dengan panik.


“Jo-joana, ayah baru saja menembakkk .....”


Gengs yuks 500 komenn yuu biar semangattt lagi..Ini satu bab udh panjang ya.