
Kau kenapa?” tanya Jordan lagi, saat ia masuk ke dalam ruangan Nael. “Sepertinya kau sedang risau sekali?” tanya Jordan lagi saat melihat wajahnya Nael yang gelisah.
“Apa kau menunggu kehadiran wanita itu? wanita yang selama ini menjadi partner ranjangmu?” tanya Jordan, Nael menoleh kemudian berdecih
“Kau berisik sekali!” jawab Nael yang menyusul Jordan untuk duduk di sofa. Nael melihat ke arah langit-langit, kemudian ia tampak berpikir bagaimana caranya menghubungi Gabby.
Ia mengambil cuti selama beberapa minggu, dan ia jngin ingin berlibur, karena ia begitu penat dengan pekerjaannya dan ia ingin mengajak Gabby untuk menemaninya. Tentu saja untuk menghangatkan ranjangnya.
Walaupun Nael tidak mempunyai perasaan pada Gabby. Tapi, tubuh Gabby bagai candu untuknya. Itu sebabnya, ia ingin mengajak Gabby berlibur bersamanya. Tapi sayangnya, Gabby malah tidak bisa dihubungi.
“Nael, Bagaimana menurutmu jika aku memacari Adikmu?” tanya Jordan Sambil tertawa
“Kau akan mati di tanganku?” Nael melempar bantal pada Jordan saat Jordan meminta Leticia untuk menjadi kekasihnya. Walaupun Jordan sahabatnya. Tapi ia tidak akan mengijinkan adiknya bersama Jordan.
Bukan karena Jordan tidak baik, hanya saja perbedaan usia Jordan dan dan Letisia cukup jauh. Mana mungkin dia memberikan adiknya pada lelaki yang sudah berumur.
“Tapi adikmu menyukaiku. Bahkan ...." tiba-tiba ucapan Jordan terhenti, ia menutup mulutnya, ketika hampir saja mengatakan bahwa ia dan Leticia sudah resmi berpacaran. Tapi mereka menyembunyikan hubungan mereka.
“Akan kubunuh kau jika berani memacari adikku!” ucap Nael ?embuat Jordan mengangkat bahunya Acuh. Tiba-tiba ponselnya berdering, ia membulatkan matanya saat melihat nama Gabby terpampang di layar.
Padahal beberapa detik lalu, ponsel Gabby tak bisa dihubungi. Tapi sekarang, Gabby yang menelponnya. Ia pun mengangkat panggilannya.
“Baik, aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu,” ucap Nael saat Gaby mengangkat panggilannya. Ternyata, Gabby mengajaknya untuk bertemu.
Dan sekarang, di sinilah, Mereka berada di sebuah cafe yang tidak terlalu ramai. Gabby dan Nael saling berhadap-hadapan. Nael mengerutkan keningnya, saat melihat wajah Gabby yang berbeda. Nael juga merasakan bahwa Gabby sedikit menjaga jarak darinya.
“Gabby, Ada apa. Kenapa kau susah dihubungi sekali selama dua minggu ini?” tanya Nael setelah lama mereka saling diam.
Gabby tersenyum, membuatnya Nael terpanah. Kemudian, Gabby merogoh tasnya lalu mengambil kertas dan hasil usg, lalu menyimpannya ke hadapan Nael.
Nael terpaku saat melihat kertas di hadapannya, “Ga-Gabby, apa ini?” tanya Nael terbata-bata, saat melihat hasil USG milik Gabby. “Ga-Gabby, jangan bilang kau hamil?”
Wajahnya Nael sudah memucat, ketika melihat hasil USG yang ada di depannya. “Kau bukan hamil anakkukan, kau hamil anak suamimu kan?” tanya Nael, membuat Gabby tersenyum Getir.
Benar, dugaannya, Nael tidak akan menerima kedua anaknya. Gabby tersenyum, kemudian menepuk-nepuk tangan Nael, hingga secara refleks Nael menarik tangannya, membuat Gabby semakin pedih.
“Nael, ini anakmu,” ucap Gabby.
“Ti-tidakkk, Gabby. itu Bukan Anakku,” ucap Nael lagi dengan refleks, jujur saja, ini benar-benar diluar dugaannya, dan tentu saja itu membuat Gabby terasa pedih.
Gabby tersenyum getir, Ia sudah menguatkan hatinya untuk ini, karena ia sudah tahu jawaban apa yang akan diberikan oleh Nael. Udara di sekitar Gabby mendadak menyesakann saat mendengar jawaban Nael. Walaupun ia sudah tau ini akan terjadi
Scroll gengs