Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Apa Anda Butuh Waktu lagi, Nona.


satu minggu kemudian


Waktu pukul delapan pagi, Leticia masih duduk di ranjang. Ia ingin pergi ke kamar mandi dan ingin berjalan-jalan. Tapi rasanya ia begitu malas.


Sedari tadi bangun dan sudah 2 jam berlalu Leticia terus menetap layar ponselnya, tidak ada salah satu panggilan pun dari ayah ibunya atau pun keluarganya dan ia mendadak kesal, Kenapa tidak ada yang mencarinya padahal Ia sudah kabur selama 1 minggu.


“Kenapa Daddy dan Mommy tidak mencariku. Apa Mommy dan Daddy tidak khawatir padaku. Lalu kenapa paman Miko tidak ....” tiba-tiba Leticia menghentikan ucapannya saat tak wajah Miko melintas di otaknya.


“Orang itu lagi!” gerutu Leticia yang kesal karena, dia terus memikirkan Miko. Leticia melempar ponselnya ke belakang, kemudian ia membaringkan tubuhnya. Lalu menendang-nendang kakinya ke udara. Ia merasa moodnya memburuk, karena tidak ada yang mencarinya. Padahal dia sendiri yang ingin pergi.


Leticia sudah rapi memakai pakaiannya, ia berencana untuk berjalan-jalan di sekeliling pantai dan setelah bersiap, Ia pun keluar dari villa yang selama seminggu ini ia tempati.


Panas terik begitu terasa. Tapi Leticia terus berjalan mengelilingi bibir pantai. Hingga pada akhirnya, setelah lelah berjalan, Leticia menghentikan langkahnya, kemudian ia mendudukkan dirinya di pasir.


Tidak terlalu banyak orang yang berlalu-lalang di pantai, hingga tidak mengganggu sedikitpun Leticia yang sedang merenung. Tiba-tiba, mata Leticia berkaca-kaca ia memegang dadanya yang terasa nyeri.


Vila ini adalah Vila yang ia datangi ketika ia kabur saat Jordan dan Ayana menikah. Selama seminggu, dia diam di villa ini, karena tak sanggup untuk menghadapi kenyataan bahwa Jordan menghamili sahabatnya dan sekarang, setelah 3 tahun berlalu dia kembali lagi ke villa ini.


Tak lama, Leticia tersadar, ketika ponsel di sakunya berdering. Tiba-tiba matanya berbinar sempurna, Kenapa ia berharap seseorang menghubunginya. Dengan cepat, Ia pun merogoh sakunya melihat siapa yang menelponnya. Namun tak lama, ia harus menerima hal pahit. Wajah yang tadinya ceria menjadi lesu, kala yang meneleponnya adalah ayahnya. Entah kenapa tiba-tiba ia menjadi lesu. Bukankah kemarin-kemarin dia berharap ayahnya yang meneleponnya dan menanyakan keberadaannya. Tapi kenapa, setelah tahu bahwa ayahnya menelepon dia menjadi sedih.


Mood Leticia kembali memburuk, Ia pun lebih memilih untuk mematikan panggilan dari ayahnya kemudian mematikan ponselnya dan kembali melihat ke depan.


3 jam kemudian


Tak terasa, Leticia sudah berdiam diri selama 3 jam di pantai. Ia pun memutuskan bangkit dan pulang ke villa, karena perutnya sudah lapar. Ia memutuskan untuk memesan makanan di sana.


Dua jam kemudian, Leticia mengerjap. Ia terbangun dari tidurnya, kemudian ia langsung bangkit dari berbaringnya dan mendudukkan dirinya untuk mengumpulkan nyawanya. Tiba-tiba, rasa lapar menderanya. Ia pun memutuskan untuk pergi mandi dan setelah itu memesan makanan.


Leticia keluar dari kamar mandi, ia baru saja menyegarkan dirinya. Setelah itu, ia kembali keluar dari kamar dan berjalan keruang tengah, saat duduk di sofa, ia mengutak-atik ponselnya dan memesan makanan.


35 menit kemudian, bel berbunyi. Leticia pun bangkit dari duduknya, kemudian membuka pintu karena berpikir itu adalah kurir makanam yang mengantar pesannya.


Saat membuka pintu, Leticia mengerutkan keningnya, saat melihat kurir makanan tidak seperti biasanya. Kurir makanan yang mengantar pesanannya tidak memakai seragam.


Leticia melihat dari atas sampai bawah, kurir itu memakai pakaian yang sangat casual. Namun sayang, ia tidak dapat melihat wajah kurir itu, karena kurir itu memakai topi dan menunduk. Tiba-tiba Leticia menyadari sesuatu, bahwa lelaki di depannya ini tidak membawa apa pun.


“Ma-mana makananku.” Tiba-tiba, Leticia dilanda ketakutan saat melihat orang di hadapannya. Ia takut orang itu adalah penjahat.


“Nona, apakah anda perlu tambahan waktu lagi untuk bersembunyi?”


Mata Leticia membulat saat menyadari siapa di depannya, ia terperanjat kaget saat lelaki itu mengangkat kepalanya.


“Pa-paman, Miko ....”


Seketika


Seketika kalau enggak 500 komen enggak up up hahahahaha