Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Adsss


Yuhuuuuuuu


Seraya nunggu update Gabby kalian bisa baca ini ya hehe. di jamin, meguras emosi dan energi


mon maafye Mpok Mpok ibu ibu otor mau promo novel otor yang di si hijau


Novel ini judulyan Cinta Untuk Stevia.


Ini buat yang mau ikut aja, ya. Yang ga ikut tolong skip ya. Yang udah baca promo ini juga skip aja.


Kalau kalian kesusahan beli koin, bisa langsung beli di aku ya. Kalian bisa beli di no 088222277840, mau tanya2 juga boleh


Gengs mau promo, tapi jangan di bully ya. Ini yang mau ikut aja, yang ga ikut skip aja. Tayang Di K*B*M APP dan udah tamat.


Judul Novel Cinta Untuk Stevia.


Kisah ini bener2 menguras energi lho, yuk mampir sebelum Gabby update


Kalau ada yang kesusahan beli koin sama mau tanya2 bisa di no 088222277840.


Aku tulis di sini 5 bab, kalau kalian mau tau lanjutannya kesana aja ya kalian bisa langsung kesana ya.


Note ini cuman di taruh 5 bab aja di sininya kalau mau baca lanjutannya bisa kesana ya


Bab 1


Tubuh Stevia terdiam, kakinya kaku untuk di gerakan. Matanya mulai memanas. Seketika itu, dunia Stevia hancur berkeping-keping.


Riyadh, suaminya. Lelaki yang menikahinya dua tahun silam, lelaki yang selama ini memperlakukannya bagai ratu, lelaki yang berhasil merebut hatinya. Kini, berada tak jauh dari tempatnya berdiri, bersama seorang wanita dan seorang anak kecil, mereka seperti keluarga yang sangat bahagia.


Bukankah semalam suaminya berkata bahwa hari ini ia akan terbang ke Jepang dan mengurus pekerjaannya. Tapi, kenapa Riyadh malah ada di sini, di Mall ini.


"Tidak-tidak, itu bukan dia," kata Stevia. Ia menggeleng meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu bukan suaminya. Namun, seberapa pun kuat Stevia menyangkal. Itu memang benar suaminya.


Hari ini, Stevia berencana untuk memberikan Kado untuk keponakannya. Ia sengaja berkeliling Mall untuk sedikit menghibur diri sendiri karena suaminya pergi ke Jepang.


Tapi apa ini, suaminya sedang bersama wanita lain, dan terlihat jelas mereka seperti keluarga yang bahagia.


Tidak, Stevia tak akan menerima hal sekecil apa pun kebohongan apalagi penghianatan.


Stevia berusaha mengendalikan diri, ia berusaha menguatkan hatinya. Dengan kaki yang gemetar serta tubuh yang lemas Stevia berjalan ke arah Riyadh.


"Apakah Jepang sudah berpindah kesini?" tanya Stevia, ia berbicara dan menatap Riyadh dengan datar. Ia bisa menyimpan emosinya baik-baik karena ia tak ingin mempermalukan dirinya sendiri. Padahal, saat ini. Ia sangat ingin menghajar dan memaki suaminya.


Mendengar suara yang tak asing, Riyadh yang sedang melihat ke arah samping langsung menoleh.


Jantung Riyadh terasa akan melompat dari rongga dadanya ketika ia melihat Stevia ada di depannya. Tiba-tiba, wajahnya memucat, lututnya melemas. Ia tak menyangka istrinya akan memergokinya.


"Ss-Stevia," kata Riyadh terbata-bata.


Stevia menyilangkan tangannya, lalu ia menatap wanita yang berada di samping suaminya. Wanita yang di tatap itu, tiba-tiba menunduk saat Stevia menatapnya.


"Ayah!" panggil anak kecil yang sedang berdiri di tengah-tengah Riyadh dan wanitu itu, seketika itu, Stevia tersenyum getir.


Riyadh memejamkan matanya saat anak di sampingnya memanggilnya ayah.


"Ss-Stevia aku bisa menjelaskan padamu," kata Riyadh.


"Kalau begitu jelaskan!"


Riyadh bergidik melihat reaksi istrinya. Stevia menatapnya dengan tatapan datar. Namun, Riyadh tau, Stevia sedang menahan amarahnya


"Kau lanjutkanlah, dulu. Aku akan menunggumu di apartemen," kata Stevia. Lalu setelah itu, Stevia melihat ke arah wanita yang sedang berada di sisi suaminya. "Jika kau ingin ikut, maka datanglah!" kata Stevia pada wanita itu, ia tersenyum sinis. Kemudian berbalik.


•••


Saat berada di mobil, tangis yang sedari tadi di tahan oleh Stevia, akhirnya tumpah. Stevia memukul-mukul dadanya, karena rasaya ini begitu menyesakkan.


Bagaimana mungkin, suami selama ini menjadikannya ratu, tak ubahnya hanya penipu ulung. Riyadh berhasil, membuatnya lupa akan sosok Lyodra dan Riyadh juga berhasil membuat hati Stevia terbuka. Hingga perlahan, nama Riyadh mampu mengisi hatinya.


Stevia masih menangis tergugu, ia masih berharap apa yang di lihatnya barusan hanyalah mimpi.Tapi, sekuat apapun dia menyangkal. Ini semua nyata. Suaminya telah membohonginya. Suaminya telah berkhianat. Sekuat apapun cinta Stevia untuk Riyadh, Stevia Takan mentolelir sebuah kebohongan dan Takan mentolelir sebuah pengkhianatan.


Setelah puas menangis, Stevia merogoh ponsel dari tasnya. Tangannya dengan lincah mencari-cara nama kontak mertuanya


Bab 2


Pintu apartemen terbuka, Stevia yang sedang duduk sambil memegang gelas di tangannya menolah sebentar, lalu kembali lagi menatap ke arah depan. Ia tau, bahwa Riyadh lah yang masuk.


Jantung Stevia terasa di remas saat aroma wangi tubuh Riyadh menguar di hidungnya. Kemarin-kemarin, Stevia selalu merindukan aroma ini. Tapi sekarang, rasanya begitu menyesakkan.


Stevia menghela nafas beberapa kali, lalu menguasai diri. Ia sedang menahan dirinya agar tak mengamuk. Ia tak ingin merendahkan dirinya sendiri hanya demi lelaki seperti Riyadh.


Stevia menyeruput minuman di gelasnya, saat Riyadh duduk di sofa, matanya lurus kedepan, ia sama sekali enggan melihat ke arah Riyadh.


"Dia Agnes ...." Ucap Riyadh tiba-tiba, ia berbicara setelah sama-sama terdiam dengan waktu yang lama.


Hati Stevia berdenyut nyeri, air mata sudah mendesak untuk dikeluarkan. Namun, Sebisa mungkin ... Ia menahannya.


Riyadh menoleh ke arah Stevia, Lalu menunduk dan memainkan jari-jari di tangannya. Dua tahun, hidup bersama Stevia membuat Riyadh mengerti bagaimana sikap sang istri. Seperti dugannya, Stevia tetap tenang. Padahal ia berharap Stevia akan mengamuk dan menghajarnya.


"Dia mantanku semasa kuliah, kami pernah khilaf dan melakukan dosa. Hingga hadir sosok anak kecil yang tadi kau lihat. Aku tak tau dia mengandung, karena saat itu, dia pergi tanpa jejak. dan dua bulan lalu, dia datang bersama putriku!" Riyadh menghentikan ucapannya sejenak. Kemudian ia melihat ke arah Stevia, ia menghela napas gusar kala wajah Stevia tetap dingin dan tanpa ekpresi.


"Ternyata saat itu, dia pergi karena takut aku akan menyuruhnya menggurkan kandungannya ...."


"Apa kalian menikah siri di belakangku!" tanya Stevia memotong ucapan Riyadh. Dari cara suaminya menjelaskan, ia tau ada sesuatu yang terjadi antara suaminya dan perempuan itu.


Skak, Riyadh terdiam. Mulutnya kelu untuk di gerakan. Karena memang faktanya dia memang sudah menikahi Agnes seminggu lalu. Lelaki tampan itu merasa bersalah, karena Agnes yang berjuang sendiri melahirkan dan membesarkan putrinya.


Stevia tersenyum getir, jantungnya terasa terlepas dari rongga dadanya. "Kapan?" tanya Stevia lagi.


"Seminggu yang lalu," jawab Riyadh. "Aku menikahinya hanya karena ingin bertanggung jawab pada putriku. Aku sama sekali tak menyentuhnya Stevia, aku mencintaimu. aku berjanji aku bisa adil dan ...."


"Dan kau pikir aku mau menerima di madu?" tanya Stevia, memotong ucapan Riyadh.


"Kau tau siapa keluargaku, bukan? Dan kau mau aku menyetujui keinginanmu? Kau sudah lama mengenal keluarga kami, lalu bukankah kau bisa menebak jawaban apa yang akan aku beri." Stevia menekankan kata demi kata, terdengar jelas bahwa ia sedang di kuasai oleh amarah.


"Wanita berharga sepertiku tak akan pernah bersaing dengan wanita lain hanya untuk mendapatkan lelaki kacang sepertimu." Setelah mengatakan itu, Stevia mengambil ponsel dari sisinya dan menelpon seseorang


"Tolong urus perceraianku!" ucap Stevia pada orang yang di telponnya yang tak lain adalah pengacaranya.


"Stevia!" bentak Riyadh saat Stevia mengajukan ceria tanpa berbicara terlebih dulu dengannya. Padahal, jika Stevia menginginkan Riyad menceraikan Agnes, dia pun akan menceraikannya. Ia menikahi Agnes hanya karena ingin bertanggung jawab pada putrinya.


"Se-Stevia ...." Panggil Riyadh saat ia tak sengaja membentak istrinya. Riyadh pun bangkit dari duduknya dan berniat menghampiri Stevia.


"Tetap di tempatmu, mulai detik ini. Aku tak ingin seujung kuku pun tubuhnya di sentuh olehmu." Setelah mengatakan itu, Stevia langsung bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar lalu mengunci pintu.


Dua hari kemudian


Suasana ruang tamu begitu menegangkan, Riyadh tertunduk, saat mata Vania dan mata Malik menatap tajam padanya.


Saat ini, ia datang bersama ibu dan ayahnya untuk meminta maaf pada Malik dan Vania, berharap mereka mau membujuk Stevia agar tak meneruskan gugatan perceraian.


"Aku tak bermaksud mengungkit ini. Tapi, apa kalian lupa apa yang di lakukan papihku pada kalian?" tanya Vania. Ia menatap Ahsam, Sarah dan Riyadh dengan tatapan kecewa. Jika Tania seperti Keinya yang selalu memperlihatkan amarahnya, namun gampang memaafkan, lain halnya dengan Vania.


Ia seperti Bram, sang ayah. yang selalu tenang. Namun jika di kecewakan oleh orang lain. Tak akan ada lagi maaf bagi orang tersebut.


Ahsam menghela nafas, ia dan istrinya sangat banyak berhutang Budi pada mendiang Bram. Dan ia mengerti kekecewaan yang Vania.


Saat tau tingkah putranya, ia bahkan langsung menghajar Riyadh. Ia sungguh malu pada besannya. Ia tau, sebenarnya percuma meminta Vania untuk membujuk Stevia agar mencabut gugatanya. Ia mengenal Vania dengan baik dan ia yakin, Vania Takan mengampuni putranya.


"Vania .... Malik, atas nama putra kami, kami meminta maaf. Kami akan menyerahkan semua keputusan di tangan Stevia." Kata Ahsam lagi.


Mendengar ucapan sang ayah, Riyadh yang menunduk tiba-tiba mengangkat kepalanya. Bukankah tadi sang ayah akan ikut membujuk Vania.


"Kita sudah berhubungan baik selama puluhan tahun. Aku memaafkan kalian. Tapi demi apapun, aku Takan membiarkan putriku menjalani pernikahan yang menyakitkan. Mungkin Tania bisa menerima kembali menantunya. Tapi tidak denganku! tak akan ada kata kesempatan kedua untuk sebuah pengkhianatan." Tandas Vania dengan nada yang sangat-sangat tegas.


Vania enggak bakalan balik lagi sama Riyadh ya


Bab 3


Stevia hanya bisa terdiam, saat mendengar percakapan antara keluarganya. Ia sama sekali tak berniat berbicara saat riyadh dan kedua mertuanya datang ke rumahnya.


Keputusannya sudah bulat, Stevia tetap akan bercerai dari Riyadh. Tak ada kesempatan untuk sebuah pengkhianatan. Tak ada ampun, apalagi suaminya sudya menikahi wanita lain


Sekalipun, alasan Riyadh hanya untuk bertanggung jawab. Bukankah, semua bisa di bicarakan baik-baik. Tapi, kenapa suaminya Malah memilih jalan yang menyakitkan bagi dirinya.


"Mah ... Pah, ampuni Riyadh. Riyadh janji, Riyadh bakal cerain istri kedua Riyadh. Riyadh janji ga akan kecewain lagi Stevia," kata Riyadh lirih, ia mengiba pada Malik dan Vania, mertuanya. Berharap Vania dan Malik mau memaafkannya dan membujuk Stevia.


Malik meradang.


"Bangun kamu!" titah Malik, ia bangkit dari duduknya dan menatap Riyadh dengan tatapan tajam.


Riyadh bangkit dari duduknya, dan setelah itu ... tanpa menunggu lagi, Malik maju ke arah Riyadh dan memberikan bogem mentah pada menantunya hingga Riyadh tersungkur.


"Mana janji kamu yang mau bahagiain anak saya!" teriak Malik. Ia mengepalkan tangannya. sekuat tenaga ia menahan dirinya agar tak menghajar Riyadh. Emosinya berkobar. Ia tak menyangka bahwa sang anak akan mendapat lelaki sebrengsek Riyadh.


Vania bangkit dari duduknya, ia menghampiri suaminya dan memegang tangan Malik. "Mas!" panggil Vania, ia tak ingin suaminya terbawa emosi.


Malik tersadar, ia mengusap wajah kasar. Ahsam dan Sarah hanya bisa terdiam. Ia tak bis membantu sang putra karena sang putra memang bersalah


"Stevia masuk kamar! Biar ayah yang urus perceraian kalian!" titah Malik yang melihat Stevia.


mendengar ucapan mertuanya, Riyadh langsung panik. di tengah rasa sakitnya karena menerima bogem dari mertuanya, ia langsung bangkit dari lantai dan berniat untuk berlutut di hadapan Malik.


Tapi sebelum rencananya tercapai, Malik yang mengerti apa yang akan dilakukan Riyadh langsung berbalik dan meninggalkan ruang keluarga, sedangkan Vania kembali duduk untuk menyelesaikan urusannya dengan Sarah dan Ahsam. Ia bersyukur, suaminya meninggalkan ruang keluarga, jika tidak ... Mungkin suaminya akan menghajar Riyadh kembali.


••••


Stevia berjalan ke kamarnya dengan langkah gontai, Vania masih berbicara dengan kedua mertuanya dan juga suaminya. Sedangkan ia lebih memilih menuruti keinginan sang ayah yang menyuruhnya untuk pergi ke kamarnya.


Bohong jika stevia tak merasa sakit. Nyatanya, stevia ingin sekali menangis sekencang-kencangnya. Tapi, seorang stevia Lesmana, takkan pernah mengeluarkan tangisnya di hadapan orang lain.


Itu sebabnya, dia lebih memilih diam dari tadi. Karena sejujurnya, setiap menatap Riyadh ia ingin sekali menangis, jantungnya terasa diremas-remas kala membayangkan suaminya menikahi wanita lain di belakangnya, dan itu sungguh menyakitkan. Wanita mana yang tak sakit ketika suaminya menikahi wanita lain.


Apapun alasannya, tindakan Riyadh sangatlah salah.


Stevia mendudukkan diri di ranjang dengan posisi kaki yang menjuntai ke bawah. Ia sedikit membungkuk, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Wanita malang itu menangis tergugu, menangisi rasanya sakit karena dikhianati dan ia harus menghadapi perceraian yang tak pernah ia duga akan melanda pernikahannya.


Malik melongokkan kepalanya ke kamar putrinya. Ia menghela nafas saat mendengar isakan putrinya yang terdengar sangat pilu.


sebagai seorang ayah tentu Malik pun ikut hancur, seandainya ia tak terburu-buru mungkin nasib pernikahan putrinya takkan seperti ini.


perlahan, Malik berjalan ke arah putrinya ia mendudukan dirinya di ranjang di sebelah stevia. Tangannya terangkat untuk merangkul bahu putrinya dan membawa stevia kedalam dekapannya hingga tangis stevia semakin luruh.


Malik mengelus punggung stevia ia membiarkan stevia tenang dalam pelukannya. bukannya berhenti menangis tangi Stevia malah terdengar sangat kencang.


"Anak ayah kuat. Kamu pasti bisa ngelewatin ini." Gumam Malik, ia terus mengelus punggung putrinya.


Satu Minggu kemudian.


Stevia menghela nafas lega persidangan ke-1 nya berjalan dengan lancar. ia menolak segala mediasi hingga sidang berjalan cukup singkat di tambah lagi, Riyadh tak hadir semakin mempermudah jalan Stevia.


Saat keluar dari ruang sidang, stevia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. karena rasanya, berada di ruang pengadilan cukup menyesakkan. Ia tak pernah berpikir bahwa ia akan sejauh ini. Tapi, apa mau dikata semua sudah terjadi. Lebih baik terluka sekarang daripada ia terus terluka di kemudian hari.


Saat Stevia akan berbelok, seseorang memanggilnya. Hingga stevia menoleh. Kening stevia mengernyit, saat melihat siapa yang memanggilnya. Wanita yang dinikahi suaminya atau calon mantan suaminya beberapa waktu lalu. Ya, Agnes lah yang memanggilnya sambil menuntun putrinya.


Stevia terdiam saat Agnes menghampirinya, lidahnya terasa kelu untuk digerakkan. tentu saja rasa sesak menghampirinya apalagi melihat anak yang dituntun Agnes sangat mirip dengan suaminya. Tapi sebisa mungkin, Ia harus berdamai dengan masa lalu dan memaafkan semuanya.


"Kau ingin berbicara denganku?" Tanya stevia saat Agnes berdiri di depannya. Terlihat jelas, Agnes ragu untuk berbicara padanya hingga ia memulai pembicaraan.


"A-aku minta maaf atas semua yang terjadi," jawab Agnes dengan menunduk sedangkan mata Stevia langsung tertuju pada anak yang sedang dituntun oleh.


tanpa menjawab ucapan Agnes, stevia menekuk lututnya mensejajarkan dirinya dengan anak Agnez dan anak mantan suaminya.


"Hai sayang, siapa namamu?" tanya Stevia pada anak tersebut.


wajah anak kecil itu berbinar saat melihat stevia ia tersenyum kemudian memandang stevia dengan tatapan tulus. "Aku Melisa aunty," jawab bocah kecil itu membuat stevia tersenyum lalu mengelus rambut Melisa. setelah itu Stevia kembali bangkit dari duduknya dan melihat ke arah Agnes.


"Tak ada yang bersalah di sini, semua sudah takdir. Takdirku, takdirmu dan takdir Riyadh. kalian bisa menebus dosa-dosa kalian dengan membesarkan Melisa dengan baik. jangan merasa terbebani, karena ini semua sudah berakhir." Stevia berbicara dengan tersenyum padahal hatinya remuk redam. "kalau begitu aku permisi!" pamit stevia pada akhirnya. Ia mengelus rambut Meisya lalu meninggalkan Agnez yang terpaku karena sikap Stevia yang begitu baik.


•••


Satu bulan kemudian


Stevia menghela nafas lega saat ia keluar dari pesawat. Udara di Rusia benar-benar dingin, hingga stevia memeluk erat tubuhnya karena ia lupa memakai mantel.


Sebulan berlalu, Stevia resmi menjadi seorang janda. memang berat bagi Stevia, tak bisa dipungkiri rasa untuk Riyadh masih ada dan Ia tak ingin terlalu lama terjebak dalam masa lalu hingga Ia memutuskan untuk pergi ke Rusia meneruskan perusahaan milik keluarganya.


Sebelum pergi ke Rusia, Agnes sempat bertemu lagi dengannya. dan mengatakan bahwa Riyadh telah mentalaknya. Tapi, Stevia tak perduli. Karena itu bukan lagi urusannya. sekalipun Riyadh memohon untuk kembali padanya. Stevia tak akan pernah membuka lagi hatinya untuk Riyadh.


Saat ia keluar dari terminal kedatangan, Ia menabrak seorang lelaki. Namun, baru saja ia akan meminta maaf.Matanya membulat saat ia melihat siapa yang ditabraknya.


"Kau!"


Mata Stevia membulat saat melihat lelaki yang di tabraknya. Begitu juga lelaki itu, ia juga tak menyangka bahwa ia akan bertemu lelaki yang menyebalkan ini


“Kau lagi!” omel Stevia, membuat lelaki yang berada di depannya berdecih.


“Hei, Nona! Bandara ini bukan milikmu. Kenapa kau harus kesal,” balas lelaki tersebut. Membuat Stevia menghela nafas.


“Dasar lelaki mesum!” omel Stevia, membuat lelaki itu membulatkan matanya. Bagaimana mungkin, wanita itu menyebutnya begitu. Padahal saat itu, wanita yang baru saja mengutuknya hanya salah paham.


“Kaka!” Teriak sang adik, membuat lelaki yang bernama Leo itu langsung menoleh.


“Kau merepotkan sekali! Seharusnya kau meminta supir menjemputmu!” gerutu Leo pada Maria, sang adik. Ia langsung menghardik adiknya begitu Maria ada di depannya.


“Memangnya aku perduli,” jawab Maria tak kalah sengit. Setelah itu, ia berjalan meninggalkan sang Kaka bersama supirnya.


••••


“Kantor Daddy.” Maria menjawab acuh, matanya melihat ke arah tab membuat sang Kaka berdecih. .


.


40 Menit kemudian, mobil yang di kendarai oleh Leo sampai di Smith company, perusahaan sang ayah. Seperti biasa, Maria meninggkan sang Kaka seolah sang Kaka adalah asistennya.


“Dadd ....” Panggil Maria, Zayn yang sedang fokus pada laptopnya, Zayn menoleh kemudian tersenyum. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri sang putri lalu memeluknya.


“Bagaimana liburanmu di Bali?” tanya Zayn setelah melepaskan pelukannya.


“Menyebalkan, Anak itu menelponku 3 jam sekali hanya untuk memastikan agar aku tak meminum alkohol.” Maria mencebik, saat mengingat kelakuan sang Kaka.


“Aku melakukan itu untuk kebaikanmu. Kenapa kau mengutukku!” sela Leo yang masuk ke ruangan sang ayah.


“Leo, duduk. Daddy ingin berbicara denganmu!” kata Zayn. Leo berjalan dengan lesu ke arah sofa, ia sudah tau apa yang akan di ucapkan oleh sang ayah.


“Maria, kau beristirahat dulu di ruangan Daddy. Daddy harus berbicara dengan kakakmu!” kata Zayn. Maria pun mengangguk dan sekarang, hanya tinggal Leo dan Zayn yang duduk di sofa. .


“Kau tau apa yang akan Daddy bicarakan bukan?” Tanya Zayn, Leo mengangguk.


“Berhenti bermain-main. Kita akan memperluas jaringan dan membangun sektor di Bali, kau akan bertanggung jawab dengan sektor yang akan kita bangun dan kau juga harus membangun kerja sama yang baik dengan pemimpin Abraham grup yang bercabang di sini.”


Mendengar kata Abraham grup, Seketika Leo tersedak. “A-abraham g-grup.” Loe menatap sang ayah dengan tatapan tak percaya. Ia tau, siapa pemimpin Abraham Grup cabang Rusia, yang tak lain adalah Stevia. Wanita yang tadi mengutuknya.


Belum Zayn menjawab, pintu ruangan Zayn di ketuk, Zayn pun mempersilahkannya untuk masuk karena ia sudah tau siapa yang datang ke ruangannya.


“Selamat datang Nona Stevia,” ucap Zayn, ternyata Stevia lah yang datang.


Leo kembali tersedak, lalu menoleh kebelakang. Sosok yang tadi mengutuknya datang ke ruangannya


“Terimakasih, Tuan Zayn.” Stevia membalas uluran tangan Zayn.


“Leo, beri salam pada Nona Stevia,” kata Zayn pada Leo saat sang putra terus terdiam.


“Hallo tuan Leo,” kata Stevia sambil tersenyum manis. Diam-diam, ia menatap Leo dengan tatapan meremeh.


“Lihat ... Lihat, dia pintar sekali bersandiwara.” Leo membatin dalam hati saat Stevia tersenyum padanya. Padahal, tadi Stevia memakinya.


Leo bangkit dari duduknya, ia membalas uluran tangan Stevia. Saat mereka berjabat tangan, Leo dan Stevia sama-sama mencengkram tangan mereka. Diam-diam, tatapan mereka saling memanas.


“Leo!” tegur Zayn, ia mengernyit heran kenapa sang putra menatap Stevia dengan aneh.


Leo tersadar, ia melepaskan jabatan tangannya kemudian kembali duduk. Matanya tak lepas memandang Stevia dengan tatapan kesal.


•••


“Baik Tuan Zayn, terimakasih atas waktu anda. Kalau begitu saya pamit untuk pergi,” kata Stevia ketika pembicaraannya dan Zayn sudah selesai.


“Baik Nona Stevia, terimakasih atas waktu anda. Saya harap kerja sama antar perusahaan kita berjalan lancar,” kata Zayn sambil bangkit dari duduknya menyusul Stevia yang sudah bangkit.


Setelah berbasai basi dengan Zayn, akhirnya Stevia pun pergi dan keluar dari ruangan Zayn. Ia berencana untuk langsung pergi ke penthouse yang sudah di siapkan.


Saat berada di dalam Taxi, ponsel di tasnya berdering. Satu pesan masuk ke ponselnya


Terpampang nama Riyadh di layar ponselnya.


[“Stevia, kumohon beri aku kesempatan kedua.”] Tulis Riyadh dalam pesannya. Stevia tersenyum getir. Ia mengusap layarnya.


Aku masih mencintaimu, Tapi seorang Stevia, takan kembali ke pelukan lelaki pengkhianat. Kau adalah buku yang tak akan aku buka lagi. Karena semua tentangmu begitu menyakitkan.


Batin Stevia berteriak pedih. Faktanya, ia pergi ke Rusia bukan untuk mengurus pekerjannya. Melainkan untuk melupakan semua tentang Riyadh, tentang rumah tangganya yang kandas karena sebuah hati yang lain dan cinta yang terbagi.


25 menit kemudian, Stevia sampai di sebuah penthouse yang cukup besar, penthouse itu hanya di tinggali olehnya dan beberapa asisten rumah tangganya.


•••


“Leo jaga sikapmu pada nona Stevia. Dia adalah penentu jalan untuk membuka sektor di Indonesia,” kata Zayn saat Stevia meninggalkan ruangannya.


Leo menganguk dengan malas, ia bahkan tak menoleh pada sang ayah. Pandangannya lurus kedepan, memikirkan mulai hari esok, ia akan berurusan dengan Stevia, wanita yang sangat menyebalkan.


“Leo,” gerutu Zayn saat sang putra tak menggubris ucapannya.


Leo tersedar, ia menegakan tubuhnya, “Maaf Dad. Aku akan berusaha bekerja sama dengannya. Tapi, aku tak yakin dia bise bekerja denganku!” kata Leo dengan nada lemas.


“Apa kau dan Nona Stevia pernah terlibat sesuatu?” tanya Zayn.


“Kau akan menertawakanku atau mungkin mengutukku jika tau,” ucap Leo.


“Memangnya kenapa?”


Leo ....


“memangnya Apa yang terjadi padamu dan Nona stevia?” tanya Zayn dengan raut wajah penasaran ia menatap Sang putra dengan tatapan gemas karena Leo tak kunjung menjawab pertanyaannya


“Sudahlah, Dad! Jangan dibahas karena sungguh tak penting!” jawab Leo. kejadian saat itu begitu memalukan bahkan rasanya jika melihat wajah Stevia moodnya langsung memburuk.


“Bolehkah aku pulang, Dad. Putri kesayanganmu sudah di sini dan tugasku selesai,” ucap Leo lagi membuat Zayn menggeleng karena tingkah putranya yang tak pernah serius dengan apapun.


Tanpa mendengar lagi jawaban sang ayah, Leo pun pergi keluar dari ruang kerja Zayn. ia rasa, ia butuh hiburan dan satu-satunya hiburan baginya adalah pergi ke Club.


hingar-bingar lampu mulai terlihat, Leo memasuki club yang khusus untuk orang-orang kelas atas di Rusia. Begitu sampai, ia disambut oleh seorang wanita yang cukup cantik dan seksi. Seperti biasa, leo melewati wanita itu begitu saja karena jujur saja ia tertarik dengan wanita yang berpakaian terbuka.


•••


Saat sampai di penthouse, Stevia langsung pergi ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Lalu, mengambil ponselnya dan membaca ulang pesan Riyadh.


Tak terasa, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya saat membaca ulang pesan Riyadh. Stevia adalah wanita yang paling gampang jatuh cinta. Tapi, ketika dia disakiti apalagi atas nama penghianatan dia takkan mentolelirnya. Sekalipun dia masih mencintai lelaki itu termasuk pada Riyadh.


Bohong jika Stevia sudah melupakan Riyadh. Faktanya, rasa itu masih ada dan tersimpan rapih di hatinya. Riyad, lelaki dingin yang dulu hanya sebatas mengenalnya. Namun dengan gentle berani datang pada orang tuanya dan berani meminangnya.


“Cukup Stevia ...Cukup! kau harus melupakannya!” Stevia bergumam sendiri, ia menghapus seluruh pesan dari Riyadh. Kemudian memblokir semua kontak dan semua akses agar Riyadh tak bisa menghubunginya.


Keesokan harinya.


Stevia turun ke bawah dengan pakaian kantornya. Tampilannya sangat elegan, walau hanya memakai celana panjang dan dipadukan dengan blazer dengan rambut diikat. Hari ini, ia akan mulai memimpin Abraham group cabang Rusia


“Aku sungguh rindu makan pecel lele!” stevia setelah ia mendudukan di meja makan. Menu di depannya ada roti dan juga sarapan sehat lainnya. Tapi, sungguh ... Ia sama sekali tak berselera.


Ia memutuskan untuk tak sarapan. Ia bangkit dari duduknya, menyambar kunci mobil dan membawa tas kerjanya. Kemudian, ia keluar dari penthouse dan langsung mengendarai mobilnya untuk pergi ke kantornya.


Jalanan di Rusia cukup lenggang. Cuaca cukup cerah, hingga pemandangan terasa lebih indah. Stevia pun akhirnya bersenandung sambil menyetir.


Ckitttttttt Brakkkk


Karena Stevia menyetir sambil melihat pemandangan dan bersenandung. Ia tak menyadari bahwa di depannya ada sebuah mobil yang sedang terparkir di bahu jalan hingga ia menabrak mobil tersebut


Stevia terpekik kaget saat ia menyadari bahwa ia menabrak mobil yang sedang terparkir di depannya. Ia menutup mulut tak percaya dengan apa yang telah di lakukannya.


Sebelum terjadi kesalah pahaman, Stevia langsung turun dari mobilnya untuk menghampiri pemilik mobil yang ditabraknya dan berniat bertanggung jawab.


Setelah turun, Stevia langsung ngetuk-ngetuk kaca jendela mobil tersebut. Namun sayang, tak ada siapapun di dalam. Hingga tak lama, terdengar suara pekikan dari belakang membuat Stevia menoleh.


“Mobilku!” seorang lelaki terpekik kaget saat melihat mobil belakangnya penyok, ia lebih terkejut melihat siapa yang menabrak mobilnya.


“Kau!” Sentak Leo saat melihat Stevia. Ternyata, mobil yang ditabrak Stevia adalah mobil milik Leo yang baru dibeli Leo sekitar 2 minggu yang lalu.


“Kau menabrak mobil ku?!” Leo melotot galak pada Stevia. Stevia menggigit bibirnya, Kemudian berusaha tenang. Lalu tersenyum kikuk. membuat Leo semakin geram saat melihat ekspresi Stevia.


“Maaf!” kata Stevia


“Maaf kau bilang!” Hardik Leo. Ia menatap Stevia dengan tatapan kesal bercampur marah.


“Aku akan memperbaiki mobilmu. Atau jika kau mau, aku akan mengganti mobilmu dengan yang baru,” kata Stevia membuat mata Leo membulat. Leo benar-benar ingin mencekik wanita di depannya ini, Stevia seolah-olah menginjak-injak harga dirinya.


Tanpa menjawab lagi ucapan Stevia, Leo langsung masuk ke mobilnya dengan membanting pintu mobil. Membuat Stevia terperanjat kaget, kemudian menggeleng.


“Dasar aneh!” Setelah mobil Leo pergi. Stevia pun kembali masuk kedalam mobilnya dan melanjutkan perjalanannya untuk ke kantor.


Setelah sampai di depan kantor, Stevia terdiam sejenak. Ia menatap gedung Abraham grup. Ia tak menyangka, karena perceraiannya ia sampai harus pergi jauh kemari.


Setelah puas memandang gedung di depannya. Stevia pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke perusahaannya.


Stevia tersenyum saat melihat ruangannya. Ia maju ke arah meja kerjanya dan mengambil kaca yang berisikan namanya dan jabatannya sebagai direktur utama.


Ia punmenduduki kursi kerjanya membuka laptop dan mulai pekerjaannya.


•••


waktu menunjukkan pukul 12 waktu Rusia, stevia merentangkan tangannya perutnya terasa keroncongan Ia pun bangkit dari duduknya dan berniat untuk pergi ke kantin.


Namun, baru saja ia akan bangkit sekretaris barunya mengetuk pintu hingga Stevia mengurungkan niatnya untuk keluar dan mempersilahkan sekretaris barunya untuk masuk.


“Madam, Tuan Zidan dan Tuan Leo mengkonfirmasi akan menemui anda,” kata Anne, sekretaris Stevia.


“Orang itu lagi!”


“Hmm!” Sekretaris Stevia langsung bereaksi ketika Stevia berguman.


“Tidak, tidak apa-apa,” kata Stevia, sambil tersenyum. Diam-diam ia menghela nafas kasar kalau harus bertemu dengan Leonardo, kaki yang menurutnya cukup menyebalkan dan sangat menyebalkan.


•••


“Jaga sikapmu Leo! jangan sampai kau mengacaukan kerja sama ini!” kata Zidan pada keponakannya.


Leo mendekus, tadi pagi ... Mobilnya baru saja di tabrak oleh Stevia dan kini, sang paman malah mengajaknya pergi menemui Stevia. Sungguh, hari yang sangat sial!


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya Zidan dan Leo sampai di perusahaan Abraham group Mereka pun langsung diarahkan untuk masuk untuk naik ke ruangan Stevia.


“Selamat datang Tuan Zidan Tuan Leo,” ucap Stevia saat Zidan dan Leo masuk ke ruangannya.


Stevia menyalami Zidan dan Leo, Saat ia menyalami Leo, Leo mencengkram tangan Stevia dengan keras, begitupun Stevia. Ia mencengkram lengan Leo tak kalah keras.


Zidan menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Stevia dan Leo. Ia sudah tahu dari sang kakak bahwa Leo dan stevia sepertinya pernah ada masalah di masa lalu. Hingga saat akan ke sini Zidan mewanti-wanti agar Leo tetap bersikap sopan pada Stevia.


“Ekhemm!” Zidan berdehem, hingga Stevia dan Leo sama-sama tersadar.


“Silahkan duduk!” kata Stevia yang mempersilahkan Leo dan Zidan untuk duduk.


Mereka pun mulai berbincang-bincang tentang proyek yang akan mereka kembangkan bersama-sama.


3 bulan kemudian.


Stevia mematut diri di cermin. Wajahnya tampak malas, dan tampak tak bersemangat. Malam ini, ia harus menghadiri sebuah pesta perkumpulan pengusaha yang selalu rutin di gelar setiap tahun. Ia tak ingin hadir. Tapi, sebagai pimpinan Abraham grup. Mau tak mau, ia pun harus hadir.


Setelah siap, Stevia pun keluar dari kamarnya. Seperti biasa, Anne sang sekretatis sudah menunggunya


“Wah, anda cantik sekali Madam,” kata Anee saat Stevia turun kebawah.


“Kau juga cantik Ane!” jawab Stevia. “Ayo kita berangkat!”


••••


Setelah perjalanan kurang lebih selama 30 menit, akhirnya mobil yang dikendarai oleh sekretaris Stevia sampai di hotel tempat menyelenggarakan pesta.


Pesta itu terlihat sudah ramai, beberapa pengusaha sudah berdatangan. Jangan ditanya seberapa mewahnya pesta tersebut, yang pasti pesta itu sangat mewah


Stevia turun dari mobil. Ia langsung berjalan beriringan dengan Ane dan masuk ke tempat acara.


Stevia langsung berbaur dengan beberapa orang pengusaha, mereka berbincang akrab sedangkan ane berdiri disamping Stevia.


“Ane aku titip tasku dulu sebentar. Aku rasa aku harus ke toilet!” kata Stevia. Ane pun mengangguk.


Saat akan masuk ke lorong untuk berjalan ke arah kamar mandi. Seseorang menarik tangan Stevia. Mata Stevia membulat saat melihat siapa yang menarik tangannya ternyata Riyadh, mantan suaminya.


Ah sial! ia lupa bahwa Riyadh pun mempunyai perusahaan dan saat ia menikah, Riyadh memutuskan berhenti untuk menjadi sekretaris Khalisia dan memutuskan untuk memimpin perusahaan sendiri hingga hari ini ia pun hadir di sini.


Selama ini, Riyadh sudah menahan untuk tak bertemu Stevia. Ia sudah merencanakan jauh-jauh hari pertemuan ini. Karena ia yakin, ia akan bertemu di sini dan saat stevia lengah ia langsung mengikuti Stevia dan berencana membawa Stevia ke kamar mandi


“Apa yang kau lakukan Hah!” Teriak Stevia saat Riyadh menyudutkannya ke tembok.


Plakkk!


Satu tamparan mendarat di pipi Riyadh, Stevia menampar Riyadh dengan kencang hingga suara tamparan itu terdengar begitu nyaring.


Emosi Riyadh terpancing, ia langsung mengunci tangan Stevia ke atas kemudian mencium rakus bibirku Stevia.


Stevia tak bisa melawan, tangannya dikunci oleh Riyadh, ia berusaha melawan. Namun tak bisa. Ia sudah mengigit bibir Riyadh. Namun, Riyadh bergeming. Ia tetap mencium bibir Stevia. Ia benar-benar merindukan Stevia hingga akhirnya ia berbuat nekad.


Brakkkk


Tiba-tiba pintu kamar mandi di dobrak dari luar, membuat Riyadh langsung melepaskan tautannya, seketika Stevia di hinggapi kelegaan.


Emosi Riyadh memuncak, ia langsung maju untuk menghajar orang yang telah menganggunya. Namun, sebelum Riyadh maju, orang itu mendahului meninju pipi Riyadh, hingga pipi Riyadh ambruk kelantai.


Mata Stevia membulat.


“Kau tidak apa-apa?” Tanya orang yang barusan mendobrak pintu.


“Tu-tuan Leo ....” Ternyata Leo yang menyelamatkan Stevia.


Tinggalin komen pliss