
Mata Laura membulat saat mendengar ucapan sang ayah. “Daddy ingin menjodohkanku dengan siapa?” Tanya Laura, ia berusaha tenang.
Sebenarnya ini bukan kali pertamanya Nael berusaha menjodohkannya. Tapi saat itu, ia selalu menolak. Jujur saja, Laura sudah bertekad tidak ingin menikah lagi. Ia hanya ingin fokus membahagiakan dirinya dan membahagiakan Bella.
Tapi saat melihat wajah sang ayah saat ini. Rasanya Laura tidak kuasa untuk menolak. “Jadi, Daddy ingin menjodohkan ku dengan lelaki yang mana lagi?” Laura kembali bertanya karena Nael tidak kunjung menjawab.
“Daddy ingin kau bertemu dengannya besok malam. Daddy rasa dia pria yang baik dan sangat family man. Daddy berharap, kau bisa cocok dengannya. Setidaknya kalian saling mengenal terlebih dahulu,” balas Nael. Setelah mengatakan itu Nael langsung menoleh ke arah Bella.
“Hai, cucu kakek. Kake memberilikan mainan untukmu. Ayo kita ambil di mobil!” Nael menggendong Bella untuk keluar dari panthouse, sedangkan Laura pergi ke kamarnya
Laura mendudukkan diri di ranjang, ia mengutak-ngatik ponselnya. Tak lama ia tersenyum saat melihat unggahan Seina di instagram. Seina mengunggah foto suami dan anaknya dengan caption yang sangat manis, terlihat jelas bahwa Seina sekarang begitu bahagia.
Kisahnya dengan kisah Seina sangat berbeda, Seina bertahan hingga ia mampu meluluhkan hati suaminya, ia bahkan melawan apa pun yang terjadi tanpa air mata, dan mampu membuka membuka rahasia yang sangat besar. Dan kini, Saina pun sangat bahagia.
Pernah, ia bermimpi untuk seperti Seina menaklukan suaminya. Tapi ternyata ia tidak sekuat Seina dan lebih memilih untuk menyerah.
keesokan harinya
Laura mematut diri di cermin, ia sudah rapih dengan tampilannya. Rasanya berat untuk ia pergi. Jujur saja, ia trauma dengan lelaki, ia trauma dengan sebuah hubungan. Walaupun ia masih memiliki perasaan pada Andre. Tapi ia sama sekali tidak berniat untuk berharap lagi pada Andre, karena ia benar-benar tidak ingin menikah lagi, ia sudah nyaman dengan hidupnya saat ini.
Tapi sekarang, ia terpaksa harus pergi menemui lelaki baru dan itu demi ayahnya, ia tidak ingin Nael kecewa padanya. Setelah bersiap, Laura pun keluar dari kamar.
“Laura, jika kau tidak ingin pergi, tidak usah!” kata Naura, ia langsung berbicara ketika Laura keluar dari kamar, ia yang baru saja tiba dari luar negri memutuskan untuk langsung ke penthouse saudara kembarnya karena dia tau rencana sang ayah.
Laura terkekeh. “Tidak apa-apa, aku titip Bella sebentar.” Setelah mengatakan itu, Laura keluar dari penthouse dan berjalan menuju mobilnya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang dikendarai Laura sampai di sebuah restoran, Ia turun dari mobil kemudian masuk ke restoran tersebut.
Laura menyapu pandangannya ke seluruh arah, tiba-tiba ada orang yang melambaikan tangan padanya, hingga Laura yakin itu adalah lelaki yang akan di perkenalkan padanya.
“Hallo,” sapa Laura dengan gugup. Laura begitu terkesima saat melihat lelaki di depannya. Lelaki ini benar-benar tampan bak dewa Yunani, Laura wanita normal, tentu saja Laura begitu kagum saat melihat lelaki tampan yang ada di depannya ini.
“Hallo, silakan duduk!” Arthur bangkit dari duduknya, kemudian menggeser kursi untuk Laura . Lalu setelah itu, ia pun mendudukkan dirinya kembali dan memanggil pelayan.
“ Ah tidak, aku tidak gugup," dusta Laura.
“Santai saja, anggap ini hanya makan malam biasa!” kata Artur. “Oh, ya. Aku Arthur!” Artur mengulurkan tangannya pada Laura, hingga Laura menerima uluran tangan Arthur.
”Aku Laura," jawabnya. Artur tersenyum, lalu ia memanggil pelayan, kemudian iya menyerahkan buku menu pada Laura.
Acara makan dimulai dengan hening. Laura dan Arthur fokus pada makanannya masing-masing, karena mereka merasakan gugup yang luar biasa.
Rupanya, bukan Laura saja yang merasakan gugup, Arthur pun juga sama dan pada akhirnya acara makan malam pun selesai.
“Boleh aku meminta nomor ponselmu?” tanya Arthur, Laura mengangguk. Ia mengadahkan tangannya.
“Kemarikan ponselmu, biar aku mencatat nomorku langsung di ponselmu," pinta Laura, Arthur dengan senang hati memberikan ponselnya dan Laura pun langsung mencatat nomornya.
“Bolehkah aku mengenalmu lebih jauh?” tanya Arthur. “Seperti mengirim pesan atau mengajakmu keluar?” tanyanya lagi setelah Laura memberikan ponselnya kembali.
Laura tampak terdiam, ia bingung harus bagaimana menghadapi Arthur. Jujur saja, ia sudah nyaman dengan kondisinya saat ini, ia sudah nyaman hidup tanpa seorang lelaki. Namun rasanya, tidak etis jika Laura menolak Arthur apalagi ia tidak ingin membuat nama ayahnya jelek.
Laura mengangguk ragu. “Hmm, sebelum kita berteman lebih jauh, aku ingin memberitahumu sesuatu!” balas Laura.
“Hmm, katakanlah ...”
“Aku sudah pernah menikah, aku seorang single mother dan aku mempunyai Putri berusia 6 tahun,” jelas Laura.
“Aku sudah tahu, kau tidak perlu khawatir tentang itu,” Jawab Artur.
Pada akhirnya makan malam pun selesai, Laura bangkit dari duduknya disusul oleh Arthur. Lalu mereka pun keluar dari restoran. Saat mereka keluar dari restoran, langkah keduanya terhenti saat ada yang masuk dari arah luar, dan ternyata yang masuk adalah Andre
Scroll gengs aku up dua bab