
“Operasi, operasi apa?” tanya Laura, ia menatap Andre dan Bastian secara bergantian.
“Laura Apa kau tidak tahu, bahwa mantan suamimu ini akan dipasang ring di jantungnya?”
Tubuh Laura diam mematung saat mendengar ucapan Bastian, ia langsung mengalihkan tatapannya pada Andre.
“ Andre apa itu benar?” tanya Laura dengan terkejut. Namun sepersekian detik, Laura menormalkan ekspresinya.
“Hmm, memang benar. Jadi, bisakah kau menasehatinya untuk berobat rutin?” ucap Bastian lagi pada Laura.
Laura tampak terdiam. “Kenapa kau memintaku untuk menasehatinya. Jika dia tidak ingin sembuh, apa urusannya dengan kita,” ucap Laura membuat mata Andre dan mata Sebastian membulat, mereka menatap Laura tanpa berkedip, merela tidak percaya ucapan itu akan keluar dari mulut Laura.
“Laura Kau ....” ucap Andre, sedangkan Laura hanya mengangkat bahunya acuh.
“Benarkan Bastian apa yang aku katakan?” Laura mengalihkan tatapannya pada Bastian. Bastian tampak berpikir, ia menggangguk ragu. Setahunya Laura tidak seperti ini. Bahkan saat dulu menikah dengan Andre, Laura tampak peduli sekali Andre. Tapi kenapa sekarang begitu berubah.
Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi, hingga Laura pun bangkit karena ia tau itu asistennya.
“Terima kasih Andre atas tumpanganmu, kalau begitu aku permisi, sampai jumpa Sebastian.” Laura lebih memilih untuk pergi dan berganti baju di mobil, hingga kini di apartemen itu meninggalkan Andre dan Sebastian.
Sebastian mendudukan dirinya di sofa, ia duduk di tempat tadi Laura duduk hingga kini, posisinya dan anda Andre saling berseberangan.
“Kau pasti tampak terkejut bukan dengan respon mantan istrimu?” tanya Sebastian.
Andre yang sedang melamun tersadar, Ia pun bingung dan tidak menyangka Laura akan mengatakan itu padanya. Padahal Ia pikir, jika Laura mengetahui penyakitnya, Laura akan tampak perduli. Tapi nyatanya tidak, bahkan Laura terlihat santai.
“Berarti kau sudah sangat melukai mantan istrimu Andre. Hingga dia sama sekali tidak perduli dengan apa yang terjadi padamu!” kata Sebastian, menyadarkan Andre dari lamunannya.
“Terserah kau saja!” Andre memilih bangkit dari duduknya, kemudian ia berjalan ke kamar membuat Sebastian menggeleng.
“Andre ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang. Kau harus diperiksa!”
“Nanti saja!” Andre kembali berteriak, kemudian membanting pintu, ia mendadak kesal karena Laura tidak memperdulikan kondisinya.
•••
“Nona, apa ada yang anda pikirkan?” tanya Molly yang tak lain asisten Laura. Laura tanpa terdiam, kemudian menggeleng.
“Tidak, aku tidak memikirkan apapun,” dustanya. Laura menyandarkan tubuhnya ke belakang, ia melihat ke arah jendela. Matanya sudah memanas, entah kenapa ia tiba-tiba ingin sekali menangis saat mendengar Andre akan menjalani operasi.
Bohong jika Laura tidak terkejut, bohong jika Laura tidak khawatir. Faktanya ia begitu khawatir dengan Andre. Namun, saat tadi, ia berpura-pura tegar dan berpura-pura tidak perduli, karena Laura sadar posisinya, ia bukan siapa-siapa Andre lagi, dan ia tidak ingin Andre ataupun Bastian mengetahui perasaan yang sesungguhnya
Dan yang paling membuat Laura sesak, Laura tidak akan bisa memberikan semangat, ataupun tidak akan bisa mendampingi Andre, karena ia bukan siapa-siapa dan ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri dengan memperlihatkan rasa khawatirnya.
•••
Waktu menunjukkan pukul 08.00 malam, Laura masih terdiam di ranjang, ia melamun memikirkan tentang Andre. Saat pulang dari apartemen Andre, Laura meminta asistennya untuk mengantarkannya kepada penthouse, sedangkan Bella sedang berada di mansion kedua orang tuanya hingga kini Laura hanya seorang diri di penthouse.
Setelah mengetahui apa yang terjadi dengan Andre, Laura jadi tidak bersemangat melakukan apapun. Pikirannya hanya tertuju pada Andre, ia ingin menanyakan keberadaan Andre atau menanyakan kondisi Andre. Tapi tentu saja, ia tidak seberani itu. Hingga tak lama, bel berbunyi membuat Laura menghela nafas. Dengan malas pun langsung bangkit dari berbaringnya kemudian keluar.
Saat memencet monitor, jantung Laura berdetak dua kali lebih cepat. Tiba-tiba ia merasa ketakutan, saat melihat siapa yang ada di luar. Siapa lagi kalau bukan Arthur.
di penthouse sedang tidak ada siapapun, Maid dan pengasuh Bela juga sudah sedang tidak ada. di panthouse hanya ada ai seorang diri. Lalu, bagaimana jika Arthur melakukan hal buruk padanya.
Laura semakin panik kala Arthur terus memencet bel, ia bingung harus bagaimana. Riba-tiba terdengar suara keributan dari arah luar, hingga Laura mengintip. Ia membulatkan matanya saat melihat Arthur terjatuh ke lantai , dan yang lebih membuat Laura terkejut, ada Andre. Rupanya, Andre lah yang menghajar Arthur.
Laura pun membuka pintu, kemudian ia langsung keluar hingga Arthur dan Andre langsung menoleh. “Laura!” panggil Arthur, ia langsung merubah ekspresinya seperti orang yang kesakitan, membuat Andre berdecih.
Sedangkan Laura sama sekali tidak merespon Arthur.
“Arthur kau sedang apa di sini?” tanya Laura, kali ini ia bertanya dengan dingin, membuat Arthur yang sudah bangkit dan berniat menghampiri Laura menghentikan langkahnya.
“Artur kumohon, tolong jangan datang lagi kemari,” ucap Laura membuat Arthur terdiam di tempat.
“ Laura Ada apa denganmu, Kenapa kau tiba-tiba berubah?” tanya Arthur, ia masih berekspresi seolah dia tidak tahu apa-apa. Ia memegang pipinya, berpura-pura merasakan sakit, agar Laura simpati padanya.
“Karena kami akan menikah lagi ....” Tiba-tiba Andre menjawab, membuat Laura menoleh dan membulatkan matanya, ia menatap Andre dengan tatapan tidak percaya.
“Hmm, kami akan menikah lagi,” ulang Andre membuat Artur terperanjat, begitupun dengan Laura. “Cepat kau pergi sebelum aku menghajarmu!”
“Laura kita akan berbicara besok!” Arthur lebih memilih berbalik, daripada ia harus mencari ribut dengan Andre ia takut, namanya semakin jelek di mata Laura.
Karena setiap menatap Andre, rasanya Laura begitu sesak, apalagi membayangkan Andre akan dioperasi. “Aku baik-baik saja. Terima kasih atas bantuanmu!” kata Laura. ”Aku akan masuk,” pamitnya lagi, Andre tidak menjawab, hingga Laura pun langsung berbalik kemudian menutup pintu penthousenya. Setelah Laura pergi, Andre langsung berjalan ke arah mobilnya.
Laura mengintip, ia menjadi resah sendiri saat melihat mobil Andre ada di depan penhouse-nya. Entah kenapa, lelaki itu belum juga pergi. Padahal ini sudah 1 jam berlalu.
Sekarang, Laura dilanda kebingungan di satu sisi ia tidak tega membiarkan Andre menunggu, di luar. Tapi jika ia menghampiri Andre dan mengajak Andre masuk, Laura takut Andre akan mengetahui bahwa Laura mengkhawatirkannya.
Sedangkan Laura tidak ingin terlihat memperhatikan Andre, dan ia juga tidak mau Andre menganggapnya percaya diri. Siapa tahu Andre menunggu di mobil hanya untuk beristirahat atau tidak untuk menunggu Bella, begitulah pikir Laura.
1 jam kemudian, akhirnya Laura menyerah. Rasa khawatirnya pada Andre lebih tinggi daripada rasa gengsinya, hingga Ia pun langsung keluar dari panthouse lalu menghampiri mobil Andre yang terparkir.
“Andre,” Laura mengetuk kaca mobil, membuat Andre membuka kaca mobilnya.
“Apa?” tanya Andre.
“Kenapa kau terus menunggu di sini? bukankah kau tahu Bella sedang menginap di mansion kedua orang tuaku?” tanya Laura
“Aku hanya menumpang istirahat saja!”dusta Andre, ia kembali lagi bersikap dingin karena ia tidak ingin Laura melihatnya sebagai lelaki yang lemah, apalagi sekarang jantungnya sedang terasa nyeri.
“Ah,. begitu rupanya. Ya sudah, kau sudah beristirahat satu jam jadi lebih baik kau pergi!” kata Laura membuat mata Andre membulat.
“Kau mengusirku?tanya Andre, kedua pasangan mantan suami istri itu sama-sama berdebat. Padahal keduanya sama-sama perduli
“Hmm, aku mengusirmu. Jadi cepat sana,” ucap Laura. Padahal, Ia ingin mengajak Andre masuk. Tapi melihat Andre yang menyebalkan, rasanya Laura ingin segera mengusir mantan suaminya.
“ Ayo cepat tunggu apalagi!” titah Laura yang menyadarkan Andre dari lamunannya. Andre tanpak melihat ke arah Laura, sepertinya tidak ada gunanya lagi untuk berpura-pura. Hingga akhirnya, ia menyuruh Laura untuk masuk ke dalam mobilnya, membuat Laura mengerutkan keningnya.
“Untuk apa juga aku masuk ke dalam mobilmu?” tanya Laura.
“Aku ingin bicara denganmu!" balas Andre.
“ Ya sudah, berbicara saja!”
“Lain kali saja,” balas Andre. Saat Andre akan menutup kaca jendela mobilnya, Laura dengan segera masuk ke dalam mobil Andre, membuat Andre menggeleng.
Namun rupanya, Laura tersadar hingga ia mengutuk dirinya sendiri. “kenapa juga aku masuk ke mobil ini!” Laura membatin menyesali keputusannya.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Laura.
Seperti yang kau tahu dan seperti yang kau dengar Tadi. “Aku akan memasang ring di jantungku, dan kemungkinan operasi berhasil atau tidak itu 50% 50% .....”
“Jadi apa intinya?" tanya Laura dengan bibir bergetar. Saat mendengar ucapan Andre, rasanya Laura begitu takut. Padahal sebelumnya, mati-matian ia berusaha untuk tidak memperlihatkan kepeduliannya di hadapan Andre.
“ Aku hanya ingin menitipkan Bella padamu. Jika aku tidak selamat .... Tolong ....”
“Tutup mulutmu Andre!” kata Laura yang tiba-tiba berbicara begitu pada Andre.
Andre menoleh, tatapan kedua insan itu saling mengunci. Bias rindu terlihat dari keduanya, Laura yang gengsi dengan perasaannya sedangkan Andre yang tidak tahu harus mengungkapkan dari mana.
“Lauraapa Kita bisa mulai berbicara serius?” tanya Andre tiba-tiba, membuat Laura terdiam. Ia tidak mampu menatap wajah Andre, hingga ia menolehkan kepalanya ke arah jendela
“Memangnya apalagi yang harus kita bicarakan. Tidak ada lagi hal yang harus kita bicarakan!” jawab Laura, mati-matian ia menahan tangis saat mendengar ucapan Andre
Saat mendengar jawaban Laura, Andre langsung menggenggam tangan Laura.
Hingga Laura refleks menoleh dan menghentikan ucapannya. Saat Laura akan menarik kembali tangannya dari tangan Andre, Andre menggenggam tangan Laura begitu erat.
”Jaga dirimu baik-baik, Laura. Besok aku akan terbang ke Amerika dan mulai perawatan di sana. Aku tidak tahu aku selamat atau tidak. Tapi aku akan selalu berdoa Kau dan Bella akan baik-baik saja.” Andre menutup ucapannya dari tangis yang mulai mengalir.
Rasanya, ucapan Andre mampu melunturkan dinding gengsi Laura, hingga akhirnya tangis Laura pecah, kedua insan itu sama-sama terjebak dalam masa lalu yang menyakitkan.
Andre yang berusaha menebus segalanya. Tapi tidak tahu mulai dari mana, dan Laura yang terlalu takut untuk kembali melangkah. Tanpa membalas ucapan Andre, Laura menarik tangannya kemudian ia keluar dari mobil Andre. Lalu setelah itu, ia berlari ke penthousenya.
“Jika Tuhan memberikan kesempatan untuk hidup. Aku akan mengabulkan keinginanmu, Laura. kita akan mempunyai keluarga yang bahagia. Tapi jika tidak, aku hanya berharap kau bisa mendapat pengganti yang lebih baik dariku,” ucap Andre dengan rasa pedih yang luar biasa.
Saat ini, Andre benar-benar berada di titik rasa takutnya. Sedari kecil, ia adalah yatim piatu, dan besok ia akan terbang seorang diri ke Amerika, dan ia harus menghadapi semuanya tanpa dukungan siapa pun.
Gila part ini pecah. Mau update kemarin tapi komennya dikit banget jadi gas komenya