
Joshua dengan erat memeluk istrinya meski beberapa kali Savana meronta.
"Aku memang tidak becus, aku memang tidak berguna." Savana terus mengulangi ucapannya, dia meronta lebih keras dari sebelumnya, begitu pun dengan Joshua yang memeluk Savana dengan begitu erat. .
Lima belas menit kemudian.
Savana mulai tenang, tidak lagi meronta dan dari tadi Joshua terus mengelus punggung istrinya, dan ketika Savana tenang, Joshua langsung melepaskan pelukannya kemudian dia menatap Savana, dan memegang kedua bahu istirnya.
“Savana, Tatap aku," ucap Joshua. Mata Joshua berkaca-kaca saat melihat Savana seperti ini.
"Ayo kita berpisah, aku tidak sanggup untuk terus ....” Savana tidak lagi meneruskan ucapannya dan sedetik kemudian, wanita itu terkulai lemas tak sadarkan diri, hingga dengan cepat Joshua langsung menangkap tubuh Savana.
***
Joshua membaringkan tubuh Savana di ranjang, kemudian setelah itu dia mendudukkan diri di sebelah istrinya, lalu dia mengelus kepala Savana. Joshua menatap Savana dengan lekat, dia benar-benar terkejut saat Savana bersikap seperti tadi, menyalahkan dirinya sendiri, melukai dirinya sendiri dan tentu saja Joshua tahu ini adalah dampak apa yang dia katakan pada Savana di masa lalu.
Dia telah merenggut kepercayaan diri istrinya. Dia pikir beberapa bulan ini setelah Savana berubah, Savana benar-benar sembuh dan melupakan semuanya, tapi ternyata dia salah.
Satu jam kemudian.
Savana mengerjapkan mata, tiba-tiba kepalanya terasa pusing hingga dia kembali memejamkan matanya. Tak lama, dia merasakan elusan di kepalanya hingga Savana langsung membuka mata kemudian melihat ke arah Joshua.
Savana dilanda kepanikan, teringat masakannya yang tadi sangat tidak enak. Jujur setiap dia merasa dia tidak becus, dia selalu takut mendengar kata-kata yang menyakitkan dari Joshua, itu sebabnya sekarang dia merasa panik. Savana bangkit dari berbaringnya membuat Joshua bertanya, "Kau mau ke mana?"
Savana melihat ke arah suaminya. "Pa-Paman maafkan aku, aku tidak bermaksud mengacaukan makan malam kita. Aku akan memesan makanan," ucap Savana. Dia yang dilanda kepanikan, langsung melihat ke sana kemari mencari ponselnya berniat untuk memesan makanan.
Perlahan, Joshua menggenggam tangan Savana hingga Savana langsung menoleh.
"Sebentar Paman, aku akan memesan di restoran dekat sini," kata Savana. Hati Joshua benar-benar tersayat ketika Savana seperti ini, dia benar-benar berpikir Savana berubah karena sudah bisa melupakan semuanya, tapi dia salah.
Perlahan, Joshua menaikkan kakinya kemudian dia bersila lalu dia menggenggam tangan Savana. "Savana, aku mohon tenang," kata Joshua hingga Savana langsung menunduk.
"Jangan lagi memarahiku," kata Savana dan sedetik kemudian, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata wanita itu.
"Apa aku masih menakutkan di matamu?" tanya Joshua.
Savana mengangguk. "Kau masih menakutkan," jawabnya.
Joshua memejamkam matanya, tidak ada cara lain selain mereka berpisah untuk sementara waktu. Tidak, Joshua tidak akan pernah melepaskan istrinya, walau bagaimanapun dia mencintai Savana. Namun jika dia terus bersama Savana, Savana akan terus mengingat kenangan menyakitkan.
"Savana, tatap aku," ucap Joshua hingga Savana memberanikan diri mengangkat kepalanya.
Savana menggeleng. "Tidak, aku tidak merasakan apa-apa," jawabnya, tentu saja karena dia takut.
"Savana." Joshua menghentikan sejenak ucapannya kemudian dia mengecup tangan Savana, membuat Savana membulatkan matanya. Dia langsung menarik tangan dari tangan Joshua, dia ketakutan.
"Maaf," kata Savana, dia langsung memberikan tangannya lagi pada suaminya hingga Joshua langsung balik menggenggam tangan Savana.
Perlahan, Joshua membaringkan tubuhnya lalu menjadikan paha Savana sebagai bantal, dan dia menatap wajah istrinya.
"Savana, jika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu, kau percaya?" tanya Joshua, dia harus berbicara dan menyelesaikan semuanya sekarang juga, karena dia yakin kunci kejujuran dari hubungan mereka adalah jujurnya Savana tentang apa yang dirasakan oleh istrinya.
Savana menggeleng. "Ti-tidak, aku tidak percaya," jawab Savana dengan terbata, mana mungkin dia percaya ketika lelaki yang menghinanya, merendahkannya dan menyuruh dia untuk menggugurkan kandungannya mengatakan mencintainya?
"Tapi aku benar-benar mencintaimu, Savana. Awalnya hanya merasa bersalah, tapi lama kelamaan aku mulai mencintaimu," kata Joshua lagi dan kali ini bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Joshua ketika mengatakan perasaannya.
"Entah seberapa besar kesalahan aku di masa lalu, aku ingin memperbaikinya. Aku ingin hidup denganmu. Aku tidak ingin wanita lain," ucap Joshua, dan kata-kata ini adalah yang selalu Savana tunggu, tapi entah kenapa sekarang rasanya hambar dan pada akhirnya, Joshua pun mengutarakan semua isi hatinya, mengutarakan semua perasaannya. Apa yang dia rasakan tentang rasa bersalahnya dan setelah dia berbicara panjang lebar, dia juga mampu.
Malam itu, kedua suami istri itu mereka berbicara dari hati ke hati, dan karena rasa nyaman yang diberikan oleh Joshua, Savana mampu mengatakan semua keluh kesahnya dari mulai sikap Joshua dan lain-lain, hingga pada akhirnya mereka sepakat akan berpisah sementara waktu.
Waktu menunjukkan dua malam.
Savana sudah tertidur satu jam lalu. Setelah menceritakan semua keluh kesahnya pada Joshua, Savana merasa beban yang selama ini dia tanggung hilang begitu saja. Biasanya tertidur dengan gelisah, tapi ketika dia jujur pada Joshua, dia merasa ngerasa lega yang luar biasa. Sementara Joshua, sama sekali tidak bisa tertidur. Satu tangannya mengelus punggung Savana karena sekarang Savana ada di dalam pelukannya, dan satu tangannya lagi memegang kertas USG anaknya.
Dua minggu kemudian.
Akhirnya, detik-detik menyakitkan bagi Joshua pun tiba di mana saat ini dia akan berpisah dengan Savana. Memang berat harus berpisah dari wanita yang dia cintai, tapi jika tidak seperti ini, Savana akan terus terbelenggu dalam luka. Saat ini, Savana dan Joshua sedang berada di bandara. Savana berencana akan pergi ke luar negeri melanjutkan kuliahnya di sana.
Savana meminta syarat pada Joshua, dia tidak ingin dikunjungi, dia tidak mau Joshua menyusulnya. Dia akan pulang sendiri ke Rusia ketika waktunya siap. Selama dua minggu ini, setelah mereka berbicara, Savana mulai sedikit terlihat ceria. Namun terkadang, dia juga terlihat murung dan Joshua mengerti dengan perubahan sikap Savana. Dia berharap setelah mereka berpisah dan mereka kembali lagi, hubungan mereka akan lebih baik dari sebelumnya.
"Terima kasih, Paman, sudah mengantarkanku," kata Savana ketika akan masuk ke pintu keberangkatan.
Joshua melepaskan pelukannya kemudian lelaki itu menatap ke arah istrinya.
"Jaga dirimu baik-baik," kata Joshua.
Kali ini, bukan Joshua yang memeluk Savana melainkan Savana yang memeluk Joshua, membuat tubuh Joshua diam mematung.
"Terima kasih karena telah berbalik mencintaiku, mari bertemu lagi dalam versi yang terbaik dalam diri kita," jawab Savana hingga Joshua mengangguk dan setelah itu, Joshua pun langsung menangkup wajah istrinya lalu mencium seluruh wajah Savana.
Dua tahun kemudian ...