Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Sampai tamat di noveltoo


Hai gengs, sambil nungguin aku update nanti malem, kalian bisa baca ini dulu ya. Ini Gratis sampai tamat di noveltoo Di sana udh ada banyak banget babnya, jadi kalian bisa baca maraton.


Aku ngadain give away buat kalian setiap bulan, bisa jadi uang, pulsa, token listrik dan barang, syaratnya kalian hanya banyakin komentar di lapak Tatap aku, lelakiku! dan tentunya jangan lupa tinggalin like.


Aku di sini tarus 6 bab ya, untuk lanjutannya kalian tinggal kesana aja ya



Bab 1


Bianca terduduk di sebuah cafe, pandangan matanya terarah ke arah luar. Ia melihat satu persatu mobil yang datang dan masuk ke area parkir, berharap salah satu mobil yang masuk adalah mobil calon suaminya.


Namun nihil, satu jam menunggu. Sello tidak kunjung datang, membuat Bianca hampir saja menyerah untuk menunggu. Ia melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian mengambil ponselnya. Lalu berusaha menelepon Sello. Namun, beberapa berdering, Sello sama sekali tidak mengangkat panggilannya.


Hari ini, ia berencana untuk membeli cincin pernikahannya bersama Sello. Walaupun awalnya memang Sello menolak untuk pergi karena beralasan banyak pekerjaan dan menyerahkan semuanya pada Bianca.


Tapi Bianca berhasil memaksa Sello, hingga akhirnya Sello mau menemaninya. Tapi ternyata, sudah satu jam berlalu, Bianca menunggu, Sello tidak kunjung tiba dan Bianca ingin sekali menangis kencang-kencangnya.


Padahal Ia sudah berharap Sellomau menemaninya, karena walau bagaimanapun mereka akan memilih cincin pengantin dan menurut Bianca ini adalah momen penting.


Bianca mengutak-ngatik ponselnya kemudian ia melihat galeri, ia membelai fotonya dan foto Sello yang diambil 4 tahun lalu, ketika mereka awal berpacaran.


Tanpa sadar, air mata Bianca menetes saat melihat Sello yang tersenyum dan rasanya sekarang, Bianca jarang sekali melihat Sello tersenyum seperti dulu.


Hubungan mereka sudah berjalan 4 tahun dan Sello pun sudah menjadi mualaf 7 bulan lalu. Mereka bertemu karena ruang lingkup yang sama di mana, Lyodra Ayah Bianca bekerja sama dengan Gabriel ayah Sello. Bukan hanya itu, Mendiang Stuard yang tak lain adalah kakek Sello dan mendiang Zayn yang tak lain kakek Bianca pun sangat dekat.


Dan ketika mereka pertama bertemu, benih-benih cinta itu tumbuh di hati keduanya. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Sello dan Bianca pun mulai dekat dan mereka pun memutuskan untuk berpacaran.


hingga akhirnya setelah 4 tahun menjalin hubungan Sello memberanikan diri untuk mengajak Bianca menikah dan dia pun rela menjadi mualaf karena memang Bianca menganut agama Islam.


Tapi anehnya, sudah 2 bulan ini, Sello berubah. Tidak ada lagi Sello yang hangat, tidak ada lagi Sello yang perhatian seperti dulu. Bianca merasa, ia benar-benar kehilangan sosok Sello dan berasa benar-benar tidak mengenal calon suaminya.


Sello jarang sekali bisa ditemui, beberapa kali Bianca datang ke kantor Sello. Namun, Sello selalu sedang sibuk. Hingga mau tak mau, Bianca kembali Pulang.


Bahkan saat Bianca membahas tentang pernikahan mereka yang akan segera berlangsung, Sello tidak pernah menjawab, ia hanya selalu fokus bermain ponselnya.


Seminggu lalu, Bianca bertemu Sello dan mengajak Sello memilih cincin pengantin. Dan Bianca tak menyangka, Sello ingin menunda pernikahan mereka.


Tapi, Bianca berhasil meyakinkan Sello, karena pernikahan mereka tidak mungkin dibatalkan, apalagi undangan dan persiapan sudah matang semuanya hingga tinggal menunggu waktu saja.


Mau tak mau, Sello pun membatalkan niatnya dan rencana pernikahan terus berlangsung dan setelah seminggu ini, tidak ada pembicaraan lagi bahkan pesan Bianca pun jarang sekali dibalas oleh Sello


Bianca pernah bertanya pada Sello tentang Kenapa Sello berubah. Tapi Selalu selalu beralasan karena pekerjaan dan Bianca berusaha memaklumi itu, ingin ia berpikiran positif pada Sello. Tapi ternyata, sangat sulit.


Entah apa yang membuat Sello berubah. Tapi, Bianca meyakini sesuatu, setelah menikah ia pasti bisa merubah Sello seperti Sellom seperti dulu.


Mungkin.


scroll


Bab 2


waktu menunjukkan pukul 03.00 sore, pada akhirnya. Bianca menyerah, ia menyerah menunggu Sello, Ia sudah menunggu selama 3 jam dan ia rasa, tak ada alasan lagi untuk ia menunggu.


Mata Bianca sudah memerah, rasa sakit menelusup dalam dada. Ini bukan sekali dua kali Sello begini, tapi ia masih mencoba untuk sabar menghadapi calon suaminya.


Saat ia akan bangkit dari duduknya, tiba-tiba pintu cafe terbuka. Muncul sosok Sello hingga Bianca mengurungkan niatnya untuk bangkit. Hati Bianca semakin terasa pedih Kala tidak ada raut penyesalan, sedikitpun di wajah calon suaminya.


“Maaf membuatmu menunggu lama!” kata Sello setelah menarik kursi dan mendudukkan diri di hadapan Bianca.


“Hanya itu yang kau ucapkan? tidakkah kau menyesal. Aku sudah menunggumu di sini selama berjam-jam,” jawab Bianca. Raut wajah kecewanya tidak bisa disembunyikan membuat Sello menghela nafas.


“Maafkan aku, Bianca. Aku banyak sekali pekerjaan tadi. Bukankah sudah kubilang, aku tidak bisa menemanimu. Seharusnya kau pergi sendiri dari tadi.” alih-alih menyesal, karena membiarkan Bianca menunggu Sello malah memberikan pembelaan membuat Bianca tersenyum getir.


“Bagaimana apa kita pergi sekarang?” tanya Sello, Bianca mengangguk. Sello pun kembali bangkit dari duduknya, disusul Bianca yang juga ikut bangkit.


Saat berada di luar kafe, Bianca tertegun saat Sello berjalan mendahuluinya. Ia lupa, kapan terakhir kali Sello menggenggam tangannya, ya lupa kapan Sello menoleh memastikan keadaannya, ia lupa kapan Sello mengkhawatirkannya..Yang pasti semuanya benar-benar berubah.


“Tidak apa-apa, Bianca. Dia pasti akan berubah seperti dulu.” Bianca masih berusaha meyakini bahwa Sello akan berubah setelah mereka menikah, ia mengenal Sello selama bertahun-tahun dan ia yakin dan berusaha untuk percaya bahwa Sello benar-benar sibuk.


••••


“Sello apa ini Bagus?” tanya Bianca memperlihatkan cincin pilihannya kehadapan Sello.


“Bagus!” kata Sello, membuat Bianca menghela nafas. Ini sudah ketiga kali ia bertanya pada Sello. Namun, Sello hanya menjawab dengan hal yang sama. Bahkan, ekspresi Sello seakan mengatakan bahwa dia tak peduli.


Pada akhirnya, setelah tiga kali memilih, Bianca pun memilih cincin terakhir, ia sudah tidak peduli lagi dengan pendapat Sello “Kita akan ke mana lagi sekarang?” tanya Martin.


“Bagaimana jika ke apartemenku saja, aku akan memaksakan makan malam untukmu di sana,” ajak Bianca. Matanya berbinar menatap Sello penuh harap, berharap kali ini Sello l mau meluangkan waktu sedikit saja untuknya. Jujur saja, ia begitu merindukan Sello dan ingin menghabiskan waktu dengan Sello.


Sello melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian menggeleng. “Tidak bisa Mommyku akan datang dari luar negeri dan aku harus menyambutnya dimansion!" balas Sello.


“Sello, bolehkah aku ikut ke mansionmu. Aku ingin bertemu Paman Gabriel dan bibi Amelia.” kata Bianca, Sello tampak terdiam, kemudian mengangguk.


“Ayo!” Bianca terdiam saat melihat ekspresi Sello, terlihat jelas bahwa Sello begitu terpaksa mengiyakan ucapannya.


“Sello sepertinya aku harus membatalkan untuk bertemu bibi Amelia. Aku takut, Daddy mencariku!” kata Bianca dengan mata yang berair, rasanya menyakitkan ketika melihat ekspresi Sello yang tampak tidak suka ketika ia mengatakan akan ikut ke mansiom.


“Baiklah, Ayo. Aku akan mengantarmu pulang,” jawab Sello. Sello pun berbalik, kemudian mendahului Bianca berjalan membuat hati Bianca teriris-iris.


Dengan hati yang luar biasa pedih, akhirnya Bianca pun mengikuti langkah Sello..


Bab 3


Suasana di dalam mobil begitu hening, Sello fokus mengemudi, sedangkan Bianca melihat ke arah jendela. Jujur saja, ia ingin menangis sekencang-kencangnya.


Tidak ada pembahasan apapun yang Sello lontarkan. Padahal mereka baru saja memilih cincin pernikahan, Sello tidak bertanya apapun. Padahal, pernikahan mereka sebentar lagi. Faktanya, Bianca terlalu mencintai Sello. Rasanya, ia tidak sanggup untuk melepaskan calon suaminya.


Mungkin Bianca bodoh karena mempertahankan Sello yang berubah. Tapi prinsip Bianca, ia lebih baik sakit hati agar Sello tetap bersamanya dan Ia tetap bisa melihat Sello.


Sedangkan Sello, sedari tadi fokus menyetir pikirannya melarang buana, ada yang salah dengan pikirkan, hingga ia tidak fokus pada Bianca.


“Ahhh!” Bianca tiba-tiba terpiekik, karena tanpa sengaja, Sello membanting setir kemudi ke kanan, karena ia hampir saja menabrak mobil yang ada di depannya. Hingga Bianca terhuyung kedepan dan kepalanya terbentur.


Bianca memegang kepalanya yang terasa nyeri, kemudian ia melihat ke arah Sello yang tampak terdiam, seperti memikirkan sesuatu. Bahkan, Selo sama sekali tidak mengkhawatirkannya, membuat Bianca tersenyum getir. Lagi-lagi, ia berusaha untuk tetap baik-baik saja.


“Sello, kau tidak apa-apa? apa ada masalah?” pada akhirnya, Bianca yang bertanya. Padahal jelas-jelas dia yang terluka. Bahkan, keningnya pun memerah.


Sello menoleh kemudian menegakkan tubuhnya. “Tidak apa-apa.” Setelah itu, ia menyalakan mobilnya dan menjalankannya. Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang dikendarai Sello, sampai di kediaman Bianca.


“Kau tidak turun?” tanya Selo ketika Bianca masih belum turun dari mobilnya padahal sudah 10 menit berlalu dan itu sukses membuat dada Bianca berdenyut nyeri, karena tanpa sengaja Sello mengusirnya secara halus.


“Sello, apa aku punya salah padamu?” tanya Bianca, Ini pertanyaan yang sering Bianca lontarkan pada Sello, ketika Sello bersikap acuh padanya.


Lagi-lagi, Sello menghela nafas. “Bianca, Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan. Tapi, aku benar-benar sibuk dengan pekerjaan. Jadi aku mohon mengerti aku.” Lagi-lagi, Selo menjawab pertanyaan yang sama dan lagi-lagi biar Bianca yang harus menerima alasan calon suaminya.


“Aku harus kembali lagi ke kantor,” ucap Sello, secara tak sengaja ia mengusir Bianca dari mobilnya, membuat Bianca mengangguk, kemudian Bianca pun turun dari mobil. Lalu setelah itu, Sellomenyalakan mobilnya dan menjalankannya, sedangkan Bianca hanya bisa melihat mobil Selo dengan tatapan petir.


“Tidak apa-apa, Bianca. Dia pasti akan berubah lagi!” kata Bianca yang masih berusaha membohongi hatinya sendiri.


Setelah mobil Sello pergi, ia langsung berjalan untuk masuk ke dalam rumah. Saat berjalan, ia melihat paper bag di tangannya paper bag itu berisi cincin pernikahan yang Bianca pilih tadi.


Seharusnya, cincin Itu disimpan oleh Sello. Tapi jangankan disimpan, Sello saja tidak menanyakan cincin itu. Pada akhirnya, Bianca kembali harus menutup lukanya dengan senyuman, meyakini semuanya akan baik-baik saja Walaupun dia sendiri tidak yakin.


“Bianca!” panggil Maria sang ibu, Bianca yang baru saja berjalan langsung menoleh, kemudian ia langsung tersenyum, berusaha menyembunyikan kesedihannya dari sang ibu.


“Mana Selo? bukan kalian berencana memberi cincin pernikahan? mana dia apa dia tidak mengantarmu?” tanya Maria bertubi-tubi, ia mengerutkan keningnya saat melihat reaksi Bianca yang berbeda.


“Sello, sedang ada pekerjaan, Mom. di kantornya, sebentar lagi kami akan menikah dan aku rasa dia butuh waktu yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum kami berbulan madu.” dusta Bianca


“Bianca, apa kau menyembunyikan sesuatu dari mommy?” tanya Maria.


Bab 4


“Aku tidak apa-apa, Mommy. Memangnya aku kenapa?” balas Bianca yang berusaha mengelak dari Maria.


“Keningmu Kenapa, apa kau terluka?” tanya Maria entah kenapa feelingnya sebagai seorang ibu mengatakan bahwa Putri pertamanya sedang tidak baik-baik saja


“Tadi, sello membanting mobilnya karena dia hampir menabrak Tapi aku tidak apa-apa, tadi juga Sello menawarkanku untuk pergi ke rumah sakit. Tapi aku rasa aku lebih baik beristirahat di rumah!” dusta Bianca, entah terbuat dari apa hati Bianca yang masih bisa melindungi Sello dan membuat nama Selo tetap baik di mata kedua orang tuanya.


“Ya, sudah kau istirahat Mommy akan menyusul Daddy ke ruang kerjanya!” kata Maria. Bianca pun menggangguk, kemudian berbalik. Lalu setelah itu, Bianca berjalan ke lift untuk naik ke kamarnya.


Bianca masuk ke dalam kamar, kemudian ia menaruh paper bag yang berisi cincin pernikahannya dan setelah itu ia berjalan ke arah ranjang lalu membanting tubuhnya di ranjang, hingga kini ia berbaring dengan posisi meringkuk.


Pandangan mata Bianca lurus ke depan, tiba-tiba bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya. Pada akhirnya, ia bisa mengeluarkan rasa sedihnya dengan menangis, tanpa ada orang yang tahu.


dua minggu kemudian


Suasana di sebuah masjid di Rusia tanpak sunyi, semua keluarga sudah berkumpul untuk menyaksikan ijab kabul Bianca dan Sello. Bianca dilanda harap-harap cemas, saudari tadi, ia menunduk dengan pipi yang memerah, karena sudah beberapa kali Selo salah melafalkan ijab kabul, bahkan terkesan Sello mempermainkan ijab kabul yang akan berlangsung, membuat wajah Bianca memerah menahan malu.


“Sello, apa kau sudah menghafalkannya dengan baik, kenapa kau tidak bisa fokus!” kali ini, Liodra bertanya pada Selo dengan nada yang tegas, tatapan matanya menyirakan rasa kesal pada calon menantunya. Entah kenapa dia begitu kesal ketika Sello terus salah melafalkan ijab kabul


Sello tersadar, kemudian menoleh ke arah sang ayah, Gabriel menatap Selo dengan sama tegasnya memperingatkan sang putra untuk tidak main-main membuat Sello menghela nafas, kemudian mengangguk.


“Ayo kita mulai!” kata Sello, ia Meraup oksigen sebanyak-banyaknya, kemudian setelah itu ia mulai menjabat tangan Lyodra dan dengan satu kali tarikan nafas, akhirnya Bianca dan Selo resmi menjadi pasangan suami istri


Harusnya, Bianca senang, karena Sello sudah resmi menjadi suaminya. Namun ketika Selo sudah melafalakan ijab kabul dan berbalik melihatnya, ada desiran aneh yang menerpa Bianca saat melihat iris mata milik Sello yang menatapnya dengan berbeda


Entah kenapa, dia merasakan bahwa Sello menatapnya dengan tatapan tak suka. Namun seperti biasa, Bianca selalu mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Waktu menunjukkan pukul 8 malam, Bianca dan Sello baru saja sampai di sebuah hotel, dan sakarang, Selo sedang berada di kamar mandi sedangkan Bianca sudah terlebih dahulu membersihkan dirinya dan kini ia sedang berbaring di ranjang sambil menunggu Sello.


Pintu kamar mandi terbuka, membuat kegugupan Bianca semakin menjadi-jadi, Sello keluar dengan tubuh yang wangi dan segar. Setelah mengeringkan rambutnya dan memakai pakaiannya,Sello langsung berjalan ke arah ranjang, dan membaringkan dirinya di ranjang dengan posisi membelakangi Bianca, membuat Bianca mengerutkan keningnya


“Se-Sello!” panggil Bianca terbata-bata. Bukankah seharusnya mereka melewati malam yang indah tapi kenapa ....


Sello memejankan matanya, kemudian menoleh dengan acuh. “Kau akan langsung tidur?” tanya Bianca, Sello mengusap wajah kasar, kemudian ia bangkit dari berbaringnya Lalu setelah itu ia mendidih tubuh Bianca.


••••


Bianca berbaring dengan posisi meringkuk, ia menggigit selimutnya agar tangisnya tak terdengar oleh Sello. Barusan, mereka memang sudah melakukan hal yang seharusnya mereka lakukan sebagai pengantin baru.


Tapi sayangnya, itu malah membuat Bianca hancur karena Selo melakukannya bahkan tanpa melihat ke arahnya, Sello melakukannya tanpa pemanasan, terkesan terburu-buru dan hanya memuaskan dirinya sendiri tanpa mempedulikan Bianca yang kesakitan dan yang paling menyedihkan bagi Bianca adalah setelah Sello mencapai puncaknya, Selo langsung menggulingkan tubuhnya dan membelakangi Bianca, tanpa berbicara sepatah kata pun.


Gas komen gengs


“Aku tidak apa-apa, Mommy. Memangnya aku kenapa?” balas Bianca yang berusaha mengelak dari Maria.


“Keningmu Kenapa, apa kau terluka?” tanya Maria entah kenapa feelingnya sebagai seorang ibu mengatakan bahwa Putri pertamanya sedang tidak baik-baik saja


“Tadi, sello membanting mobilnya karena dia hampir menabrak Tapi aku tidak apa-apa, tadi juga Sello menawarkanku untuk pergi ke rumah sakit. Tapi aku rasa aku lebih baik beristirahat di rumah!” dusta Bianca, entah terbuat dari apa hati Bianca yang masih bisa melindungi Sello dan membuat nama Selo tetap baik di mata kedua orang tuanya.


“Ya, sudah kau istirahat Mommy akan menyusul Daddy ke ruang kerjanya!” kata Maria. Bianca pun menggangguk, kemudian berbalik. Lalu setelah itu, Bianca berjalan ke lift untuk naik ke kamarnya.


Bianca masuk ke dalam kamar, kemudian ia menaruh paper bag yang berisi cincin pernikahannya dan setelah itu ia berjalan ke arah ranjang lalu membanting tubuhnya di ranjang, hingga kini ia berbaring dengan posisi meringkuk.


Pandangan mata Bianca lurus ke depan, tiba-tiba bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya. Pada akhirnya, ia bisa mengeluarkan rasa sedihnya dengan menangis, tanpa ada orang yang tahu.


dua minggu kemudian


Suasana di sebuah masjid di Rusia tanpak sunyi, semua keluarga sudah berkumpul untuk menyaksikan ijab kabul Bianca dan Sello. Bianca dilanda harap-harap cemas, saudari tadi, ia menunduk dengan pipi yang memerah, karena sudah beberapa kali Selo salah melafalkan ijab kabul, bahkan terkesan Sello mempermainkan ijab kabul yang akan berlangsung, membuat wajah Bianca memerah menahan malu.


“Sello, apa kau sudah menghafalkannya dengan baik, kenapa kau tidak bisa fokus!” kali ini, Liodra bertanya pada Selo dengan nada yang tegas, tatapan matanya menyirakan rasa kesal pada calon menantunya. Entah kenapa dia begitu kesal ketika Sello terus salah melafalkan ijab kabul


Sello tersadar, kemudian menoleh ke arah sang ayah, Gabriel menatap Selo dengan sama tegasnya memperingatkan sang putra untuk tidak main-main membuat Sello menghela nafas, kemudian mengangguk.


“Ayo kita mulai!” kata Sello, ia Meraup oksigen sebanyak-banyaknya, kemudian setelah itu ia mulai menjabat tangan Lyodra dan dengan satu kali tarikan nafas, akhirnya Bianca dan Selo resmi menjadi pasangan suami istri


Harusnya, Bianca senang, karena Sello sudah resmi menjadi suaminya. Namun ketika Selo sudah melafalakan ijab kabul dan berbalik melihatnya, ada desiran aneh yang menerpa Bianca saat melihat iris mata milik Sello yang menatapnya dengan berbeda


Entah kenapa, dia merasakan bahwa Sello menatapnya dengan tatapan tak suka. Namun seperti biasa, Bianca selalu mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Waktu menunjukkan pukul 8 malam, Bianca dan Sello baru saja sampai di sebuah hotel, dan sakarang, Selo sedang berada di kamar mandi sedangkan Bianca sudah terlebih dahulu membersihkan dirinya dan kini ia sedang berbaring di ranjang sambil menunggu Sello.


Pintu kamar mandi terbuka, membuat kegugupan Bianca semakin menjadi-jadi, Sello keluar dengan tubuh yang wangi dan segar. Setelah mengeringkan rambutnya dan memakai pakaiannya,Sello langsung berjalan ke arah ranjang, dan membaringkan dirinya di ranjang dengan posisi membelakangi Bianca, membuat Bianca mengerutkan keningnya


“Se-Sello!” panggil Bianca terbata-bata. Bukankah seharusnya mereka melewati malam yang indah tapi kenapa ....


Sello memejankan matanya, kemudian menoleh dengan acuh. “Kau akan langsung tidur?” tanya Bianca, Sello mengusap wajah kasar, kemudian ia bangkit dari berbaringnya Lalu setelah itu ia mendidih tubuh Bianca.


••••


Bianca berbaring dengan posisi meringkuk, ia menggigit selimutnya agar tangisnya tak terdengar oleh Sello. Barusan, mereka memang sudah melakukan hal yang seharusnya mereka lakukan sebagai pengantin baru.


Tapi sayangnya, itu malah membuat Bianca hancur karena Selo melakukannya bahkan tanpa melihat ke arahnya, Sello melakukannya tanpa pemanasan, terkesan terburu-buru dan hanya memuaskan dirinya sendiri tanpa mempedulikan Bianca yang kesakitan dan yang paling menyedihkan bagi Bianca adalah setelah Sello mencapai puncaknya, Selo langsung menggulingkan tubuhnya dan membelakangi Bianca, tanpa berbicara sepatah kata pun.


Gas komen gengs


bab 6


Sello menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya. Ia menyetir tanpa memperdulikan kondisi jalanan, ia hanya ingin sampai secepatnya di rumah sakit.


Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang dikendarai Sello sampai di rumah sakit, Selo segera memarkirkan mobilnya, kemudian Ia turun dari mobil dan langsung berlari masuk ke rumah sakit.


“Bagaimana keadaannya, apa dia kritis lagi?” tanya Sello pada dokter.


“Pasien mengalami kejang. Tapi berhasil di tangani dan beruntung pasien dan sepertinya pasien akan sadarkan diri sebentar lagi.” balas dokter Sello mengangguk.


“Terima kasih, Dok.” Tanpa menunggu lagi jawaban dokter, Sello pun menerobos masuk ke dalam ruangan. Mata Sello berkaca-kaca saat melihat seseorang terbaring diberangkar.


Sello menarik kursi, kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Brankar, lalu menggenggam tangan wanita itu. tangis Sello berderai, ia menciumi telapak tangan kekasihnya.


Ya, dia adalah Agnia hills, wanita berkebangsaan Indonesia Rusia dan dia adalah mantan Sello, sekaligus cinta pertama Sello, dan inilah alasan Sello berubah pada Bianca, karena dia kembali lagi pada cinta pertamanya yang sedang menderita tumor otak.


Flashback


6 bulan sebelum menikahi Bianca, mereka dipertemukan kembali dalam kondisi keadaan Agnia yang cukup parah, awalnya Sello tidak mempunyai perasaan apapun pada Agnia, Karena dia sudah melupakan Agnia seutuhnya. Namun seiring berjalannya waktu, seiring intensnya komunikasi mereka, rupanya mampu membangkitkan kenangan masa lalu ditambah lagi Agnia menderita tumor otak.


Dan sebelum menikahi Bianca, Sello sering menemani Agnia untuk kemoterapi menemani Agnia menjalani aktifitasnya. Awalnya, Ia hanya sebatas simpati. Apalagi Agnia adalah anak yatim piatu, dan ia hanya tinggal bersama bibinya yang kurang peduli padanya. Itu sebabnya, Sello selalu menemani Agnia, dan itu hanya sebagai teman.


Tapi pada akhirnya, rasa iba itu berubah menjadi rasa cinta. Cinta itu muncul kembali di hati Sello, hingga pada akhirnya. Ia memutuskan untuk kembali pada Agnia dan Agnia pun juga menerima cinta Sello.


Sayangnya Sello terlalu pengecut Untuk membatalkan pernikahannya dengan Bianca, ia terlalu takut menghadapi sang ayah ia terlalu takut menghadapi orang tua Bianca, itu sebabnya, ia selalu berubah menjadi dingin.


Berharap Bianca menyerah padanya dan berharap Bianca memutuskan pernikahannya terlebih dahulu. Tapi, ternyata yang terjadi Bianca malah terus bertahan hingga pada akhirnya Sello terpaksa tetap menikahi Bianca dan tetap bertahan bersama Agnia.


Dan saat tadi pagi, Sello terbangun dari tidurnya karena ia mendapat telepon dari pihak rumah sakit, dan mengabarkan bahwa Agnia kembali drop, itu sebabnya ia meninggalkan Bianca dan pergi ke rumah sakit. Padahal, itu adalah hari pertama mereka menjadi suami istri.


Agnia mengerjap, ia tersadar dari pingsannya kemudian ia menoleh ke arah Sello, hingga Sello langsung bangkit dari duduknya. “Maafkan aku, Sayang. Aku tidak menemanimu kemarin. Maafkan aku yang membiarkanmu sendirian,” ucap Sello, perlahan Agnia mengerakan tangannya untuk mengelus pipi Sello. Ia tersenyum.


“Tidak apa-apa, Baby. Aku baik-baik saja,” jawab Agnia tanpa menggerakkan mulutnya.


•••


Bianca masuk ke dalam apartemen Sello, ia mengedarkan tatapannya ke segala penjuru arah. Ada rasa sesak yang tak terlihat saat melihat apartemen ini. Dulu, apartemen ini adalah tempat ternyaman baginya untuk pulang.


Karena dulu, setiap ia lelah dengan pekerjaannya sebagai dokter spesialis ahli bedah saraf, ia delalu menggunakan apartemen Sello untuk beristirahat, karena apartemen Sello yang terdekat dari rumah sakit tempatnya berpraktek. Tapi sekarang, apartemen ini terasa asing bagi Bianca.


Tinggalin komen dan like ya.