
Aku up dua bab ya silahkan scroll.
tinggalin komen Laura dan Andre Ya di ban ini
Laura membaringkan tubuhnya di ranjang, ia menelusupkan wajahnya pada bantal. Lalu menangis sekeras-kerasnya. Ucapan Andre barusan membuat hati Laura benar-benar patah berkeping-keping, membayangkan bahwa Andre tidak selamat saja membuat Laura hancur apalagi Andre benar tidak selamat.
Laura bukit bangkit dari berbaringnya, kemudian ia berjalan ke arah laci. Lalu setelah itu, ia mengambil foto fotonya dan foto Andre saat masih berpacaran, saat Andre masih belum bersikap dingin padanya. Di foto itu, Andre tersenyum begitu lebar.
Laura mengelus wajah Andre, kemudian menciumnya. “Andre!’ ia hanya mampu memanggil nama mantan suaminya.
•••
Setelah Laura masuk, Andre menyalakan mobilnya dan menjalankannya, berencana untuk pergi ke mansion kedua orang tua Laura, untuk menjemput Bella. Ini untuk terakhir kalinya ia bertemu putrinya, karena ia tidak tahu, kapan ia kembali dan ia ingin melewati malam ini dengan tidur bersama putrinya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Andre sampai di mansion Nael dan Gaby. Sebelum masuk ke dalam gerbang. Sejenak, Andre menghentikan laju mobilnya,.karena ia bingung dan tidak tahu harus bagaimana menghadapi Nael dan Gaby.
Selama 7 tahun ini, beberapa kali ia bertemu dengan mantan Ayah mertuanya. Tapi Nael selalu membuang muka atau Nael selalu menatapnya dengan tatapan tidak suka dan sekarang, ia bingung, bagaimana ia menghadapi Nael.
Andre menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia berusaha menguatkan dirinya kemudian Ia pun mulai menjalankan kembali mobilnya.
“ Aku ingin menjemput Bella, bisa kalian membuka gerbang?” tanya Andre pada penjaga gerbang.
“Sebentar, kami akan menelepon Tuan Nael.”
15 menit kemudian, Andre menghela nafas lega saat Nael mengijinkannya untuk masuk. Hingga ia menyalakan lagi mobilnya dan menjalankannya ke dalam.
Andre turun dari mobil, kemudian ia langsung berjalan ke arah dalam. Ia membuka pintu hingga pintu terbuka, dan Nael yang membukakannya.
Tubuh Andre diam mematung saat melihat Nael ada di depannya, ia bahkan menunduk tidak berani menatap mantan Ayah mertuanya, teringat jelas saat itu ia menghina Laura di depan Nael.
“Untuk apa kau kemari?” tanya Nael dengan ketus.
“Bolehkah aku bertemu Bella, dan mengajak Bela menginap?” tanya Andre, ia sama sekali tidak berani menatap Nael, karena sekarang Nael menatapnya dengan tatapan tak suka, dan itu membuat Andre ketar-ketir.
“Daddy, Tiba-tiba terdengar suara Bela dari arah belakang, hingga Andre mengangkat kepalanya. lalu ia tersenyum saat melihat Bella. Bela menghampiri Andre, kemudian memeluk kaki sang ayah. Hingga Andre menunduk, menyetarakan diri dengan Bella.
“Daddy, ingin mengajakmu menginap. Kau mau kan menginap di apartemen Daddy sekarang?”
“Tidak boleh!" ucap Nael tiba-tiba, membuat Andre langsung menoleh. “Bella tidak boleh pergi kemanapun, ini sudah malam,” sambungnya lagi dengan ketus, membuat Andre menggigit bibirnya.
“Tuana aku minta izin, hanya sehari ini saja sebelum aku pergi ke Amerika besok dan aku tidak tahu kapan kembali," jawab Andre.
“Daddy tidak akan kembali lagi?" tanya Bella Andre menggeleng.
“Tidak, Daddy hanya ada pekerjaan," jawab Andre. Lalu Andre mengalihkan tatapannya ke arah Nael.
“Tuan, ijinkan aku membawa Bella, satu hari ini saja," ucap Andre dengan penuh permohonan.
...
Mau permisii bentar ya..bab Laura Andre scrolllllaja.
(L.ihat aku suamiku) tayang di sihijau dan sudah tamat. Info ....088222277840.
"Mas, hari ini jadwal kontrol kandunganku. Bisakah mas saja yang memeriksaku," ucapku pada suamiku saat kami sedang sarapan. Ada sedikit ketakutan dan rasa malu saat aku mengungkap keinginanku pada mas Ghani yang tak lain adalah suamiku.
Bagaimana tidak, suamiku yang berkerja sebagai dokter kandungan sama sekali tak mencintaiku, bahkan mungkin tak menganggapku ada. Kami menikah karena terpaksa. Mendiang istri suamiku memaksa kami menikah sebelum kematian datang menyapanya.
Mas Gani menaruh sendok yang sedang di pegang nya. Seperti biasa, dia menatapku dengan tatapan datar.
"Pasien saya penuh. Kamu bisa periksa di rumah sakit lain," jawab suamiku acuh dan kembali menyodokan makanan kemulutnya.
Mendengar jawaban suamiku. Mataku mengembun. Jawaban yang selalu sama setiap aku mengutarakan keinginanku. Seharusnya aku tak perlu sakit hati lagi dengan jawabannya karena aku tau, pasti dia akan menjawab hal yang sama. Tapi, tetap saja, rasa sakit itu tak bisa di hindari.
Setelah mendengar jawabannya, aku menunduk tak berani lagi menatapnya. Harga diriku seolah hilang karena mendengar jawabannya. Apa aku atau calon anakku salah jika menginginkan mas Gani suamiku yang mendampingi kami? Aku lelah Ya Allah, aku ingin menyerah.
Seperti biasa, dia pun bangkit dari duduknya dan melangkah pergi untuk bekerja tanpa mengucap satu patah kata pun padaku menegaskan bahwa aku memang istri yang tak dianggap.
Setelah mas Gani pergi, tangis yang sedari tadi aku tahan akhirnya pecah. Aku pun memilih pergi kekamar tanpa menyelesaikan sarapanku.
Aku menatap din-ding tempat Foto mendiang mba Rahma masih terpajang di din-ding kamar kami, kamar yang dulu merupakan kamar suamiku dan kamar mendiang mba Rahma.
Ingatanku kembali saat aku bertemu Mendiang mba Rahma untuk pertama kalinya.
Flashback.
Aku baru saja tiba dari kampung. Niatku ke kota karena ingin menghampiri temanku yang menawarkan pekerjaan padaku.
Namun, sayang. Saat aku akan menyetop angkot, aku kecopetan. Tasku dibawa oleh copet. Aku dan beberapa orang mencoba mengejar copet tersebut. Namun sayang, copet itu hilang kami tak berhasil mengejarnya.
Aku terduduk lemas di terminal. Perutku lapar, semua uang, ponsel dan alamat temanku ada di tas yang tadi di copet.
Aku hanya bisa menangis meratapi yang terjadi. Aku bingung harus melakukan apa, ingin kembali ke kampung pun aku tak memegang uang sama sekali.
Saat aku tertunduk dan menangis. Seseorang menepuk bahuku dari belakang.
Aku pun menoleh kebelakang.
"Kau tidak apa-apa, Dik?" tanya wanita yang menepuk pundaku. Wanita itu sangat cantik. Ia tersenyum kepadaku.
"A-aku tidak apa-apa, Mba," jawabku berbohong.
"Aku Rahma." Wanita cantik itu pun tersenyum sambil mengulurkan tangannya padaku.
Aku pun bangkit dari duduk dan membalas uluran tangannya.
"Aku Mahira," jawabku.
"Kau sedang mencari pekerjaan, Mahira?" tanyanya saat kami sudah berjabat tangan.
Aku pun mengangguk ragu.
"Kau mau menjadi pengasuh anakku?" tanyanya lagi.
"Mbak, apa Mba percaya padaku. Aku kehilangan kartu identitasku. Aku tak punya jaminan apa pun untuk ku berikan ...." perkataanku terputus saat Mba Rahma mengusap lembut pundakku.
"Aku percaya padamu," jawab mba Rahma.
"Kalau begitu ayo ikut aku, kita pulang ke rumahku," ucap mba Rahma sambil menarik tanganku. Aku merasa pernah melihat Mba Rahma, Mencoba mengingat-ngingatnya, tapi, tetap saja aku tak ingat.
Setelah sampai di rumah mba Rahma. Mba Rahma memperkenalkan ku pada suaminya dan kepada putrinya yang bernama Dita.
Dita sangat cantik, umurnya baru saja menginjak 5 tahun. Tak terasa aku sudah satu tahun bekerja menjadi pengasuh Dita, semua berjalan normal pada awalnya. Aku sangat menikamati peranku sebagai pengasuh. Terlebih lagi Dita anak yang manis dan penurut. Aku pun mulai menyayanginya.
Saat aku sedang menyuapi Dita, telpon rumah berdering. Betapa terkejutnya aku saat mendapat telepon dari pihak rumah sakit yang mengatakan bahwa Mba Rahma sedang di rawat.
Semua berkumpul di rumah sakit. Aku heran, kenapa aku harus ikut ke rumah sakit sedangkan Dita dititipkan pada Art dirumah.
Saat sedang bergelut dengan pikiranku sendiri. Perawat memanggil namaku dan nama mas Gani.
"Sayang, kenapa kau tak jujur pada Mas. Kenapa kau menyembunyikan dan menanggung semua ini sendiri," ucap mas Gani sambil menggenggam tangan mba Rahma.
Mba Rahma pun ikut menangis. Mba Rahma menderita leukimia dan merahasiakannya dari semua orang.
"Mas!" panggil mba Rahma.
"Ya, Sayang."
"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu, Mas?" tanya mba Rahma penuh harap.
"Katakan, Sayang. Mas akan mengabulkan keinginanmu."
"Janji?"
Mas Gani pun tersenyum dan mengangguk.
"Aku mohon, menikahlah dengan Mahira."
Bagai tersambar petir di siang bolong. Aku sangat terkejut dengan permintaan mba Rahma. Bagaimana bisa dia memintaku menjadi madunya. Tidak, aku tidak mau. Dalam hati aku bertekad untuk menolak keinginannya.
"Sayang, apa maksudmu. Tidak! Sampai kapan pun aku tak akan menikahinya," jawab mas Gani. Tiba-tiba mas Gani menatapku sedikit sinis. Mungkin dia menyangka aku senang dengan tawaran mba Rahma.
Seminggu kamudian.
Selama seminggu. Mas Gani sama sekali tak menyapaku. Dia yang biasa bertanya tentang yang dilakukan Dita padaku mendadak membuang muka jika bertemu denganku di rumah atau saat aku menemani mba Rahma di rumah sakit.
Dan setelah seminggu berlalu, Mba Rahma kembali memanggil kami. Aku sudah akan menyiapkan jawaban untuk mba Rahma yang mengingingkan aku menikah dengan mas Gani. Tentu saja aku akan menjawab, Tidak! Aku tidak mau menikah dengan mas Gani.
Namun, betap terkejutnya aku saat melihat kondisi mba Rahma yang ....