Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Temani aku sampai Terlelap


Hening suasana malam itu begitu hening, Gabby terdiam saat Nael memeluknya.


Saat Gabby tidak memberontak lagi, Nael memeluk Gabby semakin erat, ia menyimpan kepalanya di pundak Gabby, sedangkan Gabby hanya terdiam. Jantungnya berpacu dua kali cepat. Entah kenapa, pelukan Nael begitu membuatnya hangat dan nyaman.


“Gabby, mungkin terlambat Jika aku mengucapkan kata maaf padamu. Mungkin kata maafku begitu kelise di telingamu. Aku aku, tahu rasa sakit yang ditanggung olehmu lebih dari pada rasa sakit yang ditanggung oleh Laura dan Naura. Kau mengandung seorang diri, kau harus menerima hal pahit karena aku tidak mau bertanggung jawab, kau membesarkan Laura dan Naura seorang diri dan kalian mengalami hal pahit bersama-sama. Maafku mungkin tidak bisa mengembalikan Waktu yang terlewatkan. Tapi Aku bersumpah demi apapun, demi nyawaku, kali ini aku akan menebus semuanya, menebus waktu yang terlewati menebus rasa sakit yang kau dan kedua anak kita alami. Aku akan menjaga kalian, aku akan mencintai kalian sepenuh hatiku dan tidak akan membiarkan kalian terluka.”


Saat mendengar ucapan Nael, tak terasa bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya. Dadanya berdesir pedih. Ya, mungkin di di antara rasa sakit yang dirasakan oleh Laura dan Naura Gabby lah yang paling tersakiti di sini. Sekalipun pada awalnya memang Gabby yang ingin memiliki anak. Tapi tetap saja, rasa sakit itu ada dan membekas.


Hanya saja saat ini, ketika semuanya membaik ketika Nael sudah datang kembali, perlahan luka itu mulai memudar. Apalagi melihat Laura dan Naura sudah baik-baik saja


Mendengar Gabby terisak, Nael semakin mengeratkan pelukannya, kemudian ia mengelus perut Gabby. “Gabby, Aku berjanji aku akan menjadi ayah dan suami yang baik untuk kalian. Aku engabadikan hidupku untuk kalian,” ucap Nael lagi, ia berbicara tentang pernikahan padahal Gabby belum membahas masalah pernikahan dengannya.


Tapi tekadnya sudah bulat, mau tak mau, suka tak suka dengan cara memaksa atau dengan cara baik-baik, dia akan menyeret Gabby ke altar dan menjadikan Gaby istrinya.


,Setelah sekian lama terdiam, Gabby menghapus air matanya. “Na-Nael, aku ingin pulang. Ini sudah malam. Bahaya jika Laura dan orang melihatku disini!” kata Gabby. Rasanya ia tidak sanggup lagi melihat Nael.


Nael melepaskan pelukannya, kemudian menuntun Gabby untuk berbalik ke arahnya. Nael mengakup kedua pipi Gabby, kemudian mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Gabby sekilas.


“Ini sudah malam. Kau bisa pulang besok pagi sebelum Naura dan Laura terbangun. Nael menarik tangan Gabby, karena ia tidak ingin Gabby menolaknya karena Gaby masih merasakan mellow, dia pun mengikuti langkah Nael yang berjalan ke arah kamarnya.


Setelah Gabby berbaring, Nael duduk di sebelah Gabby, kemudian ia mengelus pipi Gabby sedangkan Gabby menundukkan pandangannya. Rasanya, Ia tidak mampu menatap Nael.


“Tidurlah, aku akan tidur bersama Laura dan Naura.” Nael membungkuk ia mencium kening Gabby dengan penuh kasih sayang.


“Goodnight Baby!” Saat Nael akan bangkit dari duduknya, Gabby menarik tangan Nael, hingga Nael kembali menoleh.


“Na-Nael, temani aku tidur sampai aku terlelap! ” pinta Gabby.


Nael mengangguk, kemudian ia langsung baik ke ranjang, Gabby berbalik dan Nael langsung memeluk Gabby dari belakang.


“Tidurlah, Baby. Tak ada yang perlu di kkhawatikan!” Nael memeluk Gabby sangat erat, kemudian mencium pucuk kepala Gabby bertubi-tubi dan setelah nafas Gabby terdengar halus, pertanda Gabby sudah terlelap, Nael pun bangkit dengan perlahan lalu keluar dari kamar dan pergi ke kamar kedua putrinya.


Ayolah gas Komen..huaaaa sedih betdah 😭😭


Tim yang dulu Gedeg setengah mati sama Nael dan sekarang malah Kasian, angkat tangannn