
RAsa Yang Terlambat
gengs bab Naura scroll ya .
kalian wajib banget baca sampe bawah, Karena ini benar-benar cerita yang bisa bikin kalian panas dingin,
Judul Novel Rasa Yang Terlambat Tayang di K-B-Minfo 088222277840
bab Naura tinggal scroll ya.
Bab 1 Sebuah Rasa
“Pah, mana mungkin aku mau nikahin dia, aku sama sekali enggak punya perasaan ke Affesya,” ucap Jimmy pada sang ayah
“Ayolah Jimmy, enggak ada salahnya, kalau kamu deketin dia. Ini semua demi perusahaan papah, kalau kamu berhasil nikahin Affeysa. Perusahaan kita akan semakin berkembang karena sokongan dari om Gema,” ucap Rendi, pada sang ayah.
Jimmy mengusap rambutnya dengan kasar, ia mendudukkan diri di sofa, kemudian menghela nafas lalu menghembuskannya beberapa kali. Afeesya adalah muridnya, dari gerak-gerik Afeesya, Jimmy tahu, bahwa Afeesya menyukainya.
Dan naasnya, sang ayah malah menyuruhnya untuk mendekati dan menikahi Afeesya, karena keluarga Afeesya bisa membantu perusahaan milik keluarganya.
Dan yang jadi masalah bagi Jimmy, jimmy tidak mempunyai perasaan apapun padanya Affesya, Jimmy juga masih terikat terikat dengan cinta pertamanya. Tapi sekarang, sang ayah memaksanya untuk berpura-pura mencintai Affesya dan harus menikahi Afeesya.
“Pah, enggak perlu kan Jimmi nikahin Afeesya. Papa kan tahu, Jimmy enggak pernah tertarik sama anak itu,” ujar Jimmy, kekeh menolak perintah sang ayah.
”Ayolah, Jim. Keluarga Afeesya bisa buat perusahaan kita maju,” jawab Rendi lagi, membuat Jimmy bangkit dari duduknya. Rasanya, ia terlalu lelah berdebat dengan sang ayah. Pekerjaannya menjadi dosen sudah sangat berat, dan sekarang, sang ayah malah menyuruhnya untuk menikahi Afeesya.
“Jimmy!” panggil Rendi saat ini meninggalkan ruang keluarga. Jimmy enggan menoleh pada sang ayah. Rasanya, ia benar-benar lelah
dengan tuntutan ayahnya.
•••
“Afeesya, ada apa denganmu?” tanya Khalisia pada sang putri turun dengan lemas.
“Mommy, izinkan aku untuk berlibur ke Bali. Rasanya, aku begitu suntuk dengan tugas di kampus," pinta Afeesya.
“Nononono, kau tidak boleh kemana-mana." Bukan Khalisia yang menjawab, melainkan Gemma, sang ayah. Gemma yang berjalan dari arah belakang, langsung menarik kursi dan bergabung di meja makan.
“Kau tidak boleh pergi kemana-mana, jika kau ingin berlibur, kau harus berlibur bersama Daddy dan yang lainnya," ucap Gemma lagi. Ia menarik roti, kemudian mengusapkan roti tersebut dengan selai.
“Aku kan bukan anak kecil lagi, Dad. Ayolah ijinkan aku,” jawab Afeesya.
“Dengan siapa kau akan pergi ke Bali. Tidak bersama pria, kan?” tanya Gema lagi, Afeesya adalah satu-satunya putrinya di keluarga Rahardja, kedua orang tuanya sama-sama dari kelurga konglomerat, dan Gemma begitu protektif pada sang putri.
“Aku bersama teman-teman kampusku, Dad
Tidak hanya perempuan adalah lelaki juga. Tapi kan aku bisa menjaga diri,” jawab Afeesya lagi yang tidak mau kalah dengan sang ayah.
“Ijinkan saja, Dad,” ucap Khalisia sang istri. Gemma tampak berpikir. “Devano akan ikut bersamamu,” ucap Gemma, membuat mata Afeesya membulat.
“kenapa kakak harus ikut bersamaku?” tanya Afeesya, ia tampak keberatan dengan usulan sang ayah.
“Ia tau tidak sama sekali!” Gemma berucap tegas, membuat Afeesya terdiam. Mau tak mau, ia harus mengikuti perintah sang ayah. jika tidak ia tidak akan pernah pergi berlibur bersama teman-temannya
•••
Dan sekarang, di sini lah Afeesya berada, ia sudah berada di pulau Dewata Bali, berlibur bersama teman-temannya, tentu saja ia dalam pengawasan sang kaka.
Setelah tiba di Bali, teman-temannya langsung berdiam diri di villa, sedangkan Afeesya memilih menikmati angin Sore di pesisir pantai, saat ia berjalan ia menghentikan langkahnya ketika ada yang berdehem, hingga Affesya menoleh kebelakang.
Jantung Afeesya berdetak dua kali lebih cepat ketika melihat Jimmy. Lelaki yang sudah lama ia sukai berada di depannya. Jimmy adalah dosennya di kampus, dan juga Jimmi adalah lelaki yang Afeesya sukai. Dan ia tak menyangka, sekarang, Jimmy berada di dekatnya dan menyapanya. Padahal, Jimmy adalah salah satu dosen terdingin di kampusnya.
“Ha-hai,” jawab Jimmy dengan kaku. Ia tidak pernah bersikap ramah pada siapapun. Tapi karena tuntutan sang ayah yang harus mendekati Afeesya, ia terpaksa bersikap ramah pada wanita yang berada di depannya ini.
“Kau sendiri Afeesya?” tanya Jimmy. Afeesya pun mengangguk.
“Ya, aku sendiri,” jawab Afeesya sambil menarik tengkuknya yang tidak gatal. Ia bingung harus membahas apalagi dengan Jimmy. Walaupun ia menyukai Jimmy. Tapi ia tidak seagresif itu untuk mendekati dan untuk bertanya hal yang pribadi pada dosennya.
“Kalau begitu sampai nanti kak Jimmy,” ucap Afeesya lagi. Setelah mengatakan itu, Afeesya berbalik, karena wajahnya memerah. Rasanya ia tak sanggup lagi menatap Jimmy. Apalagi ketampanan Jimmy meningkat, ketika Jimmy memakai pakaian kasual.
“Afeesya!” panggil Jimmy lagi, seketika Afeesya menoleh.
“Ya, Kak?"
“Bagaimana kalau kita berjalan-jalan bersama?’ ucap Jimmy membuat mata Afeesya membulat. Rasanya, ia begitu mimpi saat Jimmy, lelaki yang dingin dan lelaki yang ia sukai mengajaknya berjalan-jalan bersama.
Afeesya tidak menjawab. Namun, Jimmy langsung berjalan ke arah Afeesya, lalu mulai berjalan dan disusul Afeesya yang juga ikut berjalan. Hingga kini, mereka berjalan bersebelahan.
Hening.
Mereka berjalan tanpa berbicara sepatah kata pun, mereka melangkahkan kakinya dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Kau bersama teman-temanmu?” tanya Jimmy, Setelah sekian lama diam. Ia memberanikan diri untuk berbicara pada Afeesya.
Afeesya pun mengangguk. Ia terlalu grogi berjalan bersama Jimmi, hingga akhirnya ia hanya bisa menjawab dengan anggukan.
“Bagaimana jika kita menikmati secangkir kopi di cafe?” tanya, Jimmy. Ia sengaja mengajak Afeesya a untuk pergi ke cafe karena ia kehilangan bahan pembicaraan bersama Afeesya.
Lagi-lagi Afeesya tak mampu menjawab, ia hanya mampu menganggukan kepalanya, dan akhirnya, mereka pun pergi ke sebuah kace dan yang tak jauh dari pantai.
“Kakak sedang berlibur di sini?” tanya Afeesya setelah mereka duduk dan memesan makanan. Ia memberanikan diri bertanya pada Jimmy.
Jimmy mengangguk, kemudian mereka sama-sama kembali terdiam. “Apa aku boleh minta nomor ponselmu?” tanya Jimmy. membuat mata Afeesya membulat, jantungnya semakin berdebar tak karuan, saat Jimmy meminta nomor ponselnya.
Saat Afeesya tak menjawab ucapannya, Jimmy mengeluarkan ponsel dari saku, kemudian ia menyodorkannya pada Afeesya.
“Tolong, tulis nomor ponselmu di sini!” titah Jimmi, tangan Afeesya, bergetar ketika mengambil ponsel Jimmy, dan secepat kilat, ia langsung menyimpan nomer ponselnya.
Saat makanan yang mereka pesan tiba, Jimmy dan Afeeysa sama-sama kembali terdiam. Mereka mengalihkan tatapannya pada live musik yang sedang berlangsung.
Afeeysa benar-benar mati kutu, degupan jantungnya semakin kencang, sedangkan Jimmi, berusaha memutar otak, untuk bisa mendekati Afeesya lebih jauh.
Ini benar-benar menyebalkan untuknya, dia dipaksa sang ayah untuk mendekati Afeesya, sedangkan ia sendiri tidak pernah mempunyai ketertarikan sedikitpun pada Afeeysa.
Dan sekarang, ia bahkan dituntut untuk menikahi Afeesya demi perusahaan sang ayah. Lalu, bagaimana dengan dirinya, dengan cintanya dan dengan hidupnya. Ia ingin menolak. Tapi ia tak bisa, dan yang sekarang bisa ia lakukan adalah, terus berpura-pura mendekati Afeesya. Hingga Afeesya menerima pinangannya.
Bab 2 Salah Tingkah
“Kak terima kasih, sudah mentraktirku kopi di sini,” ucap Afeesya. Saat ini, mereka baru saja keluar dari kafe setelah kurang lebih 2 jam duduk di dalam.
Tak ada pembahasan yang signifikan antara mereka. Bahkan, mereka lebih banyak terdiam dan lebih kaku. Hingga pada akhirnya, setelah dua jam berlalu. Afeesya memutuskan untuk pulang karena memang rasanya dia tak nyaman.
Jimmy mengangguk “Apa Vila mu jauh dari sini?” tanya Jimmy. Afeesya menggeleng.
“Tidak, Villaku sangat dekat dari sini.kasih kalau begitu sampai jumpa,” jawab Afeesya. Tanpa mendengar lagi jawaban dari Jimmy, Afeesya berbalik, kemudian More kakinya. Namun, langkahnya kembali terhenti ketika ketika Jimmy memanggilnya.
“Ada apa kak?” tanya Afeesya.
“Berapa hari kau berada di Bali?” tanya Jimmy, membuat Afeesya mengerutkan keningnya. tak biasanya Jimi bertanya. Bahkan jimmy hampir tak pernah menegurnya di kampus.
"Aku tidak tahu, mungkin aku hanya liburan beberapa hari,” jawab Afeesya. Tiba-tiba, jantungnya berdegup kencang kala melihat Jimmy menatap intens padanya.
Sungguh tidak pernah terpikirkan hal jni sebelumnya. Ia memang menyukai Jimmy. Tapi, ia tidak terobsesi dengan dosennya. Rasa suka yang dirasakan Afeesya pada Jimmy hanya sebatas rasa suka saja, tidak melebihi apa-apa. Bahka, Afeesya sama sekali tidak berniat untuk mendekati Jimmy.
Tapi saat ini, ia malah bertemu dengan Jimmy dan ia melihat seperti melihat Jimmy yang lain. Saat ini, Jimmi begitu ramah, berbeda saat Jimmi menjadi dosen di kampusnya.
•••
“Kau kenapa?” tanya Devano, sang kakak. Ia bertanya karena Afeesya erjalan sambil tersenyum. Afeesya segera menetralkan wajahnya, kemudian ia melirik ke arah sang kakak.
“Bukan urusanmu!” ketusnya, membuat Devano berdecak kesal. Adiknya memang menyebalkan.
waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Afeesya yang baru saja ditelepon oleh sang ayah, berniat untuk tidur, karena ia begitu lelah. Namun, baru saja ia akan menutup matanya. Ponselnya kembali berdering, ada satu pesan masuk kedam ponselnya.
Dengan malas, ia engambil ponselnya, kemudian melihatnya. Matanya membulat, ketika melihat nama Jimmy di layar, ternyata Jimmy yang mengiriminya pesan.
“Tidak kau tidak boleh membalasnya dan jangan terlalu berharap banyak padanya,” gumam Afeesya. Ia mengurungkan niatnya untuk membalas pesan Jimmi dan memilih untuk mengabaikannya saja.
Entahlah, Afeesya ada yang aneh dari Jimmy. Walaupun Afeesya memang menyukai Jimmy. Tapi entah kenapa, hatinya berkata ada yang lain. Jadi, Ia memutuskan untuk tidak terlalu menghiraukan Jimmy, agar tidak terlalu terluka di kemudian hari.
1 bulan kemudian
Mobil-mobil sudah terjajar rapi di pelataran rumah milik Gema dan Khasia, semua tamu sudah berdatangan, menggunakan baju putih. Hari ini adalah hari kematian Tania dan Julian. ayah dari ibu dari Khalisia atau nenek dan kakek dari afeesya.
Julian dan Tania meninggal beberapa tahun silam, mereka meninggal hanya berbeda dua minggu. Tania, kala itu menderita penyakit komplikasi dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia, dan dua minggu kemudian, akhirnya Julian menyusul sang istri.
Gema membuka pintu kamar, kemudian ia menghampiri Khalisia yang sedang duduk di ranjang. Ia mendudukkan diri di samping istrinya, kemudian membawa Khalisia ke dalam pelukannya.
”Sudah, sayang. Tidak apa-apa. Ayo turun! semua tamu sudah datang!" ajak Gemma.
“Sebentar, Dad.” jawab Khalisia. ia menumpahkan tangisannya dipelukan suaminya. Selalu seperti ini, setiap tahun.
Ia sungguh merindukan ayah dan ibunya.
“Jangan seperti ini, Sayang. Mommy dan Daddy akan sedih jika melihatmu begini,” kata Gemma lagi sambil membelai punggung istrinya. Namun, bukannya berhenti, tangis Khalisia malah semakin menjadi-jadi.
Setelah bisa menguasai diri, akhirnya Khalisia menghapus air matanya, bangkit dari duduknya lalu turun ke bawah, di mana tamu-tamu pengajian sudah menunggu.
••••
“Gem!” panggil Rendra ayah Jimmy saat pengajian sudah selesai. Semua tamu-tamu udah pulang, hingga tinggal menyisakan beberapa kerabat saja.
Gemma yang akan mengantar Khalisia ke kamar menoleh. “Tar dulu, gue anterin bini gue dulu ke kamar,” ucap Gemma pada Rendra. Rendra pun mengangguk, kemudian ia menghampiri Jimmy yang sedang duduk sambil memegang ponselnya.
“ Jimmy! ayo ikut ayah, kita ngobrol sama Om
Gema,” ucap Rendra lagi, membuat Jimmy menghela nafas. Ia sudah tahu, apa yang akan diobrolkan oleh sang ayah.
“Lu mau ngomong apa, Ren?” tanya gema.
“Kalau soal perusahaan ntar dulu deh, gue masih harus nenangis istri gue dulu,” jawab Gemma lagi. Namun, secepat kilat, Rendra menggeleng.
“Game, gue punya ide, gimana kalau anak lu sama anak gue kita jodohin,” ucap Rendra membuat membuat gema mengerutkan keningnya.
”Jodohin?” ulang Gemma. Ia menatap Rendra dengan tatapan tak percaya.
“Gue kagak pernah kayak begituan, ntar aja lah tanya anak gue. Kalau anak gue ya gue setuju aja,” jawabnya Gemma lagi, sedangkan Jimmi hanya terdiam, ia tidak berniat menimpali ucapan ayahnya dan Gemma.
“Tapi tunggu, lu mau jodohin mau Jimmy atau mau jodohin Adam?” tanya gema lagi, karena Rendra mempunyai dua putra yaitu Jimmy dan Adam, yang hanya berbeda usia 1 tahun.
“Jimmy, Gem. Gue liat juga Afeesya suka sama Jimmy, begitupun Jimmi yang juga suka sama Afeesya. Bener kan, Jim?” tanya Rendra pada Sang putra. Jimmy yang sedang minum langsung tersedak, ketika mendengar ucapan sang ayah.
Gemma melihat ke arah Afeesya yang sedang berjalan dengan Amora, kemudian kembali menolehkan tatapannya ke arah Rendra.
“ Entar dulu lah, Ren. Gua gimana anaknya gue aja, enggak mau main jodoh-jodohan,” jawab Gemma. Ia melihat jam di pergelangan tangannya. “Gue ke kamar dulu ya. Gue mau nemenin bini gue dulu,” pamit Gemma, Rendra pun mengangguk setelah itu, Gema pun bangkit dari duduknya, kemudian ia berjalan ke arah lift untuk naik ke kamarnya.
•••
“Afeesya, bukankah itu dosenmu?” tanya Amora ketika melihat Jimmy sedang duduk dengan dengan Rendra.
“Afeesya, menoleh kemudian mengangkat bahunya acuh. “Lalu kenapa, ayahnya kan juga teman Daddyku," ucap Afeesya.
“Bukankah kau menyukainya?” tanya Amora lagi. Seketika, Afeesya membekap mulut Amora.
Dan tepat dengan itu, Jimmy menoleh ke arah Afeesya, membuat Afeesya jadi salah tingkah.
gens tinggalin komen ya. Ini ceritanya beda banget sama Khalisia
Bab 3 Menyadari ada yang Berbeda
Jimmy masuk ke dalam kamar dengan langkah yang lesu. Setelah masuk, dia langsung membanting tubuhnya di ranjang, kemudian matanya menatap kosong kearah langit-langit.
Jimmy baru saja pulang dari rumah Gema, setelah menghadiri hari kematian kakek dan nenek Afeesya. Harus Jimmy akui, batinnya begitu tersiksa dengan keadaan ini.
Tadi, sebelum pulang. Sang ayah memaksa Jimmy untuk mengajak Afeesya berjalan-jalan. Hingga terpaksa, Jimmy mengajak Afeeysa untuk berkencan besok. Padahal, hatinya begitu tersiksa ketika harus berpura-pura tersenyum pada gadis itu.
Jimmy masih mencintai mantan kekasihnya yang kini berada di Korea dan berkuliah di sana. Mereka putus karena Natasha meninggalkannya secara tiba-tiba dan tanpa alasan. Ini sudah dua tahun berlalu. Tapi rasa Jimmy untuk Natasha tidak berubah sedikitpun.
••••
“Amora!” panggil Afeeysa. Ia mendudukkan diri di samping Amora yang sedang duduk di kantin. Kemudian, ia menarik jus kakak sepupunya, lalu menyeruputnya membuat Amora berdecih. “Apa kau tidak bisa memesan. kenapa kau selalu mengambil makananku!” gerutu Amora pada Afeesya.
“Kenapa kau terlihat tak bersemangat sekali. bukankah hari ini kau akan pergi bersama dosenmu?” tanya Amora.
Afeesya terdiam, wajahnya tampak tak bersemangat. “Entahlah, aku menyesal telah menyetujuinya. Rasanya, aku ingin pulang saja,” jawab Afeesya, yang tak yakin dengan ajakan Jimmy. Ia menyukai Jimmy. Tapi, ia tak pernah berpikir untuk mempunyai hubungan yang lebih dengan Jimmy, apalagi ia tahu, Jimmy tipe seperti.
Afeesya selalu ingin mempunyai kekasih yang hangat dan selalu membuat harinya berwarna. Tapi sepertinya, Jimmy tidak seperti apa yang Afeeysa mau. Jimmy terlalu datar dan kaku itu membuat Afeeysa tidak yakin dengan Jimmy.
Belum Affesya menjawab ucapan Amora, ponsel di tasnya berdering, matanya membulat saat melihat nama Jimmy terpampang di layar. Dengan cepat, Ia pun bangkit dari duduknya
“Afeeysa, apa ada yang penting?” tanya Amora. Afeeysa mengangguk lemas.
“Kenapa kau tidak bersemangat sekali. Biasanya, orang lain akan senang ketika dekat dengan orang yang disukainya,” kata Amora lagi, ia menatap heran pada adik sepupunya.
“Aku menyukai Jimmy, bukan mencintainya,” jawab Afeesya. Setelah mengatakan itu, Afeeysa pun langsung pergi dan berjalan kearah ruangan Jimmy.
Afeeysa berjalan dengan menunduk. Hingga ia menabrak seseorang dan terjatuh. Saat terjatuh , isi tas Afeesya berhamburan keluar. Afeesya langsung mengangkat kepalanya karena orang yang menabraknya tidak minta maaf.
“Kau tidak apa-apa?” tanya lelaki yang menabraknya.
Baru saja Afeesya akan menegur lelaki itu karena tidak minta maaf. Afeesya menghentikan niatnya, ketika tau yang menabraknya adalah Adam. “Ya, aku tidak apa-apa, Kak,” jawab Afeesya, pada Adam, dosen yang sekaligus adik tiri Jimmy.
Ya, Jimmy dan Adam, sama-sama menjadi dosen, Jimmy dan Adam sama-sama bersikap dingin. Tapi, Adam lebih dari Jimmy. Ia tidak pernah tersenyum pada siapapun, wajahnya begitu kaku dan sangat sangat datar.
Kaka beradik itu sudah dijuluki oleh mahasiswa dengan julukan kulkas lima pintu. Semua mahasiswa juga sudah tahu, bahwa hubungan Adam dan Jimmy tidak terlalu baik, karena mereka satu ayah berbeda ibu. Kerena ayah Jimmy mempunyai istri muda dan Adam adalah anak dari istri muda ayah Jimmy.
Melihat Afeesya kesusahan membereskan tasnya, Adam membungkuk, kemudian ia membantu Afeesya untuk merapikan buku-bukunya
Saat akan memberikan buku pada Afeesya. Tak sengaja, adam menyentuh tangan Afeesya. hingga Afeesya terperanjat kaget dan mereka saling menatap satu sama lain.
“Te-terimakasih, Kak,” ucap Afeesya terbata-bata. Setelah itu, Afeesya bangkit, disusul Adam yang juga ikut bangkit. “Kalau begitu aku permisi, Kak,” ucap Afeesya lagi. Ia pun berlalu meninggalkan Adam, sedangkan Adam kembali melanjutkan langkahnya.
Saat sudah berada di depan ruangan Jimmy, Afeesya pun mengetuk pintu dan setelah dipersilahkan masuk, ia pun masuk ke dalam ruangan Jimmy.
“Ada apakah, Kak?” tanya Afeesya saat masuk kedalam ruangan Jimmy. Afeesya mengerutkan keningnya, ketika melihat wajah Jimmy yang hangat. Kemarin-kemarin, walaupun ia mereka bertemu di Bali, wajah Jimmy masih dingin. tapi sekarang, Jimmy malah menatapnya dengan hangat. Seolah, ia sudah lama mengenal Afeesya. Padahal, mereka baru bertegur sapa beberapa hari ini.
“Duduklah!” titah Jimmy. Ia memgambil tab, kemudian bangkit dari duduknya, lalu menyusul Afeesya untuk duduk.
“Afeesya kau bisa memakai referensi ini untuk skripsimu,” ucap Jimmy, membuat mata Afeesya membulat.
“Bolehkah itu?” tanya Afeesya. Tanpa sadar, ia langsung merebutnya dari tangan Jimmy namun tak lama ia tersadar. “Maaf Kak, aku tidak sengaja,” ucap Afeesya membuat, Jimmy tersenyum. jantung Afeesya berdetak dua kali lebih cepat, ketika melihat senyuman Jimmy.
“Tidak apa-apa, silahkan Kau pelajari Setelah itu kita pergi untuk makan siang di luar.”
••••
Dua jam berselang, Afeesya merentangkan tangannya, ia mematikan tab yang sudah sedari tadi dipegangnya, kemudian menyimpannya di meja. Ia melihat ke arah Jimmy, ternyata Jimmy masih fokus di depan laptop miliknya.
Ia melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian berdehem. “Kak!” panggil Afeesya. Jimmy menoleh. “Ada apa?” jawab Jimmy kali ini, Jimmy membalas dengan raut wajah dingin, seperti semula, membuat Afeesya tampak terdiam.
Afeesya bisa merasakan bahwa Jimmy benar-benar tidak tertarik padanya. Karena dari tatapannya saja, Afeesya sudah bisa menyimpulkan perasaan Jimmy. Tapi, ia tidak tahu kenapa Jimmy mendekatinya.
“Bolehkah aku pulang sekarang? Daddy akan memarahiku Jika aku tidak pulang tepat waktu,” dusta Afeesya. ia tidak ingin lebih lama lagi berada di sisi Jimmy.
Tiba-tiba, Jimmy tersadar. Bahwa tadi, ia mengajak Afeeysa makan siang. Jimmy melihat jam di pergelangan tangannya. Tenyata sudah 2 jam, Afeeysa berada di ruanganya, dan ia sama sekali tidak menyadari kehadiran Afeesya.
“Maaf aku lupa, bahwa aku mengajakmu makan siang. Ayo kita makan siang sekarang,” ajak Jimmy. Namun, Afeesya menggeleng.
“Tidak, Kak. Terima kasih. Mungkin lain kali kita bisa makan siang bersama. Tapi kali ini, aku harus pulang karena jadi bisa memarahiku,” jawab Afeesya. Secepat kilat, Jimmy bangkit dari duduknya kemudian ia langsung menyambar kunci mobilnya.
“Kakak, akan mengantarmu pulang,” ucap Jimmy lagi, sebelum Afeesya menjawab, Jimmy sudah keluar dari ruangannya, membuat Afeesya mengerutkan keningnya.
“Ada apa dengannya?” ucap Afeesya yang heran dengan sikap Jimmy yang berubah-rubah.
Bab 4 Maukah Kau menikah denganku
“Kau yakin tidak ingin makan dulu di luar terlebih dahulu?” tanya Jimmy saat menyetir. Aaesya yang sedang menyandarkan kepalanya ke samping sambil melihat kearah luar menoleh.
“Tidak Kak, terima kasih,” jawab Afeesya dengan singkat, Jimmy pun mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian ia kembali fokus ke depan untuk menyetir.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang. Akhirnya, mobil yang dikendarai Jimmy sampai di kediaman Afeesya.
Setelah mobil berhenti, Afeesya meremas kedua tangannya. Ia menggigit bibirnya dan menguatkan hatinya untuk berbicara pada Jimmh.
“Afeesya, kau tidak turun?” tanya Jimmy, ketika Afeesya tidak kunjung turun. Akhirnya, Afeesya tersadar, kemudian menoleh “Kak, boleh tahu berbicara sesuatu pada kakak?” tanya Afeesya Jimmy pun mengangguk.
“Bicaralah!” Jimmy menatap Affesya tanpa berkedip, ia menantikan apa yang akan Afeesya ucapakan.
“Sebelumnya, aku minta maaf jika ada kata-kataku yang menyinggung. Aku tidak tahu kenapa kakak mendekatiku, atau mungkin aku saja yang terlalu percaya diri. Tapi aku sungguh tak nyaman dengan ini. Maaf, bukan maksudku tuk jual mahal. Hanya saja, aku tidak terbiasa dengan perhatian.”
Tiba-tiba, Afeesya menghentikan ucapannya, kemudian melihat ke arah Jimmy. Terlihat jelas, wajah Jimmy begitu dingin seolah tidak peduli dengan apa yang diucapkan Afeesya. Namun, sepersekian detik, wajah Jimmy berubah dan Afeesya bisa menangkap raut wajah Jimmy yang berbeda-beda. Ini, benar-benar membingungkan bagi Afeesya.
“Bagaimana jika kakak mengatakan bahwa kakak menyukaimu?” kata Jimmy dengan terpaksa. Ia harus mendapatkan simpati Afeesya secepat mungkin.
Afeesya menggeleng. “Tidak, itu tidak benar. Aku tahu kakak tidak menyukaiku. Maaf jika aku lancang. Tapi mungkin, hubungan kita bisa seperti dulu lagi, hanya antara dosen dan mahasiswa. Terima kasih kak, sudah menganta ku pulang. Kalau begitu sampai jumpa.” Setelah mengatakan itu, Afeesya keluar dari mobil Jimmy, membuat Jimmy terdiam mematung.
Saat Afeesya berjalan ke arah rumah, Jimmy hanya mampu menatap punggung Afeesya. Sekarang, ia bingung harus bagaimana mendekati Afeesya. Sedangkan sang ayah sudah mendesaknya. Setelah Afeeya tidak terlihat lagi, Jimmy mengusap wajah kasar, kemudian kembali menjalankan mobilnya untuk pulang.
“Gimana Jim, udah ajak Afeesya jalan?” tanya Rendra, ayah Jimmy.
“Jimmy, baru pulang. Jimmy cape, bisakan ayah nanya nanti!” protes Jimmy dengan wajah yang memerah.
“Ayolag, Harusnya, kamu pepet Afeesya perusahaan ayah bener-bener butuh bantuan perusahaan Om Gema,” ucap Rendra lagi. Gemma memang sudah membatu Rendra Hanya saja, Rendra butuh bantuan yang lebih besar.
Jimmy menghela nafas, kemudian menghembuskannya. “Yah, kan masih ada Adam. Kenapa ayah enggak suruh Adam aja buat nikahin Afeesya. Kenapa harus Jimmy yang berkorban. Kenapa harus Jimmy yang jadi tumbal ayah!” omel Jimmy lagi. Ia berdebat dengan sang ayah.
“Pokoknya, ayah enggak mau tahu. Secepatnya kamu harus deketin Afeesya dan nikahin dia!” Setelah mengatakan itu, Rendra berlalu pergi meninggalkan Jimmy, membuat Jimmy menghela nafas kasar.
Ada alasan, kenapa Rendra tidak menyuruh putra keduanya untuk menikahi Afeesya. Karena hubungannya dengan Adam pun tidak baik. Bahkan, Rendra tak pernah menyapa putra keduanya. hubungan Rendra dan Adam, dibilang tidak baik karena sedari kecil, Rendra tidak terlalu menanggap keberadaan Adam.
Renda menikahi istri keduanya karena ingin mendapat anak perempuan, Tapi ternyata yang lahir malah anak lelaki. Itu sebabnya, Rendra tidak terlalu menganggap Adam ada.
Ia hanya sebatas membiayai hidup Adam, mereka pun jarang bertegur sapa. Bahkan, setelah Adam lahir, Rendra pun juga ikut mengabaikan istri kedunya, karena memang ia menikahi Ibu Adam untuk mendapat keturunan anak wanita. Tapi ternyata, malah Adam yang lahir. Itu sebabnya, ia tidak ingin melibatkan Adam dalam kehidupannya, karena baginya Adam hanya orang lain, walaupun Adam adalah darah dagingnya sendiri.
•••
“Kenapa kau baru pulang?” tanya Gemma saat sang Putri masuk kedalam rumah. “Ya Tuhan, kau mengagetkanku saja,” jawab Affesya.
Afeesya maju ke arah sang ayah, kemudian memeluk ayahnya. “Ada apa? apa ada yang mengganggumu di kampus? Kenapa kau baru pulang dan kenapa kau tidak ingin dijemput oleh sopir, Amora saja sudah pulang dari tadi?” tanya Gema bertubi-tubi.
Gemma begitu begitu protektif pada putrinya dan Amora, hingga ia selalu memantau putri
dan keponakannya.
“Dad, kau tahu ,belakangan ini Kak Jimmy mendekatiku. Sikapnya begitu aneh, terkadang dia dingin, terkadang dia manis. Bahkan tadi, dia memberikanku referensi skripsiku. Menurutmu, dia kenapa Dad?” tanya Afeeysa. Ia mlepaskan pelukannya, kemudian menatap sang ayah.
“Mana Daddy tahu! memangnya Daddy cenayang,” jawab Gemma membuat Affeya berdecih.
“Kalau begitu, aku akan pergi kamar, Dad. Dan jangan menggangguku.” Setelah mengatakan itu, Afeesya berjalan ke arah lift, kemudian naik ke kamarnya.
“Apa dia sedang didekati oleh lelaki, Dad?” tanya Devano tiba-tiba, Devano adalah kakak pertama dari Afeesya.
“Entahlah, dia berkata sedang di dekati oleh Jimmy.”
“Jangan restui mereka, Dad. Aku yakin Jimmy bukan orang baik,” ucap devano. Gemma menepuk pundak sang putra.
”Kau tidak boleh begitu, tak baik berprasangka buruk pada orang lain,” jawab Gemma, membuat Devano mengangkat bahunya acuh.
beberapa bulan kemudian
“Afeeysa!” panggil Jimmy dari arah belakang.
Afeesya yang akan berjalan ke kelas menoleh, kemudian tersenyum. “Ya, Kak," jawab Afeeysa, pipi gadis muda itu begitu, merona SAAF melihat senyuman Jimmy.
“Ikut, Kaka ke ruangan Kaka!” titah Jimmy.
Afeesya mengangguk, Dengan semangat, Afeeysa mengikuti Jimmy.
Setelah masuk ke ruangan Jimmy. Afeeysa langsung mendudukkan diri di sofa, disusul Jimmy yang mendudukan diri di samping Afeeysa.
Setelah duduk, Jimmy langung menaikkan kakinya lalu membaringkan diri dengan berbantalkan paha Afeesya, membuat Afeesya terperanjat kaget.
“Kak, jangan begini,” ucap Afeeya, terbata-bata. Ia sungguh tak nyaman dengan posisi Jimmy saat ini.
“Why? apa salahnya? kita kan sudah menjadi kekasihku,” kata Jimmy dengan santai. Ya, seminggu yang lalu, mereka baru saja Resmi berpacaran.
Beberapa bulan ini, Jimmy begitu gencar mendekati Afeesya. Ia bersikap hangat dan bersikap perhatian pada Afeeysa. Sehingga Afeesya luluh.
Dan seminggu lalu, Jimmy mengajaknya untuk berpacaran, bagai terhipnotis, akhrinya Afeeysa menyetujui ucapan Jimm, untuk berpacaran.
“Afeesya, Bagaimana jika kakak melamarmu dan datang pada orang tuamu?” tanya Jimmy membuat Afeesya mengerutkan keningnya.
“Me-melamar?” Afeeysa, ia menatap Jimmy tanpa berkedip, memastikan ucapan kekasihnya.
“Afeesya, usia kakak sudah tidak lagi muda. Bagaimana jika kita secepatnya menikah,” ajak Jimmy.
Ia bisa saja mengajak Afeeysa menikah dan wajahnya terlintas meyakinkan. Tapi batinnya sungguh nyeri. Selama beberapa bulan ini, sungguh menyakitkan bagi Jimmy jika terus berpura-pura memperhatikan Affesya.
Rasanya menyakitkan, ketika berpura-pura mengejar Afeeysa dan berpura-pura menyukai Afeesya. Padahal, Ia sama sekali tidak mempunyai perasaan untuk Afeeysa.
“Bagaimana kau mau?” tanya Jimmy saat Afeesya terdiam.
Bab 5 Pesan Misterius
“Menikah?” ulang Afeeya dengan nada tidak percaya Ucapan Jimmy barusan benar-benar membuatnya tertohok.
Menikah katanya, padahal Afeeysa masih ingin menikmati masa mudanya. Sekarang kekasihnya, malah mengajaknya menikah. Jimmy yang sedang berbaring di sofa dan berbantalkan Afeesya, langsung bangkit dari berbaringnya, kemudian duduk di samping Afeeysa, ia langsung menggenggam tangan Afeeysa membuat Afeeysa menoleh kearah Jimmy.
“Kakak sudah tidak muda Afeeysa, Kakak berjanji, walaupun kita sudah menikah, kakak tidak akan melarang kau melakukan apapun yang kau mau. Kakak, akan mendukung semua keputusanmu setelah menikah. Dan sekarang, kakak ingin segera menikah denganmu.” Jimmy berbicara sambil tersenyum, bertolak belakang dengan hatinya.
Ia bahkan mengutuk dirinya sendiri, karena berbicara semanis itu pada Afesya, Padahal, Ia benar-benar muak melihat Afeesya yang ada di depannya, ia juga muak dengan kehidupannya, dan ia muak dengan sang ayah yang memaksanya untuk menikahi Afeesya.
Afeesya tampak terdiam, kemudian ia menunduk. “Aku tidak bisa memberi jawabanmu sekarang, Kak. Aku akan memikirkannya nanti!” kata Afeesya. Ssebersit keraguan ada di dalam hati Afeeysa, ketika Jimmy mengajaknya menikah.
Entah kenapa, walaupun ia mempunyai perasaan pada Jimmy. Tapi, ada sedikit keraguan yang yang bersemayam dalam hatinya, seolah ada rasa yang melarang untuk dia menerima lamaran Jimmy.
Afeeysa melihat jam di pergelangan tangannya kemudian ia menoleh kearah Jimmy.
“Kak, Maaf. Sepertinya supirku sudah datang dan aku harus pulang sekarang," kata Afeeysa, Jimmy pun mengangguk.
“Kakak, akan mengantarkanmu keluar!” kata Jimmy, karena dia tidak bisa mengantar Afeeysa. Dia masih harus mengajar di beberapa kelas.
Jimmy dan Afeeysa, berjalan sambil bersebelahan. Sudah bukan rahasia umum lagi, jika mereka sudah menjadi sepasang kekasih. Karena semenjak resmi berpacaran, Jimmy terpaksa harus membuat semua tahu tentang hubungannya dengan Afeesya agar Afeesya menganggapnya serius dan meyakinkan Afeeysa.
“Ahhh!” Afeesya terpekik kaget, saat ada yang menabrak bahunya.
“Ups maaf,” ucap seseorang yang menabraknya. Afeesya menggeram kesal ketika melihat siapa yang menabraknya. Ternyata, yang menabraknya adalah Emilia, wanita yang menyukai Jimmy, yang juga berada satu kelas dengan Affesya.
Semenjak kabar Afeeysa, berpacaran dengan Jimmy. Emilia yang tadinya bersikap biasa pada Afeesya, yang mendadak menjadi sinis. Bahkan terang-terangan memusuhi Afeesya. dan selalu bersikap Ketus pada Afeeysa.
Padahal, ia sama sekali tidak mempunyai masalah dengan Emilia. Hanya saja, Emilia tidak bisa menerima bahwa dosen incarannya dimiliki oleh wanita lain
“Kau tidak punya mata!” tanya Afeesya dengan emosi. Kali ini, ia benar-benar tersulut emosi, karena bukan satu dua kali, Emilia menabraknya.
Jimmy menghela nafas, ia tidak bergerak sedikitpun di tempatnya. Ini juga bukan pertama kali bagi Jimmy menyaksikan Emilia bersikap Ketus pada Afeeysa, dan ia tahu, tahu bahwa Emilia menyukainyanya. Hanya saja, ia tidak menggubris ucapan Emilia.
“Ups maaf!” mata Emilia dengan seringai mengejek, membuat Afeeysa menggeram kesal.
“Ayo kita pergi!” Jimmy menarik tangan Afeeys, membuat Emilia berdecih.
“Aku heran, kenapa dengan anak itu, semenjak kita berpacaran, anak itu selalu saja membuat masalah denganku!" omel Afeeysa, Jimmy yang sedang berada di depan samping Afeeysa, menghela nafas, saat Afeeysa menggerutu.
Mendengar Omelan Afeeysa saat ini, benar-benar menjengkelkan. Ia paling tidak suka menjadi pelampiasan orang yang cerewet. Tapi yang terjadi, malah ia harus mendengar Omelan Afeeysa. Hingga Ia hanya bisa tersenyum lalu menenangkan Afeeysa, tentu saja senyuman Jimmy adalah senyuman palsu.
••••
Waktu menunjukkan pukul 8 malam, Afeesya
yang baru saja naik, membali turun untuk menemui sang ayah di ruang kerjanya. Tadi, saat akan berbicara, ia mengurungkan niatnya karena ada kembarannya dan ada kakak pertamanya. Ia akan menjadi bahan ledekan ketika berbicara di depan kedua orang itu.
“Mom, di mana Daddy?” tanya Afeesya, tanya pada sang ibu yang sedang membaca majalah.
“Daddy sedang berada di ruang kerjanya, Ada apa? jangan bilang kau ingin liburan lagi?” tanya Khalisia.
“Tidak, Mom. Aku ingin berbicara sesuatu yang penting dengan Daddy.” Setelah mengatakan Itu, Afeesya pun angsung pergi ke ruangan kerja sang Ayah.
“Dad, boleh aku masuk?” tanya Afeeysa dari luar. Gema yang sedang berada di kursi kerjanya, menjawab.
“Kenapa kau mencari Daddy?” tanya Gema, ia bangkit dari kursi kerjanya, lalu mendudukan diri di sofa, disusul Afeesya, yang duduk di samping sang ayah
Afeeysa langsung memeluk pinggang Gemma, lalu seperti biasa, Gemma mengelus rambut Afeeysa.
“Dad!” panggil Afeesya.
“Kau seperti ingin menyampaikan sesuatu pada Daddy?” tebak Gemma, Afeeysa pun mengangguk.
“Dad, seandainya aku menikah muda. Bagaimana tanggapanmu?” tanya Afeesya, membuat Gema terdiam seketika. Pikirannya menerawang pada kisahnya dan kisah istrinya,
“Apakah kau berencana untuk menikah muda?” tanya Gema, seketika Afeeysa menegakkan kepalanya.
“Dad, kau tahu kan hubunganku dengan Kak Jimmy?” tanya Afeeysa lagi, Gemma mengangguk-anggukan kepalanya.
“Kenapa? Ada apa dengannya? Apa dia mengajakmu menikah?” tanya Gemma, Afeeysa mengangguk.
Gemma menghela nafas, kemudian menatap wajah sang putri lekat-lekat.
“Lalu, kau mau menikah dengannya?” tanya Gemma.
“Aku ragu, Dad. Aku sungguh ragu, aku memang mencintainya, tapi hatiku seolah menetang keinginannya.”
“Afeesya, ikuti kata hatimu, jangan dengarkan orang lain dan Jangan dengarkan perintah orang lain. Jimmy masih orang lain untukmu, jika kau ragu, maka tidak usah mengikuti ucapannya,” ucap Gemma, selama ini ia memang membebaskan keputusan putra putrinya, selagi itu semua demi kebaikan.
Dua bulan kemudian
Suasana rumah Gema dan Khalisia begitu ramai, semua tamu sudah berdatangan mobil-mobil mewah terjajar dan terparkir di kediaman rumah mewah Gema.
Hari ini, adalah hari pertunangan Khalisia dan Jimmy. Setelah dua bulan berjuang, akhirnya Jimmy kembali berhasil membuat Afeesya Luluh.
Dua bulan lalu, Afeeysa pernah menolak keinginan Jimmy, dan dari situlah Jimmy berjuang dengan keras, tentu saja karena tekanan sang ayah, hingga Afeesa mau menerimanya.
•••
”Amora apa aku cantik?” tanya Afeesya, membuat Amora berdecih
“Sungguh, aku ingin mencekik mu Afeeysa, kau sudah bertanya itu lebih beberapa kali!” omel Amora.
.“Kau lebay sekali!” ucapnya lagi.
Saat bersiap untuk turun karena acara segera dimulai, ponsel yang sedang di pegangnya berdering, satu pesan masuk kedalam ponselnya dari nomor yang tidak dikenal.
[Jangan menerima lamarannya dan jangan menikah dengannya, kau akan menyesal. pegang ucapanku] tulis seseorang dalam pesannya, yang mewanti-wanti agar Afeeysa tidak menikah dengan Jimmy, seketika itu juga, Afeeysa langsung menjatuhkan ponselnya.
Bab 6
“Afeesya, ada apa?” tanya Amora ketika Afeeysa menjatuhkan ponselnya di tangannya. tangan Afeeysa bergetar, ia menoleh pada Amora. “Ada yang mengirim pesan misterius padaku,” jawab Afeeysa, Amora yang juga akan turun langsung mengambil ponsel Afeesya dari bawah, kemudian melihatnya.
Ia membaca pesan tersebut, tiba-tiba Amora terdiam. Sebenarnya, bukan hanya Afeeysa saja yang merasakan perasaan tak nyaman. Amora pun begitu.
“Afeesya, apakah menurutmu ini hanya orang asing?” tanya Amora. Kedua saudara itu sama-sama terdiam, memikirkan siapa yang mengirim pesan.
“Afeeysa, Amora, Kenapa kalian masih disini?” tanya Ferhad, ayah dari Amora membuat Amora dan Afeesya tersadar, kemudian mereka saling menoleh.
“Kita bahas nanti saja,” kata Afeesya, setelah itu, ia pun turun meninggalkan Amora yang masih terdiam.
“Ada apa? kalian seperti orang yang bingung?” Ferhad.
“Tidak apa-apa, ayo turun!” Amora menggandeng tangan sang ayah. Lalu, setelah itu mereka pun turun dari kamar dan menuju taman belakang, karena pesta lamaran Afeesya akan segera berlangsung.
Semua tamu sudah hadir, serangkaian acara sudah di dilangsungkan. Kini, tibalah detik-detik menegangkan bagi Jimmy dan Afeesya, pembaca acara memanggil Jimmy dan Afeesya untuk bertukar cincin.
Sedangkan Jimmy dan Afeeysa, yang duduk dengan barisan keluarganya masing-masing sama-sama melamun, tak menikmati acara pertunangan mereka.
Afeesya memikirkan tentang pesan misterius, sedangkan Jimmy memikirkan bagaimana ia menjalani harinya kedepan dengan wanita yang tidak dicintai. Tiba-tiba, Afeesya dan Jimmy tersadar, saat pembawa acara mempersilahkan mereka untuk naik ke podium, karena sekarang, saatnya mereka bertukar cincin.
Jimmy bangkit dari duduknya, kemudian ia menghampiri Afeeysa, lalu setelah itu, ia mengulurkan tangannya pada Afeesya, membuat semua orang bertepuk tangan karena aksi romantis Jimmy.
Afeesya, tersenyum, lalu menerima ulurang tangan Jimmy. Ada rasa yang tak biasa ketika ia melihat Jimmy, keyakinan hatinya selama dua bulan ini langsung tertepis, saat mendapat pesan misterius. Sekolah apa yang dilakukan Jimmy selama ini adalah sia-sia.
“Afeesya!” Panggil Jimmy, saat mereka sampai di podium, ia langsung memanggil Afeeysa ketika Afeesya melamun dan tidak fokus pada acara yang sedang berlangsung, Afeesya tersadar, kemudian tersenyum. Ia melihat kearah sang ayah yang sedang duduh.
Ucapan sang ayah saat itu, terngiang-ngiang di otaknya.Tentang Ia yang harus mengikuti kata hatinya, dan sekarang, kata hatinya berkata untuk tidak melangkah secepat itu bersama Jimmy.
Ia mengutuk dirinya sendiri karena luluh secepat itu pada Jimmy, semua keraguannya hilang karna perjuangan Jimmy Selama 2 bulan ini, dan ia malah luluh secepat itu. Sekarang, setelah mendapat pesan itu, rasanya semuanya langsung buyar, dan dia kembali ragu pada Jimmy.
Gemma yang di tatap oleh putrinya mengangguk. Anggukan sang ayah, mengisyartakan bahwa dia tidak bisa mundur. Afeeysa juga sadar, ia tidak mungkin membatalkan lamaran ini. Mungkin, ia akan berbicara dengan Jimmy untuk menunda pernikahan mereka.
Proses bertukar cincin pun selesai, riuh riak tepuk tangan, terdengar dari segala penjuru arah, semua bertepuk tangan setelah Jimmy dan Afeeysa menukar cincin pertunangah mereka.
Acara begitu meriah, karna tamu tak hanya datang dari dalam negri melainkan luar negri, karena Gemma dan keluarganya adalah pemilik salah satu perusahaan terbesar di Indonesia dan juga memiliki beberapa perusahaan besar di luar negeri, belum lagi Gemma memiliki di rumah sakit di Swiss dan Spanyol, tambah lagi keluarga Khalisia yang sama hebatnya seperti keluarga Gemma, itu sebabnya sekarang pesta lamaran Khalisia begitu meriah.
Saat Jimmy dan Afeesya berada di podium, seorang lelaki yang sedang duduk menatap Afeesya dan Jimmy dengan mata yang berkaca-kaca, wajah dingin itu lenyap berganti dengan wajah yang penuh kesedihan, saat melihat Afeesya ada di sana.
“Seharusnya Kau mendengarkan apa kataku!” ucap lelaki itu, sudut mata Lelaki itu membasah, ia ingin sekali menangis ketika melihat Afeesya berdiri di sana dengan Jimmy. Tapi tak lama, ia menghapus sudut matanya, ia bangkit dari duduknya karena rasanya ia tak sanggup lagi melihat adegan di depannya.
Pesta masih berlangsung, Afeesya sedari tadi mendampingi Jimmy, memilih untuk pergi ke ke arah taman yang cukup sepi, ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, kemudian ia mendudukkan diri di kursi. Lalu setelah itu, ia melepaskan heels-nya karena rasanya kakinya begitu pegal.
Tak lama, terdengar derap langkah membuat Afeesya menoleh. Ternyata, Jimmy menyusulnya. “kau lelah?” tanya Jimmy.
Afeeysa mengangguk, “Maaf, Kak. Aku lelah,” jawab Afeesya, Jimmy mendudukkan diri di sebelah Afeesya, kemudian Ia langsung membawa kepala Afeesya untuk bersandar di bahunya.
“Apa kau masih ragu pada Kakak?” tanya Jimmy. Rupanya, sedari tadi, ia bisa melihat keraguan di mata calon istrinya.
Afeeysa terdiam, ia berusaha merangkai kata, untuk menjawab ucapan Jimmy. “Bolehkah aku jujur pada kakak?” tanya Afeeya. Ia memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Jimmy.
Afeeysa menegakkan kepalanya, kemudian ia menatap Jimmy, begitupun Jimmy yang juga menatap Afeeysa. “Sebenarnya, aku masih ragu padamu, Kak. Walau bagaimanapun, perkenalan kita begitu singkat. Aku hanya takut ....” Tiba-tiba, ucapan Afeesya terputus saat Jimmy mencium bibirnya, membuat Afeesya membulatkan mata, karena ini ciuman pertamanya.
Jimmy menahan tengkuk Afeesya, kemudian memperdalam ciumannya, membuat Afeeysa langsung memukul-mukul dada Jimmy. Seketika itu juga, Jimmy langsung melepaskan pelukannya Afeeysa.
“Afeesya tatap Kakak!” kata Jimmy sambil menangkup kedua pipi Afeesya, hingga mata kedua orang itu saling mengunci. Tapi bukan keyakinan yang Afeesya dapat. Saat menatap mata Jimmy, ada sesuatu yang Afeeysa tidak mengerti.
“Kakak, benar-benar mencintaimu Afeesya, Kakak benar-benar ....” Dan keluarlah, ucapan-ucapan Manis dari mulut Jimmy, janji-janji manis, serta semua hal-hal romantis Jimmy ucapkan pada Afeesya.
Mendengar kata-kata manis Jimmy, Afees kembali luluh. Walaupun ia belum percaya seratus persen pada Jimmy. Ia juga tetap dengan keputusannya, untuk menunda pernikahan mereka.
••••
“Ayo masuk ke dalam, kita lanjutkan acara. Tak enak, jika kita menghilang terlalu lama,” kata Jimmy, setelah mereka selesai berbincang-bincang. Afeesya pun mengangguk. Jimmy mengulurkan tangannya pada Afeeysa, kemudian mereka pun berjalan ke arah dalam.
Saat mereka berjalan, seseorang tak sengaja menabrak Afeesya, hingga Afeeysa hampir saja terjatuh, dengan refleks, lelaki itu langsung menarik tangan Afeeysa agar tidak terjatuh.
“Fabian!” panggil Afeeysa, ia tersenyum saat melihat Fabian, teman kuliah yang cukup dekat dengan Afeesya, apalagi Fabian juga merupakan putra dari rekan bisnis Gemma, lingkungan mereka pun juga sama. Hingga Afeesya dan Fabian cukup dekat
“Selama atas pertunganmu Afeesya,” kata Fabian. “Maaf aku baru datang ucapnya,” lagi ia mengulurkan tangan pada Afeeysa. Namun, Jimmy mengerutkan kening saat melihat tatapan Fabian pada Afeesya yang berbeda.
Fabian melepaskan ulurang tangannya dari Afeeysa, kemudian mengulurkan tangannya pada Jimmy. Jimmy meringis ketika Fabian mencengkram erat tangannya, bahkan tatapan Fabian padanya sangat berbeda.
Bab 7
“Bukankah dia teman sekelasmu?” tanya Jimmy ketika Fabian sudah meninggalkan mereka. Setelah Fabian pergi, Jimmy langsung bertanya pada Afeeysa, karena ia merasakan Fabian menatap Afeeysa dengan tatapan berbeda.
Mendengar pertanyaan Jimmy, Afeeysa menoleh, kemudian menganggukan kepalanya. “Ya, dia teman sekelasku. Bukankah kakak juga sering memberi pertanyaan padanya. Dia juga salah satu anak rekan bisnis Daddy,” jawabnya Afeesya.
Jimmy mengangguk-anggukan kepalanya “Ayo kita masuk lagi ke dalam! ”ajak Jimmy. Iya menarik pinggang Afeesya, kemudian berjalan masuk kedalam.
•••
Jimmy membanting tubuhnya di ranjang, ia menatap langit-langit. Pandangannya menatap kosong ke atas. Saat ini, ia baru saja pulang dari acara pertunangannya. Setelah sampai di rumah, dia tidak mau berbicara dengan siapa-siapa. Ia juga enggan berbicara dengan sang ayah, ia tau apa yang akan dibahas oleh ayahnya. Hingga memutuskan ntuk pergi dalam kamar.
“Natasya, seandainya kau kembali ke Indonesia. Seandainya Kau datang kembali ke hadapanku. Aku akan melepaskan semuanya demi dirimu. Aku akan berjuang agar bisa bersamamu” Jimmy memegang dadanya yang terasa sesak ketika mengingat Natasha, mantan kekasihnya, yang kini menetap di Korea.
Bagaimanapun ia berusaha melupakan Natasha. Tetap saja tidak bisa, bayangan Natasha menari-nari di otaknya. Semakin ia membayangkan Natasha, semakin kebenciannya pada Afeesya semakin menjadi-jadi
Ya, Afeesya memang tidak bersalah. Ini semua karena obsesi ayahnya. Tapi tetap saja, setiap melihat Afeesya, tanpa sadar ia selalu merasa kesal marah dan merasakan benci.
Setelah puas dengan lamunannya, Akhirnya, Jimmy pun tertidur, tanpa mengganti pakaiannya. Dia langsung terlelap, karena ia begitu lelah, Jimmy merasakan sakit di fisiknya, hatinya dan mental. Tuntutan sang ayah benar-benar membuatnya gila. Apalagi dia satu-satunya anak yang dianggap oleh ayahnya, itulah yang membuat Jimmy berat.
Selama ini, ia membenci Adam, dan ia tidak rela jika kasih sayang Ayahnya terbagi dan saat mengetahui ayahnya tak terlalu menganggap Adam, tentu saja ia bahagia dan ia selalu memperlihatkan kelebihannya pada Adam, agar Adam iri padanya.
Itu sebabnya, ketika sang ayah mempunyai keinginan. Ia tak kuasa menolak, karena ia tak ingin sang yang menyuruh Adam dan ia tak ingin Adam dekat dengan sang ayah. Bagaimanapun, Adam dan Jimmy berbeda ibu. saudara kandung saja terkadang mempunyai hubungan yang tidak baik, apalagi hubungan Adam dan Jimmy yang jelas-jelas berbeda ibu.
••••
“Kau menyesalkan bertunangan dengannya?” tanya Aryan, kembaran Afeeysa, ia langsung menghampiri sang adik yang sedang duduk di sofa.
“Kau selalu saja menggangguku!” gerutu Afeesya, membuat Aryan mengangkat bahunya acuh.
Aryan mendudukan diri di ujung sofa, kemudian menaikkan kakinya ke sofa. Lalu menyimpannya di paha Afeesya, hingga secepat kilat, Afeeysa langsung menghempaskan kaki sang kakak.
“Hei, kau bocah! Kenapa kau tidak terlihat di pesta pertunanganku!”protes Afeesya, ketika kakak kembarnya tidak terlihat di pesta pertunanganya.
“Aku malas menghadiri pesta pertunanganmu. Kenapa kau bertunangan dengan orang seperti itu!” ujar Aryan, dengan entengnya, membuat mata Afeesya membulat.
“Memangnya dia seperti apa di matamu?” tanya Afeesya, yang tiba-tiba penasaran dengan pendapat Aryan.
“Kau tanya saja Devano. Dia pasti lebih tahu daripada aku!” jawab Afeesya. Afeeysa pun bangkit dari duduknya, kemudian ia berniat untuk pergi ke kamar Devano, kakak pertamanya.
“Kak!” Panggil Afeesya. Ia mengetuk pintu di kamar Devano. Saat mendapat sahutan dari dalam, Afeeysa pun segera masuk.
“Ada apa?” tanya Devano. Ia yang sedang duduk sambil bermain gitar di sofa langsung menghentikan aktivitasnya, ketika adik bungsunya menghampirinya.
“Kenapa kakak tidak terlihat di pesta pertunanganku?” tanya Devano.
“ Aku malas, Jadi aku lebih baik duduk di tempat lain!” kata Devano, karena memang, saat acara sedang berlangsung. Ia dan Aryan duduk di balkon dan bermain game bersama-sama. Padahal, Khalisia, sang ibu sudah mewanti-wanti, kedua putranya untuk bergabung. Tapi yang terjadi, di Devano dan Aryan malah sibuk dengan dunianya.
“Aku ini adik bungsu kalian, kenapa kalian seperti ini padaku!” protes Afeesya dengan gemas.
“Jika kau menikah dengan orang lain, mungkin aku akan mendukungmu dan aku akan menjadi panitia pernikahanmu!” jawab Devano sambil tertawa, membuat Afeesya berdecak kesal.
“Terserah kau saja!” ucapnya lagi. Setelah itu, ia pun berbalik . Kemudian, ia keluar dari kamar Kaka pertamanya.
dua hari kemudian
“Aaaaaaa!” Afeesya berteriak saat melihat saat melihat isi lokernya. Saat ia membuka loker, ia terperanjat kaget ketika ada boneka yang dengan leher yang terputus, dan ada darah berceceran di dalam boneka itu.
“Afeesya ada apa?” tanya teman Afeeysa yang berada di sana. Semua yang ada di ruangan itu pun langsung menghampiri Afeeysa, dan bertanya karena Afeesya berteriak.
Mereka menutup mulut, saat melihat loker Afeeysa yang berantakan. Tiba-tiba, ada Emilia melintas dan langsung menyeringai, menatap Afeeysa dengan tatapan mengejek.
Afeesya tersulut emosi saat melihat ekspresi Emilia. Ia pun langsung menghadang langkah Emilia, membuat Emilia semakin tersenyum.
“Kau pasti yang melakukan itu kan padaku?” tanya Afeesya. Namun, Emilia mengangkat bahunya acuh.
“Apa Kau mempunyai bukti bahwa aku yang melakukan itu?” Emila balik bertanya, pada Afeeysa, membuat Afeeysa terdiam.
“Selama ini kau yang selalu mengusiliku. Jadi, aku yakin, kau yang melakukan ini padaku!” ucap Afeeysa lagi, yang masih yakin, jika Emilialah pelakunya.
“Pengarang handal!” jawab Emilia, membuat emosi Afeesya meledak, seketika Afeeysa langsung menjambak rambut Emilia, membuat Emilia berteriak. Seketika murid mahasiswa berkumpul, menjadikan Afeeysa dan Emilia sebagai tontonan
Emilia tidak melawan, ia ia sengaja membiarkan Afeeysa menjambak rambutnya kesana kemari, agar Afeeysa yang di salahkan.
“Ada apa ini!” terdengar suara Jimmy dari belakang, membuat Emelia semakin tersenyum sinis. Ia membiarkan Afeeysa terus menjambaknya agar ia, bisa menarik perhatian Jimmy.
“Afeesya!” bentak Jimmy, mendengar berantakan Jimmy, Afeeysa menghentikan gerakannya, ia melepaskan tangannya dari rambut Emilia.
Semua mahasiswa yang sedang berkumpul saling berbisik, Ia tidak menyangka Jimmy membentak Afeeysa, apalagi mereka baru bertunangan dua hari yang lalu.
Afeeysa melihat ke arah Jimmy, dadanya terasa nyeri ketika Jimmy membentaknya. Tatapan Afeesya beradu pandang dengan Jimmy. Afeesya tertegun, ketika Jimmy melihatnya dengan tatapan berbeda
Ia seperti melihat Jimmy yang dulu, di mana Jimmy belum mendekatinya. Hati Afeesya berdesir pedih, saat meyakini. Inilah Jimmy yang sebenarnya, bukan Jimmy tunangannya. Kini, Afeesya tau kenapa hatinya ragu pada Jimmy.
Emilia menyeringai ketika Afeesya dan Jimmy saling tatap, saat terdengar suara bisik-bisik, Jimmy tersadar, kemudian ia maju dan menarik tangan Afeesya.
Afeeysa meringis ketika Jimmy mencengkeram pergelangan tangannya. Beberapa kali Afeesya terjatuh, karena Jimmy menariknya dengan cukup kencang.
Saat ini, Jimmy sedang dikuasai amarah. karena Afeesya membuatnya malu. Apalagi, semua sudah tahu bahwa ia sudah bertunangan dengan Afeesya.
Jimmy membuka pintu ruangannya, kemudian ia membanting pintu membuat Afeeysa terperanjat kaget. Setelah itu, ia menghempaskan tangan Afeeysa dan berbalik. Lalu, berkacak pinggang menatap Afeeysa dengan tatapan membunuh.
“Apa yang kau lakukan, Bagaimana mungkin kau melakukan hal yang sangat kekanak-kanakan! ini kampus, bukan tempatm bermain. Bagaimana mungkin kau ....”
Tiba-tiba, Jimmy menghentikan ucapannya ketika Afeeysa menatapnya dengan dingin dan datar. Jimmy tersadar, saat melihat tatapan Afeesy. Ia mengutuk diri sendiri, karena melakukan hal seperti barusan.
“A-Afeesya!” panggil Jimmy terbata-bata, tatapaan Jimmy berubah menjadi lembut.
“Tetap di tempatmu!” Titah Afeesya. Ia melepaskan cincin tunangannya dan melemparkannya ke tubuh Jimmy, membuat Jimmy terpelajar kaget.
“A-Afeesya ....” wajah Jimmy sudah memucat. saat melihat saat Afeesya melempar cincin pertunangan mereka.
“Kau tau, Kak. Beberapa kali aku ragu padamu dan beberapa kali pula aku berhasil meyakinkan hatiku, menganggap bahwa kau memang yang terbaik. Tapi barusan, semuanya terbuka. Kau tau, Ayahku tidak memperlakukanku seperti ini. Keluargaku tidak pernah membentakku. Tapi kau yang belum menjadi suamiku memperlakukanku seperti ini. Seharusnya kau bertanya apa yang terjadi bukan malah mempermalukan aku. Aku dak peduli dengan pertunangan ini. Aku tidak mau menikahi denganmu.” Setelah mengatakan itu, ia berbalik kemudian ia langsung pergi meninggalkan ruangan Jimmy dengan membanting pintu.
Jimmy melihat ke arah lantai, di mana cincin yang di lemparkan Afeesya di dekat kakinya. Jimmy mengusap wajah kasar. Seharusnya, tidak bersikap begitu. Padahal selama ini, ia sudah mati-matian untuk mendapatkan perhatian Afeeysa, dan selangkah lagi, mereka akan menuju pernikahan dan keinginan ayahnya bisa terwujud. Tapi sekarang semuanya sia-sia.
Setelah ia lepas kontrol pada Afeeysa, dan Afeeysa menyadari semuanya, Jimmy ragu Afeesya akan memaafkannya.
Terlebih lagi, Jimmy tau, Afeeysa di diperlakukan bak ratu oleh keluarganya. Tapi barusan, ia membentaknya dan menarik tangan Afeesya dengan keras. Tak bisa di bayangkan betapa murkanya Gemma ketika mengetahui apa yang ia lakukan pada Affesya.
Secepat kilat, Jimmy langsung keluar dari ruangannya. Kemudian mencari Afeesya kesana kemari. Sebenarnya ia tak perduli dengan Afeeysa. Yang ia perdulikan adalah sang ayah. Jika pernikaha mereka batal, maka perusahaan sang ayah dalam masalah.
Gas komen gengs
Bab 8
Setelah keluar dari ruangan Jimmy, Afeesya langsung berlari kearah kamar mandi. Ia mengabaikan tatapan beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya dan menatapnya dengan tatapan aneh.
Saat berlari, Afeesya membekap mulutnya, karena tangisnya sudah berderai. Ini benar-benar menyakitkan baginya. Seumur hidupnya, dia selalu diperlakukan sebagai Ratu oleh keluarganya. Bukan berarti dimanja, hanya saja dia idak pernah diperlakukan buruk seperti Jimmy memperlakukannya barusan.
Ia tak menyangka, Jimmy akan seperti itu. Padahal, Jimmy masih belum menjadi suaminya. Lalu bagaimana jika mereka menikah, akankah Jimmy memperlakukannya lebih buruk dari pada ini.
Setelah sampai di kamar mandi, Afeesya menutup pintu kamar mandi, kemudian ia mendudukan dirinya di bidet toilet. Ia menangis sekencang-kencangnya, seraya memekap mulut agar tangisannya. Tidak terdengar, hatinya begitu pedih, Ini pertama kalinya dia dibentak oleh seseorang, dan naasnya ia dibentak oleh orang yang ia cintai.
Walaupun ia ragu pada Jimmy. Tapi, Afeesya akui, bahwa ia mencintai Jimmy. Tapi jika seperti ini, dia juga akan berpikir dua kali untuk menikah dengan Jimmy.
•••
Jimmy keluar dari ruangannya, kemudian ia mencari Afeeysa, ia tidak berlari hanya berjalan cepat, karena tidak ingin terlalu mencolok. Jimmy merogoh saku, kemudian mengambil ponsel lalu mencoba menelpon Afeesya. Tapi Afeesya tidak mengangkat panggilannya.
Jimmy menghentikan langkahnya di lorong yang sepi, karena tubuhnya begitu lelah. Ia sudah mencari Afeesya kesana kemari tapi Afeeysa tidak ada di mana pun.
Tiga puluh menit kemudian, Afeesya menghapus air matanya, kemudian ia bangkit dari duduknya. Tak lupa, ia mencuci wajahnya sebelum keluar dari kamar mandi. Karena ia tidak ingin orang lain melihat wajahnya sembab.
Setelah itu ia keluar dari kamar mandi, ia berniat untuk pergi ke arah parkiran. Ia yakin, supirnya sudah menunggu disana. Saat ia keluar dari area toilet seseorang menepuk pundak Afeesya, hingga Afeesya terpekik kaget, lalu ia menoleh.
“Fabian!” Panggil Afeesya. Ya, ternyata Fabian yang menarik tangannya.
.
“Kenapa kau lama sekali berada di toilet!” jawab Fabian lagi.
“Kau tahu apa berada di toilet dari tadi?” tanya Afeesya dengan nada tak percaya. “Hmm, dari tadi aku tahu, kau berada di toilet. Itu sebabnya Aku menunggumu di sini!” kata Fabian, membuat Afeeysa terkekeh.
“Supirmu sudah menjemput?” tanya Fabian pada Afeesya.
“Sepertinya sudah!”
“Ayo kita pergi bersama ke parkiran!” ajak Fabian lagi. Afeesya pun mengangguk, mereka pun berjalan beriringan.
“Afeesya!” panggil Jimmy dari arah belakang dengan nafas ngos-ngosan Barusan, saat melihat punggung Afeesya. Jimmy langsung berlari dan memanggil Afeesya.
Afeesya menoleh, kemudian menatap Jimmy dengan dingin dan datar. Alih-alih meladeni Jimmy. Afeesya kembali berbalik, lalu menarik tangan Fabian, kemudian berbalik membuat Jimmy mengusap wajah kasar, jika bukan karena perusahaan ayahnya ia tidak ingin repot-repot menyakinkan gadis didepannya ini.
Jimmy menarik tangan Afeesya, hingga Afeesya kembali berbalik. “Lepas!” teriak Afeesya saat Jimmy menarik tangannya.
“Apakah anda tidak bisa lebih sopan pada murid?” Kali ini Fabian berbicara.
“Ini masih jam pekerjaannya anda sebagai dosen, dan anda bukan sebagai tunangan Afeesya,” kata Fabian lagi, membuat Jimmy tertohok. Wajah Jimmy berubah, saat mendengar ucapan Fabian
Fabian menarik tangan Afeesya, yang sedang Kemudian mereka pun berbalik, lalu berjalan ke arah parkiran. Lagi-lagi, Jimmy mengusap wajah kasar ketika melihat Afeesya berjalan meninggalkannya bersama Fabian. Sepertinya tidak tepat untuk berbicara sekarang. Ia harus menunggu Afeesya, tenang.
•••
“Dad, apa aku mengganggumu?” Afeesya langsung menerobos masuk ke dalam ruangan sang ayah. Namun tak lama, ia menghentikan langkahnya saat melihat ternyata sang ayah sedang melakukan meeting bersama para kolega-koleganya di dalam ruangan.
Gemma yang sedang berada di sofa kemudian menoleh lalu tersenyum ke arah Afeesya.
“Tunggulah di kamar Daddy!” kata Afeesya. Setelah itu, Afeesya pun berjalan, kemudian menekan tombol di meja sang ayah. Hingga, tembok bergeser. Sedangkan Gemma kembali melanjutkan meeting bersama kolega-koleganya dan di sana pun ada Rendra Ayah Jimmy yang merupakan calon mertua Afeesya.
Dua puluh menit berselang, Gemma sudah selesai dengan meetingnya, dan ia pun bangkit untuk menghampiri putrinya. Ia tahu, jika Afeesya pergi ke kantor, pasti ada yang terjadi dengan putrinya.
“Afeeysa, Ada apa? tumben sekali kau pergi ke kantor Daddy?” tanya Gemma yang menghampiri putrinya.
Afeesya tidak menjawab, sebenarnya ia ingin jujur tentang apa yang terjadi pada hubungannya dan Jimmy dan apa yang terjadi barusan. Tapi, ia menahannya. Ia tidak ingin memberitahukan sekarang. Afeeysa harus berpikir jernih terlebih dahulu untuk memberitahukan semuanya secara pelan-pelan.
Ia sudah tidak berminat lagi menikah dengan Jimmy dan ia rasa, ia harus menemukan alasan yang tepat sebelum Ia berbicara pada sang ayah, agar tidak ada hubungan yang renggang antara keluarganya dan keluarga Jimmy.
“Tidak apa-apa, di rumah sepi. Mommy sedang pergi bersama Aunty Stevia. Jadi aku lebih memilih pergi ke sini!” kata Afeesya lagi. Gemma mah menyipitkan matanya Saat melihat wajahmu Afeesya yang sembab. Tapi, ia tidak ingin memaksa putrinya bercerita. Ia pun mengangguk anggukkan kepalanya.
“Ya sudah, kalau begitu Daddy bekerja lag!” kata Gema membuat Afeesya menghela nafas lega. Setidaknya sang ayah tidak terus bertanya.
•••
Afeesya keluar dari mobil Gema, kemudian ia mengerutkan keningnya saat melihat ada mobil Jimmy terparkir di depan halaman rumahnya. ia menghela nafas, kemudian menghembuskannya.
“Afeesy, Bukankah itu mobil Jimmy?” tanya Gema saat ia keluar dari mobil itu mobil. Gema menyipitkan matanya, saat melihat Afeeysa tidak bersemangat.
“Kau sedang ada masalah dengannya?” tanya Gemai. Seketika Afeesya tersadar, kemudian menggeleng.
“Tidak, mungkin dia ingin mengajakku makan malam bersama,” jawab Afeesya dengan asal. Sepertinya Ia memang harus berbicara dengan Jimmy di luar. Gema pun masuk disusul Afeesya di belakangnya.
“Om!” ucap Jimmy. Ia menyalami tangan Gema
“kalian bicaralah. Daddy akan pergi ke kamar!” kata Gemma. Afeeysa dan Jimmy sama-sama mengangguk.
“Afeesya!” Jimmy menarik tangan Afeesya, ia menatap Afeeysa dengan tatapan memohon. Secepat kilat, Afeesya menarik lagi tanganny dari tangan Jimmy.
“Ayo kita berbicara diluar!” kata Afeeysa dengan dingin dan datar. Ia menatap Jimmy dengan tatapan asing, berbeda dengan saat kemarin-kemarin di mana dia menatap Jimmy dengan penuh kekaguman.
“Afeesya!” Panggil Jimmy lagi, saat Afeesya menatapnya dengan tatapan asing.
“Kakak tunggulah di sini. Aku akan berganti pakaian terlebih dahulu.” tanpa mendengar lagi jawaban Jimmy, akhirnya Afeesya pun berbalik kemudian berjalan menuju lift untuk naik ke dalam kamarnya.
••••
Suasana kafe begitu ramai, hingga terlihat helaan nafas panjang dari wajah tampan Jimmy. Saat ini, mereka sudah sampai di Cafe yang dipilih oleh Afeesya dan mereka sudah duduk di meja dan hanya tinggal menunggu makanan mereka datang.
Sedari tadi, Jimmy ingin mulai berbicara. Tapi, Afeesya malah sibuk melihat live musik yang sedang berlangsung, membuat Jimmy benar-benar kesal.
“Afeesya, kakak ingin berbicara denganmu!” kata Jimmy.
“Bicara saja!” jawab Afeesya, tanpa mengalihkan pandangannya dari live musik. Ia memang sengaja tidak melirik kearah Jimmy dan lebih memilih menonton pertunjukan yang sedang berlangsung karena ia malas menatap tunangannya.
Jimmy menarik tangan Afeesya, ia menggenggamnya begitu erat, agar Afeesya tidak melepaskan genggaman tangannya lagi.
“Afeesya, Kakak benar-benar minta maaf kepadamu!” kata Jimmy lagi. Ia berusaha berbicara setulus mungkin agar Afeesya yakin kepadanya.
“Aku sudah memaafkanmu!” balas Afeesya. Wajahnya benar-benar tak berubah. Ia tetap menatap Jimmy dengan dingin, seolah Jimmy adalah orang asing.
“Afeeysa!” Panggil Jimmy lagi, Afeesya menoleh, kemudian Afeesya menarik paksa tangannya. “Jangan memaksaku untuk menerima apapun yang aku tidak mau. Bukankah sudah jelas, aku tidak mau melanjutkan pertunangan ini dengan kakak, aku juga tidak tertarik untuk menikah dengan lelaki seperti kakak! Kakak, sudah memperlakukanku dengan sangat buruk, bahkan saat kita belum menikah. Lalu, apa kabar nanti jika kita sudah menikah!” Afeesya berucap dengan tegas, kemudian ia menaruh tangannya di bawah agar Jimmy tidak menggenggam tangannya lagi.
Jimmy terdiam, ia mencoba memutar otak untuk merayu Afeesya. Ia tidak tahu bahwa Afeesya, keras kepala seperti ini.
“Afeesya, katakan pada Kaka. Bagaimana cara Kakak menebus kesalahan kakak. Kakak berjanji, kakak tidak akan berbuat seperti tadi. Ayolah Afeesya. Jangan begini. Kakak benar-benar menyesal!”
Jimmy berucap dengan suara pelan, tatapan matanya menatap Afeesya dengan tatapan permohonan, seolah dia menyesal dengan apa yang ia lakukan tadi. padahal tentu saja ia tidak merasakan seperti itu, yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya agar tidak membatalkan pertunangan ini
“Afeesya!” tiba-tiba terdengar suara Fabian dari arah belakang, membuat. Afeesya tersenyum. “Fabian, kau sedang di sini?” tanya Afesya. Ia langsung bangkit dari duduknya, membuat Jimmy membulatkan matanya.
“Afeesya kau mau kemana?” tanya Jimmy, saat Afeesya bangkit dari duduknya. “Maaf Kak, sepertinya aku akan meminta Fabian untuk mengantarku pulang.” Setelah mengatakan itu apa Afeesya pun berbalik, kemudian ia menarik tangan Fabian untuk keluar dari kafe.
“Fabian maaf, aku harus mengajakmu keluar agar aku bisa pergi darinya!” kata Afeesya. ketika mereka sudah berada di luar kafe.
“Tidak apa-apa, aku pun sudah selesai dan aku berniat pulang!” kata Fabian lagi, membuat Afeesya menghela nafas.
“Ayo ke mobilku!” ajak Fabian, mereka pun mulai berjalan ke arah mobil Fabian. Fabian membukakan pintu untuk Afeesya, Seelah itu, ia memutari mobilnya dan masuk ke dalam kursi kemudi lalu mulai menyalakan mobilnya dan menjalankannyanya.
“Kau sepertinya sedang ada masalah dengan tunanganmu?” tanya Fabian saat mobil sudah berjalan.
“Ya, begitulah," jawab Afeesya, membuat Fabian mengangguk-anggukan kepalanya.
•••
Bab 9
Satu minggu kemudian
Ini sudah satu minggu sejak kejadian Jimmy dan Afeesya. Selama satu minggu pula, Afeesya selalu menghindar dari Jimmy, sedangkan Jimmy terus berusaha keras untuk mendekati Afeesya. Tapi Afeesya, sama sekali tidak tersentuh dengan perjuangan Jimmy.
“Kenapa kursi kursiku dirubah?” tanya Afeesya pada panitia. Saat ini, mereka akan melakukan study tour menggunakan bis untuk pergi ke luar kota. Afeesya langsung protes ketika kursinya dirubah. Padahal tadi, ia duduk disebelah Fabian. Tapi sekarang, malah terpampang nama Jimmy yang duduk di sebelahnya.
“Entahlah! kak Jimmy sendiri yang memintanya dan aku tidak bisa menolak permintaan dosen!” kata teman Afeesya yang juga sebagai panita
Afeesya menghela nafas, ian sudah menduga Jimmy akan melakukan ini. Ia pun mencari-cari seseorang, kemudian Iya terpikirkan sesuatu.
Emilia ... Ya, wanita yang sering berseteru dengannya. Sepertinya kali ini, ia akan sedikit berbaik hati membiarkan Emilia dengan Jimmy, karena ia tau, Emilia sangat tertarik dengan Jimmy.
“Hei, kau!” panggil Afeesya pada Emilia.
Emelia yang sedang mengobrol dengan teman-temannya menole. Ia menatap Afeesya dengan sinis. “Apa?” tanya Emilia.
“Kau boleh menggantikan posisi dudukku. bukankah kau ingin berdekatan dengan kak Jimmy!” kata Afeesya. seketika wajah Emilia berbinar.
“Benarkah?” tanya Emilia. Seeketika raut wajah bencinya pada Afeesya hilang seketika, ketika Afeesya menawarkannya duduk dengan Jimmy.
“ Ya tentu saja, aku akan duduk di tempat mu!” kata Emilia lagi membuat Afeesya berdecih.
Jimmy mengerutkan keningnya saat masuk kedalam bis, ternyata bukan Afeesya yang duduk di kursi yang telah Ia atur, melainkan Emilia.
“Kenapa kau duduk di sini?” tanya Jimmy saat menghampiri Emilia yang sedang duduk di kursi yang seharunya di tempati oleh Afeesya.
“Afeesya yang menyuruhku duduk di sini!” kata Emilai lagi. Ia berbicara dengan nada yang manja untuk menggoda dosennya.
Jimmy mencari-cari posisi duduk Afeesya, saat melihat Afeesya duduk di tempat paling belakang Jimmy pun menghampiri Afeesya.
“Kau duduk di kursiku!” kata Jimmy pada wanita yang duduk disebelah Afeesya, membuat Afeesha menghela nafas berat.
Jimmy benar-benar tak menyerah.
Wanita itupun menurut, karena ia tidak mungkin menolak perintah dosen. Ia pun bangkit dari duduknya, kemudian duduk di sebelah Emilia.
Setelah itu, Jimmy mendudukan diri disebelah Afeesya. Saat Jimmy duduk di sebelahnya, ia menyandarkan kepalanya ke jendela, karena ia tak ingin menghiraukan Jimmy.
Saat itu juga, Jimmy langsung menggenggam tangan Afeesya, lalu menyimpan tangannya di saku membuat, Afeesya langsung menoleh dan berusaha untuk menarik tangannya.
Tanpa diduga, Jimmy mencuri ciuman dari bibir Afesya, membuat Afeesya membulatkan matanya. “Kau sungguh tidak sopan sekali!” kata Afeesya. Tak ingin terus berdebat dengan Jimmy. Ahirnya, ia membiarkan Jimmy menggenggam tangannya.
Setelah melewati perjalanan selama berjam-jam, akhirnya bus yang ditumpangi oleh Afeesya, beserta teman-temannya Sampai disebuah lokasi yang sudah di ditentukan oleh pihak panitia.
Satu-persatu mahasiswa dan mahasiswi pun turun dari bus begitupun Afeesya.
“ Bisakah kau melepaskan tanganku! Aku sungguh tidak nyaman seperti ini,” kata Afeesya, ketika Jimmy tidak melepaskan tangannya.
Jimmy pun melepaskan tangan Afeesya, kemudian Afeesya melewati tubuh Jimmy dan turun dari bus, tak lupa ia membawa tasnya.
“Asshh!” tiba-tiba Afeesya, terpekik kaget saat ia menabrak seseorang, kemudian ia mendongak melihat siapa yang menabraknya.
“Maaf, Kak,” ternyata Adam yang menabraknya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Jimmy dari arah belakang. Seketika Adam dan Jimmy saling tatap, tatapan mereka menyiratkan permusuhan yang nyata.
“Kau baik-baik saja?” tanya Adam, Afeesya tertegun, saat saat mendengar suara Adam yang begitu manly, untuk pertama kalinya ia terpaku ketika melihat Adam.
“Aku baik-baik saja,” jawab Afesya, ia lebih memilih untuk menjawab pertanyaan Adam, daripada menjawab pertanyaan Jimmy.
“Baguslah!” Adam pun berlalu, kemudian meninggalkan Jimmy dan Afeesya, membuat Jimmy menggeram kesal. Entah kenapa , ia mendadak kesal ketika Afeesya lebih memilih menjawab pertanyaan Adam.
•••
“Kenapa kau masuk kedalam kamarku?” tanya Afeesya saat Jimmy masuk ke dalam kamarnya.
“Aku sudah minta panitia untuk sekamar denganmu!” kata Jimmy, membuat mata Afeesya membulat. “Kau gila! kita belum menikah! Bagaimana mungkin kau ....”
Afeesya menghentikan ucapannya, tiba-tiba kepala Afeesya berputar-putra. Pandangannya mulai mengabur, ia merasa tubuhnya begitu panas. Jimmy menyeringai, saat melihat reaksi Afeesya.
Ternyata, obat perangsang yang diberikan oleh Jimmy sudah bekerja. Ya, saat tadi makan siang, setelah sampai di tempat tujuan, Jimmy dengan sengaja memberikan obat perangsang di diminum Afeesya.
Ia tidak bisa memikirkan cara lain lagi selain ini. Jika Afeesya tidak mau menikah dengannya. Maka ia harus memaksa Afeesya dengan cara harus mengandung darah dagingnya. Hingga, Afeesya tidak bisa lari darinya. Dan perusahaan sang ayah akan selamat.
Sebenarnya, Jimmy tidak sekamar dengan Afeesya. Ia masuk masuk kedalam kamar Afeesya, ketika mahasiswa-mahasiswi lain sedang asik dengan kegiatannya. Apalagi kamar Afeesya berada di ujung. Hingga takkan ada yang tahu bahwa Jimmy masuk ke dalam kamar muridnya.
“Afesya kau baik-baik saja?” tanya Jimmy Afeesya tidak menjawab. Ia malah memegang tangan Jimmy karena kepalanya semakin berputar-putar, ia juga merasa bahwa ia akan tumbang. Itu sebabnya, ia langsung berpegangan pada Jimmy.
Jimmy membawa Afeesya duduk di ranjang, kemudian ia mengelus pipi Afeesya. “Tubuhku panas!” kata Afeesya. Tiba-tiba, ia merasakan hal yang aneh di dalam tubuhnya. seketika itu juga Jimmy langsung mencium bibir Afeesya, membuat mata Afeesya membulat, ia berusaha untuk untuk mempertahankan kesadarannya.
Tapi percuma, obat perangsang yang diberikan oleh Jimmy berdosis tinggi. Hingga akhirnya, Afeesya tidak bisa berpikiran pada akhirnya hubungan itu pun terjadi, hubungan yang tidak semestinya mereka lakukan sebelum mereka menikah.
••••
Afeesya membuka mata, ia merasa tubuhnya remuk. Ia melihat ke bawah, karena pinggangnya terasa berat. Ia langsung menghempaskan tangan Jimmy yang memeluknya, kemudian berteriak.
“Aaaa!” Afeesya berteriak, membuat Jimmy terbangun dari tidurnya. Jimmy bangkit dari berbaringnya.
“Afessya Ada apa?” tanya Jimmy.
“Ka-kau melakukan apa padaku?” tanya Afeesya dengan terbata-bata. Ia menyibak selimut ternyata tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun.
Seketika itu juga, Afeesya langsung menyelimuti dan memeluk tubuhnya begitu erat. Ia menatap Jimmy dengan tatapan terluka. “Kau tega melakukan ini padaku!" Afesya berbicara dengan nada yang tercekat.
Tangisnya sudah luruh, ketika menyadari apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah ia lakukan bersama Jimmy.
“Afeesya.” Jimmy berusaha meraih tangan Afeeya. “Afeesya, apa kau tidak ingat, kita sama-sama menginginkan. Kau sendiri yang ....” tiba-tiba Afeesya menutup telinganya. Ia menangis Histeris.
Seketika Jimmy langsung memeluk Afeesya, karena ia takut orang lain akan curiga, apalagi ini sudah pukul 2 pagi.
“Afeesya, kita bisa berbicara setelah kau tenang,” ucap Jimmy ketika Afeesya meronta dalam pelukannya. Pada akhirnya, karena kelelahan menangis Afeesya langsung tak sadarkan diri, membuat Jimmy menghela nafas, setidaknya orang lain tak akan mendengar tangisan Afeesya.
Jimmy merebahkan tubuh Afeesya di ranjang, kemudian ia turun dari ranjang. Lalu mengambil pakaiannya yang berserakan dilantai dan memakainya. Ia membuka koper Afeesya, lalu mencari pakaian Afeesya yang nyaman, untuk tidur. Setelah itu, ia duduk di samping Afeesya, kemudian menatap lekat-lekat wajah Afeesya.
Lalu, mengelus pipi Afeesya.
“Kau tidak bersalah, Afeesya, Ini semua karena kesalahan ayahku. Walaupun aku tidak mencintaimu. Tapi aku akan berusaha memperlakukanmu sebaik mungkin.” Jimmy membatin dalam hati. Saat menyentuh Afeesya dan merenggut kesucian Afeesya. Jimmy berusaha untuk ikhlas menerima takdirnya dan berusaha untuk tak mengeluh lagi tentang apa pun.
Dua jam berlalu, Afeesya mengerjap, ia membuka matanya. Jimmy yang sedang duduk di ranjang langsung menoleh ke arah Afeesya karena melihat pergerakan dari Afeesya.
Afeesya menoleh kearah Jimmy, ia menatap Jimmy lekat-lekat. Kemudian tangisnya mulai berlinang, kejadian barusan kembali menubruknya
“Kenapa kau tega melakukan itu padaku?” tanya Afeesya dengan tangisnya yang kembali Luruh. Ia berucap dengan pelan, karena rasanya tubuhnya begitu lemas.
Jimmy menggenggam menggengam tangan Afeesya, kemudian ia mengecupnya. Secepat kilat, Afeesya langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Jimmy, dan berbaring dengan posisi meringkuk.
Jimmy langsung membaringkan tubuhnya di sisi Afeesya, kemudian memeluk Afeesya dari belakang. “Jangan menangis. Sebentar lagi kita akan menikah dan aku pasti akan bertanggung jawab,” kata Jimmy. Ia mengecup pucuk kepala Afeesia bertubi-tubi.
“Demi apa pun, aku tidak mau menikah denganmu. Apa pun yang terjadi nanti, aku tak akan pernah mau menjadi istrimu.” Di tengah rasa sakitnya, Afeesya berbicara lantang, membuat Jimmy menghela nafas.
“Tidurlah, ini sudah malam!” kata Jimmy, ia mengeratkan pelukannya, membuat tangis Afeesya semakin berlinang.
••••
“Afeesya, kau baik-baik saja?” tanya Kartika teman Afeesya. Kartika langsung menegur, saat Afeesia terdiam melamun dan menatap kosong ke depan. Afeesya tersadar, kemudian menoleh. “Ya, aku baik-baik saja," jawab Afeesya.
Saat ini, semua mahasiswa dan mahasiswi akan pergi ke salah satu area wisata. Tapi sebelum itu, mereka sarapan terlebih dahulu.
Saat semua fokus dengan sarapan, Afeesya malah melamun. ia sama sekali tidak ingin menyentuh makanan di depannya. Ia masih teringat kejadian kemarin malam, bersama Jimmy.
Saat tadi bangun tidur, Jimmy sudah tidak ada di sisinya. Ia juga tidak ingin repot repot memikirkan kenapa Jimmy tidak berada di kamarnya.
“Selamat pagi semua.” tiba-tiba terdengar suara Jimmy dari arah belakang, seketika semua mahasiswa dan mahasiswi yang sedang sarapan menoleh, kemudian mereka mengangguk hormat pada Jimmy.
“Kira akan berangkat 20 menit lagi,” kata Jimmy yang memberi pengumuman. Tiba-tiba, Jimmy melihat kearah Afeesya. Ia melihat makanan yang di depan Afeesya, ternyata, belum memakan sarapannya.
“Afeesya!” panggil Jimmy.
Afeesya menoleh. “Ya, kak,” jawab Afeesya dengan dingin. Di tengah luka yang menerjangny, ia berusaha untuk tetap bersikap biasa.
“Kenapa kau tidak menghabiskan sarapanmu?” tanya Jimmy.
“Aku akan makan nanti.” Setelah mengatakan itu, Afeesya pun kembali berbalik, kemudian ia mengambil teh yang ada di depannya lalu menyeruputnya, sedangkan Jimmy pun kembali bergabung dengan dosen yang lain.
••••
Akhirnya, akitivitas mereka di tempat wisata selesai, dan kini semua sudah masuk ke dalam hotet. Tapi tidak dengan Afeesya. saat turun dari bis, ia tidak langsung masuk dan lebih memilih berjalan-jalan di sekitar hotel, karena rasanya ia enggan melihat Jimmy.
Tadi, saat di area wisata Jimmy selalu mendekatinya tapi ia menghindar dan barusan ia melihat Jimmy sedang menunggu di depan lobby, ktu sebabnya Ia memutuskan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu.
Dan tak terasa, ini sudah 1 jam Afesya duduk di taman yang ada di samping hotel. Ia pun memutuskan untuk keluar, karena hari sudah sore, cuaca pun mulai dingin. Saat ia akan saat ia berbalik, langkahnya terhenti ketika melihat Adam sedang duduk di kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Dari samping, Afeesya bisa melihat bahwa Adam sedang melukis dengan hanya menggunakan pensil dan kertas.
Untuk pertama kalinya, ia terpaku ketika melihat. Saat Afeesya larut dalam lamunannya. Tanpa diduga, Adam bangkit dari duduknya dan kini melihat Afeesya. Kedua pasangan itu saling melihat dan terdiam di tempat masing-masing.
“Afeesya ....” Tiba-tiba, terdengar suara Jimmy dari belakang membuat Adam dan Afeesya sama-sama tersadar
bab 10
Saat mendengar suara Jimmy, Afeesya menoleh, begitupun Adam yang juga menoleh ke arah Jimmy.
“Afeesya, kakak mencarimu sedari tadi. Ternyata kau di sini,” kata Jimmy, sedangkan Afeesya menatap Jimmy dengan tatapan malas, membuat Adam mengerutkan keningnya dan menatap Afeesya dan Jimmy secara bergantian, bola matanya memutar ke atas seolah dia sedang berpikir sesuatu.
Jimmy menarik tangan Afeesya. Namun, secepat kilat Afeesya menarik kembali tangannya. “Jangan sentuh aku!” titah Afeesya.
“Afeesya, Ayolah! jangan terus begini,” kata Jimmy. “Ayo kita kembali ke kamar kau juga harus beristirahat,” kata Jimmy lagi Ia berusaha menarik tangan Afeeesya. Namun secepat kilat, Afeesya menyembunyikan tangannya ke belakang.
“Kaenapa kau tidak punya sopan santun sekali!” tiba-tiba Adam yang bersuara, membuat Jimmy menoleh menoleh ke arah Adam.
“Bukan urusan lu!” Jimmy menatap Adam dengan tatapan permusuhan. Sedangkan Adam, menatap sang kakak dengan tetapan santai. Solah dia tidak memperdulikan sikap Jimmy padanya.
“Afeesya, ayo kembali!”
“Tidak mau, aku tidak mau kembali bersamamu. Sudah aku bilang, aku tidak mau lagi melihatmu!” kali ini, Afeesya sedikit berteriak. Rasanya setiap melihat wajah Jimmy, ia selalu kesal.
“Kau mau tidur di kamarku? biar aku pindah di kamar lain.” Tiba-tiba suara Fabian terdengar dari arah belakang, membuat semua orang menoleh ke arah Fabian.
“Kau kembali ke tempatmu, ini urusanku dan Afeesya.” Tiba-tiba Jimmy berbicara dengan nada tak terima. Namun secepat kilat, Afeesya langsung menghampiri Fabian.
“Jika kau tak keberatan. Bisakah aku menempati kamarmu?” tanya Afeesya, menghampiri Jimmy membuat mata Jimmy membulat.
“Afeesya!” panggil Jimmy lagi. Namun secepat kilat, Afeesya menarik tangan Fabian, membuat Jimmy mengusap wajah kasar. Ia tidak menyangka Afeesya mempunyai sifat keras kepala seperti ini. Ia pikir, Afeesya seperti wanita-wanita lain yang akan luluh dengan apapun yang bisa ia lakukan.
Tapi ternyata, ia salah. Afeesya lebih keras kepala dari yang ia duga. Sekarang, ia hanya memikirkan bagaimana caranya untuk meluluhkan Afeesya sebelum pulang, karena ia takut Afeesya akan berbicara pada Gema dan meminta pembatalan pertunangan mereka.
Tiba-tiba, Jimmy dan Adam Saling pandang. Tak lama, Jimmy melihat kearah kertas yang dilukis oleh Adam. Adam yang menyadari tatapan sang kakak, langsung menyimpan lengannya di belakang tubuhnya, agar sang kakak tidak melihat lukisannya. Ia pun berbalik kemudian meninggalkan Jimmy.
satu bulan kemudian
“Afeesy, apa yang dimaksud Jimmy Benar?” tanya Gema. Afeesya hanya menunduk, kemudian mengangguk, membuat Gemma mengusap wajah kasar.
“Om Tolong, jangan salahkan Afeesya. Tolong salahkan saja saya, karena saya yang yang memulai dari awal,” ucap Jimmy. Saat ini, Jimmy sedang berada di ruangan kerja Gemma untuk membicarakan hal yang terjadi sebulan ke belakang.
Selama satu bulan ini, setelah mereka pergi ke study tour. Afeesya benar-benar menjauh. Bahkan bersikap dingin. Hingga Jimmy, bingung bagaimana caranya menaklukan Afeesya. Hingga tiba-tiba, satu ide muncul di kepalanyanga. Ide yang menurutnya cukup gila.
Ya, ia mempunyai ide untuk mengatakan tentang apa yang terjadi sebulan lalu pada Gema dan jujur tentang mereka yang sudah melakukan hal yang tak seharusnya mereka lakukan.
Jimmy berharap, setelah Gemma mengetahui tentang hal itu, Gemma akan mempercepat pernikahannya dan Afeesya tidak menduga, bahwa Jimmy akan akan nekad.
Selama sebulan ini, ia benar-benar menghindari Jimmy. Karena ia tidak ingin goyah dan ia benar-benar ingin memutuskan hubungan dengan Jimmy. Tapi yang terjadi, Jimmy malah datang dan memberitahukan sang ayah tentang apa yang sudah mereka lakukan.
Gemma mengusap wajah kasar, kemudian melihat Jimmy dan Afeesya secara bergantian.
“Kenapa kalian bisa melakukan dosa sebesar ini!” Gemma bertanya dengan nada berat, ia benar-benar tak tahu harus bagaimana menghadapi ini.
“Maafkan Aku, Dad,” kata Afeesya. Ia ingin sekali menangis, ketika melihat tatapan sang ayah yang kecewa padanya.
“Om, ini salah Saya. Saya memaksa Afeesya,” jawab Jimmy, berharap kali ini akan Afeesya tersentuh dengan ucapannya.
“Jimmy kau pulanglah, Om akan memanggilmu nanti,” ucap Gemma. Ia harus berbicara terlebih dahulu dengan sang putri, karena yakin, Afeesya punya alasan. Kenapa Afeesya bersikap dingin pada Jimmy.
Selama sebulan ini, ia pun sudah menduga ada masalah antara Jimmy dan Afeesya, karena setiap Jimmy mengajak Afeesya untuk keluar, Afeesya selalu menolak.
Afeesya menunduk, ia tidak berani menatap sang ayah. Jimmy baru saja keluar dari ruang kerjanya. Hingga kini, di ruangan itu hanya tinggal Gemma dan Afeesya.
Gema mencoba meredam emosinya, walau bagaimanapun Ia tidak menyangka akan akan terjadi hal seperti ini pada putrinya. Ia mencoba untuk sabar, mungkin menghadapi Afeesya. Ia tahu, putrinya seperti apa dan ia yakin, Afeesya tidak mungkin melakukan hal hal seperti ini. Hema bangkit dari duduknya, kemudian berpindah posisi dan duduk disebelah Afeesya.
“Afeesya, Daddy tahu, kau tidak mungkin melakukan ini jika tanpa sebab. Daddy mengenalmu lebih dari siapapun. Sekarang katakan secara rinci, dan jelaskan apa yang terjadi denganmu dan Jimmy saat itu.”
Afeesya terdiam, “Apa Daddy, akan mempercayai semua apa yang aku katakan?” tanya Afeesya dengan bibir bergetar. Ada tangis yang mendesak untuk dikeluarkan, ia ingin sekali menangis sekencang-kencangnya saat melihat ekspresi sang ayah.
Gemma mengangguk, seraya mengelus rambut Afeesya. “Katakanlah, apa yang terjadi sesungguhnya. Daddy tidak yakin kau berani berbuat ini.”
“Saat itu, aku masuk ke kamar dan aku tak menyangka, Kak Jimmy mengikutiku. Aku sudah menyuruhnya untuk keluar, hanya saja saat itu kepalaku tiba-tiba sakit, tubuhku tiba-tiba panas dan aku tidak ingat apapun lagi. Zaat aku membuka mata, tiba-tiba aku sudah ....” Afeeysa tidak sanggup lagi meneruskan ucapannya, karena suaranya tenggelam oleh tangisan, membuat Gemma langsung membawa ke dalam pelukannya.
Sepertinya Gemma mengerti apa yang terjadi dengan Afeesya yang terjadi hari itu. “Baiklah, Daddy percaya padamu, Daddy akan membicarakan ini dengan Jimmy.”
•••
Beberapa hari kemudian.
“Benar kau memberi obat perangsang pada Afeesya?” tanya Gema. Saat Jimmy sedang berada di kantor Gemma, karena Gemma memanggilnya .
Jimmy sudah menduga bahwa calon Ayah mertuanya akan bertanya ini padanya. Itu sebabnya, ia datang dan sudah menyiapkan jawabannya.
“Ya, Om saya, mengakui saya membeli obat perangsang pada Afeesya."
“Kenapa kau lakukan itu pada Afeesya, apa kau tidak tahu itu berpengaruh bagi mentalnya?” Gema tampak geram dengan ucapan Jimmy. Ia Tak habis pikir, Jimmy melakukan itu pada putrinya.
“Om, Saya tidak berniat untuk membela diri saya di hadapan om, saya juga tidak membenarkan apa yang saya lakukan. Tapi, beberapa hari sebelum kami melakukan itu, Afeesya berkata ragu untuk menikah dengan saya, dan saya tidak ingin Kehilangan Afeesya. Mungkin cara saya salah. Tapi saya tidak bisa memikirkan cara yang lebih baik dari ini,” jawab Jimmy.
Ia sudah memikirkan jawaban ini matang-matang. Ia yakin, jawaban ini akan membuat Ayah mertuanya terkesan. Lagi-lagi, Gema menghela nafas, kemudian mengusap wajah kasar. Rupanya, ia percaya apa yang diucapkan oleh Jimmy.
“Kenapa kau harus melakukannya dengan cara begini? kok bisa meyakinkan Afeesya dengan cara yang lain!”
“ Sayangnya saya tidak bisa Om, karena Afeesya begitu sulit untuk didekati. Saya sudah mencoba menyakinkannya dengan berbagai cara. Tapi, Afeesya tetap tidak mau dan terus menghindar. Padahal saya benar-benar serius dengan Afeesya dan tak ingin Afeesya dimiliki oleh lain.”
Jimmy berbicara dengan nada serius seolah apa yang diucapkannya adalah benar. Ia menarik sudut bibirnya sedikit, saat melihat ekspresi Gema yang tampak percaya padanya.
Setidaknya ia berlindung dibalik alasan itu, membuat Posisinya aman dan tidak akan disalahkan.
Gema menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, ia percaya bahwa Jimmy memberi obat perangsang itu karena tidak ingin Afeesya di miliki oleh orang lain. Tapi sayangnya, Gemma tidak tahu Itu hanya alasan, dan Jimmy berdusta padanya.
“Pernikahan kalian harus dipercepat, biar om yang berbicara pada Afeesya.”
Jimmy, menarik sudut bibirnya saat mendengar ucapan Gema. Ia tidak perlu bersusah payah lagi membujuk Afeesya. “Baik Om, terima kasih. Saya sangat berterima kasih Om mau membantu saya!” kata Jimmy lagi. Ia menghela nafas, karena ia tidak perlu lagi repot-repot untuk meyakinkan Afeesya.
dua minggu kemudian
Suara sah menggema diseluruh ruangan, sepasang insan baru saja resmi menjadi seorang pengantin. Jimmy tersenyum lebar berbeda dengan Afeesya.
Barusan, Jimmy baru saja mengikat Afeesya dalam ikatan suci pernikahan. Semenjak pembicaraan dengan Gema neberapa hari lalu, Gema langsung memutuskan untuk mempercepat pernikahannya.
Afeesya tidak bisa menolak, karena ini sudah jadi keputusan sang ayah. Ia sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Walaupun dia mencintai Jimmy. Tapi rasa ragu itu kerap ada, apalagi ia belum bisa melupakan kejadian yang sudah berlalu.
Akad dilakukan secara sederhana, karena ini permintaan Afeesya, ia tidak mau atau ia belum siap melakukan resepsi hingga pada akhirnya semua dilakukan secara sederhana, dan hanya dihadiri keluarga dan kerabat saja serta teman-teman Afeesya.
ijab kabul sudah selesai, seluruh keluarga,kerabat, dan teman-teman langsung melakukan makan siang bersama. Sedangkan Afeesya, lebih memilih untuk pergi ke kamarnya.
Afeesya terdiam di balkon, ia menatap ke depan dengan tangis yang berlinang. Ia melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Ia tidak menyangka, hari ini akan tiba, hari dimana ia menjadi istri seorang Jimmy.
Mungkin jika Jimmy tidak melakukan hal buruk Padanya, ia akan merasa senang dan bahagia. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Afeesya mengelus perutnya, kemudian tersenyum.
Ya, saat ini, Afeesya sedang mengandung dan Ini alasan kenapa dia mau menerima pernikahannya dengan Jimmy. Semua keluarga pun sudah tahu, termasuk Jimmy.
Pintu terbuka, menyadarkan Afeesya lamunannya. Jimmy masuk kedalam kamar, lalu membuka jasnya, kemudian menghampiri Afeesya. Lalu, memeluk Afeesay dari belakang.
Saat Jimmy akan mencium pipi Afeesya dari samping, Afeesya dengan segera menjauhkan bibirnya, membuat Jimmy menghela nafas.
Sejujurnya, saat ia menikahi Afeesya, dan saat ia mengucapkan Ijab dan saat tahu Afeeesya mengandung darah dagingnya, Jimmy sudah bertekad untuk mulai mencintai Afeesya dan menjadi suami yang baik serta membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi ayah yang baik bagi calon anak mereka.
Walaupun sulit, karena bayang-bayang mantan masih menghantuinya. Tapi Jimmy akan berusaha untuk melupakan kenangan masa lalunya dan mulai membuka lembaran baru bersama Afeesya.
“Ayo, masuk. Makak tahu kau tidak nyaman memakai kebaya itu!” kata Jimmy. ia melepaskan pelukannya dari Afeesya, kemudian menarik tangan Afeesya, hingga mau tak mau, Afeesya pun mengikuti langkah Jimmy.
•••
Seorang lelaki terduduk di taman, pandangan matanya lurus ke depan. Ia memegang dadanya yang terasa sesak, ia tidak menyangka bahwa ia akan menyaksikan wanita yang dicintainya menikah dengan lelaki lain.
Wanita yang selama ini ia harapkan menjadi istrinya, malah menikah dengan lelaki lain. Ia tidak menyangka dengan mata kepalanya sendiri, ia akan mendengar suara sah yang menggema. Hingga wanita yang dicintainya dimiliki oleh orang lain.
“ Bukankah sudah ku peringatkan untuk tidak menikah dengannya. Tapi kenapa kau tidak mengikuti saranku!” lelaki itu berbicara lirih. Nada suaranya terdengar penuh luka, sudut matanya berair. Pertanda dia benar- benar-benar merasakan sakit yang luar biasa hebat karena Pernikahan Jimmy dan Afeesya.
lelaki itu pun bangkit dari duduknya, kemudian ia berbalik dan pergi menuju mobilnya. Sebelum ia berbalik, ia melihat kearah balkon dimana Afeesya sedang berdiri di sana.
“Aku Merelakanmu untuknya. Tapi jika kau tidak bahagia, maka aku akan merebutmu darinya.” lelaki itu pun akhirnya kembali berbalik, kemudian ia berjalan ke arah mobil lalu pergi meninggalkan rumah Afeesya.
dua bulan kemudian
Ini sudah 2 bulan berlalu semenjak pernikahan mereka. Hubungan Afeesya dan Jimmy sudah dikatakan bisa lebih baik dari sebelumnya. Jimmy benar-benar membuktikan bahwa dia bisa suami yang baik bagi Afeesya. Hingga akhirnya, Afeesya luluh, terlebih lagi kehamilannya membuat dia ingin sekali dekat dengan Jimmy. Terkadang, Afeesya selalu memberanikan melarang Jimmy untuk pergi ke kampus dan mau tak mau aku Jimmy pun mengikuti kemauannya.
waktu menunjukkan pukul 2 siang, Jimmy masuk kedalam ruangannya, kemudian ia melepaskan kemejanya hingga kini ia hanya memakai kaos dalam saja. Ia mendudukkan diri di kursi, kemudian ia menyandarkan tubuhnya ke belakang
Ia membuka laci, kemudian mengambil sebuah foto lalu tersenyum, kemudian membelai foto itu. Foto itu, adalah foto dirinya bersama Natasha.
Dua bulan berlalu, Jimmy pikir, ia bisa melupakan Natasha dan bisa mencintai Afeesy seperti tekadnya saat awal. Tapi ternyata, tidak tidak bisa. Terlebih lagi, Natasha sudah ada di Indonesia dan yang lebih parahnya, seminggu kemarin Natasya mulai bekerja menjadi dosen di Universitas yang sama dengan Jimmy.
Jimmy berusaha untuk menegarkan hatinya, dia tidak ingin hilang kontrol, karena ia sadar sekarang Afeesy a adalah istrinya. Tapi tetap saja tak bisa, terlebih lagi cinta Jimmy pada Natasha semakin besar saat Natasha kembali ke Indonesia dan sekarang, mereka malah bekerja di tempat yang sama. Itu sebabnya, semakin sulit pula untuk melupakan sosok Natasha.
“Kak!” tiba-tiba suara Afeesya terdengar dari luar, membuat Jimmy yang panik langsung menyimpan foto itu ke dalam laci, kemudian menegakkan tubuhnya.
Saat Afeesya masuk, Jimmy tersenyum. Jujur saja, semenjak kehadiran Natasha seminggu yang lalu. Jimmy mulai tak nyaman jika Afeesya mendekatinya.
Jimmy mulai gerah jika Afeesya, merengek kepadanya dan Jimmy mulai tak suka ketika Afeesha memerintahkannya hanya karena alasan ngidam. Tapi ia tak bisa berbuat banyak, ia tak bisa berbuat apa-apa dan sekarang, Entah kenapa ia begitu kesal melihat wajah istrinya.
Tapi mau tak mau, ia harus tetap tersenyum dan bersandiwara di depan Istrinya. “Kau mencari Kaka, hmm?” tanya Jimmy.
”Ayo pulang. Bukankah jadwal Kakak mengajar sudah selesai?” tanya Afeeysa.
“Baik Ayo kita pulang.” Setelah mengatakan itu, Jimmy pun bangkit dari duduknya. Kemudian, ia kembali memakai kemejanya. Lalu setelah itu ia keluar. Namun langkahnya terhenti, ketika Afeesya tidak mengikutinya.
“ Ayo kita pulang. Bukankah kau ingin pulang?” ajak Jimmy. Namun, Afeesya menggeleng. Ia malah mengulurkan tangannya pertanda Afeesya, ingin Jimmy menggenggam tangannya
Jimmy pun kembali maju ke arah Afeesya, kemudian tersenyum. lalu menarik tangan afasia dan menggenggamnya. Mereka pun keluar dari ruangan Jimmy dengan bergandengan tangan.
“Jimmy!” Panggil Natasha dari arah belakang. Ia langsung memanggil Jimmy, ketika melihat Jimmy. Semenjak ia bekerja di kampus yang sama dengan Jimmy. Jimmy selalu menghindarinya. Bahkan mereka hanya bertegur sapa sekali.
Natasha tahu, Jimmy sudah menikah. Itu, sebabnya saat melihat Jimmy di menggenggam tangan wanita lain, Natasha ingin berkenalan dengan istri mantan kekasihnya.
Jimmy berbalik kemudian, menoleh. Mata Jimmy berkaca-kaca, saat Natasha berjalan ke arahnya. Ia ingin memeluk wanita itu mengecup dan mencium wajah wanita itu bertubi-tubi, serta mengatakan bahwa ia masih mencintai Natasha. Tapi tidak bisa, zemuanya sudah berbeda dan semuanya sudah berubah.
Seberapa besarpun cintanya pada Natasha. ia tidak bisa untuk mengikuti hatinya, karena sekarang sudah ada Afeesya di sisinya.
“ Kak, Bukankah itu dosen baru?” tanya Afeesya yang berbisik saat Natasha menghampiri mereka. Jimmy tersenyum, kemudian mengangguk.
“Ya, dia juga teman kakak.” Jimmy terpaksa berbohong pada Afeesya, karena jika berkata Natasha adalah mantannya, semuanya akan sia-sia.
“Hai Natasha,” kata Jimmy dengan ragu
“Hai,” jawab Natasha.
“Natasya, perkenalkan ini istriku,” jawab Jimmy seketika Afeesya, terdiam saat melihat kearah Jimmy yang menatap, Natasha dengan tatapan berbeda. Namun, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak boleh berpikiran buruk.
“Hai!” Natasha tersenyum ramah pada Afeesya.
“Aku baru sempat menyapamu, karena aku baru tahu kalau istri Jimmy!” Kata Nataasya.
Afeesya pun menganggkuk. ”Tidak apa-apa, Kak.” senang berkenalan dengan kakak.” Ada gelanyar aneh, saat Afeesya, menggenggam tangan Natasha. Namun lagi-lagi, Afeeysa yang berusaha untuk tidak terpengaruh dengan pikirannya.
“Kalau begitu, kami pergi dulu. Ayo kita pulang!” Setelah mengatakan itu, Jimmy pun berbalik kemudian merangkul pundak Afeesya dan mereka pun berjalan ke parkiran untuk menaiki mobil
satu bulan kemudian
Afeesya menatap Jimmy tanpa berkedip. selama satu bulan ini, suaminya tampak lebih pendiam sering melamun dan sering tidak fokus. Bahkan Jimmy selalu beralasan jika Ia meminta tolong karena mengidam makanan.
Entah kenapa Afeesya merasakan bahwa, selama sebulan ini, Jimmy sangat berbeda walaupun perhatian Jimi padanya tidak berkurang. Tapi tetap saja, Afeesya merasakan bahwa Jimmy tidak hangat seperti saat mereka menikah. Dan ia menyadari perubahan Jimmy ketika mereka berdua bertemu dengan Natasha satu bulan lalu.
“Kenapa kau menatapku begitu?” tiba-tiba terdengar suara Jimmy membuat Afeesya tersadar.
“ Apa kakak baik-baik saja? aku merasa Kakak sedang menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Afeesya.
“Tidak ada. ayo tidur!” Jimmy naik ke ranjang kemudian ia berbaring lalu membelakangi Afeesya, membuat Afeesya menatapnya dengan tatapan tak percaya.
ini sudah empat hari, Jimmy tidur membelakanginya. Biasanya, Afeesya menegur Jimmy. Tapi, ia melihat wajah Jimmy yang berubah dan menatapnya tak suka, dan sejak itu Afeesya tidak berani lagi menegur Jimmy.
Afeesya masih berusaha berpikir positif, tentang suaminya yang mungkin lelah. Tapi malam ini, dia benar-benar heran dan perasaannya merasa tak nyaman.
“Kak, kenapa belakang ini kau tidur membelakangiku!” tanya Afeesya, seketika Jimmy membuka matanya, kemudian ia menghela nafas lalu menghembuskannya.
Ia berbalik, kemudian tersenyum. Membuat, Afeesya terdiam. Dia tahu, senyuman Jimmy bukan senyuman yang tulus, melainkan senyuman yang kesal. Ia pun kembali membaringkan diri. Lalu,berhambur memeluk suaminya. Tapi anehnya, sekarang Jimmy tidak membalas pelukannya.
Kesokan harinya
Afeesya sedang bersiap untuk pergi ke kampus. Ia memasukkan laptop dan yang kedalam tas. Tak lama gerakannya terhenti, ketika ponsel Jimmy berdering.
Ia pun mengambil ponsel Jimmy, lalu melihat siapa yang mengiriminya pesan. Sebenarnya, ia tidak pernah membuka ponsel suaminya
Tapi entah kenapa, saat ini, ia begitu penasaran. Akhirnya, ia pun memberanikan diri mengambil ponsel Jimmy, kemudian melihat kearah kamar mandi di mana Jimmy masih berada di dalam.
Setelah itu, Afeesya menekan kode karena memang Jimmy, memberi tahu kode ponselnya. Tapi selama ini, Afeesya tidak berani membukanya.
Setelah membuka kode ponsel, Afeesya langsung membuka pesan tersebut.
“Apartemen xx, lantai 26 nomer 57]
tertulis sebuah alamat apartemen, membuat Afeesya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba, perasaan Afeesya di landa tidak nyaman.
Saat mendengar suara pintu kamar mandi akan terbuka, Afeesya langsun menaruh ponsel Jimmy lagi ke tempatnya dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
•••
Afeesya terdiam lobby apartemen. Ia berusaha untuk menormalkan jantungnya. Saat ini, Afeesya sedang berada di sebuah apartemen tadi di kirimkan pada ponsel Jimmy. Ia tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu.
Hingga rasanya, rasa penasaran Afeesya semakin menjadi-jadi. Hingga menuntunnya ke sini. Terlebih lagi, setelah mengajar, Jimmy beralasan akan pergi bersama dosen lainnya untuk menganalisis sesuatu dan itu membuatu Afeesya semakin curiga.
Setelah bisa menenangkan dirinya, Afeesya berjalan kearah lift, ia menekan tombol lift untuk naik ke lantai tersebut.
Dan disinilah Afeesya berdiri. Ia berdiri di depan pintu apartemen yang tadi di kirimkan pada ponsel Jimmy.
Saat akan memencet bel, ia mengurungkan niatnya. Kala, pintu apartemen sedikit terbuka. Akhirnya, Afeesya pun memutuskan untuk masuk.
Afessya berjalan ke arah dalam. “Kak!” panggil Afeesya dengan bibir bergetar. Ia sudah was-was saat masuk ke dalam apartemen itu. Ia sungguh takut melihat Jimmy sedang bersama wanita lain.
Tak lama langkahnya terhenti, ketika kakinya tersandung sesuatu. Tba-tiba, ia menutup mulut saat melihat apa yang di sandungnya. Ternyata, ia tersandung sebuah kepala.
“Emilia!” pekik Afeesya. Ia berjongkok untuk melihat Emilia. Mata Afeesya semakin membulat saat melihat ada darah di lantai dan ia langsung membalikkan tubuh Emilia.
“Aaaaaaaa!” Afeesya menjerit, tubuhnya hampir terhuyung ke belakang saat melihat apa yang terjadi. Wajahnya sudah pucat, dia bingung, apa hubungannya pesan yang di kirim ke ponsel suaminya dan Emelia yang terluka.
seketika itu juga ....