
Miko menatap Leticia dengan tetapan terkejut, Ia tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut istrinya, ia tidak menyangka, Leticia akan berpikir sampai ke sana.
“Le-Leticia,” ucap MIko, Ia hanya mampu memanggil nama Leticia tanpa bisa menjawab pertanyaan istrinya.
Leticia tersenyum, kemudian menghapus sudut matanya yang berair. “Paman, kau tidak benar-benar ingin membalas budi, bagaimana ada orang membalas Budi sampai seperti kau, yang melukaiku begitu dalam. Kau menarikku ke dalam hidupmu. Lalu setelah aku ada di dalam hidupmu, kau menghempaskanku begitu saja. Aku tersakiti dan aku adalah korban. Lalu, kau masih mau mengatakan bahwa kau sedang balas Budi?”
Seketika tubuh Miko diam mematung, jantungnya serasa dihujam ribuan belati, rupanya ucapan Leticia benar-benar menusuknya sampai ke dalam. Ia tertampar, terjungkal dan tergelinding, ucapan Leticia memang sederhana. Tapi mampu meluluntahkan hati Miko.
Leticia tersenyum ketika melihat reaksi Miko. Tentu saja, itu bukan senyuman yang indah melainkan senyuman yang penuh luka. “Paman, pulanglah! Jika kita bersama kita hanya akan saling menyakiti. Kau menikahiku karena terpaksa dan aku tidak ingin menerima hal palsu darimu. Ini memang sulit untukku, walau bagaimanapun aku seorang wanita. Aku butuh pegangan dan butuh tempat untuk berlindung. Tapi aku juga tidak bisa menjadikanmu pegangan dan tempatku berlindung, aku harus memperkuat diriku sendiri. Hingga kita lebih baik seperti kemarin-kemarin. Aku pikir kau juga sudah lancang karena kau menyetujui operasi transplantasi hatiku kemarin. Apa kau tahu, selama 3 bulan ini aku berusaha untuk memperburuk kondisiku. Tapi, kau datang bagai pahlawan kesiangan. Hingga aku memperpanjang hidupku lagi dan memperpanjang kesepianku lagi,” ucap Leticia, ia memalingkan tatapannya ke arah. lain karena tangisnya sudah berlinang.
Mendengar ucapan Leticia, Miko langsung mengangkat kepalanya, ia tertegun dengan ucapan Leticia. “Le-Leticia,” ucap Miko dengan bibir bergetar.
“Mungkin orang menganggapku baik-baik saja. Tapi tidak aku begitu kesepian. Aku lelah harus begini, tidak ada orang yang benar-benar menginginkanku. Aku juga tidak bisa terus berpegang pada Mommy dan Daddy, karena pada akhirnya mereka akan meninggalkanku. Bahkan Tuhan pun mengambil satu-satunya harapanku aku harus kehilangan calo anakku dan ....” Leticia tidak sanggup lagi meneruskan ucapannya, ia tertunduk lalu menangis sesegukan, membuat nafas Miko tersendat. Kini, ia bisa melihat hancurnya Leticia.
“Ke-kenapa saat itu kau tidak memberitahukan padaku bahwa kau mengandung?” tanya Miko dengan bibir bergetar, dia tidak berniat pun mengajukan pertanyaan ini. Tapi, ia ingin mendengar dari Leticia.
“Karena aku yakin, kau akan seperti kakakku. Pada awalnya, Kakaku tidak mencintai ka Gabby. Lalu ka Gabby mengandung anak kakakku, kau tahu bukan bagaimana perlakuan kakakku pada kedua anaknya sebelum dia berpura-pura meninggal, dia sama sekali tidak pernah melihat Laura dan Naura sebagai putrinya, karena kedua keponakanku lahir dari wanita yang tidak ia cintai. Lalu aku harus berharap apa darimu? aku mengandung saat kau tidak mencintaiku. Bukankah kalian akan sama saja.”
Tubuh Miko bagai tersengat listrik saat mendengar ucapan Leticia, wajahnya sudah memucat saat mendengar untaian demi untianan yang di ucapkan oleh Leticia, ia tidak menyangka Leticia akan menganggapnya sama seperti Nael. Walaupun saat kemarin Leticia berhasil mempertahankan kandungannya, ia takkan mungkin tega seperti kaka iparnya
“Le-Leticia ....”
“Tetap di tempatmu, paman. Jangan mendekat. Pergi dari sini sekarang juga. Jika tidak, mungkin aku akan menelpon Daddy dan memberitahukan semua. Kau ingin melihat kekecewaan di mata Daddy?” Tegas Leticia ketika Miko terlihat akan bangkit dari duduknya dan akan menghampirinya.
Scrool gengs l,
Behh kata-kata Leticia nancepnya Ampe ke ulu hati