
Nafas Olivia memburu, amarah berkobar hebat di dadanya, wajahnya memerah rahang-rahangnya mengeras. Saat berjalan, ia menarik rambut Joanna sangat keras, bahkan mungkin Olivia mengerahkan semua tenaganya untuk menjambak rambut sang Putri.
Selama 4 bulan ini, Olivia benar-benar kelabakan mencari Joana, ia mencari Joanna ke sana kemari. Tapi, putrinya tidak ditemukan di manapun dan tentu saja ketika Joana pulang, amarah Olivia benar-benar di titik tertingginya
Dulu, saat Joanna kabur selama 1 minggu, Olivia menghukumnya dengan luar biasa, apalagi sekarang Joana sudah tidak pulang selama 4 bulan.
Saat rambutnya di tarik oleh sang ibu, keringat dingin sudah mengucuri seluruh tubuh Joanna, Ia hanya bisa meringis mengikuti langkah sang ibu, seraya menahan nyeri di kepalanya, karena rambutnya dijambak dengan keras oleh Olivia.
Saat melihat ke mana arah sang ibu berjalan, Joana memejamkan matanya dengan wajah yang memucat, Olivia membawanya ke kamar mandi. Seperti biasa, sang ibu akan memulai siksaannya dari kamar mandi
Brakkk
Olivia membuka kamar mandi dengan keras, ia langsung berjalan ke arah bathube, lalu setelah itu ia menenggelamkan kepala Joanna ke bathube.
“Anak sialan! anak tidak tahu di untung!” teriak Olivia sambil membenamkan kepala Joanna ke bathube yang sudah terisi air. Joana sama sekali tidak melawan, rasanya Ia seperti mati rasa ketika sang ibu menenggelamkannya, ia benar-benar tidak melakukan perlawanan sedikitpun. Saat Joana hanya terdiam dan tidak memohon ampun, Olivia semakin meradang.
10 menit kemudian, karena Joanna tidak melawan, Olivia langsung menjambak rambut Joana ke belakang, lagi-lagi Joana hanya bisa memejamkan matanya, seraya meringis, tidak ada satu patah pun keluar dari mulutnya dan itu semakin membuat emosi Olivia memuncak.
Setelah menjembak rambut Joana, ia langsung membenturkan kepala Joanna ke dinding. Umpatan dan Makian keluar dari mulut Olivia, sedangkan Joanna masih terdiam membisu, ia membiarkan sang ibu melakukan apa pun pada tubuhnya.
Beberapa kali Olivia membenturkan kepala Joana Kedinding, hingga kening Joanna langsung memar serta mengeluarkan darah, Olivia kembali dilanda kekesalan saat Joana masih tidak memohon ampun, padahal Olivia ingin putrinya memohon ampun padanya, tapi yang terjadi Joanna seperti pasrah menerima takdirnya.
“Haissshhhh!” teriak Olivia saat Joana masih tidak melawan, ia langsung menghempaskan tubuh Joanna hingga tubuh Joana terhempas ke lantai.
Joana memejamkan matanya dan hampir saja menangis sekencang-kencangnya, kala punggungnya terbentur oleh dinding, kepala Joanna berputar-putar saat Joana akan kehilangan kesadaran dirinya, tiba-tiba saat sang ibu melemparkan semua benda-benda pada tubuhnya, dari mulai sabun, botol dan semua yang ada di kamar mandi.
Dengan perasaan yang hancur, tubuh yang luar biasa remuk, Joana meringkuk, merapatkan dirinya pada tembok, seraya menyimpan tangan di kepala, untuk melindungi kepalanya dari barang-barang yang di lemparkan oleh ibunya.
“Dasar anak tidak tau di untung, seharusnya aku buang saja kau atau aku umpankan saja kau pada anjingg liar!” teriak Olivia lagi setelah puas menyiksa Joana. Setelah itu, Olivia pun keluar dari kamar mandi.
“Jangan menolongnya!” kata Olivia pada pelayan yang berada di depan kamar mandi, setelah itu Olivia pun langsung berjalan ke arah kamarnya
Olivia mengambil roko, kemudian ia mendudukan dirinya di sofa, lalu menyesap rokok yang baru saja ia nyalakan, pikirannya kembali pada saat Joana pertama kali di lahirkan.
Flashback ....
Huaaa gila, ada ibu kaya Olivia di dunia nyata, ada dan sangat banyak!