Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Kritis


Savana mmembuka pintu hingga dia langsung melihat orang yang memakai pakaian serba hitam, yaitu orang yang mengirimkan obat yang dia pesan.


"Terima kasih," ucap Savana sambil mengambil benda itu yang tak lain sebuah obat. Setelah itu, Savana langusung menurup pintu, dia mendudukkan diri di sofa.


'Aku tidak mau anakku tumbuh dari wanita sepertimu.'


Tiba-Tiba tangis Savana luruh saat mengingat ucapan Jonathan. Dia menyayangi anak yang sedang ada di kandungannya, tapi jika dia terus membiarkan anaknya bertahan, anaknya akan menderita.


Dia teringan kisah kedua kakak iparnya. Ya, Savana sudah mendengar tentang perlakuan ayah mertuanya pada Laura dan Naura saat kedua Kaka iparnya kecil. Dia tidak ingin kedua anaknya merasakan hal yang sama. Karena yakin, jika anaknya lahir Joshua tidak akan mengakui anak mereka. Sebab, anak mereka terlahir dari wanita seperti dirinya.


Dia sebatang kara, tidak mempunyai siapapun. Jika dia terus mempertahankan anaknya, anaknya akan menderita karena mempunyai Ibu sepertinya dan ayah yang tidak akan mengakuinya. Tangisan Savana luruh teringat bagaimana tadi Joshua memakinya.


Savana mulai membuka obat tersebut. Dia tidak langsung memakannya melainkan menatap obat yang ada di tangannya. Tubuh wanita itu gemetar. Di satu sisi dia menyayangi anak yang sedang dia kandung, tapi di sisi lain dia yakin dia tidak akan bertahan dengan kondisi yang seperti ini. Seetidaknya jika anaknya tidak ada, hanya dialah yang menderita.


Ini semua bukan salah Savana lagi, melainkan Joshua. Savana sudah berusaha menjadi yang terbaik. Dia sudah mau berubah, dia selalu mengikuti apapun yang Joshua ucapkan, tapi Joshua sendiri yang mematahkan apa yang Savana lakukan hingga Savana merasa tidak berarti di mata siapa pun.


Savana merasa sendiri. Mungkin jika Joshua tidak menyuruhnya untuk menggugurkan kandungan, Savana akan tetap mempertahankan anak dalam rahimnya walaupun sikap Joshua dingin, tapi barusan dia benar-benar mendapatkan tamparan yang luar biasa hebat.


Ucapan Joshua mampu meluluntahkan perasaanya. Dia sudah tidak diakui oleh kedua orang tuanya dan dia juga diperlakukan buruk oleh Joshua. Lalu apa yang Savana harapkan dari hidupnya.


Joshua meragukannya menjadi Ibu yang baik, dan secara tidak langsung Josha tidak ingin mengakui anak yang dalam kandungannya, karena terlahir dari wanita yang bodoh seperti dirinya. Lalu, Savana bisa apa?


Pada akhirnya, Savana mengangkat tangannya kemudian memasukkan obat yang barusan dia pegang dengan berlinang air mata lalu dia meminum air yang ada di sebelahnya.


"Maafkan Mommy Na, bukan tidak menyayangimu, tapi cukup Mommy saja menderita di sini," ucap Savana.


Satu jam berlalu.


Savana mulai merasakan perutnya terasa di nyeri. Dia membaringkan tubuhnya seraya menatap ke depan dengan tangis yang berlinang, meresapi rasa sakit yang luar biasa. Dia tidak berniat meminta pertolongan pada siapapun. Dia juga berharap bukan hanya nyawa anaknya saja yang hilang, dia juga berharap Tuhan mencabut nyawanya,


karena walaupun dia selamat dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan ke depan. Dia benar-benar sudah kehilangan arah, dan perlahan Savana melihat ke arah bawah, di mana darah mengucur dari kedua pahanya.


Tangis Savana mulai mengencang. Dia meraung menggumamkan kata maaf sebanyak-banyaknya pada saat itu, dan ketika sudah diterpa rasa sakit yang luar biasa hebat, Savana perlahan memejamkan matanya. Wajahnya sudah memucat bahkan memutih, dan perlahan Savana kehilangan kesadarannya.


***


Keesokan harinya, Ameera terus menelepon Savana. Sedari kemarin Savana tidak bisa dihubungi, padahal kemarin Savana mengajaknya untuk menemani ke dokter kandungan, tapi saat kemarin Ameera ada kelas hingga dia tidak bisa menemani sahabatnya.


Ketika sampai berada di basement, dia kembali menelepon Savana karena dia takut Savana tidak ada di apartemen. Namun, sudah beberapa kali Ameera menelpon sahabatnya, tapi Savana tidak ada hingga Ameera memutuskan untuk turun dari mobil dan berniat menghampiri langsung Savana di apartemen pamannya.


Saat berada di unit apartemen pamannya, pintu sedikit terbuka hingga wanita itu pun langsung masuk tanpa menekan kode.


"Savana, Savana," panggil Ameera. Lampu masih menyala pertanda Savana atau Joshua ada di apartemen ini. Belum lagi terdengar suara TV membuat Ameera semakin yakin bahwa Savana ada di apartemen.


Namun, beberapa kali memanggil, Ameera tidak mendapat sambutan dari wanita itu hingga Ameera pun langsung masuk ke dalam. Saat masuk, Ameera menghentikan langkahnya ketika kakinya merasa menginjak sesuatu hingga dia pun langsung menoleh ke arah bawah.


Mata Ameera membulat saat melihat apa yang dia injak. "Darah!" pekik Ameera.


Wajah Ameera tiba-tiba memucat. Dia pun langsung menelusuri arah darah itu mengucur, dan ternyata arah darah itu mengucur dari sofa. Secepat kilat Ameera langsung berlari ke arah sofa.


“Savana!” Ameera berteriak dengan histeris saat melihat kondisi Savana, di mana darah mengalir dari paha wanita itu dan Savana tidak sadarkan diri. Jika dihitung, mungkin sudah empat belas jam Savana memakan obat itu, dan selama empat belas jam ini pula Savana tidak sadarkan diri.


"Savana," panggil Ameera dengan bibir gemetar, dia dengan cepat dia langsung menelepon sang ayah untuk memintanya datang kemari. Otak Ameera kosong. Dia tidak mampu memikirkan apapun lagi hingga dia langsung menelepon sang ayah.


Ameera langsung berlari ke arah kamar mencari keberadaan Joshua, tapi tidak ada pamannya di manapun hingga dia semakin panik. Setelah itu dia kembali ke sofa, menepuk-nepuk pipi Savana berharap Savana sadarkan diri.


"Savana," panggil Ameera dengan tangis yang berlinang ketika merasakan pipi Savana begitu dingin, dan sebelum ayahnya datang, Ameera keluar dari apartemen meminta untuk pertolongan agar Savana bisa dibawa ke rumah sakit.


***


Ameera terdiam di kursi tunggu. Wanita itu melihat ke arah telapak tangannya yang dipenuhi darah. Penyesalan menghantui wanita itu. Dia menyesal kemarin tidak menemani Savana untuk kontrol kandungan. Dia melihat ke arah ruang rawat di mana dokter masih berjuang di sana untuk menyelamatkan Savana karena keadaan Savana sudah kritis, sedangkan sang ayah sedang mengurus administrasi.


Tiba-Tiba Ameera terpikirkan sesuatu. Dia merogoh saku kemudian mengambil ponsel Savana yang tadi dia ambil. Dia pun mengutak-atiknya.


Lima belas menit kemudian, Ameera menjatuhkan ponsel di tangannya ketika melihat percakapan antara Savana dengan seseorang, di mana Savana memesan obat penggugur kandungan. Sekarang, Ameera tahu apa yang terjadi dengan Savana.


Seminggu lalu, Savana pernah mengeluh bahwa Joshua tidak berubah juga, dan Savana mengatakan pada Ameera tentang Joshua yang menuntutnya untuk menjadi wanita sempurna. Ameera mengambil kesimpulan bahwa Savana menyerah pada Joshua karena terus ditekan.


Tak lama, pintu ruang rawat Savana terbuka. Dokter keluar, sepertinya dokter sudah selesai memeriksa wanita itu hingga Ameera dengan lemas bangkit, kemudian berjalan ke arah dokter.


"Bagaimana keadaan teman saya?" tanyanya. Dia berusaha untuk menegarkan hatinya.


Dokter tampak terdiam. Wajahnya sendu. "Maaf kami harus menyampaikan kabar buruk ini, bahwa ...."