
“Naura!” Panggil Nael terbata-bata, tatapan kedua anak dan ayah itu saling mengunci. Naura menatap Nael tanpa gentar. Ia menatap Nael dengan tatapan yang tak bisa diartikan
Ada rasa benci, rasa rindu. Tapi rasa benci yang lebih mendominasi.
Ia tidak akan pernah lupa detik demi detik sang ayah mencampakkannya, detik demi detik rasa sakit yang ia rasakan ketika sang ayah mengabaikannya dan kembarannya. Ia tidak akan lupa, ketika ia butuh tempat untuk bersandar, tapi sang ayah tidak pernah mau menoleh padanya dan pada Laura
Naura menatap Nael tanpa berkedip, tatapannya seperti menantang sang ayah sedangkan lutut Nael melemah saat melihat reaksi putrinya, yang seperti tidak terkejut melihat wajahnya, Seolah dia adalah orang yang tak penting di mata putrinya.
Tidak pernah terbayangkan dalam otaknya, ia akan melihat Naura menatapnya dengan tatapan benci yang kentara. Padahal, dulu Naura lah yang paling bersemangat mendekatinya. Tapi dalam sekejap, Naura menjauh dan berbalik tanpa mau melihat ke arahnya lagi.
Naura sama seperti dirinya yang keras kepala yang tak pernah mau mengalah dan selalu mendendam, berbeda dengan Laura yang mengikuti sikap Gabby.
Saat Naura masih menatapnya dan tidak menjawab ucapannya, Nael maju dengan perlahan. Nafasnya tercekat, jiwanya terasa direnggut paksa dari saat melihat ekspresi Naura yang tetap dingin, ternyata ini begitu menyakitkan. Seketika ia kembali menyesali semua apa yang telah berlalu di mana ia mengabaikan putrinya dan sekarang ia mengerti betul bagaimana perasaan Naura dan Laura.
Nael menekuk kakinya, lalu menyetarakan diri dengan Naura. Hingga posisi kedua ayah dan anak itu saling berhadap-hadapan. Saat berada di depannya, Naura mundur satu langkah ia tidak ingin dekat dengan sang ayah.
“Bukankah sudah kubilang, jangan menemui kami lagi.” Tiba-tiba Naura berbicara dan ucapan itu tepat menusuk di hati Nael, apalagi ekspresi Naura benar-benar mencerminkan apa yang Naura ucapkan.
“Naura!” Nael tidak dapat menahan lagi perasaan yang bergejolak. Ia pun maju kemudian mendekap tubuh putrinya dan memeluk putrinya dengan erat. Sedangkan Naura terhenyak kaget saat sang ayah memeluknya. Namun secepat kilat, ia menormalkan ekspresinya.
tubuh Naura masih tetap terdiam, ia bahkan enggan membalas pelukan sang ayah. Hingga pada akhirnya, Nael melepaskan pelukannya kemudian ia menangkup kedua pipi putrinya.
“ Laura ini Daddy, Sayang. Maafkan Daddy, Sayang .... Maafkan Daddy ...." lagi-lagi Nael menangis sesegukan saat melihat iris mata putrinya. Naura sama sekali tak terpengaruh dengan apa yang ia ucapkan dan lakukan.
Naura menghempaskan tangan Nael yang ada di pipinya dengan kasar. “Jangan menyentuhku!” kali ini, Naura berteriak histeris kilatan benci tak bisa ia sembunyikan dari sang ayah. Setiap melihat iris mata milik ayahnya, Naura selalu teringat di masa lalu. Di mana ia selalu berharap Nael menatapnya. Tapi yang terjadi, Nael mengabaikannya. Dan Naura seakan mengembalikan apa yang telah dilakukan Nael di masa lalu
√••
“Mommy buka .... Mommy buka!” teriak Laura
Ia menggedor pintu kamar sang Ibu seperti orang yang kesetanan.
“Mommy!” Panggil Laura lagi, Gabby yang baru saja terlelap langsung terbangun saat mendengar suara putrinya dengan cepat Ia pun langsung turun dari ranjang keluar dari kamar.
Gengs aku up dua bab dulu ya karena lagi mering.
.