Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
pikiran Yang Menakutkan


Gabriel, katakan ini hanya mimpi. Katakan semuanya tidak benar, Mommy dan Daddy masih ada bersama kita!” Gaby berteriak ketika Gabriel memeluknya, ia memukul-mukul dada Gabriel karena Gabriel tak kunjung menjawab.


“Gabby!” tubuh Gabriel sudah melemas, Gaby mendorong tubuh Gabriel. Hingga pelukannya terlepas. Setelah itu, Gabby kembali berjalan keranjang, kemudian menggoyang-goyangkan tubuh kedua orang tuanya.


“Mom, bangun! jangan bercanda begini padaku! Daddy bangun, jangan bercanda seperti ini. Jika kalian tidak ada, siapa yang menemani kami. Daddy kumohon bangun. Laura dan Naura masih membutuhkanmu. Kenapa kalian pergi!” teriak Gabby, tak lama, Gisel masuk ke dalam kamar sambil berlari.


“Mommy ... Daddy!” teriak Gisel. Ia pun sama seperti Gabby dan Gabriel yang berteriak histeris saat melihat kedua orangtuanya telah terbujur kaku.


•••


Semua tamu sudah berdatangan ke rumah duka dengan memakai baju hitam. Gabriel berdiri di dekat peti kedua orang tuanya, wajah Gabriel sudah pucat dan tubuhnya sudah sangat lemas. Tapi, ia harus tetap berdiri untuk menyambut para tamu yang mengucapkan Bela sungkawa.


Sedangkan Gabby memeluk peti Stuard dan Giseel memeluk peti Simma. Wajah Gaby sudah sangat memutih, seolah darah berhenti mengaliri tubuh Gabby. Tangis tak berhenti henti-hentinya keluar dari mata Gabby dan Gisel, kehilangan kedua orang tua secara bersamaan benar-benar menyakitkan.


“Dadi, Kenapa kau tinggalkan aku. Kenapa kau tinggalkan kami. Bagaimana dengan Laura dan Naura, mereka hanya memilikimu, Kenapa kau tinggalkan kami semua, Kenapa kau dan Mommy harus meninggalkan kami.” Gaby berbicara seraya mengusap bingkai foto Stuard. Setelah itu dia melihat kearah sang adik yang sedang memeluk peti sang ibu.


Dengan pelan, Gabby bangkit dari duduknya. kemudian ia menghampiri sang adik. “Gisel” Gaby ia mendudukkan diri di sebelah Gisel. Dan Giseel berhambur memeluk Gabby. Ada penyesalan tersendiri di diri Gisel.


“Gisel kita pasti kuat, kita pasti bisa melewati ini”ucap Geby saat bisa Gisele menangis di pelukannya.


Laura dan Naura berdiri di depan peti mata kakek dan neneknya. Mata kedua gadis kecil itu sudah memerah, mereka bergandengan tangan dengan hati yang luar biasa pedih. Sedari tadi, mereka diam bersama Amelia, istri Gabriel. Amelia menemani anak-anak kecil agar tidak melihat hal yang menyakitkan. Tapi ketika Amelia menenangkan kedua putrinya. Laura dan Naura keluar dan pergi ke ke tempat dimana tersimpan peti kedua kakek dan neneknya.


Saat berdiri di depan peti mati, mata Laura dan Naura tidak berkedip sedikitpun, mereka menatap foto Stuard dan Simma yang berada di atas peti mati. “Laura, Apakah kita tidak akan bertemu kakek dan nenek lagi?” tanya Naura. bibirnya bergetar saat menyadari bahwa sang kakek dan nenek telah tiada.


Laura tidak menjawab, ia menunduk kemudian ia menangis sesegukan. Laura adalah anak yang jarang menangis, berbeda dengan Naura. Tapi, ketika mengetahui kakeknya sudah tiada hati anak kecil itu patah berkeping-keping.


Gabby yang sedang memeluk Gisel menoleh. saat mendengar tangisan Laura. Kemudian ia melepaskan pelukannya pada Giseel. Melihat kedua putrinya, tubuh Gabby rasanya melayang, ia merasa tubuhnya semakin terasa lemas tak berdaya.


Untuk kesekian kalinya, ia melihat kehancuran di mata kedua putrinya. Hati Gabby terasa tercabik-cabik saat melihat putrinya menangis. Bagaimana jika ia kalah melawan penyakitnya, dan kedua putrinya akan sebatang kara di dunia ini.


••••


Scroll gengs