Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Alasan tidak menikah


“Jadi, kapan kita akan menikah?” tanya Nael, Gabby tampak terdiam, kemudian ia menatap wajah Nael lekat-lekat. Ia harus memastikan sesuatu. Saat ini, Nael dan Gabby sedang duduk di ranjang, dengan posisi berhadap-hadapan.


Seetelah turun dari ring tinju, Gabby mengajak Nael untuk pindah ke kamar. Di rumah itu, memang hanya ada mereka berdua, karena Gabby merasa Gabby harus berbicara dan memastikan semuanya sebelum mereka melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.


“Nael, aku harus bertanya sesuatu padamu. Aku harus memastikan Ini!” kata Gabby.


“Hmm, Kau boleh bertanya apapun padaku”


“. Yang pertama, apakah kau menikahiku hanya karena Laura dan Naura, atau kau mencintaiku,” tanya Gabby, ia menatap irish mata Nael tanpa berkedip.


Nael terdiam, kali ini, Nael menatap Gabby dengan serius. “Gabby, berhenti menanyakan itu padaku. Kini, giliran aku yang bertanya padamu. Aku sudah sering mengatakan cinta padamu dan pada anak-anak. Aku sudah membuktikannya. Tapi, aku belum sekalipun mendengarmu menyatakan perasaanmu padaku. Bukan hanya kau saja yang ingin kepastian. Aku pun ingin kepastian, walaupun aku terkadang terlihat acu. Tapi aku pun ingin mendengar perasaanmu secara langsung.”


Tiba-tiba, Gabby menunduk, matanya berkaca-kaca. Sebenarnya tanpa bertanya pun Nael, sudah tahu bagaimana perasaan Gabby, itu terlihat saat Gabby menatapnya. Bahkan, saat Gabby datang ke Rusia tanpa memberitahunya, ia sudah bisa menebak Apa yang dirasakan oleh ibu dari putrinya.


“Jadi, bagaimana perasaanmu?”


“ Aku tidak tahu,” jawab Gabby, sejujurnya ia terlalu malu untuk mengakui perasaannya.


Mengerti apa yang dirasakan oleh Gabby. Nael beringsut maju, hingga kini tubuh mereka dekat. Ia menarik dagu Gabby, memaksa Gabby melihat kearahnya. “Gabby, umur kita sudah tidak lagi muda. Kau sudah seharusnya berani untuk mengungkapkan perasaanmu. Lalu bagaimana ke depannya, jika kau tidak bisa mengungkapkan apa yang kau rasakan. Apa kau ingin tetap memendam semuanya sendiri?’"


mata Gabby berkaca-kaca saat mendengar ucapan Nael, ucapan Nael barusan menamparnya dan sedikit menurunkan gengsinya. “Gabby!” panggil Nael dengan mata berkaca-kaca


“Dou love me?” tanya Nael,


“Hmm, Aku mencintaimu, Bahkan saat kau memakai topeng dan saat kau memakai identitas lain dan berusaha mendekati aku. Aku selalu merasa bahwa itu kau dan ternyata benar saja, itu adalah kau.”


“Hmmm, sebenarnya saat kita melakukan dosa, saat aku masih bersama Arsren dan bermain-main denganmu. Sejujurnya aku sudah jatuh hati padamu. Sejujurnya aku sudah mencintaimu, kau membuatku merasakan kenyamanan yang luar biasa hebat. Bukan hanya tentang ranjang saja. Yang pasti dulu, aku terasa nyaman saat di dekatmu. Anehnya, ketika aku berpisah dengan Arsen, aku sama sekali tidak merasa sedih. Tapi ketika kita mengakhiri semua. Rasanya aku hampir mati, rasa sakitku semakin bertambah ketika kau tidak mengakui Laura dan Naura. Kau tau, aku benar-benar putus asa saat itu, apalagi dulu kau sama seperti ayahku. Ayah kandungku dia tidak mau mengakui aku dan Gabriel.”


Gabby berucap dengan nada yang super pedih, sebisa mungkin ia menahan tangisnya agar tidak pecah. Ya, karena faktanya saat dulu ia bermain-main dengan Nael, seiring berjalannya waktu, ia memang sudah jatuh hati pada Nael


Namun, saat Laura dan Naura lahir, Gabby berhasil mengikis perasaannya, karena tergantikan dengan rasa sakit yang luar biasa hebat, karena Nael tidak mau mengakui Laura dan Naura.


Tapi saat Nael berubah, saat Nael berjuang untuk mendapatkan maaf dari Laura dan Naura, perasaan Gabby pada Nael mulai tumbuh kembali.


Saat mendengar ucapan Gabby, Nael hanya bisa melongo. Ia bahkan menatap Gabby dengan terkejut. Gabby yang kesal dengan ekspresi Nael, langsung mengambil bantal kemudian memukuli tubuh Nael.


“Kau jahat, Nael. Kau mengabaikan Laura dan Naura bertahun-tahun!” teriak Gabby. Saat ini, Gabby seperti sedang meluapkan emosinya. Hingga Nael langsung tersadar, ia membiarkan Gabby memukulinya dan pada akhirnya Gabny pun lelah, hingga ia berhenti memukul Nael.


”Kau lelaki jahat. Tapi, bodohnya aku masih tetap mencintai pria jahat sepertimu.” Di akhir kalimatnya, Gabby menangis kencang, membuatnya Nael tertawa, karena melihat lucunya wajah Gabby.


”Jangan tertawa!” Sketika, Nael menutup mulutnya. Dan tak lama, Gabby terpikirkan sesuatu. menghapus air matanya.


“Tunggu, aku ingin bertanya padama. selama ini, selama kau mengabaikan Laura dan Naura, kenapa kau tidak menikah?" tanya Gabby.


Nael tanpa berpikir dan ....


Dan kata Nael awas aja kalau ga tembus komen sampe 500 komen hahahahaha.


••√√