Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Hati Yang Terbuka


“Daddy, ingin berbicara apa denganku?” tanya Laura, yang kini sudah duduk di sofa, hingga kini posisinya dan posisi Nael duduk saling berseberangan.


“Kau baru saja bertemu dengan Andre?”tanya Nael. Laura menunduk kemudian menggangguk.


“Lalu apa keputusanmu?” tanya Laura lagi. Laura tampak terdiam, kemudian ia mengangkat kepalanya.


“Daddy, bolehkah aku kembali padanya?” tanya Laura.


“Tidak boleh,” balas Nael membuat, Laura menunduk dengan nafas yang tercekat. Kenapa ayahnya begitu mudah menjawab. Bahkan menjawab dalam hitungan detik.


“Kenapa begitu, aku kan sudah dewasa. Kenapa Daddy tidak mengizinkannya?” tanya Laura, ia langsung ingin menangis ketika Nael tidak mengizinkannya kembali pada Andre, walau bagaimanapun ia tidak bisa membantah sang ayah.


“Jawabannya cukup sederhana. Daddy tidak ingin kau terluka lagi. Daddy bisa menjodohkan mu dengan dengan lelaki ....”


“Yang seperti Arthur?”!potong Laura tiba-tiba membuat Nael terdiam.


“Bukan, Daddy akan menjodohkanmu. Dengan lelaki yang jauh lebih baik daripada Andre dan tidak akan seperti Arthur.”


“Daddy, kenapa Daddy mengaturku. Aku sudah dewasa. Lalu kenapa Daddy tidak mencoba melihat dari sisiku, dari sisi Bella dan dari sisi anak yang aku kandung. Kenapa Daddy harus egois memaksakan kehendak Daddy. Memangnya Daddy yang akan menjalaninya?”


Nael terdiam, biasanya Laura akan lebih menurut padanya daripada Naura. Tapi inilah sisi lain dari Laura, ketika Laura sudah ada keinginan putrinya ini selalu bersikap dengan tegas dan mempertegas semuanya. Hingga Nael tidak bisa berkata-kata.


Nael berusaha tenang, ia berusaha untuk tidak terkecoh oleh pertanyaan putrinya. “Satu pertanyaan Daddy, Apa kau yakin ingin kembali padanya? Bagaimana jika dia tidak menyukaimu seperti dulu. Bagaimana jika, ia masih menganggapmu Naura. Apa kau sudah yakin bahwa dia benar-benar mencintaimu?” tanya Nael.


“Daddy, untuk kali ini bisakah Daddy percaya padaku?” tanya Laura. Sepertinya tak akan ada habisnya berdebat dengan sang Ayah. Ayahnya pasti akan terus meragukan Andre.


“Percayakan semua padaku, Dad. Aku juga bukan wanita bodoh yang mau terjatuh di lubang yang sama. Jika Daddy terus seperti ini, Daddy hanya akan membuatku tertekan” kata Laura lagi dan saat melihat wajah Laura Sepertinya Nael tidak boleh bersikap keras lagi pada putrinya.


“Baik, Daddy tidak akan melarang apapun yang kau lakukann. Tapi Daddy tidak mau mendengarmu terluka lagi!” Nael memberikan ultimatum pada Laura.


Laura mengangguk “Baik, Dad. Terima kasih atas kepercayaanmu!’ Laura pun bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung duduk di samping Nael. Lalu berhambur memeluk sang ayah.


“Aku percaya dia sudah berubah, Daddy. Aku bisa melihat perubahannya.”


“Daddy percaya. Tapi berikan Daddy waktu untuk menerima dia!” kata Nael. Laura pun mengangguk. ”Ya sudah, kau istirahat!” Laura pun melepaskan pelukannya dari Nael.


Dan bangkit dari duduknya. Saat akan masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba Laura terpikirkan sesuatu. Ia pun berbalik dan langsung berjalan ke arah kamar Naura.


“Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu!” omel Naura. Laura tidak menjawab, ia malah berjalan ke arah lemari saudara kembarnya. Lalu setelah pa melihat-lihat pakaian Naura.


“ Laura, apa-apaan kau!” Naura tidak terima Laura membuka lemarinya, Ia yang sedang duduk langsung bangkit dari sofa, kemudian menghampiri Laura.


“ Naura Aku meminjam pakaianmu. Aku ingin mengetes Andre besok!”


“Mengetes apa?” tanya Naura


“Aku akan menyamar sebagai kau. Jika dia tidak bisa mengenali aku, maka berarti dia masih belum melupakanmu. Tapi ketika dia mengenali aku walaupun aku berdandan sepertimu, berarti memang tidak ada sosokmu di lagi. Dan aku butuh bantuanmu.”


“Laura apa kau bocah. Kenapa kau selalu berpikir seperti itu?”


“Kau tidak akn mengerti Naura.”


” Ya sudahlah, terserah kau saja.”


“Aku juga butuh bantuanmu, kau harus berdandan sepertiku.” Pinta Laura. Naura menepuk kening, kemudian berbalik.


“Keluar sana dari kamarku!” Hardik Naura.


Dan di sinilah kedua saudara kembar itu berada, di sebuah restoran. Setelah semalam mempunyai ide, akhirnya Laura dan Naura memurutuskan untuk makan siang di restoran dekat kantor Andre.


Laura sengaja memanggil Andre, ia ingin mengetes mantan suaminya, Ia sudah berpenampilan seperti Naura dari mulai tatanan rambut, sampai memakai pakaian Naura. Begitupun Naura yang juga memakai pakaian Laura.


“Apa aku sudah terlihat mirip denganmu?” tanya Laura yang bertanya pada Naura. Naura berdecih malas, ia sungguh enggan sepertinya ini. Tapi apa boleh buat, Jika ia tidak menuruti Laura Laura akan terus mengoceh sepanjang hari


Tak lama, Andre datang, hingga Laura langsung menendang kaki Naura, karena posisi Naura membelakangi pintu. “Dia datang!” bisik Laura.


Andre berjalan masuk ke dalam restoran, matanya langsung mengedari seluruh ruangan. Dan tak lama, tatapannya berhenti di sebuah meja di mana ada Laura dan Naura di sana.


Andre pun tersenyum, lalu menghampiri keduanya. “Maaf membuat kalian menunggu lama!” Andre menarik kursi kemudian ia menduduki dirinya di sebelah Laura, membuat mata Laura membulat, ternyata Andre mengenalinya.


“Kenapa kau duduk denganku, aku Naura bukan Laura,” ucap Andre, ia menatap Laura kemudian menatap Naura. Andre bingung dengan apa yang diucapkan Laura. Hingga ia menatap Laura dengan tatapan tanda tanya.


“Aku Naura bukan Laura,” ucap Laura lagi.


“Oh ya,” jawab Andre dengan nada menggoda. Sepertinya ia mengerti dengan apa yang sedang dilakukan oleh mantan istrinya.


“Tapi di mataku kau Laura bukan Naura!”


Blush ... pipi Laura memerah saat mendengar ucapan Andre, ia memalingkan tatapannya ke arah lain karena menahan senyum, sedangkan Andre langsung mengelus perut Laura


Laura menendang kaki Naura. Dengan matanya, Laura mengisyaratkan untuk Naura agar pergi, membuat Naura menggeleng.


“Nikmatilah hari kalian!” jawab Naura dengan nada kesal. Andre menganggukan kepalanya dengan senang, membuat mata Naura membulat. Rupanya, Andre pun setuju bahwa Naura meninggalkan mereka


“Kalian sama saja,” Jawab Naura.


“Kau sudah memesan?” tanya Andre setelah Naura pergi Laura menggeleng


“Belum, aku belum memesan. Kenapa kau bisa mengenali aku..Padahal aku sudah berpura-pura menjadi Naura.”


“ Sudah kubilang, Kau adalah Laura, bukan Naura. Aku melihat kau sebagai Laura, bukan Naura. Jadi kenapa kau harus terus mengetesku?” tanya Andre tangannya masih tidak henti mengelus perut Laura, membuat Laura semakin tersipu. Namun sebisa mungkin, dia menormalkan ekspresinya


•••


“Kau ingin ikut ke kantorku? Bagaimana jika kau beristirahat di sana. ada yang harus aku diskusikan juga denganmu,” ucap Andre ketika mereka selesai dengan makan siangnya.


Laura melihat jam di pergelangan tangannya. “Sebenarnya aku sibuk. Tapi jika kau memaksa baiklah aku akan ke kantormu.”


Andre menyimpan tangannya di meja,.kemudian menyangga pipinya dengan tangannya. Lalu setelah itu melihat Laura. Lihatlah sikap gengsi Laura menjadi kesenangan tersendiri bagi Andre.


“Kenapa kamu menatap aku begitu?” tanya Laura.


“Tidak! Ayo ....” Andre pun bangkit dari duduknya, kemudian mengulurkan tangannya pada Laura. !Namun, Laura tidak menerima uluran Andre hingga Andre sendiri yang menjemput tangan mantan istrinya dan mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan.


••


Pintu ruangan Andre terbuka, Laura masuk mendahului Andre. Ia membuka blazernya kemudian menundukkan diri di sofa. Lalu setelah itu Andre yang juga ikut masuk, ia melepaskan jasnya lalu mendudukkan dirinya di sisi Laura.


“Kak ingin sesuatu? atau kau membutuhkan sesuatu?” tanya Andre, Laura tidak menjawab.


“Tidak, aku tidak membutuhkan apapun,” jawabnya. Laura melirik tangan Andre, ia ingin sekali meminta Andre untuk mengelus perutnya.


saat ini ia begitu mual, dan setiap tangan Andre menyentuh perutnya, mual itu kembali hilang. seakan tangan Andre adalah obat dari segalanya. Namun, tentu saja tidak terlalu gengsi untuk memintanya.


Andre melirik tatapan Laura, dan lagi-lagi Andre mengerti dengan apa yang dirasakan mantan istrinya. Andre sedikit menjauh, kemudian menepuk-nepuk pahanya.


“Ayo tidur di sini!” Laura mengangkat kakinya kemudian merebahkan tubuhnya di sofa dan menjadikan paha Andre sebagian bantalan.


“Andre, Bagaimana jika Daddyku tidak merestui kita?” tanya Laura. Tubuhnya sudah sangat rileks karena Andre mengelus perutnya


Andre tampak terdiam, ia memutar otak untuk menjawab pertanyaan Laura.


“Mengajakmu menikah di luar negeri mungkin,” jawab Andre


“Koneksi Daddyku begitu kuat. Bisa saja aku diungsikan dan dipisahkan darimu,” balas Laura lagi yang berusaha pasti mengetes Andre.


“Aku akan berlutut pada ayahmu atau mungkin aku akan terus mengintai ayahmu sampai ayahmu kesal dan memberikanmu kembali padaku,” Jawab aja dengan Andre panggil Laura lagi hmm jawab Andre.


“ Apa kau sudah tidak mempunyai perasaan saat kau bertemu dengan Naura?” tanya Laura.


“Tidak ada lagi perasaanku pada Naura. Aku sudah biasa saja saat melihatnya. Justru saat melihatmu dadaku berdegup kencang,” jawab Andre, nadanya serius ia menatap Laura yang juga sedang menatap ke arahnya


“Kau bohong,.kau tidak mencintaiku!”


”Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Andre lagi.


“Kau begitu mengekang Naura. Tapi kau sama sekali tidak mengekangku. Maksudnya klientku juga banyak lelaki. Tpi sepertinya, kau sama sekali tidak peduli. Kau tidak cemburu, bukankah kau tidak takut kehilanganku!” kata Laura lagi.


”Baby, kau tahu alasan Naura meninggalkanku? karena aku terlalu posesif, karena aku terlalu mengekang dan kau tahu sebenarnya aku pun ingin menyuruhmu tinggal di rumah. Tapi aku tidak mau kejadian terulang lagi. Bagaimana jika kalau kesal padaku, kau marah padaku karena aku melarangmu dan berujung kau meninggalkanku? Aku tidak mau itu terjadi, aku tidak apa-apa menahan kesal saat kau mengobrol atau bekerja sama dengan rekan bisnismu, asal kau tidak pergi, dan tetap di sampingku.”


Nyes ...


ucapan Andre bagai air yang menyiram tanaman kering. Hati Laura begitu berbunga-bunga. Laura bangkir dari berbaringnya, kemudian ia menatap Andre. Tanpa basa-basi, ia langsung menarik tangan Andre lalu mencium pipi mantan suaminya


”Kalau kau begini kan manis tidak perlu gengsi lagi,” jawab Andre. Laura mencubit pinggang Andre, membuat Andre mengadu kesakitan. Setelah itu, Laura merebahkan kepalanya di bahu Andre, lalu menggenggam tangan Andre.Untuk kali ini saja ia ingin melepaskan dirinya dan ingin menikmati waktu bersama mantan suaminya.


Andre menolehkan kepalanya ke sisi, kemudian mencium kepala Laura. Tak lama, ponsel Andre berdering, suatu panggilan masuk kedalam ponselnta. Hingga Andre merogoh sakunya.


“Siapa?” tanya Laura.


“Entahlah, aku tidak mengenal nomor ini” Laura menarik ponsel dari tangan Andre. Lalu mengangkatnya.


Saat mendengar suara siapa yang menelpon Andre. Dengan panik, Laura langsung melemparkan ponselnya pada Andre.


“Siapa?” tanya Andre.


Laura ....