
gengs maaf baru muncul, bsok up lagi kok
Joshua memeluk Savana dengan erat. Lelaki tampan itu tidak percaya hari ini akan datang, hari di mana Savana mengatakan sudah memaafkannya dan ingin memulainya dari awal.
Joshua memeluk Savana dengan sangat erat, bahkan Savana merasa tidak bisa bernapas. Namun, Savana tetap membiarkan Joshua memeluknya hingga beberapa saat berlalu, Savana bangkit dari pangkuan Joshua kemudian dia mendudukkan diri di samping wanita itu.
"Jika ada kesalahan pada diriku, tolong katakan dengan pelan. Jika kau tidak suka aku melakukan sesuatu hal, tolong juga tegur aku. Jangan berteriak, berbicaralah pelan-pelan, aku akan mengerti," ucap Savana, dia memberanikan diri mengutarakan pendapatnya.
Joshua dengan cepat menggeleng. "Tidak, aku tidak akan seperti kemarin lagi, aku akan menuruti apapun maumu. Sekarang, aku tidak akan protes apapun yang kau lakukan. Kau ingin mengkoleksi barang-barang k-pop sebanyak apapun, aku tidak akan protes. Aku akan memberikanmu uang yang banyak untuk membelikan pernak-pernik yang kau mau," jawab Joshua, dia bicara dengan semangat. Ini hal yang paling dia tunggu-tunggu, yaitu Savana datang padanya dan dia ingin membelikan apapun yang Savana mau.
Savana menangkup pipi Joshua hingga kini tatap keduanya saling mengunci dan dengan cepat Joshua langsung mencium bibir istrinya. Dia hanya mencium sekilas karena Savana menjauhkan wajahnya.
"Why?" tanya Joshua.
"Benarkah aku boleh berbelanja?" tanya Savana lagi, dengan cepat Joshua mengangguk, dia bahkan lebih antusias dari Savana.
"Ayo kita beli perlengkapan bayi kita. Aku ingin mendekornya sekarang," ajak Savana.
Joshua tidak menjawab, tapi dengan cepat dia langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah meja untuk mengambil jas. Bahkan saking semangatnya, Joshua hampir terjatuh membuat Savana tertawa.
"Tuhan, terima kasih kau lembutkan hatiku," ucap Savana. Selain berdamai dengan Joshua, dia juga berdamai dengan dirinya sendiri hingga dia bisa memaafkan Joshua dan sekarang, di sinilah mereka berada, di pusat perbelanjaan.
Sedari tadi, Joshua terus menggenggam tangan Savana dengan erat. Ketika mereka masuk, Joshua sudah menawarkan beberapa brand agar dibeli oleh Savana, tapi Savana menggeleng, dia tidak mau membeli untuk dirinya, dia hanya ingin membeli untuk anak-anaknya.
Tiga jam kemudian.
Savana sudah membeli pakaian untuk calon anak mereka, dan dari tadi pula Joshua terus meminta Savana membeli barang untuk sendiri, tapi Savana menolak, dia tidak ingin membeli apapun.
"Sayang, kamu benar tidak ingin membeli apa-apa lagi?" tanya Joshua. Dengan lemas. Dia sudah semangat karena tadi Savana mengajaknya berbelanja. Tapi, ternyata tidak mau membeli apa pun.
Savana menggeleng. "Tidak, nanti saja. Memangnya mau ke mana? Kenapa aku harus membeli sekarang?" tanya Savana, lalu setelah itu mereka pun melanjutkan langkahnya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Joshua sampai di rumah. Saat dia menoleh, ternyata Savana sedang tertidur hingga Joshua tidak membangunkan istrinya. Dia menoleh ke arah belakang di mana banyak sekali paper bag, tapi sayangnya paper itu hanya berisi perlengkapan anak mereka, Savana benar-benar tidak membeli apapun, padahal dulu dia tahu Savana dan Ameera adalah gadis yang hobi berbelanja. Mungkin, Joshua sadar bahwa istrinya masih belum berani meminta padanya, tapi Joshua sudah sangat bersyukur Savana mau memaafkan, dan mau mulai lagi dari awal saja itu sudah lebih dari cukup.
Beberapa saat kemudian.
Savana yang merasa diperhatikan, mengerjap. Dia terbangun dari tidurnya.
"Kenapa kau tidak mengatakan kita sudah sampai?" tanya Savana.
Joshua terkekeh "Ayo turun, mau aku gendong?" tanya Joshua, tapi dengan cepat Savana menggeleng.
Beberapa bulan kemudian.
Tidak terasa, detik demi detik yang menegangkan bagi Savana dan Joshua pun tiba, di mana hari ini Savana melahirkan. Sedari semalam, Savana sudah merasakan nyeri di perutnya. Wanita itu tidak banyak bergerak membuat Joshua semakin panik. Lelaki itu tidak henti-hentinya menggenggam tangan istrinya. Beberapa kali Joshua menawarkan Savana agar dioperasi karena dia tidak ingin melihat Savana kesakitan, tapi Savana menolak, dia ingin tetap lahiran normal.
Sekarang, setelah menahan sakit selama berjam-jam, Savana pun sudah mencapai bukaan lengkap. Dokterdan perawat sudah bersiap, sedangkan Joshua terus menggenggam tangan istrinya.
Selama beberapa bulan ini, Savana menjalani kehamilannya dengan enjoy, walaupun terkadang dia masih mengingat duka masa lalu, tapi perhatian, kasih sayang, dan cinta Joshua selalu menguatkannya hingga dia bisa kuat sampai sekarang dia akan melahirkan.
Pada akhirnya setelah berjuang, terdengar suara bayi membuat Joshua langsung melonggarkan pegangannya. Dia yang sedari tadi bersembunyi di leher Savana karena tidak kuat melihat istrinya kesakitan, langsung mengangkat kepalanya kemudian melihat ke arah dokter.
Tiba-Tiba, tubuh Joshua ambruk ketika dokter mengangkat anak mereka, sedangkan Savana memejamkan matanya. Rupanya, dia merasa kelelahan hingga semua yang ada di sana dilanda kepanikan, begitu pun dengan Joshua. Dia langsung bangkit dari duduknya karena perawat menghampiri Savana, berusaha membangunkan wanita itu.
***
Joshua terus berjalan ke sana kemari, rasanya dunianya menggelap. Barusan, Savana mengalami pendarahan yang hebat, dan sekarang dia sedang ditangani oleh dokter.
Sedari tadi, Joshua tidak mau diam membuat konsentrasi dokter buyar, hingga dia diusir keluar dari ruang rawat istrinya. Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang rawat Savana hingga Joshua langsung menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan istriku, Dok?" tanya Joshua dengan panik. Dia menatap dokter dengan tatapan tak percaya.
"Tolong, berikan waktu Ibu Savana untuk beristirahat. Kami akan memantau kondisinya. Semua alat vital normal, tak ada yang harus dikhawatirkan," balas dokter.
Helaan napas terlihat dari wajah Joshua. Dia pun mengangguk kemudian meminta izin pada dokter untuk melihat anaknya yang sekarang berada di ruangan bayi. Saat masuk ke dalam ruangan, bayi Joshua berdetak dua kali lebih cepat ketika melihat putrinya.
Wajah putrinya begitu putih, dan sangat mirip dengan Savana. Tiba-Tiba, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Joshua ketika menatap wajah putrinya dengan lekat, hingga tak lama Joshua terduduk di lantai kemudian bahu lelaki itu bergetar. Rupanya, Joshua tidak bisa lagi menahan tangisnya, hingga sekarang dia menangis di lantai seperti anak kecil.
Tiga jam kemudian.
Joshua berlari keluar dari ruangan bayi. Perawat mengatakan Savana sudah sadar dan meminta Joshua untuk datang. Joshua dengan napas yang terengah langsung masuk ke dalam, dan ternyata benar Savana sudah membuka mata.
"Sayang," panggil Joshua.
Plak! Tiba-Tiba, Savana menampar Joshua membuat mata Joshua membulat. Rupanya, Savana masih belum sepenuhnya sadar dan dia seperti bermimpi hingga ketika datang Joshua, dia langsung menampar suaminya.
jangan di skip ya dan tolong di beli ya 😠Aku mau jual pdf Lihat Aku Suamiku! Kalau di sebelahkan 80 ribu sampai tamat, kalau beli pdf di aku 40 ribu sampai tamat . minat lewat wa ya di 088222277840
Bab 1. Aku lelah aku ingin menyerah
"Mas, hari ini jadwal kontrol kandunganku. Bisakah mas saja yang memeriksaku," ucapku pada suamiku saat kami sedang sarapan. Ada sedikit ketakutan dan rasa malu saat aku mengungkap keinginanku pada mas Ghani yang tak lain adalah suamiku.
Bagaimana tidak, suamiku yang berkerja sebagai dokter kandungan sama sekali tak mencintaiku, bahkan mungkin tak menganggapku ada. Kami menikah karena terpaksa. Mendiang istri suamiku memaksa kami menikah sebelum kematian datang menyapanya.
Mas Gani menaruh sendok yang sedang di pegang nya. Seperti biasa, dia menatapku dengan tatapan datar.
"Pasien saya penuh. Kamu bisa periksa di rumah sakit lain," jawab suamiku acuh dan kembali menyodokan makanan kemulutnya.
Setelah mendengar jawabannya, aku menunduk tak berani lagi menatapnya. Harga diriku seolah hilang karena mendengar jawabannya. Apa aku atau calon anakku salah jika menginginkan mas Gani suamiku yang mendampingi kami? Aku lelah Ya Allah, aku ingin menyerah.
Seperti biasa, dia pun bangkit dari duduknya dan melangkah pergi untuk bekerja tanpa mengucap satu patah kata pun padaku menegaskan bahwa aku memang istri yang tak dianggap.
Setelah mas Gani pergi, tangis yang sedari tadi aku tahan akhirnya pecah. Aku pun memilih pergi kekamar tanpa menyelesaikan sarapanku.
Aku menatap din-ding tempat Foto mendiang mba Rahma masih terpajang di din-ding kamar kami, kamar yang dulu merupakan kamar suamiku dan kamar mendiang mba Rahma.
Ingatanku kembali saat aku bertemu Mendiang mba Rahma untuk pertama kalinya.
beberapa bulan lalu Aku baru saja tiba dari kampung ke kota. Niatku ke kota karena ingin menghampiri temanku yang menawarkan pekerjaan padaku.
Namun, sayang. Saat aku akan menyetop angkot, aku kecopetan. Tasku dibawa oleh copet. Aku dan beberapa orang mencoba mengejar copet tersebut. Namun sayang, copet itu hilang kami tak berhasil mengejarnya.
Aku terduduk lemas di terminal. Perutku lapar, semua uang, ponsel dan alamat temanku ada di tas yang tadi di copet.
Aku hanya bisa menangis meratapi yang terjadi. Aku bingung harus melakukan apa, ingin kembali ke kampung pun aku tak memegang uang sama sekali.
Saat aku tertunduk dan menangis. Seseorang menepuk bahuku dari belakang.
Aku pun menoleh kebelakang.
"Kau tidak apa-apa, Dik?" tanya wanita yang menepuk pundaku. Wanita itu sangat cantik. Ia tersenyum kepadaku.
"A-aku tidak apa-apa, Mba," jawabku berbohong.
"Aku Rahma." Wanita cantik itu pun tersenyum sambil mengulurkan tangannya padaku.
Aku pun bangkit dari duduk dan membalas uluran tangannya.
"Aku Mahira," jawabku.
"Kau sedang mencari pekerjaan, Mahira?" tanyanya saat kami sudah berjabat tangan.
Aku pun mengangguk ragu.
"Kau mau menjadi pengasuh anakku?" tanyanya lagi.
"Mbak, apa Mba percaya padaku. Aku kehilangan kartu identitasku. Aku tak punya jaminan apa pun untuk ku berikan ...." perkataanku terputus saat Mba Rahma mengusap lembut pundakku.
"Aku percaya padamu," jawab mba Rahma.
"Kalau begitu ayo ikut aku, kita pulang ke rumahku," ucap mba Rahma sambil menarik tanganku. Aku merasa pernah melihat Mba Rahma, Mencoba mengingat-ngingatnya, tapi, tetap saja aku tak ingat.
Setelah sampai di rumah mba Rahma. Mba Rahma memperkenalkan ku pada suaminya dan kepada putrinya yang bernama Dita.
Dita sangat cantik, umurnya baru saja menginjak 5 tahun. Tak terasa aku sudah satu tahun bekerja menjadi pengasuh Dita, semua berjalan normal pada awalnya. Aku sangat menikamati peranku sebagai pengasuh. Terlebih lagi Dita anak yang manis dan penurut. Aku pun mulai menyayanginya.
Saat aku sedang menyuapi Dita, telpon rumah berdering. Betapa terkejutnya aku saat mendapat telepon dari pihak rumah sakit yang mengatakan bahwa Mba Rahma sedang di rawat.
Semua berkumpul di rumah sakit. Aku heran, kenapa aku harus ikut ke rumah sakit sedangkan Dita dititipkan pada Art dirumah.
Saat sedang bergelut dengan pikiranku sendiri. Perawat memanggil namaku dan nama mas Gani.
"Sayang, kenapa kau tak jujur pada Mas. Kenapa kau menyembunyikan dan menanggung semua ini sendiri," ucap mas Gani sambil menggenggam tangan mba Rahma.
Mba Rahma pun ikut menangis. Mba Rahma menderita leukimia dan merahasiakannya dari semua orang.
"Mas!" panggil mba Rahma.
"Ya, Sayang."
"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu, Mas?" tanya mba Rahma penuh harap.
"Katakan, Sayang. Mas akan mengabulkan keinginanmu."
"Janji?"
Mas Gani pun tersenyum dan mengangguk.
"Aku mohon, menikahlah dengan Mahira."
Bagai tersambar petir di siang bolong. Aku sangat terkejut dengan permintaan mba Rahma. Bagaimana bisa dia memintaku menjadi madunya. Tidak, aku tidak mau. Dalam hati aku bertekad untuk menolak keinginannya.
"Sayang, apa maksudmu. Tidak! Sampai kapan pun aku tak akan menikahinya," jawab mas Gani. Tiba-tiba mas Gani menatapku sedikit sinis. Mungkin dia menyangka aku senang dengan tawaran mba Rahma.
Seminggu kamudian.
Selama seminggu. Mas Gani sama sekali tak menyapaku. Dia yang biasa bertanya tentang yang dilakukan Dita padaku mendadak membuang muka jika bertemu denganku di rumah atau saat aku menemani mba Rahma di rumah sakit.
Dan setelah seminggu berlalu, Mba Rahma kembali memanggil kami. Aku sudah akan menyiapkan jawaban untuk mba Rahma yang mengingingkan aku menikah dengan mas Gani. Tentu saja aku akan menjawab, Tidak! Aku tidak mau menikah dengan mas Gani.
Namun, betap terkejutnya aku saat melihat kondisi mba Rahma yang ....