Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Bersemu merah


“Apa Daddy masih harus terus bernyanyi lagi?” tanya Nael, ini sudah setengah jam berlalu sedari tadi masuk ke dalam kamar dan membantu Laura dan Naura bersiap untuk tidur. Laura meminta Nael ntuk menyanyikan lagu pengantar tidur yang biasa mereka dengar dari ponsel.


Tentu saja Nael dengan senang hati mengikuti kemauan putrinya. Namun sudah setengah jam berlalu, Laura dan Naura masih tidak tertidur. Dan kerongkongan Nael sudah kering tapi putrinya masih belum tertidur.


Laura yang sedang berbaring di sisi Nael menoleh. “Jadi, Daddy tidak mau?” tanya Laura, wajahnya tampak cemberut


“Ya sudah, jika Daddy tidak mau. Ayo Laura, kita tidur bersama Mommy saja.” kali ini Naura yang menimpa ucapan Laura, membuat Nael membulatkan matanya. “Tidak ... Tidak, bukan begitu maksud Daddy. Daddy akan menyanyi untuk kalian. Tapi berjanji, kalian harus tidur,” ucap Nael


“Tidak mau, kami tidak mau berjanji. Jika Daddy tidak mau yasudah.” Naura tampak cemberut membuat Nael menghela nafas, dibanding takut Laura marah, ia lebih takut jika Naura yang marah, karena ia menyadari betul sikap Naura lebih keras kepala hingga sulit digapai berbeda dengan Laura.


Nael mengangkat tubuh Naura hingga berbaring di dadanya, sedangkan tubuh Laura hingga Laura bersender pada tubuhnya dan setelah itu, ia menepuk punggung kedua Putri kembarnya secara bersamaan. Lalu menyanyikan lagu untuk kedua putrinya.


Beberapa kali ia berhenti menyanyi. Namun, ia langsung mendapat protes dari Naura yang langsung bangkit dari berbaringnya karena menganggap Nael tidak mau menyanyi lagi dan setiap Naura bangkit, Nail selalu menarik lagi tubuh Naura untuk berbaring dan ia kembali melanjutkan nyanyiannya. Hingga satu jam berlalu, akhirnya terdengar suara nafas Naura dan Laura sudah melembut. Hiingga Nael sedikit menolehkan kepalanya pada kedua putrinya dan ternyata benar saja Laura dan Naura sudah tertidur.


Nael menidurkan Naura di ranjang begitupun Laura. Hingga kini , kedua anak kembarnya berbaring bersebelahan. Nael mengepalkan tangannya ke udara, kala berhasil menidurkan kedua putrinya, dia bersidang girang. Sekarang giliran ia yang menggoda Ibu dari kedua putrinya.


Perlahan Nael turun dari ranjang, kemudian ia keluar, berencana untuk pergi ke kamar Gabby


“Kau mengagetkanku saja!” pekik Nael ketika ia keluar dari kamar dan ternyata, ada Gabby di depannya.


“Hmm, mereka sudah tidur. Ayo giliran kita yang tidur!” kata Nael. Ia menarik tangan Gabby namun Gabby kembali menarik tangannya kembali.


“Kita? kau pulang saja ke apartemenmu. Kenapa aku harus tidur denganmu,” ucap Gabby. Namun wajahnya terlihat berseri-seri.


Nael mengangguk-anggukan kepalanya kemudian ia lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Gabby. Lalu ia menarik pinnggang Gaby hingga kini tubuh mereka berdekatan. “Tapi, dari wajahmu, sepertinya berkata menyetuju ucapanku.” ucap Nael membuat pipi Gabby bersemu merah.


“Nael, kau kurang ajar sekali! lepas,” ucap Gabby. Ia berusaha menjauhkan tubuhnya dari tubuh Nael. “Tapi sepertinya tubuhmu tidak ingin jauh dari tubuhku,” jawab Nael lagi yang sengaja menggoda Gabby.


Sepertinya menikmati secangkir terlalu buruk untuk malam ini.” Tiba-tiba Nael melepaskan tangannya dari pinggang Gabby. Hingga Gabby refleks menarik kembali tangan Nael.


“Kau pasti ingin dipeluk oleh ku lagi kan?” goda Nael, seketika Gabby mendorong tubuh Nael hingga tubuh Nael menjauh.


Gabby menjulurkan bibirnya pada Nael kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Nael. Membuat Nael tertawa


.


Gengs maafin ya baru update, badanku remuk banget. jadi dua bab dulu ya. gas komen gengs