
Aku up dua bab ya.
Laura menutup panggilannya, kemudian ia berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang basah, karena dia bermain air.
Setelah mengganti pakaiannya, Laura membaringkan tubuhnya di ranjang, ia menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut, ia merasa tubuhnya mulai tidak enak. Mungkin ia mengalami demam, karena ia berada di pantai selama berjam-jam.
Di tengah demamnya, Laura kembali melihat ponselnya, ia melihat foto-foto kebersamaan dengan Andre, hingga tidak terasa bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya
. Jika ia demam biasanya Andre yang paling panik, Andre tidak akan pergi dari sisinya, Andre akan terus mendekap erat tubuhnya. Tapi sekarang, sudah berbeda. Bahkan untuk membayangkan itu Laura sudah tidak berani
Pada akhirnya, Laura pun memejamkan matanya ia tertidur dengan membawa perasaan yang tidak tenang.
Andre melihat ke langit-langit, ia memegang dadanya yang terasa nyeri, kala Laura tidak menanyakan kondisinya, dan hanya menanyakan keadaan anak-anaknya. “Sayang, sebegitu menyakitkah tingkahku.” Andre membatin menyesali semuanya.
Pagi berganti malam, Andre terbangun dari tidurnya kemudian ia langsung pergi ke kamar mandi. Lalu setelah itu, ia keluar dari kamar. Saat keluar dari kamar, ia melihat kedua anaknya sedang menunggu di tangga.
“Kenapa kalian menunggu di tangga?" tanya Andre.
” Daddy, Apa Mommy tidak bisa dihubungi?” tanya Bella.
“Mungkin Mommy masih tidur. Kenapa kalian di sini, apa kalian belum sarapan?” tanya Andre lagi.
Sean dan Bella menggeleng. “Kami tidak ingin masakan koki. Kami ingin masakan Mommy.” Tiba-tiba Andre terdiam lagi, ucapan kedua anaknya menamparnya. Istrinya sudah mengurus keluarga dengan baik. Padahal istrinya adalah wanita karir, tapi tidak pernah mengandalkan apapun untuk mengurus keluarga. Tapi dia malah mematahkan semuanya.
“Bagaimana jika Daddy memasak untuk kalian?”
”Memangnya Daddy bisa?” jawab Sean.
“Sedikit .... Kita memasak yang sederhana saja," ucap Andre..
“Ayo kita ke dapur!” Andre menarik lembut tangan kedua putra-putrinya, kemudian masuk ke dapur.
Saat masuk ke dapur, Andre mulai kebingungan ia bingung harus memasak apa. Lagi-lagi Andre termenung saat mengingat betapa istimewanya Laura, bisa menghandle semuanya dalam satu waktu.
“Ayo Daddy, kami lapar,” ucap Bella, menyerahkan Anda dan lamunannya.
“Kita makan masakan koki saja dulu. Nanti siang Daddy akan mengajak kalian makan es krim? Bagaimana?” tawar Andre.
“Baiklah tapi berikan kami es krim yang banyak,” jawab Sean.
Gengs aku punya cerita baru di si hijau ((K.-B*mmmm) Aku akan sangat berterimakasih sekali jika kalian mau mampir. info 088222277840
Judul Cinta Sang Abdi negara
Bab 1
Devano terus berjalan ke sana kemari, ia terus menelepon adiknya, berharap adiknya mengangkat panggilannya. Namun sayang, Aryan sama sekali tidak mengangkat panggilan darinya.
Ia melihat ke sekitarnya, semua orang tampak panik membuat Devano semakin geram dengan tingkah adiknya yang kabur ketika ijab kabul akan dimulai. Ya, hari ini Aryan yang tak lain adalah adik devano, berencana melakukan ijab kabul bersama kekasihnya, Meilani.
Namun siapa sangka, detik demi detik ijab kabul akan dimulai, Aryan kabur meninggalkan semua yang telah direncanakan, dan tidak ada yang tau alasan Aryan pergi di hari pernikahannya.
Dan sekarang, kedua belah pihak keluarga dilanda kepanikan, apalagi tamu sudah berkumpul.
”Bagaimana, apa adikmu bisa dihubungi?” tanya Gemma sang ayah. Devano menggeleng.
“Belum, Dad. Dia belum bisa dihubungi!” kata Devano, membuat Gemma mengusap wajah kasar, ia langsung melihat ke arah Khalisia yang tampak terdiam, sepertinya istrinya begitu shock, mengetahui bahwa putra mereka kabur.
Sekarang, nama baik kedua keluarga dipertaruhkan. Acara akan berlangsung, dan tidak mungkin dibatalkan begitu saja, saat semua orang sudah berkumpul. Gemma mencoba memutar otak, ia melihat ke arah Meilani, calon menantunya yang sedang duduk lesu didampingi ibunya.
“Mey!” panggil Gemma.
“Om gema!” Hanya itu yang bisa Melani katakan, ia terlalu lemas untuk menjawab.
“Om, tolong bahwa Aryan!” jawab Meylani dengan suara yang bahkan hampir tidak terdengar, jelas-jelas dia sedang putus asa.
Gemma memutar otak, bagaimana semuanya selesai, hingga tatapannya teralih pada Devano, Ia pun langsung menghampiri Devano dan menepuk pundak putranya.
“Devano, ayo ikuti Daddy!” kata Gemma, ia pun. keluar dari ruangan disusul Devano yang juga ikut di belakangnya
“Apa maksud Daddy?” Devano hampir saja berteriak saat mendengar ucapan Gemma yang menyuruhnya untuk menggantikan Aryan menikahi Meilani.
“Kita tidak bisa berbuat banyak Devano, semua dipertaruhkan. Jika kau ....”
“Tapi kenapa Daddy tidak memikirkanku juga?” tanya Devano, ia menatap sang ayah dengan tatapan tak percaya. Bagaimana ayahnya bisa mengusulkan hal yang sangat gila.
Gemma menepuk bahu Devano. “Daddy mengerti. Ini pilihan yang sulit, tapi apakah kau tega nama keluarga besar kita dipertaruhkan dan digosipkan oleh semua orang!” kata Gemma.
“Ingat Devano, ini bukan soal keluarga kita. Tapi juga soal keluar mempelai wanita.”
“Tapi bagaimana dengan Nakesya, Bagaimana dengan hubunganku dengan keluarga Nakesya?” balas Devano. Gemma tampak berpikir, lalu menghembuskan nafas, kemudian menepuk pundak Devano.
“Daddy mengerti, ya sudah. Kita umumkan saja pembatalan pernikahan ini!” Gemma memutuskan untuk tidak meminta Devano lagi lalu ia pun berbalik, meninggalkan Devano.
Ia tidak tega melihat sang ayah seperti ini, terlebih lagi melihat wajah ibunya yang tampak tertekan. “Aryan!” geram Devano, ia menonjok tembok, karena marah dengan kelakuan adiknya.
Jika ia tidak mengikuti ucapan ayahnya, ayah dan ibunya pasti akan tertekan, karena gosip di luar sana dan nama baik keluarga akan tercoreng karena adiknya tidak bertanggung jawab. Tapi jika ia mengikuti saran Gemma. Lalu bagaimana dengannya, dengan Nakesya yang merupakan kekasihnya, wanita yang sudah menemaninya selama 3 tahun ini.
Gemma masuk ke dalam ruangan, tatapannya langsung bersibobrok dengan Khalisia sang istri yang menatapnya dengan tatapan kosong seolah memikul beban yang sangat berat. Lalu, ia melihat ke sekelilingnya. Semua orang sama-sama bingung, dan ia sebagai ayah dari Aryan harus bertanggung jawab atas kekacauan.
Ia pikir, Devano mau menggantikan posisi Arya. Tapi ternyata tidak, dan sekarang Gemma harus memutar otak. Bagaimana caranya minta maaf pada semua tamu, terutama pada keluarga mempelai wanita.
Bab 2
Meylani menggenggam tangan Veronica begitu erat, Ia yang sudah memakai kebaya hanya bisa menyembunyikan wajahnya di bahu sang Ibu. karena tangisnya sudah berlinang, ia dilanda panik, dilanda ketakutan. Terlebih lagi jika pernikahannya batal, ia akan menjadi gunjingan semua teman-temannya
“Mey!” panggil Gemma, Veronica mengusap lembut bahu putrinya. Menyadarkan Meylani dari lamunannya, kemudian Meylani pun menegakkan kepalanya, lalu menatap Gemma.
“ Om tolong cari Aryan!”!kata Meylani dengan putus asa, ia terus mengulangi ucapannya. Nadanya benar-benar terdengar sangat rapuh.
“Biar aku yang menggantikan Aryan ... ” Tiba-tiba terdengar suara Devano dari arah belakang, ia menyusul sang ayah untuk masuk kembali. Lalu langsung berkata demikian, membuat semua orang menoleh termasuk Nakesya, kekasih Devano yang sedari tadi mendampingi Devano.
Nakesya langsung menatap Devano dengan tatapan tak percaya. Ia pun langsung bangkit dari duduknya. “Devano apa-apaan ini, kau tidak serius kan?” tanya Nakesya.
“Maaf semua, beri aku waktu 5 menit untuk berbicara dengan Nakesya.” Devano pamit pada saat semua orang, ia pun langsung menarik tangan Nakesya keluar.
“Kenapa kau melakukan ini, Bagaimana denganku jika kau menikahi dia,” ucap Nakesya. Devano memegang bahu Nakesya, kemudian menatap iris mata kekasihnya.
Sungguh, untuk pertama kalinya dalam hidup, Devano ingin sekali menangis saat melihat wajah Nakesya yang tampak terluka dengan keputusannya. “Nakesya, aku adalah putra pertama dari keluargaku. Aku tidak mungkin membiarkan keluargaku terkena aib, aku tahu pilihan ini berat untukmu, atau untukku. Tapi sebagai seorang lelaki, sebagai anak pertama, apalagi aku seorang tentara. Aku harus bertanggung jawab dengan keluargaku, dan ini keputusan yang aku ambil.” Devano menghentikan sejenak ucapannya, kemudian berusaha mengatur nafasnya.
“Nakesya maaf, hubungan kita harus berhenti sampai di sini. Aku akan datang ke rumahmu untuk meminta maaf dan meluruskan semua.”
Tangis Nakesya luruh saat mendengar ucapan Devano, ia bahkan tidak mampu menatap wajah Devano. Tadi pagi, semuanya baik-baik saja. Tadi pagi Devano masih menjemputnya untuk pergi ke pernikahan Aryan dan Meylani. Tapi sekarang ... ia diputuskan begitu saja. Tunggu, Bukankah ini terlalu kejam untuknya
“Devano, Kenapa Kau jahat sekali!” kata Nakesya, Devano tidak menjawab, ia membawa Nakesya ke dalam pelukannya.
“Nakesya, aku tahu ini berat. Seandainya aku bisa menjalani hubungan lagi denganmu setelah aku menikah, pasti aku akan lakukan itu. Tapi tidak, aku tidak bisa. Aku harus bertanggung jawab dengan keputusanku, aku harus setia pada istrinku. Aku mencintaimu dan aku akan mendoakan semoga kau mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku!” kata Devano, ia melepaskan pelukannya, kemudian menagkup pipi Nakesya.
“Pulanglah, Nakesya. Aku tidak ingin kau terluka karena menyaksikan aku menikah dengan wanita lain!” titah Devano yang menyuruh Nakesya untuk pergi. Setelah mengatakan itu, Devano mencium kening Nakeysa. Kemudian dia berbalik.
Tepat saat ia berbalik, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Devano. Rasanya, ia tidak sanggup untuk melangkah, ia sungguh tak sanggup meninggalkan Nakesya.
Namun sebagai seorang lelaki, ia harus bertanggung jawab dengan keputusannya. Saat berada di depan ruangan, Devano menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia langsung masuk ke dalam dan semua orang menatap Devano.
” Bagaimana apa kau siap?” tanya Gemma, Devano melihat ke arah Meilani yang sedang tertunduk lesu, ada rasa iba yang menyergap dalam diri Devano saat melihat calon adik iparnya, yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Gemma memberikan jasnya pada Devano karena Devano hanya memakai baju batik, kemudian Gemma langsung menghampiri Alfian.
“Gue minta maaf atas semuanya, Alfian,” kata Gemma, ia memang sudah berteman lama dengan Alfia, ayah tiri Meylani. Ia pasrah, karena ia marah pun rasanya percuma.
Setelah semuanya siap, dengan helaan nafas yang panjang, Devano mengelurkan tangannya pada Meilani, hingga Meylani mengangkat kepalanya. Sejenak ia merasa ragu dengan lelaki yang ada di depannya ini.
Dulu, sebelum sebelum ia bertemu Aryan, dia sudah terlebih dahulu bertemu dengan Devano, karena saat itu dia pernah menabrak mobil Devano, dan terlibat perdebatan dengan lelaki yang sebentar lagi akan menjadi calon suaminya.
Dan ternyata, Ayah devano yang tak lain Gemma berteman dengan ayah tirinya, dan Ia tidak menyangka takdir begitu rumit. Ia berpacaran dengan Aryan. Tapi ia harus menikah dengan Devano.
“Ayo, kita sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi.” ucap Devano dengan suara yang memberat, membuat Meylani tersadar. Dengan helaan nafas yang panjang, Meylani pun menerima uluran tangan Devano, kemudian mereka semua pun keluar.
Bab 3
Begitu berat, begitu hambar dan begitu menyakitkan. Itulah yang dirasakan Devano dan Meilani yang sedang bergandengan tangan menuju ke tempat di mana ijab kabul akan dilaksanakan.
Semua keluarga memasuki tempat acara, semua saling berbisik-bisik, mereka bingung kenapa yang menjadi pengantin malah Devano bukan Aryan, apalagi tamu undangan sangat banyak tentu saja rasa penasaran menguar di diri semuanya
Gemma berbisik pada penghulu, membuat penghulu ikut terkejut dengan apa yang terjadi, karena bukan Devano yang tertulis di catatan KUA melainkan Aryan. Dan pada akhirnya, setelah menempuh musyawarah dan perundingan, Devano dan Meylani menikah.
Hanya saja jatuhnya mereka masih menikah siri karena mereka belum mempunyai surat dari KUA, belum lagi Devano adalah seorang tentara yang tentu saja akan membutuhkan proses yang lebih berat untuk menikah, karena Devano juga harus memenuhi peraturan di dunia militer tentang pernikahan.
Semua orang yang tadinya bingung tidak berani bertanya-tanya, walaupun mereka bingung. Tapi mereka tetap melihat ijab kabul yang Meilani dan Devano lakukan. Dan dengan satu kali tarikan nafas, akhirnya Devano dan Meilani resmi menikah.
Tepat ketika mereka resmi menikah, Meylani terkulai tidak sadarkan diri. Hingga semuanya ikut terkejut. Dan pada akhirnya, para tamu dipersilakan untuk menikmati hidangan tanpa menyapa pengantin hingga acara itu bubar.
•••
Devano menatap wajah Melani lekat-lekat, sedari tadi Ia terus memberikan minyak angin di dekat hidung Meilani, agar Meylani sadarkan diri. Namun sayang, wanita yang kini menjadi istrinya masih belum membuka matanya, mungkin Melani terlalu terkejut dengan apa yang terjadi.
Bagaimana tidak, pernikahan yang sudah ia impikan bersama Arian harus hilang dalam sekejap. Bagaimana mungkin dia bisa menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai. Padahal kemarin Aryan masih bersikap baik, Aryan masih menemaninya, mempersiapkan apa yang kurang di dalam pernikahan mereka.
Lalu bagaimana mungkin Aryan pergi begitu saja disaat tidak ada masalah sama sekali di antara mereka. Bukan hanya itu saja, ia juga harus mempersiapkan jawaban jika teman-temannya di kampus mempertanyakan semuanya.
Devano menatap wajah Meilani lekat-lekat, ia memegang dadanya yang terasa nyeri. Harusnya Nakesya yang berada di sampingnya. Tapi sekarang, ia malah menikahi wanita lain. Lalu, Bagaimana jika besok dia bertugas bertemu dengan Nakesya.
Sayangnya Devano tidak bisa menghindar karena Nakesya bertugas di klinik kemiliteran tempat Devano bertugas, otomatis mereka akan sering bertemu, lalu bagaimana mungkin Devano akan melupakan Nakesya.
Lamunan Devano buyar kalau melihat Meylanii mengejap, dan membuka matanya. Hingga Devano menghela nafas lega.
“Akhirnya kamu sadar,” ucap Devano, Melani hanya menoleh sekilas, kemudian memejamkan matanya lagi karena tubuhnya begitu lemas
“Tolong tinggalkan aku sendiri, Kak!” pinta Meilani, walaupun ia baru sadarkan diri. Tapi rasa sesak langsung menghantamnya. Rasanya, ia tidak sanggup lagi untuk menahan tangis. Namun dia juga enggan menangis di hadapan Devano. Devano mengangguk, kemudian ia turun dari ranjang, lalu keluar.
“Bagaimana keadaan Meilani?” tanya Gemma yang berdiri di depan pintu.
“Meylani sudah sadarkan diri Dad,” balas Devano.
“ Ayo temui Om Bara dan Om Alfian, mereka ingin berbicara denganmu,” Devano mengangguk.
Devano masuk ke ruang kerja sang ayah,di mana ada Bara dan Alfian di sana. Bara adalah ayah kandung Meilani, dan Alfian ayah tiri Meilani. Keduanya ingin berbicara dengan Devano, mereka ingin membicarakan langkah apa yang akan Devano ambil
“Om!” panggil Devano.
“Ayo duduk Devano, kita berbicara,” ucap Alfian Devano menggangguk, kemudian ia mendudukan dirinya di sebrang Devano dan Bara.
“Sekarang langkah apa yang akan kamu ambil, Devano. Apa kamu mau menceraikan Meilani setelah ini?” tanya Bara
Devano menghela nafas sebanyak-banyaknya, ia sudah menduga pertanyaan ini akan keluar dari mertuanya, ia menatap Bara dan Alfian secara bergantian.
“Om saya adalah seorang anak tertua di sini. Saya juga seorang Abdi negara, pantang untuk saya mengingkari janji saya. Walaupun memang pernikahan ini terpaksa. Tapi saya tidak akan pernah menceraikan Meylani. Saya sudah berjanji di hadapan Tuhan dan tidak akan pernah meninggalkan istri saya." Devano menghentikan sejenak ucapannya kemudian menghirup nafas sebanyak-banyaknya.
“Ya, ini berat untuk saya dan Meylani. Tapi saya tidak akan melepaskan Melani, dan akan berusaha untuk membina rumah tangga bersama putri Om.” Devano berucap dengan tegas dan lugas, tidak ada sedikitpun ragu di dalam ucapan Devano.
“Tapi om, saya ingin menyampaikan sesuatu. Mungkin. Setelah ini, kami akan tinggal di rumah dinas yang sederhana. Saya minta maaf, saya tidak bisa memberikan hidup yang mewah untuk melayani sama seperti hidup Meylani sekarang. Karena kami tidak boleh terlalu mencolok, saya akan mendidik Meilani menjadi ibu Persit. Jadi mohon pengertiannya. Jika suatu saat Melani mengeluh atas sikap saya.” Lagi-lagi, Devano menjeda sejenak ucapannya.
“Om mungkin saya bisa membuat Melani hidup terus seperti sekarang, dipenuhi kemewahan
.Tapi saya ingin Melani dengan penuh kesederhanaan, apalagi Meylani harus memenuhi aturan sebagai ibu Persit!”! kata Devano.
Lagi-lagi Bara dan Alfian mengangguk. “Kami serahkan Meylani pada kamu. Tapi jika suatu saat kalian tidak bisa bertahan, atau kalian punya kesulitan. Hingga kau menyerah menghadapi Melani. Pulangkan dia baik-baik pada kami,kami sama sekali tidak akan menyalahkan kamu.” Bara menutup ucapannya dengan senyuman.