
“Tidak ada yang terjadi padaku!” wajah Arsen mulai gugup saat Gisel bertanya padanya. Gisel menghapus air matanya, kemudian ia mendekat ke arah Arsen.
“Lalu kenapa kau mengawasiku, kau tidak bisa berbohong Arsen, buktinya semua foto-fotoku baru-baru ini ada di laptopmu!” Gisel menyudutkan Arsen, membuat Arsen memejamkan matanya dengan helaan nafas yang panjang.
“Aku mempunyai hutang Budi pada ayahmu dan menjagamu untuk tetap baik-baik saja adalah caraku membalas Budi!” balas Arsen, seketika Gisel tertawa.
“Membalas Budi katamu?" tanya Gisel, ia malah menantang Arsen lagi.
“Aku hanya ingin memastikan keadaanmu baik-baik saja,” jawab arsen.
“Pembohong, kau berbohong, Arsen. Apa kau mencintaiku?” tanya Gisel, entah kenapa ia melontarkan pertanyaan itu pada Arsen
.
“Tidak, aku tidak mencintaimu. Mana mungkin aku mencintai mantan adik iparku sendiri," awab Arsen.
“Apa kau rela aku menikah dengan lelaki lain?" tanya Gisel, berusaha memancing Arsen.
“Itu urusanmu, bukan urusanku. Lalu, kenapa kau harus bertanya padaku?”
Arsen menahan degupan jantung yang sangat kencang. Seadainya ia bisa, mungkin ia akan berteriak bahwa ia pun mencintai Gisel. Tapi sayangnya, ia tidak bisa
“Keluar dari sini, kau bisa menunggu di lobby apartemen. Aku akan meminta anak buahku untuk mengantarkanmu pulang!” Walaupun masih hujan deras, tapi Arsen menyuruh Gisel untuk pergi, karena ia tidak sanggup melihat Gisel yang seperti ini, begitupun Ia juga tidak bisa melakukan lebih.
Gisel benar-benar kelemahannya, hampir saja ia Luluh dan hampir saja menerjang tubuh Giseel, Tapi jika ia melakukan itu, ia akan semakin sulit untuk melepaskan Gisel.
Arsen mendudukkan dirinya di sofa, kemudian ia merenung dengan waktu yang cukup lama, berusaha menyelami hatinya. Ia teringat saat Gisel menangis dan mempertanyakan perasaannya.
Setengah jam berlalu, tiba-tiba terdengar suara petir. Ia juga lupa untuk menelepon anak buahnya, karena ia begitu kalut dan ada kemungkinan Gisel masih menunggu di luar. Secepat kilat, Arsen pun bangkit dari duduknya. kemudian ia langsung berjalan ke arah pintu untuk menyusul Gisel.
Tepat saat ia keluar dari pintu, ia menghentikan langkahnya kala ternyata Gisel masih berada di depan pintu. Rupanya setelah keluar dari apartemen Arsen setengah jam lalu, Gisel tidak beranjak sedikitpun, ia menatap pintu apartemen Arsen dengan hati yang hancur.
Ia tetap terdiam di depan pintu apartemen Arsen, rasanya menyakitkan mendengar jawaban Arsen tentang perasaannya dan yang paling lebih menyakitkan adalah penyakit yang diderita Arsen dan Arsen berniat menandatangani kematiannya sendiri.
Tubuh Arsen diam mematung saat melihat Gisel di depannya dengan berderai air mata. Dan kini, pertahanannya runtuh, saat melihat Gisel masih tetap diam di tempat saat ia mengusirnya.
Hingga, pada akhirnya Arsen menyerah ia pun maju dan sedetik kemudian ia menubruk tubuh Gisel dan memeluk mantan adik iparnya. Setidaknya ini pelukan terakhir yang bisa ia berikan pada Giseel.
Tangis kedua orang yang putus asa itu luruh, percuma ia terus menghindar, Gisel sudah mengetah semuanya. Tapi, walau begitu keputusannya sudah bulat,.ia tidak akan pernah membawa Gisel lagi dalam hidupnya, karena Gisel berhak bersama laki-laki lain bukan bersamanya.
Gisel memeluk Arsen begitu erat, rasa sakit rasa takut dan rasa pedih menjalar dalam diri keduanya. Arsen menanggung rasa sakit karena harus melepaskan Gisel, sedangkan Gisel menanggung rasa sakit karena takut kehilangan Arsen
Hingga pada akhirnya, mereka hanya bisa menangis dengan suara tangis yang begitu pilu, tak lama ... Tangan Arsen terkulai ke bawah, Arsen memejamkan matanya dan ia tak sadarkan diri membuat Gisel terperanjat kaget, seketika .....
Seketika kalian jahat banget ga pernah komen huaaaaaaa padahal dapet Komen 500 tuh penyemangat banget