
Alvaro melihat foto Naura dari dari sisi kanan sampai sisi kiri, ia menatap foto itu tanpa berkedip. Semua di ruangan itu dipenuhi oleh foto Naura yang sudah ia kumpulkan saat ia pertama kali bertemu terobsesi pada Naura.
Alvaro mengambil satu foto, kemudian membelai foto tersebut, lalu menciumnya itu adalah foto Naura ketika Naura bermain basket 4 tahun silam.
Ya, Alvaro sudah terobsesi dengan Laura semenjak 4 tahun silam, di mana saat itu Laura baru saja berpacaran dengan Nauder.
Saat itu ia pernah bertarung dengan Nauder karena memperebutkan sesuatu. Dan saat ia dan Nauder sama-sama kalah, Alvaro keluar dari markas Nauder, ia langsung berjalan ke arah mobilnya.
Di tengah luka yang menerjangnya, Alvaro berusaha menghentikan mobilnya untuk pergi ke rumah sakit. Namun, di tengah perjalanan Alvaro sudah tidak sanggup lagi mengendarai mobilnya, hingga ia meminggirkan mobilnya di sisi.
Saat itu Alvaro hampir menyerah karena ia sudah sangat lemas. Namun, tak disangka Naura yang saat itu sedang melintas menghampiri mobilnya dan mengetuk kaca jendela, karena Naura merasa saat itu ada yang aneh dengan mobil Alvaro yang berjalan dengan ugal-ugalan dan setelah mengetahui kondisi Alvaro, Naura langsung membawa Alvaro ke rumah sakit. Dan itulah pertamakalinya Alvaro bertemu Nauder.
Saat itu Alvaro benar-benar merasa bersyukur dengan kehadiran Naura karena Naura datang di saat yang tepat hingga nyawanya tertolong. Dan sejak saat itu, Alvaro mulai terobsesi dengan Naura
Saat ia sudah di tangani oleh dokter, Alvaro meminta nomor ponsel Naura dan Naura memberikannya, dan ketika keluar dari rumah sakit dan di nyatakan sembuh, Alvaro langsung mendekati wanita itu.
Tapi sayangnya Alvaro harus menelan pil pahit di mana ternyata Naura, wanita yang menolongnya kemarin yang ia anggap sebagai malaikat penyelamat sudah menjadi kekasih musuhnya sendiri, lelaki yang paling ia benci dan saat itulah obsesi pada Alvaro pada Naura semakin menjadi-jadi.
Mungkin kemarin saat Naura dan Nauder menikah, ia bisa saja langsung menculik Naura. Tapi ia tidak melakukan itu, ada rencana yang lebih besar yang Alvaro siapkan untuk musuhnya dari yakin suatu saat Naura akan datang kepadanya dengan sukarela tanpa dia harus memaksa.
Setelah puas memandang foto Nuara. Alvaro menyandarkan tubuhnya ke belakang, lalu ia menggapai ponselnya dan mengutak-atiknya lalu memanggil seseorang. “Awasi terus mereka, pantau ke manapun Mereka pergi," ucap Alvaro pada anak buahnya, ia tidak ingin Naura dan Nauder menjalankan bulan madunya dengan tenang, begitulah fikir Alvaro
Alvaro pun bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung keluar dari ruangan itu. Lalu setelah itu ia kembali naik ke atas. Setelah melewati pintu yang menghubungkan ruangan atas dan ruangan bawah tanah, Alvaro berjalan ke arah belakang mansion, ia melewati lorong yang cukup sepi. Lorong itu hanya bisa dilewati oleh Alvaro dan beberapa orang kepercayaannya.
Lorong itu menghubungkan antara mansion dan pabrik senjata yang ada di belakang mansionya Setelah sampai di depan pintu, Alvaro langsung menempelkan sidik jari lalu terbukalah pintu tersebut, lelaki itu tanpak melihat ke sekitarnya di mana beberapa orang sedang merakit senjata ia mengecek satu persatu pekerjaan mereka lalu mengambil satu pistol keluaran terbaru yang baru saja ia luncurkan.
“Tuan, apa kita harus menyimpan semuanya di gudang setelah ini selesai?” tanya salah satu karyawan Alvaro.
“Tidak perlu, simpan saja di tempat biasa Karena kita akan mengirimkannya malam ini," ucap Alvaro, setelah mengatakan itu Alvaro pun berbalik kemudian ia keluar dari pabrik tersebut. Bukannya kedalam mansion. Alvaro malah berjalan ke arah samping ia berjalan ke arah kebun binatang mini miliknya.
Di bagian barat pabrik senjata miliknya, Alvaro mempunyai koleksi hewan buas, seperti buaya harimau dan lain-lain, Alvaro memang hobi mengoleksi hewan buas. Namun tentu saja itu diawasi oleh seseorang yang dapat dipercaya dan bisa menjamin keselamatan semuanya
“ Tolong bawakan aku wine,” ucap Alvaro pada pelayan yang berjaga di sana. Alvaro melepaskan jas yang membalut tubuhnya, kemudian menyematkannya di sofa Lalu setelah itu ia mendudukkan dirinya dan tak pelayan pun datang membawakan wine pesanan Alvaro.
Alvaro mengambilnya, kemudian menyeruput wine yang ia pegang sedikit demi sedikit, matanya menatap pada harimau yang sedang ada di depannya di mana harimau itu sedang bermain air. Setiap melihat hewan-hewan peliharaannya, Alvaro merasa tenang, ia merasa damai ketika melihat peliharaanya bermain.
“Tuan Apa ada yang bisa saya bantu, atau anda membutuhkan sesuatu yang lain?” tanya pelayan yang berada di samping Alvaro.
“Ia, Tuan. Seperti yang Anda perintahkan.”
“Bagus, panggil dokter Helen periksa semua keadaan hewan-hewanku dan jangan pernah ada yang terlewatkan," ucap Alvaro lagi, pelayan itu mengangguk. Alfaro pun bangkit dari duduknya, kemudian ia menyimpan gelas yang ia pegang. Lalu setelah itu ia berjalan keluar dari area tersebut, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum ia melakukan pekerjaannya.
•••
Naura dan Nauder masih berusaha mengatur nafasnya, karena barusan mereka bercintaa dengan begitu hebat, Naura tampak lebih bersemangat dari biasanya, Naura seolah melampiaskan apa yang terjadi barusan di mana ia menemui Alvaro, ia tidak ingin mengingat lelaki itu hingga ia begitu bersemangat bersama Nauder.
Naura merebahkan kepalanya di bahu Nauder, ia masih mencoba mengatur nafasnya dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
“Kau bersemangat sekali barusan," ucap Nauder sambil terkekeh. Naura mengangguk.
“Ternyata menyenangkan bercinta di sini,” balas Naura.
“Lebih menyenangkan jika setiap hari bercinta di sini," balas Nauder membuat Naura tertawa.
“Mana bisa begitu. Aku kan punya pekerjaan dan kau juga,” jawabnya. Naura menggerakan tangannya memeluk pinggang Nauder dengan begitu erat, menahan tangisnya agar tidak luruh.
“Nauder, ampuni aku. Maafkan aku, aku tidak berniat mengkhianatimu. Tapi aku melakukan ini demi rumah tangga kita. Aku tak ingin kau tau apa yang terjadi, biar aku saja yang berkorban." Naura membatin dalam hati, ia meminta maaf pada Nauder karena harus membohongi Nauder setiap ia bertemu Alvaro.
Nauder membelai kepala Naura dengan penuh kelembutan. “Ayo kita bersihkan diri. Setelah itu kita makan dan pulang!" ajak Nauder. Namun Naura menggeleng.
“Sebentar lagi,Aku masih nyaman memelukmu," ucap Naura membuat Nauder mengerutkan keningnya.
“Sayang, kau tidak apa-apa?” tanya Nauder yang merasa aneh dengan sikap Naura. Naura menggeleng.
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin memelukmu.”
10 menit berselang, akhirnya Naura melepaskan pelukannya dari Nauder kemudian Ia meraih pakaiannya. “Aku dulu yang membersihkan diri di kamar mandi,” jawab Naura. Nauder menggangguk.
Naura pun berjalan, saat ia akan pergi ke kamar mandi tiba-tiba ada sesuatu yang menarik perhatian Naura di meja kerja suaminya. Lutut Naura melemah saat melihat itu.
“Na-Nauder, apa ini," ucap Naura dengan bibir bergetar.