
Besok up lagi ya. tapi komen yang banyak
Savana mengerutkan keningnya ketika dia ditugaskan dengan tugas yang sangat mudah, yaitu hanya menyiapkan piring.
"Sir, maaf apakah ini benar tugas saya?" tanya Savana pada koki.
"Itu tugasmu, tapi pastikan jangan ada noda sedikit pun," kata koki tersebut hingga Savana mengangguk, dan dia pun mulai bekerja.
Savana menghela napas, setidaknya dia tidak terlalu lelah mencuci piring, karena tugasnya tidak terlalu berat. Sejujurnya Savana bingung, tidak mungkin koki dan teman kerjanya masih bersikap biasa jika Joshua sudah turun tangan, karena Savana diberikan tugas yang ringan tapi sepertinya tidak, sebab semua masih bersikap sama.
Beberapa jam kemudian.
Akhirnya, tugas Savana pun selesai.
Hari ini, walaupun pekerjaannya ringan, tapi tetap saja Savana merasa lelah dan setelah selesai, seperti biasa Savana mendudukkan diri di gudang belakang. Wanita itu memanjangkan kakinya dan menyadarkan tubuhnya ke samping lalu berusaha memejamkan matanya agar tubuhnya sedikit fit, dan agar Joshua tidak bertanya. Sebab, jika dia terpergok bekerja di restoran ini oleh Joshua, tentu saja dia akan merasa malu.
Satu jam kemudian.
Savana mengerjap. Dia terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara ponselnya berbunyi. Wanita itu langsung mengangkatnya dan ternyata dari ibu mertuanya.
"Iya, Mom?" panggil Savana.
"Oh baiklah, aku akan mengatakannya nanti," kata Savana. Rupanya, Gaby meminta Savana dan Joshua datang untuk makan malam bersama besok. Joshua tidak bisa dihubungi, itu sebabnya Gaby menelepon pada menantunya.
Savana melihat jam di ponsel dan ternyata waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, sebentar lagi akan tutup. Savana langsung bangkit dari duduknya kemudian wanita itu langsung pergi ke arah loker, dia mengganti pakaiannya kemudian mengambil tas lalu keluar dari restoran.
Saat keluar dari restoran, Savana menghirup udara malam sebanyak-banyaknya. Rasa sedih langsung menggelayutinya, tapi tak lama dia menggeleng. Dia harus mulai bangkit.
Wanita itu langsung berjalan ke arah halte bus, dia berencana menaiki bus jurusan terakhir untuk pergi ke apartemen Joshua, karena kebetulan apartemen Joshua dekat halte bus.
Savana mendudukkan diri di halte kemudian wanita itu menggoyang-goyangkan kakinya karena merasakan rasa pegal. Tak lama, Savana merasakan perutnya nyeri, hingga dia memegang perutnya mengusapnya dengan lembut berharap keramnya mereda. Setelah itu, Savana pun langsung bangkit dari duduknya ketika bus mulai datang.
***
Savana terdiam di depan apartemen Joshua. Dia harus menyiapkan alasan kenapa dia pulang malam pada suaminya, walaupun dia tidak tahu Joshua akan bertanya atau tidak.
Setelah cukup lama terdiam, Savana langsung menekan kode kemudian masuk ke dalam apartemen. Apartemen tampak sepi membuat Savana menghela napas. Dia pun bergegas untuk masuk ke dalam kamar karena tidak ingin meladeni pertanyaan Joshua, dan tepat ketika Savana masuk ke dalam kamar, Joshua masuk ke dalam apartemen karena sedari tadi ternyata mengikuti Savana, dari Savana keluar dari kampus sampai Savana pulang dari restoran.
Jangan ditanyakan perasaan Joshua saat ini, yang pasti dia benar-benar merasa campur aduk. Sungguh, dia lebih memilih Savana berteriak atau memakinya daripada diam seperti ini seolah tidak ada yang terjadi.
Malam berganti pagi.
Seperti biasa, Joshua sudah selesai dengan acara memasaknya. Dia ingin membawakan bekal untuk Savana walaupun dia tidak tahu bagaimana respon istrinya. Namun, setengah jam berlalu, Savana malah belum terlihat. Apalagi, sekarang ada jadwal kuliah. Seketika Joshua dilanda kekhawatiran. Lelaki tampan itu langsung berjalan ke arah kamar.
"Savana, Savana," panggil Joshua. Dia mengetuk pintu, tapi tidak ada sahutan hingga akhirnya Joshua pun langsung maju.
"Savana!" Joshua berteriak ketika melihat Savana tergeletak di lantai.
"Savana! Savana!" panggil Joshua. Lelaki itu langsung menepuk-nepuk pipi istrinya. Wajah Savana sudah dingin membuat Joshua semakin panik. Dia pun dengan cepat langsung menelepon ambulans, meminta ambulans untuk datang.
***
Rupanya, semalam Savana baru mengingat bahwa hari kemarin adalah hari di mana dia memutuskan melakukan hal bodoh, yaitu menggugurkan anaknya sendiri dan ketika mengingat itu, Savana. langsung drop.
Dan karena dia tidak bisa tertidur, Savana meminum obat tidur dengan dosis yang banyak, hingga pada pagi hari tadi, Savana mengalami overdosis. Beruntung, wanita itu masih bisa diselamatkan.
Sekuat-kuatnya Savana saat dia berusaha untuk bangkit, tapi ketika dia mengingat semuanya, semangat itu rasanya hilang begitu saja berganti dengan kesakitan yang luar biasa.
Joshua mondar-mandir di depan ruang rawat Savana. Rasanya, dia tidak sabar untuk menunggu dokter keluar dari sana hingga sepuluh menit kemudian, dokter pun keluar dan Joshua langsung menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Joshua dengan panik.
"Sepertinya, istri Anda harus berkonsultasi dengan psikiater dan juga ...." Dokter sejenak menghentikan ucapannya.
"Dan juga apa, Dok?" tanya Joshua dengan tidak sabar.
"Dan juga, rahim istri Anda sepertinya mengalami infeksi karena obat-obat yang dimakan kemarin, Sebab obat penggugur kandungan kemarin adalah obat yang sangat keras" ucap dokter lagi
"Ta-tapi, kondisinya sudah baik-baik saja, Dok?" tanya Joshua dengan suara yang lirih. Dia memejamkan matanya, menahan rasa sesak yang luar biasa. Bagaimana jika Savana sadar, dan bagaimana dia harus menjelaskan kondisi istrinya.
"Kami berhasil menetralkan racun dalam darahnya. Jika Anda terlambat membawa istrinya ke rumah sakit, mungkin istri Anda tidak akan selamat karena overdosis. Tolong jaga emosionalnya, jangan sampai Dia meminum obat-obat keras," kata dokter hingga Joshua mengangguk. Setelah itu, Joshua pun masuk ke dalam ketika masuk ke dalam.
Joshua berjalan ke pelan ke arah brankar, kemudian dia menatap wajah Savana dengan lekat. Seketika, semua apa yang dia lihat langsung menubruk otak Joshua, di mana saat itu dia sudah melihat dari CCTV bagaimana ketika detik-detik Savana memakan obat tersebut.
***
Savana membuka mata kemudian dia melihat ke arah atas, di mana dia hanya melihat latar yang putih. Savana tersenyum, karena menyangka dia sudah berhasil menyusul anaknya.
'Akhirnya kita bertemu, Nak.' batin Savana
Tak lama, dia tersadar ketika mencium aroma obat dan sedetik kemudian Savana tahu bahwa dia ada di rumah sakit. Tak lama, tatapannya bersibobrok dengan Joshua yang sedang duduk di kursi sambil menatapnya.
Joshua sengaja tidak berbicara terlebih dahulu, karena dia tidak ingin membuat Savana terkejut.
"Pa-paman," panggil Savana, dia langsung menunduk.
Entahlah, saat melihat Joshua rasanya dia ingin menangis. Joshua maju kemudian dia menggenggam tangan Savana.
"Savana," panggil Joshua. Tangis Joshua pun juga mulai luruh, demi apa pun dia tak kuasa menahan tangis ketika menggengam tangan Savana. 7
"Aku lelah, aku malu, aku sendirian, aku tidak punya siapa-siapa, aku tidak berguna, aku ingin menyusul anakku, aku ingin pergi dengannya. Kenapa Tuhan begitu jahat? Malah mengambil nyawa anakku saja, kenapa Dia juga tidak mengambil nyawaku?" Savana mendahului Joshua untuk berbicara, karena rasanya dia sudah tidak sanggup lagi untuk menahan beban yang berkecamuk dalam dada.
Ketika Savana mengatakan itu, tangis Joshua suka pun kian luruh, penyesalan demi penyesalan menghantam lelaki itu.
"Ampuni aku, Savana. Ampuni aku," ucap Joshua, dia semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Savana.
"Kumohon, biarkan aku pergi. Aku tidak sanggup denganmu. Aku tidak sanggup hidup di dekatmu. Kau hanya akan mengingatkan aku pada lukaku. Jadi kumohon lepaskan aku." Pada akhirnya, kata-kata itu keluar dari mulut Savana, hal yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya. Padahal kemarin-kemarin dia berpikir realistis bahwa, menjadi istri Joshua dia tidak masih bisa mempunyai tempat tinggal, tapi ternyata bersama Joshua sangat sulit hingga pada akhirnya dia ingin berpisah dari lelaki yang sudah menorehkan luka padanya.
Dua tahun kemudian