Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Terjeda


yuhuuuu Gengs jangan di Bully ya. Aku kan udah up tadi 3 bab, aku mau promo bentar ya. Ini buat yang mau ikut aja, yang ga ikut skip aja. Kalau ga ada yang julid bsok aku up 4 bab ya.


Aku tau kok, kalian orangnya baik-baik


Cerita ini Judulnya Rasa Yang Terlambat tayang di su hijau yang kesusahan beli koin atau tanya2 bisa di ke 088222277840.


Judul Rasa Yang Terlambat ( Kisah anaknya Gemma Khalisia)


Bab 1 Sebuah Rasa


“Pah, mana mungkin aku mau nikahin dia, aku sama sekali enggak punya perasaan ke Affesya,” ucap Jimmy pada sang ayah


“Ayolah Jimmy, enggak ada salahnya, kalau kamu deketin dia. Ini semua demi perusahaan papah, kalau kamu berhasil nikahin Affeysa. Perusahaan kita akan semakin berkembang karena sokongan dari om Gema,” ucap Rendi, pada sang ayah.


Jimmy mengusap rambutnya dengan kasar, ia mendudukkan diri di sofa, kemudian menghela nafas lalu menghembuskannya beberapa kali. Afeesya adalah muridnya, dari gerak-gerik Afeesya, Jimmy tahu, bahwa Afeesya menyukainya.


Dan naasnya, sang ayah malah menyuruhnya untuk mendekati dan menikahi Afeesya, karena keluarga Afeesya bisa membantu perusahaan milik keluarganya.


Dan yang jadi masalah bagi Jimmy, jimmy tidak mempunyai perasaan apapun padanya Affesya, Jimmy juga masih terikat terikat dengan cinta pertamanya. Tapi sekarang, sang ayah memaksanya untuk berpura-pura mencintai Affesya dan harus menikahi Afeesya.


“Pah, enggak perlu kan Jimmi nikahin Afeesya. Papa kan tahu, Jimmy enggak pernah tertarik sama anak itu,” ujar Jimmy, kekeh menolak perintah sang ayah.


”Ayolah, Jim. Keluarga Afeesya bisa buat perusahaan kita maju,” jawab Rendi lagi, membuat Jimmy bangkit dari duduknya. Rasanya, ia terlalu lelah berdebat dengan sang ayah. Pekerjaannya menjadi dosen sudah sangat berat, dan sekarang, sang ayah malah menyuruhnya untuk menikahi Afeesya.


“Jimmy!” panggil Rendi saat ini meninggalkan ruang keluarga. Jimmy enggan menoleh pada sang ayah. Rasanya, ia benar-benar lelah


dengan tuntutan ayahnya.


•••


“Afeesya, ada apa denganmu?” tanya Khalisia pada sang putri turun dengan lemas.


“Mommy, izinkan aku untuk berlibur ke Bali. Rasanya, aku begitu suntuk dengan tugas di kampus," pinta Afeesya.


“Nononono, kau tidak boleh kemana-mana." Bukan Khalisia yang menjawab, melainkan Gemma, sang ayah. Gemma yang berjalan dari arah belakang, langsung menarik kursi dan bergabung di meja makan.


“Kau tidak boleh pergi kemana-mana, jika kau ingin berlibur, kau harus berlibur bersama Daddy dan yang lainnya," ucap Gemma lagi. Ia menarik roti, kemudian mengusapkan roti tersebut dengan selai.


“Aku kan bukan anak kecil lagi, Dad. Ayolah ijinkan aku,” jawab Afeesya.


“Dengan siapa kau akan pergi ke Bali. Tidak bersama pria, kan?” tanya Gema lagi, Afeesya adalah satu-satunya putrinya di keluarga Rahardja, kedua orang tuanya sama-sama dari kelurga konglomerat, dan Gemma begitu protektif pada sang putri.


“Aku bersama teman-teman kampusku, Dad


Tidak hanya perempuan adalah lelaki juga. Tapi kan aku bisa menjaga diri,” jawab Afeesya lagi yang tidak mau kalah dengan sang ayah.


“Ijinkan saja, Dad,” ucap Khalisia sang istri. Gemma tampak berpikir. “Devano akan ikut bersamamu,” ucap Gemma, membuat mata Afeesya membulat.


“kenapa kakak harus ikut bersamaku?” tanya Afeesya, ia tampak keberatan dengan usulan sang ayah.


“Ia tau tidak sama sekali!” Gemma berucap tegas, membuat Afeesya terdiam. Mau tak mau, ia harus mengikuti perintah sang ayah. jika tidak ia tidak akan pernah pergi berlibur bersama teman-temannya


•••


Dan sekarang, di sini lah Afeesya berada, ia sudah berada di pulau Dewata Bali, berlibur bersama teman-temannya, tentu saja ia dalam pengawasan sang kaka.


Setelah tiba di Bali, teman-temannya langsung berdiam diri di villa, sedangkan Afeesya memilih menikmati angin Sore di pesisir pantai, saat ia berjalan ia menghentikan langkahnya ketika ada yang berdehem, hingga Affesya menoleh kebelakang.


Jantung Afeesya berdetak dua kali lebih cepat ketika melihat Jimmy. Lelaki yang sudah lama ia sukai berada di depannya. Jimmy adalah dosennya di kampus, dan juga Jimmi adalah lelaki yang Afeesya sukai. Dan ia tak menyangka, sekarang, Jimmy berada di dekatnya dan menyapanya. Padahal, Jimmy adalah salah satu dosen terdingin di kampusnya.


“Ha-hai,” jawab Jimmy dengan kaku. Ia tidak pernah bersikap ramah pada siapapun. Tapi karena tuntutan sang ayah yang harus mendekati Afeesya, ia terpaksa bersikap ramah pada wanita yang berada di depannya ini.


“Kau sendiri Afeesya?” tanya Jimmy. Afeesya pun mengangguk.


“Ya, aku sendiri,” jawab Afeesya sambil menarik tengkuknya yang tidak gatal. Ia bingung harus membahas apalagi dengan Jimmy. Walaupun ia menyukai Jimmy. Tapi ia tidak seagresif itu untuk mendekati dan untuk bertanya hal yang pribadi pada dosennya.


“Kalau begitu sampai nanti kak Jimmy,” ucap Afeesya lagi. Setelah mengatakan itu, Afeesya berbalik, karena wajahnya memerah. Rasanya ia tak sanggup lagi menatap Jimmy. Apalagi ketampanan Jimmy meningkat, ketika Jimmy memakai pakaian kasual.


“Afeesya!” panggil Jimmy lagi, seketika Afeesya menoleh.


“Ya, Kak?"


“Bagaimana kalau kita berjalan-jalan bersama?’ ucap Jimmy membuat mata Afeesya membulat. Rasanya, ia begitu mimpi saat Jimmy, lelaki yang dingin dan lelaki yang ia sukai mengajaknya berjalan-jalan bersama.


Afeesya tidak menjawab. Namun, Jimmy langsung berjalan ke arah Afeesya, lalu mulai berjalan dan disusul Afeesya yang juga ikut berjalan. Hingga kini, mereka berjalan bersebelahan.


Hening.


Mereka berjalan tanpa berbicara sepatah kata pun, mereka melangkahkan kakinya dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Kau bersama teman-temanmu?” tanya Jimmy, Setelah sekian lama diam. Ia memberanikan diri untuk berbicara pada Afeesya.


Afeesya pun mengangguk. Ia terlalu grogi berjalan bersama Jimmi, hingga akhirnya ia hanya bisa menjawab dengan anggukan.


“Bagaimana jika kita menikmati secangkir kopi di cafe?” tanya, Jimmy. Ia sengaja mengajak Afeesya a untuk pergi ke cafe karena ia kehilangan bahan pembicaraan bersama Afeesya.


Lagi-lagi Afeesya tak mampu menjawab, ia hanya mampu menganggukan kepalanya, dan akhirnya, mereka pun pergi ke sebuah kace dan yang tak jauh dari pantai.


“Kakak sedang berlibur di sini?” tanya Afeesya setelah mereka duduk dan memesan makanan. Ia memberanikan diri bertanya pada Jimmy.


Jimmy mengangguk, kemudian mereka sama-sama kembali terdiam. “Apa aku boleh minta nomor ponselmu?” tanya Jimmy. membuat mata Afeesya membulat, jantungnya semakin berdebar tak karuan, saat Jimmy meminta nomor ponselnya.


Saat Afeesya tak menjawab ucapannya, Jimmy mengeluarkan ponsel dari saku, kemudian ia menyodorkannya pada Afeesya.


“Tolong, tulis nomor ponselmu di sini!” titah Jimmi, tangan Afeesya, bergetar ketika mengambil ponsel Jimmy, dan secepat kilat, ia langsung menyimpan nomer ponselnya.


Saat makanan yang mereka pesan tiba, Jimmy dan Afeeysa sama-sama kembali terdiam. Mereka mengalihkan tatapannya pada live musik yang sedang berlangsung.


Afeeysa benar-benar mati kutu, degupan jantungnya semakin kencang, sedangkan Jimmi, berusaha memutar otak, untuk bisa mendekati Afeesya lebih jauh.


Ini benar-benar menyebalkan untuknya, dia dipaksa sang ayah untuk mendekati Afeesya, sedangkan ia sendiri tidak pernah mempunyai ketertarikan sedikitpun pada Afeeysa.


Dan sekarang, ia bahkan dituntut untuk menikahi Afeesya demi perusahaan sang ayah. Lalu, bagaimana dengan dirinya, dengan cintanya dan dengan hidupnya. Ia ingin menolak. Tapi ia tak bisa, dan yang sekarang bisa ia lakukan adalah, terus berpura-pura mendekati Afeesya. Hingga Afeesya menerima pinangannya.


Bab 2 Salah Tingkah


“Kak terima kasih, sudah mentraktirku kopi di sini,” ucap Afeesya. Saat ini, mereka baru saja keluar dari kafe setelah kurang lebih 2 jam duduk di dalam.


Tak ada pembahasan yang signifikan antara mereka. Bahkan, mereka lebih banyak terdiam dan lebih kaku. Hingga pada akhirnya, setelah dua jam berlalu. Afeesya memutuskan untuk pulang karena memang rasanya dia tak nyaman.


Jimmy mengangguk “Apa Vila mu jauh dari sini?” tanya Jimmy. Afeesya menggeleng.


“Tidak, Villaku sangat dekat dari sini.kasih kalau begitu sampai jumpa,” jawab Afeesya. Tanpa mendengar lagi jawaban dari Jimmy, Afeesya berbalik, kemudian More kakinya. Namun, langkahnya kembali terhenti ketika ketika Jimmy memanggilnya.


“Ada apa kak?” tanya Afeesya.


“Berapa hari kau berada di Bali?” tanya Jimmy, membuat Afeesya mengerutkan keningnya. tak biasanya Jimi bertanya. Bahkan jimmy hampir tak pernah menegurnya di kampus.


"Aku tidak tahu, mungkin aku hanya liburan beberapa hari,” jawab Afeesya. Tiba-tiba, jantungnya berdegup kencang kala melihat Jimmy menatap intens padanya.


Sungguh tidak pernah terpikirkan hal jni sebelumnya. Ia memang menyukai Jimmy. Tapi, ia tidak terobsesi dengan dosennya. Rasa suka yang dirasakan Afeesya pada Jimmy hanya sebatas rasa suka saja, tidak melebihi apa-apa. Bahka, Afeesya sama sekali tidak berniat untuk mendekati Jimmy.


Tapi saat ini, ia malah bertemu dengan Jimmy dan ia melihat seperti melihat Jimmy yang lain. Saat ini, Jimmi begitu ramah, berbeda saat Jimmi menjadi dosen di kampusnya.


•••


“Kau kenapa?” tanya Devano, sang kakak. Ia bertanya karena Afeesya erjalan sambil tersenyum. Afeesya segera menetralkan wajahnya, kemudian ia melirik ke arah sang kakak.


“Bukan urusanmu!” ketusnya, membuat Devano berdecak kesal. Adiknya memang menyebalkan.


waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Afeesya yang baru saja ditelepon oleh sang ayah, berniat untuk tidur, karena ia begitu lelah. Namun, baru saja ia akan menutup matanya. Ponselnya kembali berdering, ada satu pesan masuk kedam ponselnya.


Dengan malas, ia engambil ponselnya, kemudian melihatnya. Matanya membulat, ketika melihat nama Jimmy di layar, ternyata Jimmy yang mengiriminya pesan.


“Tidak kau tidak boleh membalasnya dan jangan terlalu berharap banyak padanya,” gumam Afeesya. Ia mengurungkan niatnya untuk membalas pesan Jimmi dan memilih untuk mengabaikannya saja.


Entahlah, Afeesya ada yang aneh dari Jimmy. Walaupun Afeesya memang menyukai Jimmy. Tapi entah kenapa, hatinya berkata ada yang lain. Jadi, Ia memutuskan untuk tidak terlalu menghiraukan Jimmy, agar tidak terlalu terluka di kemudian hari.


1 bulan kemudian


Mobil-mobil sudah terjajar rapi di pelataran rumah milik Gema dan Khasia, semua tamu sudah berdatangan, menggunakan baju putih. Hari ini adalah hari kematian Tania dan Julian. ayah dari ibu dari Khalisia atau nenek dan kakek dari afeesya.


Julian dan Tania meninggal beberapa tahun silam, mereka meninggal hanya berbeda dua minggu. Tania, kala itu menderita penyakit komplikasi dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia, dan dua minggu kemudian, akhirnya Julian menyusul sang istri.


Gema membuka pintu kamar, kemudian ia menghampiri Khalisia yang sedang duduk di ranjang. Ia mendudukkan diri di samping istrinya, kemudian membawa Khalisia ke dalam pelukannya.


”Sudah, sayang. Tidak apa-apa. Ayo turun! semua tamu sudah datang!" ajak Gemma.


“Sebentar, Dad.” jawab Khalisia. ia menumpahkan tangisannya dipelukan suaminya. Selalu seperti ini, setiap tahun.


Ia sungguh merindukan ayah dan ibunya.


“Jangan seperti ini, Sayang. Mommy dan Daddy akan sedih jika melihatmu begini,” kata Gemma lagi sambil membelai punggung istrinya. Namun, bukannya berhenti, tangis Khalisia malah semakin menjadi-jadi.


Setelah bisa menguasai diri, akhirnya Khalisia menghapus air matanya, bangkit dari duduknya lalu turun ke bawah, di mana tamu-tamu pengajian sudah menunggu.


••••


“Gem!” panggil Rendra ayah Jimmy saat pengajian sudah selesai. Semua tamu-tamu udah pulang, hingga tinggal menyisakan beberapa kerabat saja.


Gemma yang akan mengantar Khalisia ke kamar menoleh. “Tar dulu, gue anterin bini gue dulu ke kamar,” ucap Gemma pada Rendra. Rendra pun mengangguk, kemudian ia menghampiri Jimmy yang sedang duduk sambil memegang ponselnya.


“ Jimmy! ayo ikut ayah, kita ngobrol sama Om


Gema,” ucap Rendra lagi, membuat Jimmy menghela nafas. Ia sudah tahu, apa yang akan diobrolkan oleh sang ayah.


“Lu mau ngomong apa, Ren?” tanya gema.


“Kalau soal perusahaan ntar dulu deh, gue masih harus nenangis istri gue dulu,” jawab Gemma lagi. Namun, secepat kilat, Rendra menggeleng.


“Game, gue punya ide, gimana kalau anak lu sama anak gue kita jodohin,” ucap Rendra membuat membuat gema mengerutkan keningnya.


”Jodohin?” ulang Gemma. Ia menatap Rendra dengan tatapan tak percaya.


“Gue kagak pernah kayak begituan, ntar aja lah tanya anak gue. Kalau anak gue ya gue setuju aja,” jawabnya Gemma lagi, sedangkan Jimmi hanya terdiam, ia tidak berniat menimpali ucapan ayahnya dan Gemma.


“Tapi tunggu, lu mau jodohin mau Jimmy atau mau jodohin Adam?” tanya gema lagi, karena Rendra mempunyai dua putra yaitu Jimmy dan Adam, yang hanya berbeda usia 1 tahun.


“Jimmy, Gem. Gue liat juga Afeesya suka sama Jimmy, begitupun Jimmi yang juga suka sama Afeesya. Bener kan, Jim?” tanya Rendra pada Sang putra. Jimmy yang sedang minum langsung tersedak, ketika mendengar ucapan sang ayah.


Gemma melihat ke arah Afeesya yang sedang berjalan dengan Amora, kemudian kembali menolehkan tatapannya ke arah Rendra.


“ Entar dulu lah, Ren. Gua gimana anaknya gue aja, enggak mau main jodoh-jodohan,” jawab Gemma. Ia melihat jam di pergelangan tangannya. “Gue ke kamar dulu ya. Gue mau nemenin bini gue dulu,” pamit Gemma, Rendra pun mengangguk setelah itu, Gema pun bangkit dari duduknya, kemudian ia berjalan ke arah lift untuk naik ke kamarnya.


•••


“Afeesya, bukankah itu dosenmu?” tanya Amora ketika melihat Jimmy sedang duduk dengan dengan Rendra.


“Afeesya, menoleh kemudian mengangkat bahunya acuh. “Lalu kenapa, ayahnya kan juga teman Daddyku," ucap Afeesya.


“Bukankah kau menyukainya?” tanya Amora lagi. Seketika, Afeesya membekap mulut Amora.


Dan tepat dengan itu, Jimmy menoleh ke arah Afeesya, membuat Afeesya jadi salah tingkah.


gens tinggalin komen ya. Ini ceritanya beda banget sama Khalisia


Bab 3 Menyadari ada yang Berbeda


Jimmy masuk ke dalam kamar dengan langkah yang lesu. Setelah masuk, dia langsung membanting tubuhnya di ranjang, kemudian matanya menatap kosong kearah langit-langit.


Jimmy baru saja pulang dari rumah Gema, setelah menghadiri hari kematian kakek dan nenek Afeesya. Harus Jimmy akui, batinnya begitu tersiksa dengan keadaan ini.


Tadi, sebelum pulang. Sang ayah memaksa Jimmy untuk mengajak Afeesya berjalan-jalan. Hingga terpaksa, Jimmy mengajak Afeeysa untuk berkencan besok. Padahal, hatinya begitu tersiksa ketika harus berpura-pura tersenyum pada gadis itu.


Jimmy masih mencintai mantan kekasihnya yang kini berada di Korea dan berkuliah di sana. Mereka putus karena Natasha meninggalkannya secara tiba-tiba dan tanpa alasan. Ini sudah dua tahun berlalu. Tapi rasa Jimmy untuk Natasha tidak berubah sedikitpun.


••••


“Amora!” panggil Afeeysa. Ia mendudukkan diri di samping Amora yang sedang duduk di kantin. Kemudian, ia menarik jus kakak sepupunya, lalu menyeruputnya membuat Amora berdecih. “Apa kau tidak bisa memesan. kenapa kau selalu mengambil makananku!” gerutu Amora pada Afeesya.


“Kenapa kau terlihat tak bersemangat sekali. bukankah hari ini kau akan pergi bersama dosenmu?” tanya Amora.


Afeesya terdiam, wajahnya tampak tak bersemangat. “Entahlah, aku menyesal telah menyetujuinya. Rasanya, aku ingin pulang saja,” jawab Afeesya, yang tak yakin dengan ajakan Jimmy. Ia menyukai Jimmy. Tapi, ia tak pernah berpikir untuk mempunyai hubungan yang lebih dengan Jimmy, apalagi ia tahu, Jimmy tipe seperti.


Afeesya selalu ingin mempunyai kekasih yang hangat dan selalu membuat harinya berwarna. Tapi sepertinya, Jimmy tidak seperti apa yang Afeeysa mau. Jimmy terlalu datar dan kaku itu membuat Afeeysa tidak yakin dengan Jimmy.


Belum Affesya menjawab ucapan Amora, ponsel di tasnya berdering, matanya membulat saat melihat nama Jimmy terpampang di layar. Dengan cepat, Ia pun bangkit dari duduknya


“Afeeysa, apa ada yang penting?” tanya Amora. Afeeysa mengangguk lemas.


“Kenapa kau tidak bersemangat sekali. Biasanya, orang lain akan senang ketika dekat dengan orang yang disukainya,” kata Amora lagi, ia menatap heran pada adik sepupunya.


“Aku menyukai Jimmy, bukan mencintainya,” jawab Afeesya. Setelah mengatakan itu, Afeeysa pun langsung pergi dan berjalan kearah ruangan Jimmy.


Afeeysa berjalan dengan menunduk. Hingga ia menabrak seseorang dan terjatuh. Saat terjatuh , isi tas Afeesya berhamburan keluar. Afeesya langsung mengangkat kepalanya karena orang yang menabraknya tidak minta maaf.


“Kau tidak apa-apa?” tanya lelaki yang menabraknya.


Baru saja Afeesya akan menegur lelaki itu karena tidak minta maaf. Afeesya menghentikan niatnya, ketika tau yang menabraknya adalah Adam. “Ya, aku tidak apa-apa, Kak,” jawab Afeesya, pada Adam, dosen yang sekaligus adik tiri Jimmy.


Ya, Jimmy dan Adam, sama-sama menjadi dosen, Jimmy dan Adam sama-sama bersikap dingin. Tapi, Adam lebih dari Jimmy. Ia tidak pernah tersenyum pada siapapun, wajahnya begitu kaku dan sangat sangat datar.


Kaka beradik itu sudah dijuluki oleh mahasiswa dengan julukan kulkas lima pintu. Semua mahasiswa juga sudah tahu, bahwa hubungan Adam dan Jimmy tidak terlalu baik, karena mereka satu ayah berbeda ibu. Kerena ayah Jimmy mempunyai istri muda dan Adam adalah anak dari istri muda ayah Jimmy.


Melihat Afeesya kesusahan membereskan tasnya, Adam membungkuk, kemudian ia membantu Afeesya untuk merapikan buku-bukunya


“Te-terimakasih, Kak,” ucap Afeesya terbata-bata. Setelah itu, Afeesya bangkit, disusul Adam yang juga ikut bangkit. “Kalau begitu aku permisi, Kak,” ucap Afeesya lagi. Ia pun berlalu meninggalkan Adam, sedangkan Adam kembali melanjutkan langkahnya.


Saat sudah berada di depan ruangan Jimmy, Afeesya pun mengetuk pintu dan setelah dipersilahkan masuk, ia pun masuk ke dalam ruangan Jimmy.


“Ada apakah, Kak?” tanya Afeesya saat masuk kedalam ruangan Jimmy. Afeesya mengerutkan keningnya, ketika melihat wajah Jimmy yang hangat. Kemarin-kemarin, walaupun ia mereka bertemu di Bali, wajah Jimmy masih dingin. tapi sekarang, Jimmy malah menatapnya dengan hangat. Seolah, ia sudah lama mengenal Afeesya. Padahal, mereka baru bertegur sapa beberapa hari ini.


“Duduklah!” titah Jimmy. Ia memgambil tab, kemudian bangkit dari duduknya, lalu menyusul Afeesya untuk duduk.


“Afeesya kau bisa memakai referensi ini untuk skripsimu,” ucap Jimmy, membuat mata Afeesya membulat.


“Bolehkah itu?” tanya Afeesya. Tanpa sadar, ia langsung merebutnya dari tangan Jimmy namun tak lama ia tersadar. “Maaf Kak, aku tidak sengaja,” ucap Afeesya membuat, Jimmy tersenyum. jantung Afeesya berdetak dua kali lebih cepat, ketika melihat senyuman Jimmy.


“Tidak apa-apa, silahkan Kau pelajari Setelah itu kita pergi untuk makan siang di luar.”


••••


Dua jam berselang, Afeesya merentangkan tangannya, ia mematikan tab yang sudah sedari tadi dipegangnya, kemudian menyimpannya di meja. Ia melihat ke arah Jimmy, ternyata Jimmy masih fokus di depan laptop miliknya.


Ia melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian berdehem. “Kak!” panggil Afeesya. Jimmy menoleh. “Ada apa?” jawab Jimmy kali ini, Jimmy membalas dengan raut wajah dingin, seperti semula, membuat Afeesya tampak terdiam.


Afeesya bisa merasakan bahwa Jimmy benar-benar tidak tertarik padanya. Karena dari tatapannya saja, Afeesya sudah bisa menyimpulkan perasaan Jimmy. Tapi, ia tidak tahu kenapa Jimmy mendekatinya.


“Bolehkah aku pulang sekarang? Daddy akan memarahiku Jika aku tidak pulang tepat waktu,” dusta Afeesya. ia tidak ingin lebih lama lagi berada di sisi Jimmy.


Tiba-tiba, Jimmy tersadar. Bahwa tadi, ia mengajak Afeeysa makan siang. Jimmy melihat jam di pergelangan tangannya. Tenyata sudah 2 jam, Afeeysa berada di ruanganya, dan ia sama sekali tidak menyadari kehadiran Afeesya.


“Maaf aku lupa, bahwa aku mengajakmu makan siang. Ayo kita makan siang sekarang,” ajak Jimmy. Namun, Afeesya menggeleng.


“Tidak, Kak. Terima kasih. Mungkin lain kali kita bisa makan siang bersama. Tapi kali ini, aku harus pulang karena jadi bisa memarahiku,” jawab Afeesya. Secepat kilat, Jimmy bangkit dari duduknya kemudian ia langsung menyambar kunci mobilnya.


“Kakak, akan mengantarmu pulang,” ucap Jimmy lagi, sebelum Afeesya menjawab, Jimmy sudah keluar dari ruangannya, membuat Afeesya mengerutkan keningnya.


“Ada apa dengannya?” ucap Afeesya yang heran dengan sikap Jimmy yang berubah-rubah.


Bab 4 Maukah Kau menikah denganku


“Kau yakin tidak ingin makan dulu di luar terlebih dahulu?” tanya Jimmy saat menyetir. Aaesya yang sedang menyandarkan kepalanya ke samping sambil melihat kearah luar menoleh.


“Tidak Kak, terima kasih,” jawab Afeesya dengan singkat, Jimmy pun mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian ia kembali fokus ke depan untuk menyetir.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang. Akhirnya, mobil yang dikendarai Jimmy sampai di kediaman Afeesya.


Setelah mobil berhenti, Afeesya meremas kedua tangannya. Ia menggigit bibirnya dan menguatkan hatinya untuk berbicara pada Jimmh.


“Afeesya, kau tidak turun?” tanya Jimmy, ketika Afeesya tidak kunjung turun. Akhirnya, Afeesya tersadar, kemudian menoleh “Kak, boleh tahu berbicara sesuatu pada kakak?” tanya Afeesya Jimmy pun mengangguk.


“Bicaralah!” Jimmy menatap Affesya tanpa berkedip, ia menantikan apa yang akan Afeesya ucapakan.


“Sebelumnya, aku minta maaf jika ada kata-kataku yang menyinggung. Aku tidak tahu kenapa kakak mendekatiku, atau mungkin aku saja yang terlalu percaya diri. Tapi aku sungguh tak nyaman dengan ini. Maaf, bukan maksudku tuk jual mahal. Hanya saja, aku tidak terbiasa dengan perhatian.”


Tiba-tiba, Afeesya menghentikan ucapannya, kemudian melihat ke arah Jimmy. Terlihat jelas, wajah Jimmy begitu dingin seolah tidak peduli dengan apa yang diucapkan Afeesya. Namun, sepersekian detik, wajah Jimmy berubah dan Afeesya bisa menangkap raut wajah Jimmy yang berbeda-beda. Ini, benar-benar membingungkan bagi Afeesya.


“Bagaimana jika kakak mengatakan bahwa kakak menyukaimu?” kata Jimmy dengan terpaksa. Ia harus mendapatkan simpati Afeesya secepat mungkin.


Afeesya menggeleng. “Tidak, itu tidak benar. Aku tahu kakak tidak menyukaiku. Maaf jika aku lancang. Tapi mungkin, hubungan kita bisa seperti dulu lagi, hanya antara dosen dan mahasiswa. Terima kasih kak, sudah menganta ku pulang. Kalau begitu sampai jumpa.” Setelah mengatakan itu, Afeesya keluar dari mobil Jimmy, membuat Jimmy terdiam mematung.


Saat Afeesya berjalan ke arah rumah, Jimmy hanya mampu menatap punggung Afeesya. Sekarang, ia bingung harus bagaimana mendekati Afeesya. Sedangkan sang ayah sudah mendesaknya. Setelah Afeeya tidak terlihat lagi, Jimmy mengusap wajah kasar, kemudian kembali menjalankan mobilnya untuk pulang.


“Gimana Jim, udah ajak Afeesya jalan?” tanya Rendra, ayah Jimmy.


“Jimmy, baru pulang. Jimmy cape, bisakan ayah nanya nanti!” protes Jimmy dengan wajah yang memerah.


“Ayolag, Harusnya, kamu pepet Afeesya perusahaan ayah bener-bener butuh bantuan perusahaan Om Gema,” ucap Rendra lagi. Gemma memang sudah membatu Rendra Hanya saja, Rendra butuh bantuan yang lebih besar.


Jimmy menghela nafas, kemudian menghembuskannya. “Yah, kan masih ada Adam. Kenapa ayah enggak suruh Adam aja buat nikahin Afeesya. Kenapa harus Jimmy yang berkorban. Kenapa harus Jimmy yang jadi tumbal ayah!” omel Jimmy lagi. Ia berdebat dengan sang ayah.


“Pokoknya, ayah enggak mau tahu. Secepatnya kamu harus deketin Afeesya dan nikahin dia!” Setelah mengatakan itu, Rendra berlalu pergi meninggalkan Jimmy, membuat Jimmy menghela nafas kasar.


Ada alasan, kenapa Rendra tidak menyuruh putra keduanya untuk menikahi Afeesya. Karena hubungannya dengan Adam pun tidak baik. Bahkan, Rendra tak pernah menyapa putra keduanya. hubungan Rendra dan Adam, dibilang tidak baik karena sedari kecil, Rendra tidak terlalu menanggap keberadaan Adam.


Renda menikahi istri keduanya karena ingin mendapat anak perempuan, Tapi ternyata yang lahir malah anak lelaki. Itu sebabnya, Rendra tidak terlalu menganggap Adam ada.


Ia hanya sebatas membiayai hidup Adam, mereka pun jarang bertegur sapa. Bahkan, setelah Adam lahir, Rendra pun juga ikut mengabaikan istri kedunya, karena memang ia menikahi Ibu Adam untuk mendapat keturunan anak wanita. Tapi ternyata, malah Adam yang lahir. Itu sebabnya, ia tidak ingin melibatkan Adam dalam kehidupannya, karena baginya Adam hanya orang lain, walaupun Adam adalah darah dagingnya sendiri.


•••


“Kenapa kau baru pulang?” tanya Gemma saat sang Putri masuk kedalam rumah. “Ya Tuhan, kau mengagetkanku saja,” jawab Affesya.


Afeesya maju ke arah sang ayah, kemudian memeluk ayahnya. “Ada apa? apa ada yang mengganggumu di kampus? Kenapa kau baru pulang dan kenapa kau tidak ingin dijemput oleh sopir, Amora saja sudah pulang dari tadi?” tanya Gema bertubi-tubi.


Gemma begitu begitu protektif pada putrinya dan Amora, hingga ia selalu memantau putri


dan keponakannya.


“Dad, kau tahu ,belakangan ini Kak Jimmy mendekatiku. Sikapnya begitu aneh, terkadang dia dingin, terkadang dia manis. Bahkan tadi, dia memberikanku referensi skripsiku. Menurutmu, dia kenapa Dad?” tanya Afeeysa. Ia mlepaskan pelukannya, kemudian menatap sang ayah.


“Mana Daddy tahu! memangnya Daddy cenayang,” jawab Gemma membuat Affeya berdecih.


“Kalau begitu, aku akan pergi kamar, Dad. Dan jangan menggangguku.” Setelah mengatakan itu, Afeesya berjalan ke arah lift, kemudian naik ke kamarnya.


“Apa dia sedang didekati oleh lelaki, Dad?” tanya Devano tiba-tiba, Devano adalah kakak pertama dari Afeesya.


“Entahlah, dia berkata sedang di dekati oleh Jimmy.”


“Jangan restui mereka, Dad. Aku yakin Jimmy bukan orang baik,” ucap devano. Gemma menepuk pundak sang putra.


”Kau tidak boleh begitu, tak baik berprasangka buruk pada orang lain,” jawab Gemma, membuat Devano mengangkat bahunya acuh.


beberapa bulan kemudian


“Afeeysa!” panggil Jimmy dari arah belakang.


Afeesya yang akan berjalan ke kelas menoleh, kemudian tersenyum. “Ya, Kak," jawab Afeeysa, pipi gadis muda itu begitu, merona SAAF melihat senyuman Jimmy.


“Ikut, Kaka ke ruangan Kaka!” titah Jimmy.


Afeesya mengangguk, Dengan semangat, Afeeysa mengikuti Jimmy.


Setelah masuk ke ruangan Jimmy. Afeeysa langsung mendudukkan diri di sofa, disusul Jimmy yang mendudukan diri di samping Afeeysa.


Setelah duduk, Jimmy langung menaikkan kakinya lalu membaringkan diri dengan berbantalkan paha Afeesya, membuat Afeesya terperanjat kaget.


“Kak, jangan begini,” ucap Afeeya, terbata-bata. Ia sungguh tak nyaman dengan posisi Jimmy saat ini.


“Why? apa salahnya? kita kan sudah menjadi kekasihku,” kata Jimmy dengan santai. Ya, seminggu yang lalu, mereka baru saja Resmi berpacaran.


Beberapa bulan ini, Jimmy begitu gencar mendekati Afeesya. Ia bersikap hangat dan bersikap perhatian pada Afeeysa. Sehingga Afeesya luluh.


Dan seminggu lalu, Jimmy mengajaknya untuk berpacaran, bagai terhipnotis, akhrinya Afeeysa menyetujui ucapan Jimm, untuk berpacaran.


“Afeesya, Bagaimana jika kakak melamarmu dan datang pada orang tuamu?” tanya Jimmy membuat Afeesya mengerutkan keningnya.


“Me-melamar?” Afeeysa, ia menatap Jimmy tanpa berkedip, memastikan ucapan kekasihnya.


“Afeesya, usia kakak sudah tidak lagi muda. Bagaimana jika kita secepatnya menikah,” ajak Jimmy.


Ia bisa saja mengajak Afeeysa menikah dan wajahnya terlintas meyakinkan. Tapi batinnya sungguh nyeri. Selama beberapa bulan ini, sungguh menyakitkan bagi Jimmy jika terus berpura-pura memperhatikan Affesya.


Rasanya menyakitkan, ketika berpura-pura mengejar Afeeysa dan berpura-pura menyukai Afeesya. Padahal, Ia sama sekali tidak mempunyai perasaan untuk Afeeysa.


“Bagaimana kau mau?” tanya Jimmy saat Afeesya terdiam.


Bab 5 Pesan Misterius


“Menikah?” ulang Afeeya dengan nada tidak percaya Ucapan Jimmy barusan benar-benar membuatnya tertohok.


Menikah katanya, padahal Afeeysa masih ingin menikmati masa mudanya. Sekarang kekasihnya, malah mengajaknya menikah. Jimmy yang sedang berbaring di sofa dan berbantalkan Afeesya, langsung bangkit dari berbaringnya, kemudian duduk di samping Afeeysa, ia langsung menggenggam tangan Afeeysa membuat Afeeysa menoleh kearah Jimmy.


“Kakak sudah tidak muda Afeeysa, Kakak berjanji, walaupun kita sudah menikah, kakak tidak akan melarang kau melakukan apapun yang kau mau. Kakak, akan mendukung semua keputusanmu setelah menikah. Dan sekarang, kakak ingin segera menikah denganmu.” Jimmy berbicara sambil tersenyum, bertolak belakang dengan hatinya.


Ia bahkan mengutuk dirinya sendiri, karena berbicara semanis itu pada Afesya, Padahal, Ia benar-benar muak melihat Afeesya yang ada di depannya, ia juga muak dengan kehidupannya, dan ia muak dengan sang ayah yang memaksanya untuk menikahi Afeesya.


Afeesya tampak terdiam, kemudian ia menunduk. “Aku tidak bisa memberi jawabanmu sekarang, Kak. Aku akan memikirkannya nanti!” kata Afeesya. Ssebersit keraguan ada di dalam hati Afeeysa, ketika Jimmy mengajaknya menikah.


Entah kenapa, walaupun ia mempunyai perasaan pada Jimmy. Tapi, ada sedikit keraguan yang yang bersemayam dalam hatinya, seolah ada rasa yang melarang untuk dia menerima lamaran Jimmy.


Afeeysa melihat jam di pergelangan tangannya kemudian ia menoleh kearah Jimmy.


“Kak, Maaf. Sepertinya supirku sudah datang dan aku harus pulang sekarang," kata Afeeysa, Jimmy pun mengangguk.


“Kakak, akan mengantarkanmu keluar!” kata Jimmy, karena dia tidak bisa mengantar Afeeysa. Dia masih harus mengajar di beberapa kelas.


Jimmy dan Afeeysa, berjalan sambil bersebelahan. Sudah bukan rahasia umum lagi, jika mereka sudah menjadi sepasang kekasih. Karena semenjak resmi berpacaran, Jimmy terpaksa harus membuat semua tahu tentang hubungannya dengan Afeesya agar Afeesya menganggapnya serius dan meyakinkan Afeeysa.


“Ahhh!” Afeesya terpekik kaget, saat ada yang menabrak bahunya.


“Ups maaf,” ucap seseorang yang menabraknya. Afeesya menggeram kesal ketika melihat siapa yang menabraknya. Ternyata, yang menabraknya adalah Emilia, wanita yang menyukai Jimmy, yang juga berada satu kelas dengan Affesya.


Semenjak kabar Afeeysa, berpacaran dengan Jimmy. Emilia yang tadinya bersikap biasa pada Afeesya, yang mendadak menjadi sinis. Bahkan terang-terangan memusuhi Afeesya. dan selalu bersikap Ketus pada Afeeysa.


Padahal, ia sama sekali tidak mempunyai masalah dengan Emilia. Hanya saja, Emilia tidak bisa menerima bahwa dosen incarannya dimiliki oleh wanita lain


“Kau tidak punya mata!” tanya Afeesya dengan emosi. Kali ini, ia benar-benar tersulut emosi, karena bukan satu dua kali, Emilia menabraknya.


Jimmy menghela nafas, ia tidak bergerak sedikitpun di tempatnya. Ini juga bukan pertama kali bagi Jimmy menyaksikan Emilia bersikap Ketus pada Afeeysa, dan ia tahu, tahu bahwa Emilia menyukainyanya. Hanya saja, ia tidak menggubris ucapan Emilia.


“Ups maaf!” mata Emilia dengan seringai mengejek, membuat Afeeysa menggeram kesal.


“Ayo kita pergi!” Jimmy menarik tangan Afeeys, membuat Emilia berdecih.


“Aku heran, kenapa dengan anak itu, semenjak kita berpacaran, anak itu selalu saja membuat masalah denganku!" omel Afeeysa, Jimmy yang sedang berada di depan samping Afeeysa, menghela nafas, saat Afeeysa menggerutu.


Mendengar Omelan Afeeysa saat ini, benar-benar menjengkelkan. Ia paling tidak suka menjadi pelampiasan orang yang cerewet. Tapi yang terjadi, malah ia harus mendengar Omelan Afeeysa. Hingga Ia hanya bisa tersenyum lalu menenangkan Afeeysa, tentu saja senyuman Jimmy adalah senyuman palsu.


••••


Waktu menunjukkan pukul 8 malam, Afeesya


yang baru saja naik, membali turun untuk menemui sang ayah di ruang kerjanya. Tadi, saat akan berbicara, ia mengurungkan niatnya karena ada kembarannya dan ada kakak pertamanya. Ia akan menjadi bahan ledekan ketika berbicara di depan kedua orang itu.


“Mom, di mana Daddy?” tanya Afeesya, tanya pada sang ibu yang sedang membaca majalah.


“Daddy sedang berada di ruang kerjanya, Ada apa? jangan bilang kau ingin liburan lagi?” tanya Khalisia.


“Tidak, Mom. Aku ingin berbicara sesuatu yang penting dengan Daddy.” Setelah mengatakan Itu, Afeesya pun angsung pergi ke ruangan kerja sang Ayah.


“Dad, boleh aku masuk?” tanya Afeeysa dari luar. Gema yang sedang berada di kursi kerjanya, menjawab.


“Kenapa kau mencari Daddy?” tanya Gema, ia bangkit dari kursi kerjanya, lalu mendudukan diri di sofa, disusul Afeesya, yang duduk di samping sang ayah


Afeeysa langsung memeluk pinggang Gemma, lalu seperti biasa, Gemma mengelus rambut Afeeysa.


“Dad!” panggil Afeesya.


“Kau seperti ingin menyampaikan sesuatu pada Daddy?” tebak Gemma, Afeeysa pun mengangguk.


“Dad, seandainya aku menikah muda. Bagaimana tanggapanmu?” tanya Afeesya, membuat Gema terdiam seketika. Pikirannya menerawang pada kisahnya dan kisah istrinya,


“Apakah kau berencana untuk menikah muda?” tanya Gema, seketika Afeeysa menegakkan kepalanya.


“Dad, kau tahu kan hubunganku dengan Kak Jimmy?” tanya Afeeysa lagi, Gemma mengangguk-anggukan kepalanya.


“Kenapa? Ada apa dengannya? Apa dia mengajakmu menikah?” tanya Gemma, Afeeysa mengangguk.


Gemma menghela nafas, kemudian menatap wajah sang putri lekat-lekat.


“Lalu, kau mau menikah dengannya?” tanya Gemma.


“Aku ragu, Dad. Aku sungguh ragu, aku memang mencintainya, tapi hatiku seolah menetang keinginannya.”


“Afeesya, ikuti kata hatimu, jangan dengarkan orang lain dan Jangan dengarkan perintah orang lain. Jimmy masih orang lain untukmu, jika kau ragu, maka tidak usah mengikuti ucapannya,” ucap Gemma, selama ini ia memang membebaskan keputusan putra putrinya, selagi itu semua demi kebaikan.


Dua bulan kemudian


Suasana rumah Gema dan Khalisia begitu ramai, semua tamu sudah berdatangan mobil-mobil mewah terjajar dan terparkir di kediaman rumah mewah Gema.


Hari ini, adalah hari pertunangan Khalisia dan Jimmy. Setelah dua bulan berjuang, akhirnya Jimmy kembali berhasil membuat Afeesya Luluh.


Dua bulan lalu, Afeeysa pernah menolak keinginan Jimmy, dan dari situlah Jimmy berjuang dengan keras, tentu saja karena tekanan sang ayah, hingga Afeesa mau menerimanya.


•••


”Amora apa aku cantik?” tanya Afeesya, membuat Amora berdecih


“Sungguh, aku ingin mencekik mu Afeeysa, kau sudah bertanya itu lebih beberapa kali!” omel Amora.


.“Kau lebay sekali!” ucapnya lagi.


Saat bersiap untuk turun karena acara segera dimulai, ponsel yang sedang di pegangnya berdering, satu pesan masuk kedalam ponselnya dari nomor yang tidak dikenal.


[Jangan menerima lamarannya dan jangan menikah dengannya, kau akan menyesal. pegang ucapanku] tulis seseorang dalam pesannya, yang mewanti-wanti agar Afeeysa tidak menikah dengan Jimmy, seketika itu juga, Afeeysa langsung menjatuhkan ponselnya.