Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Jangan jadi benalu


Melihat Arsen tak bisa menjawab, Gabby kembali menyeringai, ia bersedekap kemudian maju ke arah Yura. Hingga kini, tubuhnya dan tubuh Yura sangat dekat.


Gabby memegang dagu Yura dan sedikit mencubitnya. Hingga Yura meringis.


“Sekarang, hiduplah dengan keringatmu sendiri. Kakakmu tidak akan menafkahimu dan jangan pernah merongrong dan menjadi benalu dikehidupkan kami!” pungkas Gabby dengan penekanan. Suara Gabby menggeram, ia manatap Yura seolah Yura adalah sampah.


Maksudmu apa Kak?” tanya Yura, membuat Gabby menoleh ke arah Arsen.


“Tolong bilang pada adikmu yang sebenarnya dan suruh dia untuk pergi, jangan kembali lagi atau datang ke rumah ini dan mengijakan kaki di sini!” kata Gabby, setelah itu Gabby pun berlalu dari hadapan Yura.


“Mana Arsen dan Yura?” tanya Stuard ketika Gabby bergabung dengan ayah ibunya yang ada di meja makan.


“Dia sedang mengurus adiknya dulu,” kata Gaby, Stuard mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian menatap Gabby lekat-lekat. Entah, kenapa semenjak melihat Gabby masuk kedalam rumah, hati Stuard mendadak tak enak. Ia merasa sang putri sedang mempunyai beban yang sangat berat.


“Gabby apa kau baik-baik saja?” tanya Stuard. Gabby yang sedang minum langsung tersedak saat mendengar pertanyaan sang ayah.


“Ma-maksud Daddy?” tanya Gabby, ia menatap Stuard dengan ragu, seperti biasa, sang ayah akan langsung mengetahui jika ada yang berbeda dengannya.


“Tidak, Daddy, hanya merasa Kau tidak sedang baik-baik saja,” kata Stuard, ia berusaha untuk meredam rasa penasarannya. Tapi, ia masih yakin, sang putri sedang menyembunyikan sesuatu degannya.


“Aku memang sedang tidak baik-baik saja, Dad,” Gabby membatin dalam hati. Rasanya, ia ingin menangis sekencang-kencangnya di hadapan sang ayah. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya, kemudian menatap sang ayah lalu tersenyum. Senyuman kali ini, begitu pahit, karena hatinya sedang tidak baik-baik saja.


“Aku baik-baik saja, Dad," ucapnya lagi. Tak lama, Arsen bergabung di meja makan, sedangkan Yura sudah pulang ke rumah, karena Arsen menyuruhnya untuk keluar dari kediaman Gabby.


Arsen yang akan memotong stik menoleh, ia memegang garpu dengan tangan gemetar, karena ia takut Stuard akan melayangkan pertanyaan yang aneh dan ia takut terjebak dengan pertanyaan tersebut.


“Daddy ingin bertanya, kenapa sekarang posisimu dipegang oleh Gisel Bukankah seharusnya kau yang bertanggung jawab?” tanya Stuard. Seketika tubuh Arsen dia. mematung. Kakinya, tidak bisa diam, karena ia merasakan gugup yang luar biasa hebat.


“Kenapa?” tanya Stuard lagi.


“Daddy tahu dari mana?” kali ini Gaby yang bertanya pada Stuard.


“Daddy mengetahui karna Daddy yang mendatangani semuanya. Jadi, kenapa kau menyerahkan kepemimpinan pada Gisel?”


“A-aku hanya rindu untuk menjadi pengacara jadi aku menyerahkan posisiku pada Gisel,” dusta Arsen. Stuard menyipitkan matanya, kala melihat wajah menantunya yang pucat.


Stuard menaruh garpu, kemudian menatap Gabby dan Arsen bergantian. “Arsen kau tidak apa-apa, Daddy perhatikan, sepertinya dari tadi ada yang berbeda denganmu?” tanya Stuard, Arsen refleks menjatuhkan sendok ke bawah, membuat seringai Gabby semakin lebar.


“Ti-tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya tidak enak badan,” dusta Arsen, mereka pun


kembali melanjutkan untuk makan.


Beberapa hari kemudian.


Scroll gengs aku up 3 bab