
“Tunggu, sebenarnya ada apa ini. Kenapa Gabby dan kedua putriku mendadak aneh begini?” tanya Nael pada Gabriel. Nael menatap Gabriel lekat-lekat, ia merasa ada yang disembunyikan oleh mereka.
”Mana aku tahu, mereka, kan, ada di Polandia dan aku di sini. Memangnya sepenting apa sampai aku harus mengurus tentangmu,” jawab Gabriel dengan sadis, Nael berusaha untuk mendinginkan hatinya dan berusaha untuk mencari jalan yang terbaik dan untuk meyakinkan Gabriel, agar tidak bertele-tele. Karena setelah mendapat restu, Nael akan kembali terbang ke Polandia untuk menjemput Gabby dan anak-anaknya.
“Gabriel, aku mohon. Kita sudah sama-sama dewasa, kita sudah sama-sama saling mengerti dan aku sudah menyesal dengan apa yang terjadi di masa lalu. Aku sudah berusaha mendapatkan maaf dari Laura dan Naura. Dan kini Laura dan Naura akan lebih bahagia jika aku menikah dengan Gabby. Ini bukan hanya soal Laura dan Naura saja. Aku pun mencintai Gabby. Jadi tidak ada alasan untuk kau menolakku!” kata Nael dengan suara yang sangat putus asa.
Gabriel menaruh gelas yang ada di tangannya, kemudian ia menegakkan kepalanya. “Kau serius dengan Gabby?”
“Ya, aku serius. Aku akan melakukan apapun demi Gabby dan kedua putriku,” jawab Nael. Tiba-tiba, Gabriel bangkit dari duduknya. kemudian ia kembali mengutak-atik ponselnya
“Siapkan ring tinju untuk nanti malam jam 12!” kata Gabriel pada orang yang sedang di teleponnya, membuat matanya Nael membulat.
“Kenapa kau memesan ring tinju ?” tanya Nael.
“Ayo berdua bersamaku. Jika kau menang aku akan merestuimu!” Ujar Gabriel, hingga mata Nael membeliak tajam, pupil matanya melebar, ia menatap Gabriel dengan tatapan tak percaya. Ia sama sekali tidak ahli dalam beladiri. Tapi sekarang, Nael malah mengajaknya bertarung.
“Kenapa, kau tidak mau?” tanya Gabriel. “Ya, sudah. Jika kau tidak mau, tidak masalah. Ini kesempatan terakhir untukmu.”
“Aku siap dan aku akan bertarung mengalahkanmu!” balas Nael. “Di mana alamatnya. Aku akan menyusulmu nanti?”
••
Detik-detik menegangkan itu pun tiba, Nael memarkirkan mobilnya di sebuah alamat rumah yang dikirimkan oleh Gabriel. Setelah memarkiran mobilnya, ia langsung turun dari mobil, kemudian membawa tas berisi peralatan tinju.
“Kenapa dia harus mengajak tinju di jam seperti ini, apa dia tidak punya pekerjaan lain.” Dengan langkah lesu, Ia pun langsung masuk ke dalam. Saat berada di depan pintu, baru saja Nael akan menekan bel, pintu sudah terbuka dari dalam membuat Nael mengerutkan keningnya seraya bergidik.
“Gabriel!” panggil Nael, ia melongokkan kepalanya ke dalam. Namun di dalam begitu sepi. Tidak ada siapa-siapa disana.”
“ Gabriel!” panggil Nael lagi, ia pun masuk ke dalam. Tak lama, ponselnya berdering. Ia pun langsung mengangkatnya. Ternyata itu panggilan dari Gabriel. “Aku ada di ruangan atas dan naik saja aja ke atas,” jawab Gabriel saat mengankat panggil dari Nael. Setelah itu, Nael mematikan panggilannya kemudian ia langsung menaiki tangga dan berjalan ke lantai atas di lanta
Saat sampai di ruangan atas, Nael langsung berjalan di sebuah pintu yang ia yakini adalah ruang ganti, dan setelah mengganti pakaian, Nael langsung berjalan keluar. Tepat saat Nael keluar, ponsel Nael kembali berdering satu pesan masuk dari Gabriel, Gabriel malah menyuruhnya naik ke lantai ke tiga.
Saat sampai di lantai tigaGabriel membukakan pintu, kemudian mengerutkan keningnya, saat
Gengs sedih banget kemari yang komen cuman dikit, jadi dua bab dulu ya. Kalau ini tembus banyak komen aku up lagi besok aga siangan
Kisah Leticia ada kok masih tetep di novelton