Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Siasat


“Bagaimana, apa kau menemukan Joanna?” Olivia yang baru saja keluar dari rumah sakit langsung terperanjat saat mendengar siapa yang berbicara, Ternyata ia adalah Axel.


Saat Olivia mencari Joanna, Axel mengikuti mobil Olivia, hingga ia mengikuti sampai rumah sakit. Namun saat Olivia masuk ke dalam rumah sakit, ia tidak mengikuti mobil Olivia dan lebih menunggu di mobil.


Dan ketika melihat Olivia keluar, Ia pun langsung keluar dari mobilnya dan langsung bertanya pada Olivia.


“Bagaimana, mana Joanna?” tanya Axel, Olivia mengepalkan tangannya, saat Excel berbicara kurang ajar padanya. karena Olivia seumuran dengan ayah Axel, tentu saja Olivia tidak akan terima.


Tapi mau tak, mau Olivia harus meredam emosinya karena ia tidak ingin Ayah Axel, membatalkan investasi di perusahaannya. Olivia menghela nafas kemudian menghembuskannya. lalu berusaha tersenyum.


“Aku sudah menemukan Joana di mana. Tapi aku belum bisa membawanya. Percayakan semuanya padaku, aku akan membawanya kembali ke apartemenmu. Aku lelah, Aku akan segera pulang dan akan mengabari secepatnya.” Olivia pun lebih memilih berlalu dari hadapan Axel, membuat Axel berdecih. Setelah Olivia pergi Axel pun kembali masuk ke dalam mobilnya.


••


“Pa-paman, sudah jangan menangis. Jangan menyalahkan diri paman. Setahun Lalu, aku memang berencana untuk menyerahkan diri pada Mommy. Jadi tidak ada yang harus disesali,” ucap Joana, ketika Jordan menggenggam tangannya, lalu menunduk dan menangis sesegukan


Kali ini, Joana baru menyadari, bahwa ternyata lelaki sedingin dan sedatar Jordan bisa menangis, hanya karena melihatnya. Entah dia harus merasa beruntung atau merasa was-was saat melihat Jordan seperti ini


Ia hanya takut, Jordan akan kembali membuangnya sama seperti setahun lalu. Ia takut, Jordan akan kembali mengusirnya sat ia sudah merasa nyaman. Jordan menghapus air matanya, kemudian menegakkan kepalanya. Lalu setelah itu, Jordan membopong tubuh Joana, membuat Joana terpekik.


“Ini sudah malam, ayo tidur.” Jordan pun langsung membaringkan tubuh Joanna diberangkar, setelah membaringkan tubuh Joanna diberangkar, Jordan menarik kursi. Lalu mendudukkan diri di sebelah Brangkar Joanna. Ia menggenggam tangan Joana. Lalu, kedua insan itu saling menatap tanpa ada yang berbicara. Hingga pada akhirnya, Joana lebih memilih untuk memejamkan matanya, karena tidak sanggup melihat tatapan mata Jordan yang begitu intens menatapnya.


dua minggu kemudian


Ini sudah dua minggu berlalu Joana dirawat di rumah sakit, dan dua minggu ini pula. Jordan menyewa ruangan VIP di mana satu lantai hanya ada 4 ruangan dan dijaga ketat oleh penjaga rumah sakit.


Selama 2 minggu ini pula, keadaan Joanna sudah sedikit membaik. Walau terkadang, Jordan masih melihat Joanna sering terlihat gelisah. Tubuh Joana pun sudah sedikit berisi, karena selama di rumah sakit, apapun keinginan makanan Joana selalu dipenuhi oleh Jordan.


Jordan masuk ke dalam lift, di tangannya sudah menenteng beberapa paperbag yang berisi kotak makanan pesanan Joanna. Saat ini, ia baru saja akan naik ke lantai atas, lantai di mana ruang rawat Joanna berada


Saat keluar dari lift dan berjalan ke arah ruangannya. Tiba-tiba langkah Jordan, terhenti saat melihat pemandangan di depannya. Ia melihat Raymond sedang menyuapi Moa di kursi tunggu.


Rupanya, Ayana baru saja melahirkan dan ditempatkan di lantai yang sama dengan ruang rawat Joana. Sebenarnya Jordan sudah tahu Ayana melahirkan di lantai yang sama. Hanya saja,.Jordan tidak berani untuk menghampiri Ayana dan Raymond, ia tidak seberani itu untuk menghampiri mereka.


Tepat saat Jordan terdiam di tempat, Raymond menoleh ke arah Jordan, sedangkan Jordan hanya menganggukan kepalanya seraya tersenyum. Lalu berbalik untuk pergi ke ruang rawat Johanna. Ia tidak ingin membuat Moa tidak nyaman dengan kehadirannya.


Jordan membuka pintu, ia tersenyum saat melihat Joanna sedang membaca novel seraya memegang jus yang dibawakan oleh suster. Selama dua minggu ini, Joana lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca, ia belum berani memegang ponsel, karena ia pun masih trauma dengan benda pipih tersebut. Alhasil, dia hanya menghabiskan waktunya untuk membaca membaca dan membaca.


”Ekhemm!” Jordan berdehem menyadarkan Joana dari lamunannya.


Saat Jordan masuk, Joanna tersenyum membuat Jordan terpaku. Jordan sempat terdiam di tempat. Lalu setelah itu, Jordan pun maju ke arah Brangkar.


“Aku membawakan beberapa makanan pesananmu!” kata Jordan, Joana tampak berbinar. “Terima kasih, Paman. maaf jika aku merepotkanmu!” kata Johanna. Jordan terkekeh, ia mendudukkan diri di berangkar, hingga kini kedua insan itu saling berhadapan.


Perlahan tangan Jordan mengelus sudut bibir Johana yang yang terdapat remahan roti di sana, membuat Joana langsung terdiam, dan kedua orang itu saling tatap.


Jordan seperti terhipnotis dengan kecantikan Joanna dan tanpa sadar, ia memajukan tubuhnya. Hingga cup.


Satu kecupan mendarat di bibir Joana, membuat mata Joana membulat, karena Jordan menciumnya secara tiba-tiba, dan tak lama, kedua insan itu saling memejamkan matanya.


Namun, saat Jordan akan melakukan lebih jauh, tiba-tiba ponsel Jordan berdering, membuat keduanya terpekik kaget. Seketika itu juga, Jordan langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Joanna, hingga kedua insan itu langsung di Landa kecanggungan yang luar biasa.


Seketika Jordan bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung berbalik. Lalu mengangkat panggilanhya.


“Halo!” ucap Jordan mengangkat panggilan tersebut. Jordan sempat terdiam saat mendengar siapa yang berbicara, ternyata dia adalah Olivia


Tak ingin Joana mendengar percakapan mereka, Jordan pun langsung keluar dari ruang rawat.


“Olivia kau masuk rumah sakit jiwa tapi kau masih bisa menghubungiku?” ucap Jordan saat Olivia mengatakan bahwa ia sedang berada di rumah sakit jiwa karena depresi. Tentu saja Olivia berbohong, ia berencana untuk merebut Joana secara halus.


Olivia tampak tergagap di sebrang sana, membuat Jordan menyeringai. “Olivia, aku akan membuatmu merasakan, bagaimana rasanya depresi yang sesungguhnya.”


Olivia


Ini walau dua bab udh panjang banget ya, yu gengs, Bayar aku pake komen ya