
Laura melihat ke arah jendela, kedua anak itu saling membelakangi dan melihat ke arah luar. Semakin lama menahannya, tangis yang sedari tadi di tahan oleh Naura akhirnya pecah. Naura menangis terisak, sedangkan Laura masih berusaha menahan tangisnya.
Ucapan Nael barusan benar-benar menghancurkan hati Laura dan Naura sampai ke dasar, mematahkan hati kedua anak kembar itu berkeping-keping.
Mereka hanya anak-anak, mereka hanya menginginkan kasih sayang dari sang ayah. Tapi, yang mereka dapatkan hanya rasa sakit, dan rasa pedih.
Setiap ucapan yang Nael lontarkan, benar-benar mengantarkan rasa sakit yang benar-benar menusuk sampai ke jantung Laura dan Naura. Sehingga saat ini, mereka berada di titik lelahnya.
mereka lelah, berharap kasih sayang sang ayah. Mereka lelah harus menunggu momen sang ayah memeluk mereka, mereka lelah berharap dan mereka lelah merasakan rasa sakit karena melihat kebencian di mata sang ayah pada mereka. Walaupun Laura dan Naura baru berusia 7 tahun, tapi Laura dan Naura termasuk anak yang cerdas, yang mengerti dengan keadaan sekitar.
Kemarin-kemarim, mereka tetap berusaha untuk menggapai hati Nael, agar sang ayah bisa melihat kearah mereka. Tapi hari ini, Laura dan Naura menyadari sesuatu. Rasanya, sia-sia saja jika mereka terus mengharapkan sang ayah peduli pada mereka.
Stela yang mendengar Isakan dan belakang, langsung menoleh, ia langsung meminggirkan mobilnya dan mematikan mesin mobil. Lalu kembali menoleh ke belakang.
“ Naura kau kenapa?” tanya Stella, karena memang saat tadi, dia tidak menyadari kehadiran Nael.
Narua menghapus air matanya, kemudian ia menoleh ke arah Stella. “Bibi, bisakah bibi mengantarkan kami ke gereja? Kurasa aku ingin berdoa di sana!” pinta Naura. Laura yang sedari tadi melihat kearah jendela dengan mata yang berkaca-kaca, ikut menoleh kearah Stella.
“Ya, Bibi. Bisakah bibi mengantar kami ke gereja?” pinta Laura, membuat Stella kebingungan. Sebenarnya Ada apa dengan anak asuhnya. Namun, tak urung dia mengangguk.
Dua puluh lima menit kemudian, mobil yang dikendarai Stela sampai di sebuah gereja, karena waktu sudah siang, gereja itu tidak sudah tidak ada orang.
Laura dan Naura turun dari mobil, kemudian mereka bergandengan tangan masuk ke dalam. Laura dan Naura terduduk di kursi, mereka menyatukan tangan mereka dan mengepalkan ya. lalu menyimpannya tangan mereka di bawah dagu.
“Tuhan jika memang, Daddy tidak bisa menyayangi kami. Bisakah kau lembutkan hati Maira agar Maira mengijinkan kami untuk bermain bersama Daddy Gabiel,” Laura berbicara lirih, sedangkan Naura mengatakan doanya dalam hati.
Stella yang berada di belakang Laura dan Naura langsung berkaca-kaca saat mendengarkan doa Laura. Ia menjadi saksi hidup, Bagaimana Luara dan Naura yang selalu mengharapkan kasih sayang seorang ayah.
Stella kemudian langsung bangkit dari duduknya. Lalu, ia mendudukan diri di sebelah Laura dan mengelus rambut Laura dan Naura secara bergantian. Hingga Laura dan Naura menoleh keara Stella.
“Bibi, yakin suatu saat, doa kalian akan didengar oleh Tuhan dan Daddy kalian akan menyayangi kalian,” ucap Stella yang menenangkan kedua anak asuhnya.
Laura menggeleng. “Itu mustahil bibi, tapi tidak apa-apa, kami masih mempunyai kakek,” jawab Laura dengan hati yang Pedih. Sedangkan Naura kembali memejamkan matanya.
“Bibi, tolong jangan bilang pada Mommy jika kita pergi ke gereja," pinta Laura pada Stella. seperti biasa, gadis kecil itu selalu berpikir lebih dewasa daripada Naura.
Gengs, aku mau up 4 bab tapi belum beres ngetik. Satu bab lagi menyusul sore atau malem ya.. Gas komen gengs