
Saat mobil Gabby sudah pergi, Grisela langsung berbalik. Ia langsung menatap Nael
“Nael!” Panggil Grisela. Namun Nael langsung berbalik dan enggan menoleh lagi. Ia terus berjalan tanpa memperdulikan panggilan sang Ibu, membuat Grisella menggeram kesal.
“Nael, tetap di tempatmu!” kata Grisela dengan setengah berteriak, membuat Nael menghembuskan nafas kasar. Ia tahu, apa yang akan dibahas oleh sang ibu. Sang ibu pasti akan membahas tentang Laura dan Naura, dan Nael sungguh malas membahas kedua putrinya.
“Why mom?” tanya Nael saat berbalik dan menatap Grisela.
“Why?” ulang Grisela, Ia menatap Nael dengan tatapan tak percaya.
“Nael, apa kau manusia, Kenapa hatimu begitu beku. Laura dan Naura sudah menginjak 7 tahun dan kau sama sekali tidak berubah!” kata Grisella. Namun, Nael mengangkat bahunya Acuh.
“Aku tidak pernah menginginkan mereka. Lalu kenapa aku harus bersikap baik pada mereka.” Setelah mengatakan itu, Nael lebih memilih berbalik, kemudian ia pergi dan meninggalkan grisella yang kesal setengah mati dengan jawaban Sang putra.
Nael benar-benar benci ketika ia harus terus disalahkan atas kehadiran kedua putrinya. Ia benci ketika ia harus di tekan untuk menerima keduan putrinya. Ia tak pernah menginginkan kehadiran Laura dan Naura, dan itu semua gara-gara Gabby. Setiap kedua orangtua menekannya harus bersikap baik pada Laura dan Naura, setiap itu pula, rasa bencinya pada Gabby semakin bertambah. Ia menyalahkan Gaby karena Gaby lah ia harus tertekan.
Setelah berbalik, Nael berjalam ke arah lift untuk naik ke kamarnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke belakang. Selalu seperti ini setiap kedatangan kedua putrinya. Setiap Laura dan Naura bermain ke rumahnya, ia pasti akan ditekan kedua orang tuanya untuk bersikap baik pada kedua putrinya dan perasaan itu, membuatnya tersiksa. Ia sungguh benci dan ia sungguh tak ingin lagi melihat kedua putrinya.
Nael masuk ke dalam kamar, kemudian ia langsung berjalan ke arah ranjang. Lalu, membanting tubuhnya di ranjang. Setelah itu, ia menaruh tangannya di kening. Tatapan matanya lurus ke depan. ini sudah 8 tahun berlalu, dan ia merasa, semenjak kehadiran kedua putrinya ia merasa terpenjara. Ia merasa tidak bebas, karena sang ayah kerap mengancam akan mencabut semuanya jika Nael tidak mau bertanggung jawab pada Laura dan Naura.
Gabby tertegun saat melihat senyuman Jeremy. Rasanya, ia begitu terpesona ketika melihat Jeremy yang tersenyum padanya.. Tapi tak lama, Gabby menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak boleh terlalu larut pada siapa pun.
Apalagi semenjak Laura dan Naura lahir. Ia tidak berniat untuk jatuh cinta pada siapapun dan ia juga tidak berniat untuk menikah dengan siapapun. Bagi Gabby sekarang, ia hanya ingin mengabdikan hidupnya untuk kedua putrinya..
“Nona Gaby kau tidak apa-apa?” tanya Jeremy saat melihat Gabby menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat Gabby tersadar pipinya bersemu merah saat Jeremi memergokinya.
Secepat kilat, Gabby menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah membawaku kemari, maaf juga merepotkanmu,” kata Gaby kali ini Jeremi yang menggeleng.
“Tidak masalah, aku sudah menelpon Tuan Gabriel untuk ke sini dan mungkin, Tuan. Gabriel akan tiba sebentar lagi,” balas Jeremy Gaby pun mengangguk.
“Terima kasih!”
“Kalau begitu aku pamit! Mungkin jika besok aku ada waktu, aku akan menjengukmu lagi kemari,” ucap Jeremy, Gaby hanya terdiam. Ia hanya menjawab ucapan Jeremy dengan senyuman.
Scroll gengs aku up 3 bab